
Jeff hanya terdiam, ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Walaupun demikian jika bukan karena Loly dan Jodie menolongnya saat di Denver pun ia mungkin tidak akan selamat.
"Maafkan aku, Jeff! Aku tidak tahu, selama ini kamu ada!" ucap Jodie getir, ia bingung ia merasa tak lagi berhak untuk menyebut dirinya seorang ayah.
Jodie sadar ia tak pantas disebut seorang ayah, karena selama 30 tahun dirinya tak pernah menafkahi putranya. Jangankan nafkah memeluk dan menggendongnya pun tidak.
"Aku, aku tidak tahu harus berkata apa Jodie, eh, Pa … um … mungkin dirimu … harus meminta maaf pada seseorang itu saja!" ujar Jeff, ia sendiri tidak mengerti harus bersikap bagaimana.
"Um, ya … kamu benar!" ucap Jodie, "jika Miranda masih hidup … aku berhutang banyak padanya …," lirih Jodie termenung.
"Apa?! Jadi, selama ini …," ujar Loly dan Jeff.
"Ya, aku mencari ke seluruh Amerika dan Meksiko juga Skotlandia. Miranda tidak ada …," lirih Jodie perih, ia menatap seseorang yang berdiri mematung.
"Lorenzo? Kaukah itu?" sapa Jodie, ia merasa sedikit bahagia.
"Ya, aku Jodie! Apa kabar! Dari kita berenam hanya kita berdua yang masih hidup! Mengerikan! Kau ke mana saja?" tanya Lorenzo, ia ingin marah.
"Jika kau dan John tidak pergi ke Denver, aku rasa semua ini tak akan pernah terjadi," ujar Lorenzo.
"Ya, bukankah kalian yang memintaku ke Denver?" tanya Jodie.
"Apa? Kami malah menunggu kabar darimu, kau sama sekali tidak bisa dihubungi sama sekali!" ujar Lorenzo.
"Begitu juga aku, yang tidak bisa menghubungi kalian. Sial! Kita tidak bertanya di mana Jovink? Andaikan dia masih hidup atau sudah mati, di mana kuburnya?" ujar Jodie, ia termenung.
"Jangan khawatir, Pa! Aku akan bertanya kepada Pablo nanti." Jeff berkata.
Semua orang diam, jika Jeff sudah berkata demikian. Semua orang tahu bagaimana kejamnya seorang Jeff jika sudah marah.
"Ayo, kita pulang!" ujar Jeff, "Bowen! Frank! Selamat datang di Meksiko! Aku harap kamu betah di sini," ujar Jeff merangkul keduanya.
"Well, aku malah ingin pulang! Rasanya ngeri di sini, lebih aman di Denver saja!" Balas Bowen.
"Besok saja, kamu pulang! Kita akan mampir di rumahku," ujar Jeff.
__ADS_1
"Hai, Loly! Apa kabar!" sapa Bowen memeluk Loly, "kau tidak berubah sama sekali! Aku mengira kau sudah hamil," ujar Bowen.
"Eh, hehehe, belum … masih proses!" bisik Loly, ia sedikit ngeri membayangkan hal itu.
"Halo, Manis! Aku bersyukur kau masih hidup di lingkungan keras Nostra!" sapa Frank, "Goldblack kirim salam padamu, mereka rindu selai blueberry buatanmu, Sayang!" ujar Frank.
"Ah, Frank! Aku juga rindu mereka," bisik Loly bahagia.
"Ayo, kita pulang! Serahkan saja semuanya pada polisi," ujar Jeff.
Semua orang pulang, ambulan membawa Jodie yang terluka. Jeff sudah menelpon Zack untuk membawa Miranda dan Terra kembali ke rumah mewahnya di Fajardo.
Dari kejauhan di serambi depan Miranda di kursi roda sedang menantikan ketiga anak dan menantu juga sahabat yang masih tersisa, ditemani Terra.
Miranda berulang kali berdoa dengan menggenggam Rosario miliknya untuk meminta pada Tuhan akan keselamatan semua orang yang disayanginya.
Zack tidak membiarkan Miranda untuk melihat siaran tersebut, karena Jeff tak ingin Miranda semakin kacau jika ketiga putranya tewas. Pakaian putih Miranda melambai tertiup angin.
