
"Kalian berdua bisa menemuinya, tapi aku tidak bisa membebaskan wanita itu. Pablo mengawasi semuanya dengan ketat. Aku sendiri tidak tahu, mengapa Papa memberikan, hak penuh padanya? Pablo mutlak untuk mengawasi Tijuana dengan hak veto." Dean masih memandang ke arah langit yang dipenuhi bintang.
"Baiklah, mari kita tidur saja!" balas Keduanya.
Mereka berjalan cepat, seseorang dari balik jendela balkon sedang mengawasi ketiganya, ia meremas cerutu di tangan dengan murka.
"Bajingan! Aku harus membuat rencana lebih baik lagi, jika tidak segalanya akan semakin kacau!" batin pria bertopeng tersebut.
***
Di persimpangan koridor ketiganya berpisah, "Hei, Jeff! Aku sangat ingin bertemu dengan kakak ipar! Aku harap dia lebih periang dan tidak sedingin dirimu!" ujar Dwinov di depan pintu kamarnya.
"Aku sudah berkenalan! Aku rasa, Loly akan membuat Jeff, menjadi manusia seutuhnya!" timpal Dean, ia membuka pintu kamarnya tepat bersebrangan dengan kamar Dwinov.
Sedangkan kamar Jeff di sudut di tengah kamar kedua saudaranya. Mereka menempati kamar mereka sejak kecil, mereka tidak mengetahui mengapa demikian.
Namun, besar ruangan dan seluruh isinya semuanya sama, Jovink tidak membeda-bedakan ketiganya, mereka dididik dengan keras dan penuh luka juga penderitaan.
Jeff memasuki kamar dan melihat Loly sedang tidur, ia merasa kasihan melihat istrinya, ia tak tega untuk membangunkan istrinya yang sudah terlelap tidur.
"Maafkan, aku Loly. Aku telat pulang …," bisik Jeff, ia mencium kening istrinya dan merasakan kasih sayang yang sangat luar biasa.
"Aku lupa membawa sesuatu untukmu," bisik Jeff,ia lupa membawa oleh-oleh atau bunga untuk istrinya.
"Jeff, kamu sudah pulang?" lirih Loly, ia melihat suaminya sudah berbaring di sisinya.
Loly merasa jika tempat tidur sedikit bergerak membuatnya terjaga, ia sudah mengunci pintu, tetapi ia tak menyangka jika ada yang bisa masuk.
Namun, ia merasa lega jika Jeff yang masuk dan telah kembali pulang. Jeff tersenyum dengan manis, Loly rindu akan senyuman dan wangi parfum tubuh Jeff. Loly sudah seharian menantikan Jeff. Bahkan, ia sudah belajar memasak caviar pada Mama.
"Sudah, Sayang. Baru saja aku pulang," ujar Jeff, ia tersenyum memeluk istrinya.
"Apa kabarmu, Sayang? Bagaimana harimu?" tanya Jeff, ia ingin tahu kabar istrinya dan apa yang sedang dilakukannya.
Loly menceritakan secara singkat apa saja yang dikerjakannya, ia bersemangat di dalam berbicara membuat Jeff tersenyum memandang Loly.
"Lelahku hilang, kala melihatnya bicara dan tersenyum … Loly, engkau bagaikan air yang membasahi bara di hatiku," batin Jeff.
__ADS_1
"Jeff, apakah kamu sudah makan? Jika belum, aku akan memasak untukmu," bisik Loly.
"Sudahlah, besok saja. Hari sudah terlalu malam Loly, aku tidak ingat ini sudah jam berapa? Aku yakin kamu lelah," ujar Jeff, "ayo, tidur lagi, Sayang!" ujar Jeff.
Jeff kembali memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, "Jeff, apakah kamu berhasil membebaskan mereka?" tanya Loly penasaran.
"Ya, tentu saja aku berhasil. Um, Loly … apakah ada kabar dari papa? Loly, jika ada yang bertanya soal papa Jodie, jangan pernah katakan sejujurnya siapa papa Jodie.
Sebelum kita tahu kebenaran yang sesungguhnya." Jeff masih memeluk pinggang ramping istrinya.
"Memang ada apa?" tanya Loly, ia menelengkan kepala hingga Jeff hampir saja menciumnya.
"Pokoknya, kamu ikutin saja saranku, aku tak ingin akan terjadi sesuatu pada dirimu saat aku tiada. Begitu juga dengan nama Papa Campbell, katakan saja namanya Louis Campbell.
"Oh, baiklah! Aku akan mengingatnya," balas Loly.
"Dan ingat, selalulah membawa pistolmu di balik baju dan jangan terlihat. Kau tahu, aku mungkin jarang di rumah. Di sini, kamu cukup percaya kepada Mama," ujar Jeff.
Loly hanya menganggukan kepala, "Apakah kita akan ke Fajardo?" tanya Loli,ia sangat penasaran ingin tinggal di Fajardo.
