Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Dicintai ketiga pria


__ADS_3

Hari berganti, ketiga pendiri tersebut benar-benar menghabiskan waktu untuk membangun Tijuana, dan membangun kastil La Senorita (Kastil La Costra Nostra di Tijuana) untuk menghormati keberanian seorang Miranda Fernandez.


Semua orang begitu bahagia dan aman sentosa sejak Tijuana diambil alih La Costra Nostra. Klan Mafia Montes lenyap entah ke mana tak seorang pun ambil pusing akan hal itu.


Miranda, Jodie, Joey, dan Jovink selalu bersama membangun La Senorita demi kemajuan semua orang. Miranda tetap menjadi seorang guru. Ketiga adik-kakak Nostra selalu saja mengirimi Miranda buket bunga indah. 


Namun, di antara ketiganya Miranda hanya mencintai Jodie Nostra. Keduanya mengucapkan janji dan bertunangan di depan semua orang di La Senorita.


Akan tetapi, Jovink dan Joey tidak mengetahui semua itu. Keduanya pergi ke Dan Fransisco dan Denver untuk mengembangkan bisnis La Costra Nostra. Jovink yang playboy berhenti menjadi pecinta wanita demi Miranda dan Joey si pembalap dan pecandu berhenti demi seorang Miranda Fernandez.


Namun, keduanya tak berani mengungkapkan cinta pada Miranda karena Jodie pun memiki hati pada Miranda.


Suatu senja di musim semi pada tahun 1990 ….


Jodie berkeinginan meresmikan pernikahannya bersama Miranda Fernandez di sebuah Gereja di Tijuana. Namun, karena ia ingin menunggu kedua adiknya pulang dari San Fransisco dan Denver sehingga ia dan Miranda harus menunda seminggu lagi pernikahan mereka.


"Jodie! Apakah kamu yakin, jika kamu akan membawaku ke Puerto Rico? Aku hanyalah seorang guru biasa, sangat lucu jika seorang ketua mafia berkelas seperti kalian akan menikahi wanita biasa sepertiku," ucap Miranda muda yang sangat cantik.


Dengan gaun tanpa lengan dan panjang selutut dengan motif bunga pansy. Rambut Miranda yang hitam legam sepinggang tergerai tertiup angin musim semi dan matanya yang hijau bening begitu indah, di depannya Jodie muda yang mirip Jeff, tersenyum dengan penuh kasih sayang.


Melingkarkan sebelah tangannya di bahu Miranda, Jodie merasa damai tinggal di La Senorita Tijuana.


"Miranda, aku mencintaimu! Aku sangat mencintai dirimu, kau tahu. Hanya dirimulah yang bisa membuat diriku bahagia. Aku akan mundur dari mafia La Costra Nostra, biarlah Joey atau Jovink yang akan meneruskan semua itu," ujar Jodie tersenyum.


"Apakah kamu yakin?" tanya Miranda, "kamu tidak merasa sayang harus meninggalkan tampuk kekuasaan kamu. Di mana kamu seorang ketuanya?" tanya Miranda cemas.


"Tidak, demi bersama denganmu aku tak mengapa? Aku bisa menjadi dokter keliling Miranda," balas Jodie, ia langsung meraih pinggang Miranda.


"Jodie, bagaimana jika orang-orang tahu, jika karena dirikulah, kamu mundur! Aku tidak ingin mereka marah padaku nantinya," bisik Miranda, ia sedikit takut akan hal itu.


"Jangan khawatir, Joey dan Jovink pasti akan meneruskan segalanya! Selain itu, aku sudah lelah Miranda," ucap Jodie meletakkan kepala di pangkuan Miranda yang langsung membelai kepala calon suaminya.


Jodie meraih tengkuk Miranda dan mendaratkan ciuman penuh gairah yang membara, membuat keduanya larut akan hal itu. Tangan Jodie mulai merayap masuk kelipatan gaun Miranda membelai sesuatu yang membangkitkan gairah keduanya.

__ADS_1


Di taman penuh mawar dan di rimbunnya bunga rambat keduanya saling berpelukan dan berciuman di bangku taman rahasia mereka berdua.


"Jodie, bagaimana jika ada yang melihat kita?" bisik Miranda. 


Hujan mulai datang membasahi tubuh mereka hingga memperlihatkan lekuk tubuh Miranda yang menggoda dan mengundang hasrat Jodie.