"Ya, Tuhan! Ada apa ini? Siapa yang …?" batin Miranda.
"Tuhan, jangan ambil putra-putra dan menantuku. Ambillah aku saja! Aku sudah terlalu banyak menikmati kehidupan ini," bisik Miranda di dalam jiwanya.
Miranda hanya diam membeku, ia hanya menanti siapa yang akan keluar dan siapa yang akan digotong dari brankar ambulan.
Miranda melihat Dwinov, Lorenzo, dan Dean. Deg! Jantung Miranda tercekat ia tak menyangka jika Loly dan Jeff tidak ada.
"Dean, Dwinov, Lorenzo. Apa yang terjadi dengan … dengan Jeff dan Loly?" lirih Miranda, ia ingin bergerak tapi Dean dan Dwinov langsung meraih Miranda agar tak jatuh.
"Ma, mereka baik-baik, saja! Bukan Jeff atau Loly yang terluka, Ma." Dean langsung memegang tangan Miranda.
"Lalu, siapa? Jika kalian semua pulang dengan selamat?" bisik Miranda, ia menatap ke arah ambulan dan menantikan siapa yang keluar.
Deg! Deg! Deg!
Debar jantungnya bergemuruh tak karuan Miranda hanya memegang dadanya ingin menenangkan debaran jantungnya yang bergemuruh kencang.
__ADS_1
"Ya, Tuhanku! Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah yang terluka?" batin Miranda.
Miranda melihat Jeff dan Loly ke luar dari ambulan dengan segar bugar, dan seseorang keluar dari sana dengan tangan digendong perban dan balutan perban yang banyak di dada dan lengan.
Keduanya saling menatap, dan tertegun. Tiada seorang pun yang akan menyangka jika orang yang dirindukan selama ini sudah berdiri di depan mata.
"Mi-miranda!" ujar Jodie tercekat.
"Jo-jodie!" lirih Miranda.
Jodie berjalan mendekat ke arah Miranda dengan pandangan yang tak berkedip dan linangan air mata. Sejuta kerinduan dan beribu pertanyaan ingin melesat keluar tetapi, lidah mereka kelu, begitu juga sebaliknya.
Kedua insan yang pernah mengikat janji walaupun mimpi itu tak lagi pasti. Kini, keduanya saling berdekatan dan bersitatap dengan lelehan air mata.
"Miranda … aku …," lirih Jodie bingung, ia mengira setelah 30 tahun mereka akan begitu mudah untuk mengucapkan semua rasa yang mereka pendam.
Miranda pun hanya berlinang air mata tak lagi tahu untuk memaki ataupun berkata. Lidah keduanya kelu tetapi, keduanya saling berangkulan dan menangis pilu.
Membuat semua orang yang hadir menangis perih Loly memeluk Jeff dengan linangan air mata begitu juga Dean dan Dwinov saling berangkulan bersama Lorenzo.
"Miranda … maafkan aku! Banyak kisah yang ingin aku ceritakan tapi, setelah aku sadar, aku hanya tahu jika kau sudah tidak ada, Joey juga hanya Jovink.
"Aku ingin kembali tapi, aku merasakan jika Jovink berbeda, aku mendengar kau menikah dengan Jovink. Jadi aku pun tak lagi berkeinginan untuk mengganggu kebahagiaanmu Miranda.
"Maafkan aku! Aku kira kau sudah tiada. Benarkah Jeff adalah putraku?" tanya Jodie ia menyeka air mata di pipi Miranda.
Miranda hanya menganggukan kepala, "Dean putra Jovink dan Dwinov putra Joey, maafkan aku!" lirih Miranda, ia merasa kotor dan malu.
"Sudahlah, Sayang …! Aku bahagia mereka pun lahir dari rahimmu! Aku hanya tidak menyangka jika mereka masih hidup! Jika aku tahu, mereka masih hidup mungkin aku tak lagi menampakkan wajahku," bisik Jodie.
"Papa …," lirih Loly, ia mendekati Jodie.
"Mengapa selama ini papa melarangku untuk bicara mengenai nama papa saat aku dan Jeff menikah?" ujar Loly bingung.
"Karena aku tidak bisa mempercayai siapa pun lagi selain papamu Jhon. Maafkan aku, Nak!" lirih Jodie.
__ADS_1