Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Keinginan dan harapan


__ADS_3

"Tidak! Sudah saatnya kita harus menghapus kejahatan Montes, aku pikir, selama ini … mereka tidak akan berani mengganggu kita tapi, nyatanya mereka malah senantiasa membuat segalanya semakin kacau balau! Aku tidak suka itu!" umpat Jodie murka.


"Sudah saatnya kita menghabisi mereka semua. Aku akan meminta pada geng-geng kecil untuk mendukung kita nantinya," lanjut Jodie.


"Aku yang akan pergi ke mana pun yang kau utus Pa!" ujar Dean, ia benar-benar murka.


"Kamu rawatlah, Joana! Malam ini, aku dan Loly akan pergi ke Benteng Dark." Jeff menyentuh bahu Dean, ia merasakan rasa kesedihan dan kepahitan yang sedang dilanda adiknya karena kehilangan bayi mereka.


"Aku dan Bowen akan ke Tijuana! Aku rasa kami akan ke sana," ujar Dwinov, ia menatap Bowen yang langsung menganggukkan kepala.


"Hati-hatilah, kalian aku sangat yakin mereka tidak akan semudah itu melepaskan siapa pun yang ingin menghancurkan mereka. Terutama, jangan terlalu percaya jika ada seseorang yang mirip sahabat kalian mendekati kalian," ujar Lorenzo.


"Apa maksudmu Enzo?" tanya Jodie tak mengerti. 


"Aku mengingat kala Aku tertangkap aku mengingat jika Jhon mengajakku untuk menemuimu dan ternyata itu bukan Jhon.


"Jadi berhati-hatilah! Pedrosa mengira Jovink yang mendekatinya ternyata bukan, hingga dirinya pun tertangkap! Paling tidak kalian harus waspada dan benar-benar mengenal teman atau pasangan kalia secara nyata," ujar Lorenzo.


"Baiklah, kalau begitu Paman Enzo! Kami akan mengingatnya," balas Jeff dan semua orang.


Mereka mulai saling bertanya banyak hal seperti Bowen yang mulai berta ya banyak hal tentang masa lalu Bowen dan apa saja begitu juga sebaliknya.


Jeff dan Loly hanya saling pandang, keduanya tak mengerti akan banyak hal tapi berusaha untuk mengerti. 


"Besok pagi saja kalian pergi, aku tidak ingin jika masih ada yang menghadang kalian di perbatasan!" ujar Jodie, ia tak ingin kehilangan anak-anak mereka lagi.


"Baiklah, Pa! Kami akan menyediakan semua keperluan keberangkatan kami nanti," ujar Jeff.


Keduanya dan semua orang kembali ke kamar masing-masing mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan mereka semua.


"Sayang, apakah kamu yakin? Kita melakukan semua ini? Maksudku, apakah kamu merasa tidak terbebani dengan membawaku?" ucap Loly, ia tak ingin aka menjadi beban bagi Jeff.


"Tidak, Sayang! Kamu juga sangat hebat! Aku yakin itu, mereka akan sulit untuk menjebakku denganmu," ujar Jeff.


"Benarkah?! Bagaimana kamu bisa begitu yakin?" tanya Loly, ia penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja, aku yakin. Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Aku percaya dengan membawamu Sayang, aku malah tidak bisa pergi sendirian atau dengan yang lain jika kami masih di sini.


"Aku tidak akan bisa fokus Yank. Jika kamu tidak ikut, aku rasa … aku akan lebih fokus menyelidiki musuh, jika kamu di sisiku," balas Jeff.


Jeff menatap Loly yang berbaring di sisinya, ia memiringkan tubuh menghadap ke arah Loly.


"Aku sangat yakin, Loly! Sudahlah! Lota sudah mempersiapkan semua senjata dan segala hal yang kita perlukan juga peta yang diingat oleh Paman Enzo, walaupun tak semuanya jelas.


"Namun, paling tidak kita sedikit memahami apa ya g dimaksud dengan benteng Dark di San Fransisco itu," ucap Jeff, ia membelai wajah istrinya yang cantik.


"Ya, semoga saja Dwinov dan Bowen pun tidak mengalami sesuatu yang mengerikan. Begitu juga dengan semua orang yang kita tinggalkan di Goldblack," balas Loly, ia berharap dan berdoa untuk itu.


