
Dwinov langsung berlari masuk ke dalam gudang mencari tahu ada apa sebenarnya. Ia melihat jika anak buah Montees berlarian ke luar dari gudang mencoba menyelamatkan sesuatu.
Dor! Dor!
Dwinov mulai menembak musuh, ia sudah mulai mendekati gudang di mana anak buah Dwinov sedang berusaha untuk menyelamatkan sesuatu.
"Ayo, cepat! Selamatkan koper! Aku tak ingin Pablo akan marah!" umpat Pedro.
"Pedro …!" lirih Dwinov, ia melihat jika Pedro dan beberapa anak buahnya sudah berhasil kabur.
Dwinov melihat Jeff masih bertarung di sayap gudang sebelah kanan dengan para ninja. Bahkan, Jeff dan ninja menghilang di balik pepohonan dan gelap hutan yang mulai senja.
"Apa itu?" batin Dwinov, ia penasaran dengan tabung dan koper di tangan anak buah Pedro yang mencoba untuk menyelamatkannya dan seseorang pria yang mirip seorang pekerja laboratorium.
"Apakah mereka menciptakan narkoba jenis baru?" batin Dwinov, ia langsung menembak koper yang dibawa si pria.
Duar!
Sebuah ledakan yang maha dahsyat langsung menerjang menghancurkan semua gudang hingga sebagian hutan menjadi sebuah kubangan dengan api menyala.
Bruk! Bruk!
Ledakan dengan kekuatan yang mengerikan itu, mampu membuat Dwinov terlempar dan menambrak sebatang pohon dengan jarak 10 meter.
"Aduh, sialan! Senjata apa itu? Apakah mereka berencana ingin menguasai dunia? Apakah selama ini mereka memperdagangkan senjata legal ke luar negeri?
"Benar-benar bajingan! Tidak bisa dipercaya! Jadi, selama ini mereka semua sudah merencanakan hal ini begitu?" umpat batin Dwinov mencoba untuk bangkit.
Klik!
Kokangan senjata terdengar di atas tubuhnya, "Sial! Aku terjebak? Mengapa bisa?" batin Dwinov bingung, ia menengadahkan wajah dan melihat jika Pedro dan anak buahnya sudah menodongkan senjata ke arah kepalanya.
"Hahaha, satu Nostra tertangkap! Dikiranya ia bisa membunuh kita dengan mudah! Persis, ayahnya Joey yang bodoh!" umpat Pedro, ia tersenyum puas.
"Aku akan membalaskan dendam ayahku! Akibat Jodie brengsek yang masih hidup itu?" umpat Pedro kesal.
__ADS_1
"Bajingan! Bagaimana bisa, aku setolol ini?" batin Dwinov, ia masih memegang pinggangnya yang sakit dan berusaha untuk berdiri Engan bertumpu dengan barang pohon yang sudah melukai pinggangnya.
"Aduh, sial!" ketus Dwinov, jika ini di rumah aku sudah memotong batang pohon ini!" dengusnua kesal.
Dwinov lebih marah kepada barang pohon daripada Pedro dan anak buahnya. Hal itu membuat Pedro semakin murka,ia tak menyangka jika Dwinov begitu menganggap rendah dirinya.
"Senjata apa yang sedang kalian buat? Apakah kalian berencana ingin menghancurkan Amerika atau Meksiko?" tanya Dwinov, ia tak peduli jika ia harus mati.
"Hahaha, apa pedulimu! Kau tahu, jika Jeff mengetahui semua rencana kami. Aku yakin dia pasti murka, aku tidak berhasil membunuhnya di Denver.
"Brengsek! Siapa sangka jika dia bisa bebas? Aku benci Jeff! Aku benci!" teriak Pedrito marah, ia sedikit meneleng-nelengjan kepalanya.
"Dasar idiot!" batin Dwinov, ia mengetahui jika Pedro memiliki keterbelakangan mental.
"Hahaha, kau tidak akan bisa membunuhnya, kau bodoh sekali! Kau tahu jika Jeff adalah putra dari Jodie Nostra. Papamu sendiri saja Pedrito tidak berhasil membunuh Jodie.
"Konon kau … yang anak kemarin sore. Ngimpi kali!" ucap Dwinov, ia sudah berdiri tegak dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Apa? Jadi … Jeff putra Jodie Nostra? Siapa ibunya?" tanya Pedro, ia sedikit tertarik.
