
"Hahaha, um, kau jangan merasa malu Dwinov! Kau mengingatkan aku akan seorang Nostra …," ujar Pedrosa, "aku rasa semua Nostra sama saja! Terlalu berlebihan pada seorang wanita," lanjut Pedrosa.
Pedrosa hampir saja kelepasan bicara mengenai sesuatu hal, untung saja Lorenzo langsung menepuk pundaknya. Pedrosa tersadar, ia tak ingin segala sesuatu rahasia yang terlalu banyak tersimpan di kastil La Costra Nostra akan terungkap dari mulutnya.
"Ya, Nostra … terlalu dingin dan kasar di luaran. Namun, di dalam selembut tiramisu …." Lorenzo membuang pandangannya ke luar jendela mobil, ia tak ingin mengingat banyak kejadian kelam di masa lalu mereka.
Mobil terus membawa mereka keluar dari Puerto Vallarta hingga mereka berhasil masuk ke Puerto Rico. Semua orang hanya diam, tak ada yang ingin bicara lagi.
"Jeff, apakah kau tidak ingin menikah?" tanya Dwinov memecah kesunyian.
"Kenapa?" tanya Jeff, ia memandang ke arah Dwinov.
"Apakah kamu ingin menikah?" tanya Jeff.
"Ya, kau tahu, Isabel … sedang mengandung anakku. Tapi … itu tidak lucu! Jika aku terlebih dahulu menikah daripada dirimu!" ujar Dwinov.
"Apa? Seharusnya kau menikahinya Dwinov! Kau harus bertanggung jawab! Jangan pikirkan aku! Jika kau menunda pernikahan kamu itu karena diriku, aku katakan kepadamu, jika aku sudah menikah!" ketus Jeff.
"Apa?! Kau serius, Jeff?" tanya ketiganya serempak seakan mereka tidak mempercayainya.
"Tentu saja, kapan aku berbohong?" tanya Jeff, "kalian akan melihatnya nanti di Puerto Rico, papa dan Mama juga Dean sudah berkenalan dengannya," ujar Jeff.
"Wow! Kapan kau menikah? Mengapa kau tidak memberitahukan kepada kami, Jeff? Apa sih, artinya kamu untukmu?" tanya Dwinov, ia tak menyukai cara pandang Jeff.
"Aku menikahinya saat di … Denver," jawab Jeff berbohong, ia tak ingin semua orang mengetahui mengenai Goldblack.
"Oo, secepat itu?" tanya Pedrosa.
"Ya, dialah gadis yang menolongku. Aku … kasihan padanya karena dia sebatang kara dan rumahnya hancur lebur hanya karena menyelamatkanku!" papar Jeff.
"Kasihan sekali! Rasanya, jika aku tahu siapa musuh kita ini? Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.
"Aku akan menyiksanya sudah berbuat kurang ajar begitu! Apa sih, tujuannya?" ucap Dwinov.
__ADS_1
"Um, apakah kalian tahu jika Papa dan Dean ke Diskotik Freedom?" tanya Jeff, ia masih menatap lurus ke depan.
"Tidak!" jawab ketiganya.
"Bukankah Papa sedang sakit? Bagaimana mungkin Dean membawanya?" tanya Dwinov tak mempercayai semua itu.
"Aku tidak tahu, kata Papa dan Dean, 'Jika mereka dipaksa untuk menyerahkan tampuk kekuasaan dari La Costra Nostra,' aku tidak tahu benar tidaknya.
"Freedom masih terluka parah! Aku tidak sempat bertanya, karena membawa papa pulang kemudian aku kemari lagi untuk membebaskan kalian," ujar Jeff.
"Ada yang aneh? Jika papa ingin menyerahkan tampuk kekuasaan mengapa tidak mengatakan kepada kita? Masih ada kami bertiga!
"Selain itu, kami bertiga juga sedang berada di Puerto Vallarta. Memang apalagi sih, yang sedang disembunyikan papa?" tanya Dwinov, seakan ia bertanya kepada iritnya sendiri.
"Jovink … dia pasti punya rencana lain, aku harus bersiap-siap! Jangan-jangan dia ingin menghancurkan kubunya sendiri. Tapi untuk apa? Apakah dia memiliki sebuah rahasia lain?" batin Pedrosa.
"Jovink sudah kembali berulah! Tapi, bukankah dia sedang sakit? Bagaimana mungkin? Apakah Dean?" batin Lorenzo.
Semua orang kebingungan dan masing-masing menebak-nebak ada gerangan apa di balik semua insiden yang sedang terjadi.
