
Loly semakin takut jika apa yang dipikirkannya menjadi nyata, pesan Jodie masih terngiang di benaknya dengan jelas.
"Aku harus melindungi ayah," batin Loly, "tapi, Jeff tahu kebenaran mengenai nama ayah kandungku," lirih batin Loly semakin kacau.
Lorenzo mendekat dan memperhatikan wajah Loly, "Ya, Tuhanku! Apakah benar dia putri John? Jika benar ini sangat menyenangkan! Tapi, Pedrosa sudah tewas …," lirih Lorenzo sedih, ia duduk di sofa kembali termenung.
"Um, aku tidak tahu siapa ayahku sebenarnya, sejak aku bayi … ayah sudah meninggal. Ibuku meninggal setelah aku berumur lima tahun.
"Aku diasuh oleh nenekku, um … aku memang memiliki ayah angkat bernama Jodie tapi nama keluarganya Crown. Jeff juga tahu itu!" ujar Loly, "tapi, wajah Jodie mirip sekali dengan Jeff, aduh! Bagaimana ini? Apakah benar Jeff putra ayah?" batin Loly semakin bingung.
"Sebenarnya ada apa? Jika aku boleh tahu?" tanya Loly, ia ingin mengetahui semua kebenaran walaupun pahit.
"Loly, ini …," Jeff bingung, ia memandang Miranda.
Jeff bingung untuk mengatakan kebenaran di depan anggotanya, ia tak ingin Miranda malu dan membuka aib di depan semua anak buahnya yang selalu menghormati mereka bertiga.
"Ini kisah kelam milikku … walaupun mungkin sekarang, itu adalah anugerah … aku diberi tiga orang putra yang dirampas dari tanganku dari bayi. Meskipun … ayah mereka berbeda tapi, ketiganya masih keturunan Nostra.
"Aku harap kalian tak menghinaku dan ketiga Nostra tersebut." Miranda menceritakan kembali kisah kelamnya tetapi, kini ia sedikit lega dan tak lagi dipenuhi dengan tangisan dan air mata.
"Begitulah, kisah hidup dan kelahiran ketiga putraku ini … jadi, jika kamu putri Campbell aku berharap Jodie masih hidup," ujarnya, "love never lasting …," lirih Miranda mengakhiri kisahnya.
Deg!
Jantung Loly tercekat ia pernah membaca kisah di lingkaran cincin pernikahannya bersama Jeff. Loly sendiri tidak tahu dari mana Jeff bisa secepat itu mendapatkan cincin bermata berlian dan cincin miliknya.
"Ulang, Ma?!" ujar Jeff dan Loly bersamaan.
"Love never lasting! Hehehe, itu kisahku bersama Jodie," tawa renyah Miranda untuk pertama kali merasa sangat tolol dan bahagia.
"Cinta yang tak akan pernah berakhir … nyatanya, berakhir tanpa kepastian," bisik Miranda seakan pada dirinya.
"Apakah cincin ini milikmu seharusnya, Ma?" tanya Loly, ia mulai menyadari kisah tragis Jodie yang melajang seumur hidup.
"Apa maksudmu, Nak? Aku hanya pernah menikah dengan Jovink. Itu pun tersembunyi, Jovink menyerahkan cincin kawin emas biasa dan … Pedrosa entah asli atau palsu mengambilnya," ucap Miranda getir.
Miranda tak ada mewarisi apa pun dari Jodie dan Jovink selain putra mereka hanya Joey yang masih memberinya surat maaf dan perpisahan.
__ADS_1
"Oh, baiklah! Mungkin … ada yang salah." Jeff berkata dan tak ingin melanjutkannya lagi.
"Dari mana Jeff mendapatkan cincin ini?" batin Loly, "apakah ayah memberikannya?" batinnya, ia ingin bertanya tetapi, Jeff sudah mematahkan pertanyaannya.
"Ma, ayo, sebaiknya Mama istirahat!" ajak Loly, ia melihat Miranda begitu lelah.
"Baiklah, Nak. Dwinov nikahilah Isabel, aku mohon …!" ujar Miranda sebelum pergi didorong oleh Loly.
Semua orang diam, Dwinov memandang kedua saudara dan Lorenzo.
"Begini, saja! Kita lakukan dulu rencana kita untuk melenyapkan diri kita dulu, setelah itu Dwinov menikahi Isabel dan membawanya kemari, baru … kita susun rencana baru lagi. Bagaimana menurut kalian?
