
"Terima kasih, Diana. Aku sangat mengharapkan hal itu, aku selalu ingin, jika aku pulang ada orang yang menantikan diriku di rumah," ujar Bowen, ia merengkuh Diana di dalam dekapannya berpelukan dengan waktu yang sangat lama.
"Berhati-hatilah, Sayang … cepatlah pulang. Aku berharap kamu dan Dwinov sehat selalu kembali kepada kami dengan selamat," ujar Diana, ia membelai wajah Bowen dengan penuh kasih sayang.
Diana tidak menyangka dengan kematian suaminya Adam, ia memang bersedih selama dua tahun tersebut tetapi, sejak kehadiran Bowen yang mampu meringankan semua luka dan deritanya membalut semua kepedihan yang dirasakan oleh Diana.
Bahkan, Bowen mampu memberikan cinta kasih kepadanya dan putra semata wayang buah cinta Diana dan Adam yang tak pernah kehilangan kasih sayang dari seorang ayah yang diberikan oleh Bowen yang luar biasa.
Adam ** bahkan memanggil Bowen dengan sebutan ayah, Diana dan semua orang begitu bahagia. Mereka tak menyangka jika Bowen benar-benar bisa memberikan cinta dan kasih sayang pada Adam **.
"Ya, percayalah! Aku akan selalu berhati-hati dan aku harap kalian juga di sini berhati-hatilah! Aku rasa musuh begitu lihai memecah belah kita," ucap Bowen, "apalagi, musuh begitu pintarnya menyamar menjadi salah satu dari kita, itu yang membuat diriku sampai detik ini tidak habis pikir," lanjut Bowen.
Bowen masih berusaha untuk memecahkan masalah tersebut, ia masih saja penasaran dengan semua itu. Walaupun ia sendiri tak tahu bagaimana itu bisa terjadi.
"Ya, musuh benar-benar hebat!" balas Diana, "tapi, aku yakin dengan kepintaran kalian. Jika kalian pun tidak kalah hebatnya dengan mereka. Aku percaya itu!" balas Diana.
"Terima kasih, Sayang. Baiklah, aku akan segera tidur. Ayo, tidurlah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu dan Adam," ucap Bowen, ia menggandeng tangan Diana.
"Ya, ayo … apakah kamu tidak ingin tidur denganku?" tawar Diana, ia tahu ia terkesan agresif dan menyalahi aturan.
Namun, ia tak ingin menyesal suatu saat jika Bowen tak kembali. Bowen hanya terperanjat akan undangan yang ditawarkan oleh Diana padanya. Akan tetapi, dirinya pun tahu. Jika Bowen tak ingin menyakiti hati Lorenzo dan Gwenie.
"Sayang, bukan aku tidak mau, jika aku melakukannya. Aku takut, jika aku tak lagi ingin pergi dari sisimu. Aku ingin … menghancurkan musuh kita dulu baru kita mengarungi hidup yang sebenarnya.
"Aku terlalu kolot dan aku ingin sekali di sepanjang hidupku aku melakukan hal yang benar!" papar Bowen, ia merengkuh tubuh Diana dan tersenyum.
"Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku dan aku tidak ingin aku melakukan kesalahan yang gila," ucap Bowen dengan penuh kasih sayang.
Bowen mencium sekali lagi bibir wanita yang disayanginya, "Tunggu aku, sepulang dari Tijuana … aku ingin kita menikah. Apakah kamu mau Diana?" tanya Bowen, ia menangkup wajah kekasihnya.
"Tentu saja aku mau! Aku kira kamu tak pernah meminta hal itu padaku Bowen," ucap Diana, ia membelai wajah Bowen.
__ADS_1
"Bowen, aku tidak menyangka hatimu begitu luas dan Ya, Tuhan … kamu luar biasa, Sayang …," ucap Diana, ia merasa orang yang paling bahagia di dunia.
"Ayolah, mari kita tidur … aku ingin besok kamu pergi dengan keadaan segar bugar dan kembali dengan selamat. Ingatlah, aku dan Adam menantikanmu!
"Cobalah untuk terus hidup dan selamat demi kami berdua," bisik Diana.
"Tentu saja, Sayangku. Jangan khawatir, aku mencintaimu!" ucap Bowen.