"Tapi-"
"Sudahlah! Kita akan menyelidikinya besok, kamu santai saja berpura-pura saja tidak tahu apa pun!" bisik Jeff, ia menatap kepada Lorenzo dan Pedrosa.
Keduanya pun menganggukkan kepala sebelum memasuki sebuah ruangan dengan koridor panjang dengan patung-patung prajurit dengan mengenakan baju zirah.
"Dean!" sapa keempatnya.
Keempatnya melihat Dean yang duduk di kursi kebesaran seorang ketua La Costra Nostra yaitu : Jeffry Dimitri Nostra sebelumnya Jovink dan sebelumnya tidak diketahui semua rahasia tertutup rapat.
Tiada seorang pun yang berusaha untuk bertanya mengenai hal itu.
Dean langsung berdiri beranjak dari sana, "Ya, Papa memintaku untuk memeriksa semua latar belakang yang dilakukan oleh Alexander Dove dan semua kaki tangannya.
__ADS_1
"Semua mengarah kepada Bowen Utara dan semua geng Malcolm, Jordan, Kent, dan Chien Zi." Dean, langsung mengambil semua lembaran kertas.
"Dean, coba aku lihat! Apa saja yang dilakukan mereka?" tanya Jeff, ia mengulurkan tangan.
Dean sedikit ragu-ragu untuk memberikan semua lembar demi lembar yang langsung dibaca oleh Jeff dan diberikannya pada ketiga orang di sisinya yang hanya diam mematung.
"Aku tidak tahu, apa maksud dari semua ini? Saat aku masih di sini sebelum pergi ke Texas dan Denver, semua berkas ini tidak ada. Lalu, mengapa sekarang ada?" tanya Jeff, ia memandang ke arah Dean.
"Aku tidak tahu … sejak dirimu pergi. Aku rasa yang sering memasuki ruangan ini adalah Dwinov, kamu tanyakan saja padanya!" ketus Dean, ia menatap ke arah Dwinov yang tercekat.
"Apa? Woi! Kalau bicara, kau pikir dulu Dean. Aku memang memasuki ruangan ini tapi, sedikit pun aku tak pernah menyentuh semua barang-barang milik Jeff apalagi masalah La Costra Nostra!
"Kalian mengenalku, bagaimana diriku. Aku tak peduli dengan semua itu. Aku akui aku memang masuk kemari aku hanya ingin mengetahui apakah ada yang telah menjebak Jeff?
"Apakah Jeff meninggalkan sesuatu sebagai bukti? Biar kau tahu, aku sudah menyelidiki masalah itu. Kau tahu, kemana semua arah mengarah? Padamu Dean!
"Kau tak pernah jujur! Kau selalu menemui Joana adik Jordan bukan? Ada hubungan apa engkau dengan adik Jordan?
"Selain itu, aku juga melihat jika kau diam-diam pergi ke kubu Malcom! Kau pikir aku tidak menyelidikinya?" teriak Dwinov.
"Kau tau, aku diam! Karena aku tidak ingin kekeluargaan kita hancur. Kau tahu karena antara kau dan aku memiliki hubungan darah, aku tidak ingin papa semakin sakit parah jika tahu kau terlibat akan pembunuhan Jeff!" teriak Dwinov.
"Tunggu! Apa maksudmu Dwinov? Aku tidak mengerti!" balas Jeff, ia merasa semua orang senang bersandiwara dan menyembunyikan sesuatu.
"Aku menyimpan semuanya! Ayo, ke kamarku!" ujar Dwinov, ia ingin mengatakan dan menunjukkan sesuatu pada Jeff dan semua orang.
Mereka berlima langsung pergi ke kamar Dwinov, ia langsung menarik sebauh laci di nakas tetoai dia tak mendapati apa pun, ia mencari laptopnya tetapi tak ada apa pun di sana.
"Apa? Siapa yang sudah mengambil semua barangku?!" teriak Dwinov murka.
"Kau terlalu banyak alasan Dwinov. Kau bahkan tidak bisa memberikan bukti yang jelas, kau takut bukan jika Jeff akan membunuhmu?" teriak Dean.
"Apa? Heh! Aku tidak pernah takut! Jika aku salah aku selalu mengakui kesalahanku! Tapi, jika aku tidak bersalah, sampai mati pun aku tidak akan gentar! Kalian mengenalku! Atau kalian lupa bagaimana diriku!" ketus Dwinov murka.
__ADS_1
Dwinov tidak menyangka jika selama ini dia lebih menyayangi Dean daripada Jeff karena ia merasa hubungan darah lebih kental daripada air.
Semua orang menatap ke arah Dwinov, "Jeff, kau bisa menyelidiki jika kau ingin. Jika memang aku bersalah, kau boleh membunuhku!" janji Dwinov.