Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Meninggalkan benih cinta


__ADS_3

"Jangan pikirkan kami!" ucap Amelia, ia mendorong Miranda dan bayi di dalam dekapan Miranda yang tertidur dan memberikan tas selempangnya.


"Pergilah! Pistolmu ada di dalam tas itu," bisik Amelia.


Miranda tercekat, ia tak menyangka jika Amelia mengetahui semua itu. Akan tetapi, tak sedikit pun Amelia bertanya mengapa dirinya membawa pistol.


"Pergilah, Sayang! Doa kami bersamamu, anak baik … jaga Mamamu, Nak!" lirih Amelia bercucuran air mata, ia tak menyangka akan berpisah dengan Miranda dan Jeff.


Juarez dan Amelia langsung menciumi kening dan pipi  Miranda dan Jeff, sebelum mereka menyuruh Miranda pergi.


Suara tembakan semakin membahana dan kebakaran terjadi di mana-mana.  Miranda kabur dan terus berlari di sepanjang pantai dan naik ke daratan memasuki hutan kecil sebelum kota, ia mencoba untuk terus berlari.


"Juarez! Amelia!" teriak Miranda terjatuh dengan bayi di dekapannya yang ikut menangis.


Miranda melihat pasangan suami-istri yang baik itu tewas ditembak oleh pasukan Joey Nostra yang kejam. Bahkan, semua orang di sepanjang pantai San Juan menjadi sasaran hanya karena dirinya. 


Miranda sendiri tak tahu mengapa dirinya dan bayi mungil buah cintanya bersama Jodie harus diburu. Namun, ia tak lagi mengetahui dan bisa mencari kebenaran akan semua itu. 


Miranda hanya tahu untuk kabur demi keselamatan bayi dan dirinya.


Owe! Owe! 


Suara tangis Jeff membahana dengan kematian pasangan yang sudah membesarkan dan merawat mereka berdua, hingga orang-orang dari pasukan Joey mendengar tangisan tersebut.


"Kejar! Itu pasti, Miranda dan bunuh bayinya! Jangan biarkan bayinya hidup!" teriak seseorang.


Miranda tersadar dan langsung berlari membelah pekatnya malam dan hiruk-pikuk pantai yang dipenuhi dengan tangisan dan teriakan kesakitan juga darah.


Miranda terus berlari dengan Jeff di dalam dekapannya. Ia hanya berlari mengikuti kakinya yang terus membawanya pergi.


"Diamlah, Sayang! Cup! Cup! Jangan menangis! Jika kau menangis mereka akan membunuhmu, Nak! Kau harus tumbuh besar! Jangan biarkan orang menindasmu! 


"Kau harus jadi orang hebat! Balaskan semua sakit dan air mata ini," bisik Miranda berulang-ulang pada bayinya yang tak tahu apa pun.


Bruk!


Miranda tersangkut akar tetapi, ia bangkit dan terus berlari membelah malam dan ia sendiri tidak tahu ke mana ia berlari hingga ia merasa semua orang mulai mengejarnya dengan nyalak anjing pelacak.


Miranda bersembunyi di balik tong sampah untuk menyembunyikan bayinya. Seorang musuh dengan anjing menemukannya.


"Hahaha, akhirnya kau tertangkap Miranda Fernandez! Kau dan bayimu harus mati!" ujarnya, ia langsung ingin merampas bayi Miranda. 

__ADS_1


"Lepaskan, aku! Pergi! Apa salahku?" teriak Miranda, ia berusaha untuk menghindari tangan pria tersebut.


"Hahaha, kau salah apa? Kau salah karena membuat Jodie Nostra jatuh cinta! Hingga ia meninggalkan kastil La Costra Nostra dan Kau! Kaulah penyebab semua ini.


"Aku tidak menyangka jika calon istri Jodie begitu cantik! Aku akan menikmati tubuhmu, sebelum membunuhmu dan bayi kecil sialan itu!" umpatnya, ia terus maju dan ingin membuka celananya.


Namun, Miranda beringsut ingin menjauhkan bayinya dari tangan pria tersebut. Miranda mengambil pistol dari balik pinggangnya, dor! Miranda menembak musuh dan anjingnya, Miranda terus berlari lagi.


Miranda berlari meninggalkan musuh dan anjingnya yang telah tewas dengan kepala meledak akibat pelurunya tetapi, suara pistol membahana sehingga banyak musuh yang kembali mengejar Miranda. Di persimpangan jalan, Miranda bingung harus memilih jalan  ke mana ia melangkah.


Miranda menatap jalanan lurus dan kanan-kiri, "Apa yang harus aku lakukan? Ke mana aku akan melangkah?" batinnya.


Jeff yang masih bayi memahami kegelisaan mamanya sehingga, ia menjulurkan tangan menunjuk ke sisi kanan, Miranda terperanjat, ia tak menyangka jika Jeff memilih jalannya.


"Baiklah, Nak. Kau telah memilih jalanmu," jawab Miranda berbisik dan mencium putranya.


Miranda kembali berlari menembus pekat malam tanpa cahaya lampu yang tiba-tiba mati. Keributan dan nyalak anjing dari kejauhan masih terdengar, Miranda tidak peduli dan tak ada lagi rasa takut.


"Anakku harus selamat! Andaipun aku mati, aku tidak peduli!" batin Miranda.


Bruk! 


Miranda kembali tersandung batu hingga dirinya jatuh di depan sebuah panti asuhan, di mana ia melihat sebuah tembok besar dan tinggi terbuat dari batu juga patung Nabi Isa memegang Injil di tangannya.