Keduanya mulai terengah di antara guyuran hujan kala hasrat telah membumbung tinggi. Keduanya saling pandang, mereka tahu akhir dari semuanya. Mereka ingin lebih dan lebih untuk mencapai kepuasan itu.


Namun, cinta telah membutakan mata hati keduanya. Jodie menatap wajah Miranda, ia ingin memiliki Miranda seutuhnya.


"Bukankah seminggu lagi kita akan menikah Miranda? Lagian, bukan sekali dua kali kita melakukannya. 


"Mereka juga pernah muda, kita sudah bertunangan!" rayu Jodie, ia langsung menyelipkan kembali tangannya ke balik baju Miranda berusaha untuk mencari sesuatu di sana.


"Jodie …," lirih Miranda, ia merasa dunianya seketika melambung ke langit biru.


Miranda membalas ciuman panas yang diberikan Jodie hingga perlahan dan pasti semua pakaian berserakan di tanah dan mereka menyatukan tubuh dengan penuh gairah dan kasih sayang di bangku taman di dalam rimbunnya bunga.


"Jodie … aku menginginkanmu Sayang …," lirih Miranda, di sela rintihan kenikmatan kala Jodie semakin rakus di bawah sana membelai dan mengaduk-aduk liang kenikmatan milik Miranda.


"Ayo, aku berharap ini akan menjadi seorang putra buah cinta kita Sayang!" bisik Jodie bahagia, ia melakukan penyatuan dengan kemesraan yang hakiki.


"Ah, Jodie!" pekik Miranda, kala Jodie memasuki tubuhnya dengan tongkat miliknya mengayuh dengan rasa lapar dan kebahagiaan.


Lenguhan dan rintihan memenuhi seisi ruangan taman bunga di samping kastil La Senorita, Miranda benar-benar lapar dan dahaga kenikmatan dari sentuhan dan tubuh Jodie.


Miranda telah berada di atas tubuh tunangan ya dan mengayuh pelabuhan cinta hingga berulang Ki ****** ***** tumpah dan berulang Ki mereka bertukar posisi percintaan yang begitu luar biasa liar di bangku taman.


"Oh, Miranda …!"


"Jodie …,"


Lenguh keduanya kala mencapai puncak kepuasan dan mereka saling berpelukan dengan kening menempel dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


Tiga bulan telah berlalu, tapi Joey dan Jovink tak kunjung pulang hingga kehamilan Miranda pun sudah semakin besar. 


"Miranda, aku akan pergi ke Puerto Rico, aku ingin tahu ada apa sebenarnya?" ujar Jodie bingung.


Tiada satu pun telepon dari Jodie dijawab dan sudah puluhan surat maupun telegram tidak dibalas oleh kedua adiknya.


"John, kau pergi denganku. Kita ke Puerto Rico. Aku ingin tahu ada apa sebenarnya?" ucap Jodie.


John Campbell seorang pria tampan jangkung (ayah Loly) hanya menganggukkan kepala. 


"Miranda, aku tidak akan lama! Berhati-hatilah di sini!" ujar Jodie, ia mencium pipi dan bibir Miranda menyentuh perut tunangannya yang sudah mulai terlihat.


"Berhati-hatilah, Sayang …!" bisik Miranda,ia tak menyangka itulah terakhir mereka akan bertemu hingga 30 tahun pernih derita melengkapi nasib seorang La Senorita Miranda Fernandez yang cantik dan baik hati.


Seminggu kepergian Jodie ….


"Senorita! Senorita! Tuan Jodie dan Tuan John tewas!" teriak seorang petani berlari ke kastil La Senorita.


"Apa?!" Miranda terkejut, ia tak menyangka akan hal itu.


"Ba-bagaimana mungkin?" tanya Miranda.


"Tuan Joey dan Jovink Nostra yang membunuh ya?" teriak petani tersebut.


Dor!


Petani tersebut jatuh tepat di depan Miranda. Semua pengawal berlarian untuk melindungi Miranda.


 "Senorita! Selamatkan dirimu dan calon anak Tuan Jodie!" teriak pengawal.


Miranda langsung kabur dari pintu belakang kastil dengan menunggangi kuda meninggalkan kastil megah miliknya yang diberikan ketiga adik-kakak yang mencintainya dengan diam.


Dari kejauhan Miranda melihat kehancuran kastil La Senorita dan banyaknya ledakan dan suara tembakan bergema.

__ADS_1


__ADS_2