
Dean bersembunyi, dia hanya melihat beberapa orang keluar dari dalam lorong bawah tanah yang paling dalam, semua orang berjalan dengan cepat dengan pakaian serba hitam dan melesat ke luar dari ruangan yang berbeda dari Dean masuk.
"Jadi, ruang rahasia bawah tanah ini memiliki beberapa pintu?" batin Dean, ia hanya diam menantikan kepergian semua orang.
"Andaikan aku punya banyak waktu aku pasti sudah mengikuti mereka, aku ingin tahu di mana akhir pintu itu berada," batin Dean.
Namun, ia mengurungkan niatnya,
"Aku harus memberitahukan kepada Jeff, Dwinov, dan Lorenzo," batin Dean, ia tak ingin gegabah sebelum ia membagi rahasia temuannya pada semua orang yang terancam nyawanya.
Dean bergerak dengan cepat kembali ke ruangan di belakang patung seorang wanita tanpa busana, mendorong pelan pintu dan ke luar dari balik pintu rahasia tepat di balik patung.
Dean berjalan dengan santai, setibanya di dalam ruangan yang tak memiliki CCTV ia berlari dengan cepat ke arah ruang perkumpulan di mana semua orang sedang melantunkan ayat-ayat suci dari Injil.
Dean memasuki ruangan dan berjalan pelan seakan tak terjadi sesuatu apa pun, ia duduk di samping kiri Jeff, Dean melihat jika Dwinov dengan serius membaca bait-bait Tuhan dari sebelah kanan Jeff, Dean melihat jika Loly di belakang Jeff bersama dengan Mama dan semua orang.
Dean mengambil kitab suci dan membukanya seakan ia pun membaca dengan serius setiap bait tersebut. Ia tak ingin ada yang curiga dengan kedatangannya yang mengetahui sesuatu di ruang rahasia bawah tanah.
"Dari mana saja, Kau?" bisik Jeff, ia masih menatap lurus ke depan.
"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu dan Dwinov juga Lorenzo. Teruslah membaca Jeff," ujar Dean, ia menatap ke arah Lorenzo yang duduk termangu tanpa kata.
"Memang ada apa?" tanya Jeff, ia penasaran dan melakukan apa yang diminta oleh Dean.
"Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Um, ini … tentang nyawa kita berempat juga pasangan kita," bisik Dean pelan.
"Oh," balas Jeff, "dari mana saja, Dean bisa mengetahui banyak hal?" batin Jeff.
"Apakah kau melihat ada orang baru masuk sebelum aku masuk kemari?" tanya Dean, ia mengedarkan pandangan.
"Hm, hanya Pablo dan beberapa orang dari geng Malcom, Kent, dan Chien Zi. Memang ada apa?" tanya Jeff, penasaran.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Dean.
"Baiklah, hanya sebentar." Jeff ingin mencari alasan untuk ke luar sejenak.
"Tunggu aku di dekat patung wanita tanpa busana," ujar Dean.
"Apa?"
__ADS_1
"Sudah lakukan saja, tapi berhati-hatilah di sana. Jangan sampai ada yang tahu kau di sana," ujar Dean berbisik pelan
"Baiklah," keduanya seakan sedang membaca kitab suci di tangan mereka yang sedang terbuka.
Jeff menutup kitab suci dan menyilangkan tangan di kedua belah dadanya seakan menyudahi sejenak apa yang sedang dibacanya.
Berselang 15 menit Jeff keluar, kemudian Dean pun ke luar dari ruangan di mana jenazah Pedro di letakkan di sebuah peti putih dengan salib dan karangan bunga mawar putih di atas peti jenazah.
Dean secepatnya berlari dari ruangan ke ruangan lain untuk menghindari jejak dari musuh yang sedang mengikutinya. Sesampainya di patung wanita tanpa busana, Dean mencari Jeff.
"Jeff!" panggilnya pelan.
"Apa," balas Jeff pelan
"Ayo!" ajak Dean, ia mendorong pintu dan masuk.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Jeff, ia semakin curiga pada Dean.
"Aku juga baru tahu, ruangan ini pada hari ini juga. Ayolah, sebelum orang lain memergoki kita," bisik Dean, ia masuk ke dalam ruangan bawah tanah dengan separuh tubuh dan separuh tubuh lain masih di luar ruangan.
"Apa boleh buat, aku pun penasaran!" batin Jeff, ia berusaha untuk mempercayai Dean kali ini.
Jeff masuk dengan cepat dan memindahkan senjata apinya ke depan agar dia mudah untuk meraih. Jika Dean berniat ingin membunuh ataupun mengkhianatinya.