"Sayang, maafkan Mama … bukan Mama tak menyayangimu, Nak. Tapi, jika kau berada di tangan Tuhan, aku yakin kau akan selamat. Maafkan Mama yang tak lagi bisa mendekap dan membesarkanmu, Nak. Aku mencintaimu dengan seluruh ragaku!


"Tuhan Yang Kudus, tolong jaga dan lindungi putraku dengan Roh Suci-Mu aku mohon …," lirih Miranda, ia berulang kali mencium putranya dengan deraian air mata.


"Maafkan Mama, maafkan, Mama! Jodie, maaf …!" Isak tangis Miranda, ia melepas gendongannya dan menyelipkan putranya dari pagar jalusi pintu gerbang.


"Mereka akan tahu namamu, Amelia telah merajut semua bajumu dengan namamu, Nak. Suatu saat kita akan bertemu.


"Tumbuhlah dengan sehat dan baik, jadilah orang hebat dan penyayang! Semoga Tuhan menjaga-Mu, Nak!" ucap Miranda, ia menyeka air mata dan memasukkan amunisi ke kedua pistolnya.


Miranda memberikan kalung salip dari lehernya di gendongan putranya, ia berharap suatu saat ia akan bertemu dengan putranya lagi.


"Kelak, jika kita bertemu! Aku harap, aku masih bisa mengenalimu, Nak …!" lirih Miranda.


Miranda kembali berbalik arah, "Aku harus membuang jejakku, aku tak ingin mereka menemukan Jeff!" batin Miranda, ia kembali tepat sebelum musuhnya melihat Miranda, ia berlari ke arah jalanan becek agar tapak kakinya berada di sana.


"Dia lari ke sana! Itu tapak kakinya!" teriak seorang musuh, "ayo, kejar dia!" teriak seseoang.

__ADS_1


Dor! 


"Aaa!" bahu Miranda tertembak dan luka kembali terjadi, ia tetap mencoba untuk berlari.


Namun, ia merasa di depannya ada orang-orang yang menolong dan menembak semua musuh yang menyerang dan sebuah tangan menangkap tubuh Miranda yang jatuh pingsan akibat kelelahan dan darah yang merembes.


"Miranda! Ya, Tuhan! Lorenzo! Habisi mereka semua! Ayo, bawa Miranda!" teriak Joey.


Ia langsung membopong Miranda dan membawanya menaiki mobil dan langsung mengendarai mobil dengan kencang dan membawa Miranda ke kastil La Costra Nostra.


"Dokter!" panggil Joey, seorang dokter muncul dan langsung membawa brankar, Joey membaringkan Miranda dan dokter langsung mengobatinya.


"Apa yang terjadi?" batin Joey bingung, ia tak bisa menghubungi Jovink dan Jodie, malah telegram mengatakan agar ia pulang ke La Costra Nostra karena Jodie dan Jovink sedang ke luar kota.


Lorenzo muda datang, "Tuan Joey! Semua perusuh sudah tewas! Namun, tak seorang pun yang membuka mulut bahkan, mereka meminum racun!" ujar Lorenzo.


"Apa?" ujar Joey bingung.


Siang-malam Joey menghubungi kedua saudaranya tapi, tak seorang pun yang menjawab telepon dan membalas telegramnya, ia semakin kalut.


Joey merawat Miranda hingga Miranda tersadar. Miranda melihat bayangan dinding yang putih dan ia melihat wajah Joey.


"Miranda … apa yang terjadi?" tanya Joey.


"Kau! Kau telah membunuh putraku dan Jodie!" teriak Miranda murka, ia ingin mencakar dan memukul Joey tetapi, Miranda kembali jatuh di pembaringan akrena lukanya.


"Apa maksudmu? Aku tidak akan pernah melakukan hal gila itu!" ujar Joey bingung.


Namun, Miranda tak peduli. Sehingga seorang wanita Meksiko tua seorang ART yang selalu menolong dan merawat Miranda. Sejak saat itu Miranda tak bertemu dengan Joey.


Miranda tak pernah keluar dari kamar Jodie ia melihat potret Jodie di setiap dinding dengan kedua adiknya tersenyum manis membuat Miranda semakin menangis.


Miranda menghabiskan waktu di kamarnya tak ingin keluar, hingga pada suatu malam, seorang ART baru menyuguhkan makanan. Miranda hanya diam tak pernah bicara pada siapa pun.


Ia memakan nasi dan meminum jus jeruknya tatapi ia merasa panas, ia tak tahu mengapa hingga ia pun pingsan. Saat Miranda tak sadarkan diri, seseorang membawa Joey yang pingsan ke kamarnya membaringkan Joey di sisi Miranda.


Miranda bermimpi di antara sadarnya jika Jodie datang dan mengajaknya bercinta dengan gila, semalaman Miranda bercinta dengan Jodie di dalam bayangannya. Akan tetapi, kala Miranda dan Joey tersadar, keduanya sedang berlabuh mengayuh biduk cinta mereka.


"Kau!" teriak keduanya.


Keduanya ingin melepaskan diri tetapi, obat perangsang begitu mengerikan hingga tak lagi bisa memisahkan mereka.

__ADS_1


"Miranda … maafkan aku!" ulang Joey kala ia menggauli Miranda dengan gairah yang mengerikan.


Miranda hanya mampu menangis kala ia pun tak bisa melepaskan dirinya dari Joey.


__ADS_2