"Aku juga mencintaimu?" balas Diana.
Keduanya tidur dengan penuh harapan dan rasa kebahagiaan walaupun mereka tidur di kamar terpisah.
***
Keesokan paginya ….
Loly dan Jeff mengendarai mobil pergi ke San Fransisco, sedangkan Bowen dan Dwinov pergi ke Tijuana. Masing-masing mengendarai mobil dengan kecepatan yang luar biasa berpisah di persimpangan jalan menuju tujuan masing-masing.
"Sayang, bolehkah aku tidur? Aku rasa perjalanan masih begitu jauh," ucap Loly, ia mulai menurunkan sandaran kursinya.
"Apakah kita sudah tiba?" tanya Loly, ia penasaran melihat ke luar jendela.
"Ya, kita akan mencari penginapan sambil menyelidiki di mana letak benteng Dark," ujar Jeff, ia memarkirkan mobil mewah yang sudah dimodifikasi oleh Dwinov dan Bowen.
Keduanya telah cek in di sebuah hotel. Keduanya melihat jika di dalam hotel tersebut ada sebuah kasino khusus orang-orang kaya.
Jeff memandang Loly dan tersenyum, "Bagaimana menurutmu jika kita berdua nanti malam pergi ke kasino itu?" tanya Jeff, "aku ingin tahu dan di mana kita bisa menyelidiki benteng Dark," lanjutnya.
"Tentu saja! Aku pun ingin mengetahui bagaimana sih, jika jadi nyonya kaya raya yang bermain kasino?" ujar Loly, ia tersenyum menggoda Jeff.
"Hahaha, kamu ini ada-ada saja!" ujar Jeff, "tapi, boleh juga dicoba itu. Siapa tahu, kamu lebih jago di meja judi daripada aku," bisik Jeff tersenyum.
__ADS_1
"Apakah boleh?" tanya Loly penasaran.
"Tentu saja, Sayang! Mengapa tidak?" balas Jeff.
Tengah malam keduanya turun ke kasino dengan tampilan yang berbeda, Jeff memakai setelan jas dan tuxedo dan Loly dengan gaun sedikit terbuka di bagian punggung berwarna keemasan yang mewah.
Mereka berdua bagaikan pasangan orang kaya raya yang sedang mencari kesenangan dan ingin menghamburkan uang di meja judi dan roulette.
Loly melihat kepingan-kepingan koin bergemerincing kala para penjudi memasang taruhan dan meja roulette berputar, tumpukan koin berpindah tempat dan sorakan para pemenang kala mendapatkan penambahan koin.
Loly memasang taruhannya begitu juga dengan Jeff yang lebih memilih di meja kartu di mana bandar begitu piawai membagikan kartu dari tangan-tangan cekatan mereka.
"Tuan, pasang taruhan Anda!" ujar bandar cantik mulai mengocokk kartu di tangan.
"Kartu 6, 9, As!" ujar Jeff
Bartender cantik tersebut hanya menatap ke arah pria di depannya, ia tahu itu bukanlah permainan kartu yang ingin dipasang pria di depannya.
"Apa yang ingin Anda ketahui?" balas Bandar Cantik tersebut.
"Benteng Dark!" balas Jeff singkat.
"Sial!" umpat bandar cantik tersebut, ia sedikit menoleh ke kanan-kiri dan CCTV.
"Teruslah bermain, Tuan! Apa yang kamu tanyakan … itu sangat berbahaya hanya kematian yang bisa membebaskan dirimu, Tuan!" bisik Bandar cantik, ia terus membagikan kartunya.
Jeff mengambil helai demi helai kartunya dan membuang kartu yang tak penting, "Aku tidak peduli!" tegas Jeff berbisik tersenyum.
"Siapakah dirimu, Tuan? Aku tidak akan memberikan informasi, jika aku tak mengenalmu!" ujar bandar cantik tersebut.
"Jeffry Dimitri Nostra!" lirih Jeff, ia menatap dari balik kacamata hitamnya sedikit menariknya hingga melorot ke hidungnya.
__ADS_1
Glek!
"Nos … tra …," lirih si wanita dan ia kembali mengacak kembaran kartu di tangan dan kembali membagikan pada Jeff.