
"Lalu di mana letak gedung atau tempat mereka berbuat sesuatu? Aneh? Hm, aku akan menyelidikinya … apakah mungkin basecamp mereka terletak di bawah tanah begitu?
"Wah, hebat sekali! Lalu di mana pintu masuknya?" batin Jeff, ia benar-benar penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Sial! Mereka lebih licik dari tikus tanah! Pantas saja, pemerintah tidak mampu melacaknya! Um, apakah sebaiknya aku memasang bom saja dan ranjau ya?
"Itu terlalu bahaya bagiku, tapi jika aku menggempurnya dengan beberapa bom bisa juga memaksa tikus keluar dari sarangnya, jika sarangnya diusik!
"Sudahlah, besok saja aku memikirkannya," batin Jeff, ia segera beranjak naik ke tempat tidur memeluk Loly yang sudah tertidur dengan posisi miring karena perutnya yang sudah hamil 5, bulan mulai mengganggu.
"Istriku … yang cantik … semoga kamu memimpikanku dan mimpi yang indah! Aku mencintaimu, Sayang …," bisik Jeff, ia mengecup kening Loly dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Keesokan paginya ….
"Hm," Loly meregangkan kedua belah tangannya yang hampir saja meninju wajah Jeff.
"Aw! Ya, Tuhan … Jeff! Maafkan aku Sayang," lirih Loly, ia tak menyangka jika dirinya hampir saja meninju wajah suaminya yang tidur memeluknya.
Loly langsung membelai wajah suaminya di mana jambang dan brewoknya sudah mulai membayang di rahang dan dagu serta lehernya.
"Jeff, kamu tampan sekali! Hm, betapa beruntungnya aku, dua Nostra yang berguru luar biasa di hidupku! Satu sebagai ayah dan dari sebagai suami.
"Dua Nostra yang melindungi diriku dengan penuh kasih sayang dan cinta hingga aku tak lagi kekurangan apa pun." Loly membatin, ia mengecup sekilas pipi suaminya.
"Sayang, ada apa?" tanya Jeff terbangun akibat sentuhan tangan dan bibir istrinya.
Jeff mengangkat kepalanya melihat wajah istrinya dengan penuh kasih dan cemas dua rasa yang membaur menjadi satu, Jeff tersenyum melihat wajah mengembang istrinya.
"Apakah harus ada sesuatu jika aku menyentuh dan mencium kamu,Yank? Kamu terlalu paranoid!" ejek Loly, ia mencubit hidung suaminya.
__ADS_1
"Bukan begitu Yank! Karena kamu lagi hamil, aku takut ada apa-apa dengan kamu dan anak kita? Itu sih? Lagian aku ini milikmu, kamu mau sentuh ya bolehlah, apalagi yang ini Yank!" ujar Jeff.
Jeff menarik tangan Loly dan menempelkannya pada benda tumbuk yang sudah mencuat. Loly hanya terbengong, ia tak menyangka jika suaminya semakin hari semakin omes dan terlalu genit.
Glek!
Loly hanya bisa menelan ludah memandang suaminya, ia selalu saja tak mengerti mengapa suaminya bisa memiliki perasaan yang aneh dan benar-benar membuatnya kacau balau.
"Sayang … kamu ini … ya, ampun!" lirih Loly bingung.
"Hahaha, kenapa? Kan memang setiap pagi dia bangun, Yank. Itu tandanya aku nih normal tahu!" papar Jeff.
"Oh, begitu ya?!" balas Loly, ia baru mengetahui banyak hal.
"Ya, iyalah! Kamu ke mana aja sih? Memang tidak ada yang mengajarimu demikian mengenai anatomi tubuh manusia khususnya pria?" tanya Jeff, ia tak mengerti istri cantiknya yang pintar bela diri, juara karate mata.
"Sayang, bukankah kita akan menyelidiki benteng? Aku rasa jika kita turun sarapan dan berpura-pura menjadi seorang turis aku rasa itu akan membuat tak seorang pun yang akan curiga pada kita, Yank …," usul Loly.
