Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Janji setia suami-istri


__ADS_3

"Ya, kita akan menunggu malam tiba. Sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat. Aku berharap ada ceruk  yang bisa menyelamatkan kita dari musuh yang akan menyerang kita," balas Jeff, ia mengulurkan tangan untuk menuntun Loly melewati semak dan bebatuan.


Keduanya berjalan cepat dan mengendap-endap dan bersembunyi di sebuah ceruk yang tidak jauh dari bangunan markas musuh yang masih tersisa.


"Jeff, aku mau tidur …," ujar Loly.


Loly merebahkan diri dengan meringkuk di lantai ceruk Jeff berusaha untuk memperhatikan sekelilingnya jika ada musuh yang akan mendekati mereka. 


Jeff bersyukur jika musuh tak ada yang mendekat ke arah mereka. Akan tetapi, ia merasa jika kekacauan semakin mendera. Jeff memperhatikan gedung dengan teropong.


"Bajingan, kau Kent? Jadi, dia yang mengawasi benteng Dark? Pantas saja ada ninja dan samurai. Sialan itu masih belum tewas, jika aku bisa membunuh Kent maka Jordan dan Kent sudah tidak ada.


"Berarti musuh tinggal Pablo, Chien Zie, dan beberapa orang lagi. Hm, tapi mereka bukanlah musuh yang bisa dianggap mudah. Aku harus benar-benar bisa mengalahkan mereka jika ingin selamat. 


"Freedom benar! Sehingga mereka berusaha untuk membungkamnya," batin Jeff, ia masih terus berpikir.


"Apa yang harus aku lakukan? Ini semakin mengerikan! Ya, Tuhan …," lirih Jeff, ia memandang istrinya yang meringkuk tidur dengan nyenyak.


Jeff tersenyum melembut, ia merasa sejak hamil Loly terlalu mudah untuk tidur di mana pun tak peduli jika lantai keras, semak belukar, atau di kasur empuk sekalipun. Loly ajan tertidur dengan mudahnya.


"Maafkan aku, Sayang …," bisik Jeff, ia membelai wajah dan perut istrinya.


Jeff merasa malu sebagai suami yang tidak bisa memberikan kebahagian dan hidup yang layak bagi ratu di kehidupannya.


"Aku selalu membuatnya menderita, sampai kapan semua ini? Apakah mudah bagiku untuk menghancurkan musuh? Ya, Tuhan ini semakin kacau," batinnya.


Jeff tertidur dengan meletakkan kepala Loly di pahanya, ia tertidur dengan berselonjor kaki dan duduk bersandar pada dinding ceruk tebing paras. Keduanya tersembunyi di antara semak, di sisi mereka sisa rusa panggang masih mereka bawa untuk mengganjal perut perut mereka untuk malam.

__ADS_1


Jeff sedikit menyesal tidak membawa banyak amunisi dan granat untuk menghancurkan benteng musuh. Akan tetapi Jeff tak peduli ia ingin tidur melupakan banyak hal, ia tak peduli.


Makan merayap turun, Jeff dan Loly sudah bangun dan memakan sisa rusa dan bersiap-siap untuk mengunjungi musuh.


"Loly, apakah kamu yakin? Jika kita harus melakukan semua ini? Aku takut kalau kita tidak berhasil. Malah kematian yang menjemput," ujar Jeff, ia semakin takut.


"Jeff, semakin kita berlari mereka pun tidak akan pernah tidak mengejar kita. Lebih baik saat ini kitalah yang mengejar mereka. Aku yakin jika mereka tidak sekuat itu," balas Loly tersenyum.


Loly menyentuh pipi Jeff, Loly berusaha untuk meyakinkan suaminya jika mereka akan berhasil walaupun dirinya sendiri tahu kemungkinan itu 0 : 100. Namun, ia merasa itu harus dilakukan.


"Apa salahnya, jika kita mencobanya Jeff. Jika kita tewas pun, aku rasa tak lagi ada penyesalan. Aku tidak ingin anak kita berada di ambang kehancuran seperti kita. 


"Cukup sudah kita yang kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua kita, Jeff. Jangan lagi anak-anak kita. Kita sama-sama tahu bagaimana rasanya besar tanpa kasih sayang. Andaipun ada, tak sebanding dengan kasih sayang keluarga utuh yang terdiri dari ayah dan ibu.