Dean menggunakan tangan untuk memberikan isyarat sebagai mana dulu, saat mereka bertiga masih kecil jika ingin mengatakan sesuatu rahasia agar tak didengar oleh pengawal Jovink Nostra yang kejam pada mereka bertiga.
"Aku tidak tahu, aku juga baru masuk kemari dan baru sampai di sini. Aku tadi mendengar seseorang menangis dan dipukuli juga segerombolan orang yang ingin membunuhku, kamu, Dwinov, dan Lorenzo.
"Aku rasa, Pedrosa meninggal karena dibunuh! Makanya aku mengajakmu kemari. Aku tidak bisa mengajak Dwinov dan Lorenzo, karena semua orang berkumpul di ruang perkumpulan," ucap Dean dengan tangan kanan menggunakan bahasa isyarat tuna rungu.
"Baiklah! Ayo, ikuti aku!" ajak Jeff, ia ingin maju tapi Dean menarik tangannya.
"Tunggu dulu, aku tidak tahu apakah di dalam sana ada jebakan atau tidak? Kita sama-sama baru memasuki ruang bawah tanah ini," ujar Dean.
Jeff diam ia berpikir sejenak, ia meraba dasar gua dan melemparkan beberapa kerikil.
"Siapa itu? Kaukah Pedro?" ujar seseorang.
Jeff dan Dean saling pandang, keduanya saling menganggukan kepala dan berjalan perlahan di dalam gelap bersembunyi dengan merapatkan tubuh ke dinding.
__ADS_1
Grap!
Jeff dan Dean langsung membekap mulut si pria dan keduanya menyeret mayat si pria. Dean menyalakan pemantik, keduanya saling pandang.
Keduanya saling menggelengkan kepala, dan menyembunyikan mayat tersebut, mereka tidak mengenali siapa pria tersebut.
"Nanti kita akan mengambilnya," ujar Jeff.
Jeff dan Dean beringsut berjalan dengan mengendap-endap menuju lorong gelap ruang bawah tanah yang hanya bercahaya obor.
Di sebuah kurungan seorang wanita sedang meringkuk dengan rambut menutupi seluruh wajah dan luka di sekujur tubuh. Bau darah menyengat.
"Miranda …!" lirih Dean, ia mengenali wanita di bawah ruangan bawah tanah La Costra Nostra di Tijuana.
"Miranda?" ucap Jeff.
"Ya, dia wanita yang aku katakan memiliki gen yang sama denganmu. Tapi, mengapa dia di sini?" ucap Dean tak mengerti.
"Ayo, selamatkan dia!" bisik Jeff.
"Aku tidak memiliki kunci," jawaban Dean.
Jeff mengedarkan pandangan dan mencari kawat, ia langsung membuka kunci menggunakan kawat tersebut.
"Wow! Aku tidak mengenali sisi burukmu yang lain, kau mirip dengan pencuri Jeff," ucap Dean dengan bahasa isyarat.
Namun, jeff hanya diam. Jeff sudah terlalu banyak menderita hidup di kerasnya jalanan untuk bertahan hidup dari kelaparan dan sudah melakukan banyak kejahatan sebelum Jovink menemukannya.
Keduanya mendekati wanita bernama Miranda yang sudah terkulai lemah, Jeff mengangkat dan membopong wanita yang sangat bau akan kotoran dan tak pernah mandi tersebut.
"Lindungi aku!" bisik Jeff, ia melihat ke arah Dean yang menganggukan kepala dan menarik senjatanya.
Keduanya kembali keluar dari pintu di balik patung wanita tanpa busana dan berlari melalui semak bunga mawar dan tumbuhan bunga yang merambat menuju ke gua yang lain dimana mereka dulu sering bersembunyi menyembuhkan luka akibat latihan dan hukuman yang diberikan Jovink.
Keduanya memasuki ruangan persembunyian dan ke luar kini mereka sadari jika mereka bukan lagi kanak-kanak sehingga keduanya sedikit kesulitan untuk ke luar.
Jeff memberikan tubuh wanita yang pingsan pada Dean dan ke luar terlebih dulu dari lorong dan Dean mengulurkan tubuh wanita tersebut pada Jeff kemudian Dean ke luar.
"Kita naik apa? Mobilku di garasi kastil?" tanya Dean.
__ADS_1
Dean melihat mobil, ia langsung mencuri mobil dengan kawat yang digunakan untuk melepas kunci kurungan.
"Ayo!" ajak Jeff dan langsung menyetir meninggalkan kastil La Costra Nostra.