
Semua orang menahan napas karena kegilaan yang dilakukan Dwinov untuk segera tiba di Fajardo. Ciiit!
Mobil memasuki gerbang rumah Jeff dan mendarat dengan sukses memutar berbelok sedikit di depan pintu rumah Jeff di Fajardo.
"Tepat 1 jam 10 detik!" ucap Dwinov melirik ke pergelangan tangannya.
"Sialan kau kampret!" ujar Dean meninju bahu Dwinov yang terkekeh.
"Eh, bagaimana dengan Kakak Ipar?" tanya Dean dan Dwinov berbarengan, keduanya menoleh ke belakang.
Bruk!
Keduanya hampir saja jatuh dari sandaran jok mobil, mereka melihat jika pasangan tersebut malah berciuman.
"Hadeh! Tahu begitu, ngapain juga dikhawatirkan." Dwinov mencibir, ia rindu Isabel begitu juga dengan Dean ia rindu akan Joana.
"Ya, pasangan yang sedang dimabuk cinta!" ucap Dean, "ayo, ke luar! Aku tidak ingin meleleh karena kutub sudah mencair!" ketusnya dingin.
Tok! Tok!
"Bisakah kami mengangkat Lorenzo?" sela Dwinov, ia mengetuk jendela kaca di jok pintu belakang tepat di samping Lorenzo yang pingsan.
"Oh, maaf! Silakan!" ucap Jeff dan Loly malu-malu, keduanya menyudahi ciuman panas mereka.
Dean dan Dwinov langsung membawa Lorenzo, Dwinov memberikan kunci pada Zack untuk memasukkan mobil ke garasi.
"Terra! Panggil dokter!" teriak Jeff, ia dan Loly berjalan bersisian.
"Baik, Tuan!" Terra langsung menelepon dokter, "Aduh, mengapa banyak yang luka sih? Ada apa dengan La Costra Nostra?" batin Terra khawatir dan takut.
Dwinov dan Dean membaringkan Lorenzo ke sebuah tempat tidur tamu. Terra membawa nampan air minum dan di belakangnya seorang ART wanita muda berambut coklat membawa baskom berisi air hangat.
"Terima kasih, Terra! Terra ini Loly, Loly ini Terra adik Mama. Terra, Loly adalah istriku. Tolong tunjukkan kamar kami," ujar Jeff.
Loly tersenyum kepada Terra yang membalas senyuman Loly, "Mari, Nyonya!" ajak Terra, "Mama benar, istri Tuan Jeff sangat cantik dan baik!" batin Terra senang.
Loly menganggukan kepala dan mengikuti Terra. Dokter memeriksa Lorenzo dan langsung memberikan pertolongan.
"Jahitan yang sangat bagus, aku rasa, semua pengobatan yang dibutuhkan sudah diberikan, aku hanya akan memeriksa Tuan Lorenzo besok lagi," ujar Dokter Abraham.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana dengan wanita yang semalam?" tanya Jeff, ia ingin tahu keadaannya.
Dean dan Dwinov menatap ke arah Dokter Abraham, Dwinov mengeryitkan dahi tidak memahami apa yang sedang mereka bicarakan.
"Nyonya tersebut, sedikit terguncang jiwanya. Dia terlalu banyak … mendapatkan siksaan di sepanjang hidup sepertinya. Tapi, dia sudah mulai sadar dan bisa makan juga aku salut, dia bisa mengingat banyak hal dan tidak mengalami sindrom traumatik!" balas Dokter Abraham.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Dok!" balas Jeff.
"Sama-sama, Jeff!" balas dokter yang sudah tua tersebut tersenyum ramah.
Sepeninggal dokter Abraham, Dwinov mendekati Jeff, "Siapa wanita itu? Apakah kalian menculik wanita begitu?" tanya Dwinov, ia tak mengerti mengapa kedua saudaranya melakukan semua itu.
"Ngaco! Sejak kapan aku harus menculik wanita? Aku punya istri, aku tidak pernah berniat menculik wanita untuk bersenang-senang!" umpat Jeff.
"Lalu, siapa dia?" tanya Dwinov penasaran.
"Miranda!" balas Jeff dan Dean.
"Apa? Mi-miranda … ibu … yang melahirkan kita dan gen yang sama denganmu, Jef?" tanya Dwinov, ia tak mengerti akan semua hal.
Namun, jauh di dalam hati ketiganya mereka bersyukur jika mereka dilahirkan dari rahim yang sama. Walaupun mereka tidak mengerti siapa sebenarnya ayah mereka bertiga.
"Ya!" balas Dean dan Jeff, keduanya meninggalkan Dwinov yang masih terbengong.