Dwinov tersenyum, taktiknya berhasil untuk mengelabui Pedro yang idiot. Selain itu, Dwinov ingin sedikit ruang dan waktu agar bisa menyembuhkan rasa sakit di pinggang yang hampir patah.
"Kalian tahu, Tuhan punya rahasia yang sangat indah tahu. Mungkin sudah saatnya kejahatan kalian akan hancur!" ucap Dwinov tersenyum bahagia.
"Bajingan! Kau bisa tertawa tapi, kau tidak akan selamat dari sini. Ayo, bunuh dia!" perintah Pedro mengibaskan tangan menyuruh anak buahnya untuk menyerang Dwinov.
Semua anak buah Pedrito langsung menyerang ke arah Dwinov, dengan menggunakan pedang di tangan. Dwinov sedikit menggerutu ia sama sekali tidak menyangka jika harus melawan musuh dengan pedang.
"Senjata yang paling kubenci adalah pedang!" umpat Dwinov kesal, "tapi, daripada aku mati … ya, terpaksalah!" batin Dwinov, ia berusaha untuk menyerang musuh dan bertahan hidup.
Dwinov berusaha untuk melompat ke sana kemari menghindari tebasan pedang, kras!
Pedang sudha mulai mengoyak bajunya.
"Sial! Untung saja! Kapan sih, manusia itu berpikir rugi? Padahal nyawa sudah hampir saja melayang," batin Dwinov.
__ADS_1
Dwinov sama sekali tidak membawa pedang hanya sangkur yang dipaksa Jeff, diselipkan di salah satu kantong celana panjangnya.
"Wah, tidak sepadan sama sekali!" ujar Dwinov, ia menatap sangkur di tangan dan pedang di tangan musuhnya.
"Hahaha, sudahlah kamu menyerah saja! Agar kami mudah membunuhmu dengan cepat tanpa rasa sakit sama sekali! Aku janji!" ketus Pedro, ia menyeringai.
Pedro merasa jika dia begitu beruntung mendapatkan dan bisa menyudutkan Dwinov. Pedro semakin bergairah untuk membunuh Dwinov.
"Pablo dan semua orang pasti bangga denganku. Mereka pasti memberiku kedudukan yang hebat!" batin Pedro.
"Hah! Apa kau bilang? Aku menyerah saja! Cih! Tidak ada di dalam kamusku kata itu! Seorang Nostra tidak akan pernah menyerah, Pedro!" umpat Dwinov ia mengambil sebuah sangkur lagi.
"Paling tidak dua sangkur lebih baik daripada hanya satu," batin Dwinov, ia mencoba untuk mempertahankan dirinya.
Trang!
Pedang anak buah Pedro mulai menyerang, Dwinov sedikit mundur dan menangkiskan sangkur ke pedang musuh dan sebelah sangkur langsung dilemparkan tepat di leher anak buah Pedro hingga darah merembes.
Anak buah Pedro langsung memegang luka di urat nadi di leher membuat genggaman pedang di tangan terlebas, Dwinov tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung menebaskan pedang ke leher musuh hingga terpenggal dan meregang nyawa.
Dwinov langsung memutar pedang untuk kembali menangkis serangan lawan yang ingin membunuh dan mengeroyoknya. Kali ini Dwinov merasakan jika musuhnya sangat luar biasa cekatan di bidang pedang juga berkelahi.
"Sial, banget! Aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai pedang!" batin Dwinov, ia semakin galau.
Namun, Dwinov berusaha untuk terus mengayunkan pedang hanya mengandalkan naluri saja. Walaupun demikian Dwinov berhasil membunuh beberapa orang.
"Serang dan bunuh dia, cepat! Aku tak ingin Nostra yang lain akan tahu!" umpat Pedro, ia masih mengawasi anak buahnya untuk menyerang Dwinov.
"Bajingan! Mereka benar-benar serius!" batin Dwinov, ia mulai kewalahan karena yang dihadapinya anak buah Chien Zie.
Kras!
Mata pedang kaki tangan Pedro telah berhasil melukai tangan Dwninov, hingga darah mulai merembes di sana. Dwinov berusaha untuk menahan rasa sakit yang dideritanya.
Buk!
__ADS_1
Sebuah tendangan Pedro tepat di dada Dwinov membuatnya terjatuh bersandar di batang pohon.
"Hahaha, Mampus Kau!" teriak Pedro mulai berlari dengan pedang terhunus ke arah Dwinov.