"Ya, kamu benar Sayang … bagaimanapun Goldblack adalah tempat terindah di mana kita merasakan kasih sayang yang luar biasa," lirih Jeff.


"Ya, sudahlah! Mari, kita tidur. Besok kita harus pergi dengan secepatnya ke Dan Fransisco, Sayang …," ajak Loly.


"Baiklah, semoga mimpi indah Sayang …," bisik Jeff, ia mengecup kening dan bibir Loly sekilas dan tidur saling berpelukan.


***


"Aku tidak tahu, tapi … mungkin Jeff tidak akan bisa fokus jika istrinya berjauhan darinya. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Loly.


"Sayang, aku akan pergi, kau harap kamu menjaga Grace dan semua keluarga kita di sini, berhati-hatilah," ujar Dwinov, "ingat! Jika sesuatu terjadi, selamatkan dirimu dan Grace! Pergilah ke perbatasan di sana aku menyembunyikan mobil.


"Mama, Joana, dan Loly tahu. Jadi,cobalah untuk kalian selamat, bawa Diana dan Gwenie!" cetus Dwinov.


"Baiklah, Yank! Aku akan mengingatnya," balas Isabel, ia memeluk Dwinov.


"Aku harap kamu menghibur Joana. Kasihan dia," ujar Dwinov.


"Ya, tentu saja, Sayang! Aku pasti akan menghibur Joana. Kamu harus hati-hati di sana Yank. Ingatlah, ada aku dan Grace yang akan menantikanmu!" lirih Isabel.


"Percayalah padaku, Sayang! Aku akan pulang dan menepati janjiku," ucap Dwinov.


"Sudahlah, mati kita tidur, Yank!" ajak Isabel.

__ADS_1


"Ya, mari Sayang …," balas Dwinov, ia memeluk istrinya dengan perasaan yang penuh kasih sayang dan cinta yang sulit dikatakan dengan apa pun.


***


Sementara Diana dan Bowen masih duduk di teras depan, keduanya hanya diam memandang rembulan. Adam kecil sudah tertidur di pangkuan Bowen dan ia pun mbaringksnnya di kamar Diana.


Bowen melihat jika Diana masih berdiri memandang rembulan sabit di teras, Bowen merasa jika Diana sedang memikirkan banyak hal.


"Ada apa, Diana?" tanya Bowen, ia memijat punggung Diana. 


"Bowen, aku … aku tidak tahu, apakah … entahlah! Aku tak ingin kamu pergi. Tapi, itu hal tak mungkin," lirih Diana, ia menoleh ke arah Bowen dan memutar tubuhnya membelai janggut Bowen yang sudah mulai tumbuh di sana.


"Diana … doakan saja agar kami sehat dan kembali dengan selamat. Kami berhasil mencari informasi untuk menghancurkan geng Montes. 


"Lagian, jika mereka tidak musnah, itu akan sangat sulit bagi kita dan anak-anak kita kelak untuk bahagia," jawab Bowen.


"Tapi, aku … kamu harus berjanji jika kamu akan kembali Bowen! Ingatlah, aku dan Adam menantikan dirimu. Kembalilah, dengan selamat! Jangan sampai kamu terluka, Sayang …," bisik Diana.


Deg!


Debar jantung Bowen seakan melayang ke langit ketujuh, untuk pertama kalinya Bowen merasakan rasa cinta yang luar biasa. Selama ini Bowen tak berani mengungkapkan cinta kepada Diana.


Bowen merasa ia hanyalah pria berkulit gelap dan tidak setampan Adam, sehingga ia tak berani untuk mengutarakan isi hatinya.


"Diana … aku … aku mencintaimu …," lirih Bowen, ia tak sanggup lagi untuk menahan terlalu lama gairah cintanya. 


Bowen ingin Diana tahu jika dia adalah seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya yang ingin dijaga dan dilindungi bersama putranya Adam.


"Aku pun mencintaimu Bowen, aku sangat mencintaimu …!" lirih Diana, ia mencium bibir Bowen.


Keduanya saling berciuman di bawah sinar rembulan sabit, keduanya ingin mengucapkan janji sehidup semati.


"Diana, tunggulah aku kembali … jika aku kembali kelak, maukah engkau menikah denganku?" tanya Bowen.


"Tentu saja, Sayang … aku sangat menantikan semua itu! Aku akan menunggu kamu di sini bersama dengan Adam," bisik Diana.

__ADS_1


__ADS_2