"Ayo, ceritakan kepalaku bagaimana bisa kalian bertemu dengannya?" tanya Jeff.
"Ceritanya panjang! Dean, kamu saja yang bercerita!" ujar Jeff malas.
Dean lalu menceritakan penemuannya mengenai ruang rahasia bawah tanah di La Costra Nostra dan mengajak Jeff ke sana juga menyelamatkan Miranda.
"Ooo, begitu! Pantas saja, kalian menghilang satu jam lebih!" ujar Dwinov, ia mulaimmenuadaei sesuatu kejanggalan semalam saat kepergian mereka berdua tanpa pesan.
Ketiganya memasuki kamar yang tersembunyi di balik lemari buku, "Wah, rumahmu keren! Bahkan, ruang bawah tanahmu sangat mewah!" puji Dwinov, ia.memgagumi interior ruangan tersebut.
"Ya, sangat jauh jika dibandingkan dengan ruang bawah tanah di Tijuana dan La Costra Nostra," lirih Dean, ia.membayangkan Miranda yang kesakitan di sana.
Dean merasa bersalah dan berdosa tidak secepat itu menyelamatkan wanita yang tak lain adalah ibu mereka.
Mereka melihat seorang wanita memakai baju berwarna hitam yang sudah bersih dan masih baru dengan perban di sana-sini di sekujur tubuh yang terlihat. Wanita itu berbaring dengan posisi miring menatap dinding penuh corak dan meja dengan bunga mawar di vas yang diberikan Terra.
__ADS_1
Deg! Deg! Deg!
"Se-selamat malam, Nyonya!" lirih Jeff, ia merasa jantungnya berdegup begitu juga dengan Dean dan Dwinov.
Untuk pertama kalinya Jeff dan Dwinov melihat wajah wanita yang dikatakan adalah ibu mereka. Wanita tersebut berbalik, ketiganya melihat seorang wanita cantik berambut hitam legam yang panjang dengan uban menyelinginya.
"Jodie! Kaukah itu!" lirih wanita tersebut saat membalikkan tubuh dan melihat Jeff.
Wanita yang bernama Miranda itu langsung ingin bangun namun, kakinya yang sudah lama terantai tak lagi memiliki tenaga untuk melangkah.
Bruk!
Miranda hampir jatuh jika tidak ketiga pemuda tampan di depannya langsung menolongnya untuk tetap duduk di tempat tidur.
"Jodie …," lirih Miranda, "akhirnya kau datang! Maafkan aku! Aku … tidak bisa menolak Joey dan Jovink! Maafkan aku Jodie," bisik Miranda di dalam isak tangisnya.
"Nyonya, maaf. Aku Jeff bukan Jodie," jawab Jeff, ia menggenggam tangan Miranda.
"Oh, maaf! Hehehe, aku kira … tidak mungkin, Jodie masih terus semuda kamu, dia pasti sudah tua jika masih hidup …," lirih Miranda getir.
Miranda memandang ke arah Jeff lama, ia menatap kedua pemuda di depannya, "Joey, Jovink?" ujarnya, "tidak, puaskan kalian! Telah memisahkanku dengan Jodie dan juga putraku?
"Kalian juga, sudah mengambil anak kalian yang aku lahirkan! Pergi!" teriak Miranda murka.
"Apa?!" balas Dwinov dan Dean bingung.
"Nyonya, dia bukanlah Joey dan Jovink. Mereka … adalah … putra Jovink dan Joey," bisik Jeff.
"Nyonya, apakah Anda tidak mengenaliku saat di Tijuana di ruang bawah tanah?" tanya Dean.
"Tijuana? Oh, kaukah yang datang dan memberiku roti?" tanya Miranda pada Dean, "kau mirip sekali dengan Jovink!" bisiknya.
Miranda menyadari di ruang rahasia Tijuana yang gelap ia sama sekali tidak mengenali pemuda tersebut. Kini, ia melihat bayangan Jovink di sana.
"Aku …," Dean menatap Jeff, ia butuh bantuan, hatinya bergetar ingin memeluk wanita yang selama ini dicarinya.
"Nyonya, namanya Dean dia … putra Jovink dan itu Dwinov putra Joey," ucap Jeff.
"Putra Joey dan Jovink? Apakah kalian lahir pada tahun 1994 dan 1995?" tanya Miranda.
__ADS_1
Miranda masih menatap kedua pemuda di depannya, ia melihat wajah yang mirip dengan pria yang tidak dicintainya dan ada guratan wajah miliknya di wajah kedua pemuda tersebut.
Wanita cantik bernama Miranda itu masih terus menatap kedua pemuda tersebut, de gan tatapan kosong dan kerinduan juga kebencian yang nyata.