Loly tak ingin membuang-buang waktu, ia ingin segera segalanya usai dan mereka akan menjalani dan mendapatkan cinta yang penuh kasih tanpa selalu merasa was-was jika musuh akan kembali menyerang mereka.
"Hm, kamu benar-benar … sedikit pun tak ingin bermanja ria denganku, Yank …," keluh Jeff kekanakan, ia cemberut.
"Ya, ampun, Yank. Kamu tahu, aku malah sangat ingin selalu bersama denganmu, karena aku ingin menghabiskan waktu tanpa harus selalu menjadi cemas jika musuh akan datang dan membantai kita seperti domba yang ingin dikorbankan saja!" ujar Loly.
"Hahaha, perumpamaan kamu itu mengerikan Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkan semua hal itu akan terjadi, Yank. Bagiku kamu dan semua keluarga kita adalah yang terbaik, Sayang!" balas Jeff, ia mengecup kening istrinya
"Lalu, mengapa kita harus membuang waktu Yank?" tanya Loly tak mengerti kala suaminya semakin merapat dan ia tahu jika sesuatu di bawah sana sudah mulai mengeras dan menginginkan sesuatu.
"Aku hanya ingin … um, 10 menit saja Yank," bisik Jeff, ia mulai membelai bagian sensitif tubuh istrinya.
__ADS_1
"Ah, Sayang … aku pun sangat ingin akan hal itu! Tapi, aku tak ingin segalanya semakin kacau Yank. Aku …," Loly semakin tak bisa bergerak dan berkutik kala ciuman dan sentuhan tangan dan bibir Jeff semakin membelai sekujur tubuhnya.
"Yank …," lirih Loly, ia tak lagi sanggup jika segala rasa yang tercipta dari setiap sentuhan yang diberikan oleh Jeff ada di tubuhnya menggelitik seluruh Indra perasa miliknya.
Jeff semakin lincah dan liar membelai segalanya hingga penyatuan mereka begitu indah kala ******* mulai mewarnai kamar.
"Jeff, oh …," lirih Loly, ia semakin memeluk guling membelakangi tubuh suaminya kala penyatuan mereka begitu indah.
Jeff begitu pintar membuat Loly terbang ke bulan dan ia pun memenuhi janjinya hanya 10 menit saja, mereka melakukan segalanya dengan rasa berbeda dan indah sehingga keduanya melanjutkan ke kamar mandi.
Setelah mereka mandi keduanya kembali memakai baju yang nyaman untuk berburu musuh, Jeff selalu saja terpesona dengan tubuh istrinya yang semakin berisi dan tidak terlalu gemuk.
"Aku mengerikan ya?" tanya Loly sedikit cemas, kala ia melihat pandangan akan Jeff yang tak berkedip padanya.
"Hah! Bukan! Kamu semakin cantik dan berisi Sayang, sial! Jika bukan karena Montes sialan itu. Aku sudah kembali ingin menyentuh kamu, Yank!" keluh Jeff, ia menggaruk sisi kepalanya.
Jeff membuang pandangan ke luar jendela di mana matahari sudah mulai meninggi. Ia sedikit cemberut, ia ingin segera menemukan musuhnya dan tak ingin lagi menyerah dan mengalah.
"Baiklah, Yank! Apakah sudah siap segalanya? Apakah sudah bisa kita mulai pergi berburu?" tanya Jeff, ia melihat jika istrinya sudah
"Ya, bolehlah! Mari kita berburu sekarang, Yank. Aku juga ingin memburu mereka dan ingin menghancurkan musuh kita Yank," jawab Loly.
Mereka kemudian pergi ke Queensland dan mencoba untuk mencari jejak musuh mereka. Keduanya masih mencari tahu keberadaan basecamp musuh.
***
Sementara Dwinov dan Bowen sudah berada di Tijuana, keduanya menyewa sebuah losmen kecil di dekat kasti La Senorita yang sudah berubah menjadi Benteng Montes.
"Kata papa dan mama, di benteng La Senorita, terdapat pintu lorong bawah tanah. Ini petanya ya?" tanya Dwinov.
__ADS_1