"Aku memahami apa yang dirasakan oleh Miranda, karena aku juga sudah menjadi orang tua," ucap Lorenzo, ia mengingat sepasang anaknya yang sudah menikah dan bahagia.
"Ya, usul Lorenzo benar! Hm, Loly benar-benar mirip John, hanya kurang jangkung karena dia wanita," lirih Lorenzo, ia meraba kembali sakunya dan mengeluarkan dompetnya.
Lorenzo membuka lipatan kertas sebuah foto usang berwarna yang diambil pada tahun 1990 tertera di sana.
"Kemarilah!" ujarnya.
Ketiganya mendekat, "Nah, ini Jodie, Miranda, Joey, Jovink, aku, Pedrosa, dan John …," lirih Lorenzo, ia menunjuk wajah-wajah tersenyum bahagia dengan tangan saling berangkulan di bahu masing-masing.
Deg!
Jantung Jeff tercekat, ia melihat bayangannya di sana dan ia merasa jika dia tua akan mirip Jodie Crown.
"Apakah Jodie Crown ayahku?" batin Jeff, ia sedikit penasaran.
Namun,ia pun tak memiliki bukti untuk itu. Jeff hanya memutar cincin kawinnya, bayangan Jodie memberikan cincin itu kembali terbayang.
"Ya, Tuhan … bagaimana ini?" batin Jeff.
"Aku akan mulai mengkopi mobilku!" ujar Dwinov, "aku ingin mengabulkan keinginan Mama. Dia ingin aku menikahi Isabel aku akan melakukannya," ucap Dwinov.
"Baiklah, aku akan membantumu! Aku dulu sering membantu Joey!" ujar Lorenzo senang.
Jeff dan Dwinov hanya diam, mereka tak lagi memiliki paman yang selalu bersama ayah mereka.
__ADS_1
"Dwinov lebih beruntung!" ujar Dean, ia tersenyum.
"Dan di antara kami hanya kau yang lahir dari hasil pernikahan, kau juga beruntung!" balas Jeff.
"Yeah, kau pun beruntung lahir dari sebuah cinta yang indah!" ucap Dean tersenyum.
"Kita semua beruntung!" balas Jeff.
"Ya, kamu benar! Ayo, bantu aku untuk menyusun strategi membunuh diri kita," ajak Dean.
"Rasanya mengerikan seperti bunuh diri saja!" ucap Jeff tertawa.
"Hahaha, kau benar! Aku tidak pernah membayangkan jika kita akan melakukan ini. Membunuh diri sendiri!" lirih Dean.
***
Sementara Loly sudah membaringkan Miranda di tempat tidur, ia memijat kaki Miranda.
"Hm, percuma, Nak. Kakiku sudah 30 tahun dirantai, aku rasa sudah tidak bisa berfungsi dengan baik lagi," ujar Miranda tersenyum.
"Aku sudah cukup bahagia melihat ketiga putraku berkumpul dan menantuku yang mirip John dan … aku berharap Dwinov menikahi Isabel juga Dean memiliki kekasih … itu sudah lebih dari cukup," ujar Miranda tersenyum.
"Apakah Mama tidak ingin bertemu dengan Jodie?" tanya Loly, ia menatap ke mata Miranda yang tiba-tiba sendu.
"Mungkin … dia sudah menikah dan bahagia. Jika dia masih hidup aku kira tak mungkin dia tak mencariku, mungkin … aku tidak berarti untuknya," ucap Miranda tersenyum manis.
"Ma, apakah Mama tidak mau memotong sedikit rambutmu?" tanya Loly.
"Apakah ada gunting yang bisa memotong rambut kawat ini? Bayangkan saja, aku tidak mandi selama 30 tahun dan makan seadanya, kadang diberi makan dan tidak.
"Ah, terserahlah … jika kau ingin memotongnya Loly! Aku juga capek melihatnya," ujar Miranda pasrah.
"Apakah kamu tidak ingin pindah ke kamarmu, Nak? Jangan biarkan suamimu sendirian. Mama bisa sendiri dan sudah terbiasa, hanya saja! Aku ingin lampunya sedikit diredupkan! Mataku sedikit silau dan sakit, lirih Miranda.
Loly mematikan sebagian lampu dan hanya menyalakan lampu di koridor kamar mandi.
"Ah, rasanya sedikit nyaman … Loly … ah wajahmu. Andaikan John masih hidup … aku ingin bertanya, ke mana saja mereka selama ini?" ujarnya termenung.
__ADS_1