"Jadi, aku harap kamu tak terlalu memikirkan semua ini. Seperti janji suci kita, aku dan kamu selalu bersama di alam segala duka dan suka. Sekarang, mungkin semua ini adalah ujian untuk bahtera rumah tangga kita, Sayang. 


"Baiklah, jika kamu yakin. Terima kasih, Sayang … maaf, jika aku belum bisa memberikan kebahagian yang utuh padamu! Aku berjanji jika kita selamat, aku akan memberikan segala apa yang aku bisa hanya untukmu dan anak kita," janji Jeff dengan bersungguh-sungguh.


"Aku yakin akan hal itu. Aku sangat yakin, jika suamiku adalah orang yang kuat biasa. Mari, kita kunjungi dan beri kejutan pada mereka( apakah granat kita cukup?" tanya Loly, ia ingin tahu.


"Aku rasa jika kita cepat dan mampu menumbangkan sekitar 50 orang di saat ledakan dan musuh banyak yang tewas saat ledakan aku rasa kita menang. Tapi, jika sebaliknya … ya, nyawa kita taruhannya," jawab Jeff tanpa mau berbohong lagi.


"Hm, kayak untuk dicoba." Loly memeriksa semua senjata di tubuhnya dan tersenyum, ia merasa segalanya masih berada di tempatnya.


"Sayang …," ujar Jeff, ia menarik pinggang Loly.


Jeff mendekap tubuh istrinya dan menangkupkan kedua belah tangan di wajah loly, ia tak ingin kehilangan anak dan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, berjanjilah apa pun yang terjadi. Tolong, selamatkan dirimu dan anak kita, pergilah pada papa. Aku yakin papa akan menolong dan menghancurkan musuh," ujar Jeff.


"Jangan khawatir! Tidak ada apa pun yang terjadi percayalah, aku sudah mengirim  pesan pada papa dan semua sekutu kita. Aku yakin, jika papa pun sudah bergerak," ucap Loly.


"Apa?! Kapan kau melakukannya?" tanya Jeff bingung, ia merasa sejak memasuki Queen Island mereka tidak pernah berhubungan dengan dunia luar.


Loly menunjukkan jam tangan di pergelangannya dan menunjukkan kode di balik jam tersebut dan menekan pesan seakan sebuah tuts keyboard berada di sana dan memasang titik koordinat keberadaan mereka.


"Ya, Tuhan! Kau jenius sekali, Sayang!" puji Jeff, ia merasa istrinya memiliki banyak kejutan.


"Bukan aku yang jenius tapi, Bowen dan Dwinov, sebelum mereka ke Tijuana. Mereka memberikan ini padaku dan semua anggota kita," ujar Loly.


"Lalu mengapa aku tidak?" tanya Jeff cemberut dan merajuk.


"Mereka bilang, kau selalu mampu lepas dari masalah apa pun dan paling hebat! Kau tak membutuhkan semua ini Jeff. Hanya saja, mereka takut, dengan keberadaan diriku bersamamu.


"Maka itu akan melemahkanmu, sehingga mereka memberikan banyak alat canggih padaku untuk menghubungi mereka," balas Loly, "aku rasa ini saatnya kita menunjukkan cara kerja Kehebatan Dwinov dan Bowen. 


"Selain itu, Dean juga memberikan banyak senjata rahasia dengan racun yang diolah oleh papa, paman Enzo, dan Greg. Aku rasa mereka adalah orang-orang hebat!


"Mereka tidak membiarkan kita pulang hanya tinggal nama Sayang," ujar Loly tersenyum. 


"Oh, mereka luar biasa!" balas Jeff bangga akan semua keluarganya.


"Ya, kita dikelilingi orang-orang hebat! Dean memintaku untuk menekan salah satu tombol di jam ini untuk memudahkan mereka datang. Um, peta rahasia. Itu sih katanya, aku sudah menekannya saat mandi tadi," ujar Loly.


"Oh, Sayang … aku tidak tahu harus berkata apa padamu! Kau pelari hebat, petarung luar biasa, pemakai senjata handal, kau juga istri yang entahlah … tak ada satu kata pun yang bisa mewakili semua kehebatan kamu Sayang!" ujar Jeff.

__ADS_1


__ADS_2