"Ya, setelah semua ini sedikit mereda kita akan tinggal di Fajardo. Kemungkinan lusa aku ingin ke Tijuana, aku ingin membawamu!" ucap Jeff.
Loly tidak menyangka jika pernikahannya bersama dengan Jeff akan mengantarkannya ke kota mana pun.
"Ya, kita akan ke Tijuana. Tapi, ingat jangan katakan kepada siapa pun jika kita akan pergi ke Tijuana," ujar Jeff.
"Baiklah, Jeff. Um …." Loly langsung memutar posisi tidurnya menghadap Jeff, ia membalas pelukan Jeff dan tertidur.
Jeff hanya tersenyum, ia tak menyangka bisa memiliki sisi kelembutan yang sangat luar biasa di jiwanya. Jeff mengingat kata-kata dari Pedrosa dan Lorenzo.
"Seorang Nostra akan bertekuk lutut dengan seornag wanita. Itu sepertinya benar! Tapi, jika Dwinov anak Joey Nostra, aku dan Dean? Apa mungkin aku bagian dari Nostra? Aku bukan hanya anak angkat tapi kandung dari salah satu Nostra? Tapi, siapa?" batin Jeff bertanya.
Sepanjang malam Jeff tidak tidur, ia mengingat, jika ia hanya tahu dan dibesarkan di panti asuhan. Dia tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Miranda …? Siapa dia? Mengapa genku bisa sama? Dan Dean bilang 'Kalau wanita itu meninggalkan putranya di panti asuhan," batin Jeff, "aku penasaran? Aku akan ke Tijuana lusa. Aku harus menyelidiki semuanya, tapi bagaimana caranya aku menyelinap ke sana?
"Pablo … pria itu tidak menyukaiku! Mungkin selama ini, dia hanya menghormati diriku karena papa! Dean dan Dwinov benar, Pablo lebih memiliki hak istimewa daripada Dwinov seorang putra kandungnya," batin Jeff, terus berpikir.
__ADS_1
Ayam jantan mulai berkokok dan fajar mulai menyingsing, ia sedikit gerah karena Loly kini telah berada di atas tubuhnya meringkuk bertelungkup mirip bayi.
"Aduh, Loly … kamu benar-benar menyiksaku," lirih Jeff, ia memandang istri cantiknya dan menyelipkan Surai rambut ke telinga.
"Kau begitu cantik sayang …," bisik Jeff, ia membelai pipi Loly.
"Aduh, jika kamu sudah lebih dewasa aku pasti akan merasakan indahnya malam pertama Loly. Hadeh! Sementara ini, kamu sangat menyiksaku," batin Jeff.
Jeff tidak tahu harus berbuat apalagi, ia tak bisa mengatakan jika dirinya sangat menginginkan Loly. Namun, dirinya takut jika Loly malah beranggapan jika dirinya terlalu omes.
"Sabarlah, Jeff. Akan indah pada waktunya," batin Jeff, ia berusaha untuk menetralisir keadaan tongkatnya yang mulai mengeras tak tentu arah.
"Um, Jeff …," lirih Loly, ia bergerak-gerak di atas tubuh Jeff membuat Jeff semakin kacau balau, ia tak menyangka jika Loly melakukan semua itu.
"Loly, bangunlah, Sayang ... hari sudah mulai siang!" ujar Jeff.
"Hm, sebentar lagi …," balas Loly, ia semangkin erat memeluk Jeff.
"Jeff, kamu tidur masih membawa pistol?" tanya Loly kala ia merasa di bagian perutnya ada sesuatu yang mengganjal.
"Pistol? Pistol apa?" Jeff kembali bertanya, ia sama sekali tidak membawa pistol.
"Lalu ini apa?" tanya Loly, ia langsung menyentuh sesuatu yang mengganjal tersebut.
"Loly?!" teriak Jeff, ia tercekat tak menyangka jika istrinya akan menyentuh miliknya.
Loly semakin menggoyang-goyangkan tangannya ia, ingin mencabut pistol tersebut. Jeff tak kuasa lagi untuk tak bergerak, ia langsung membalikkan posisi keadaan di mana loly yang berada di bawahnya.
"Loly, kamu … tidakkah kamu mengetahui itu apa? Itu bukan pistol! Itu pistol dengan peluru cairan yang akan membuatmu hamil 9 bulan!" umpat Jeff.
"Hah!" Loly membelalakkan matanya, ia menyadari kesalahannya.
"Je-jeff … a-apa yang ajan kau lakukan?" tanya Loly terbata-bata.
Ia tak menyangka jika Jeff sudah mulai mendaratkan bibirnya di rahang dan leher Loly.
Deg! Deg!
__ADS_1
Debar di jantung Loly semakin bergemuruh tak tentu arah, ia tak menyangka jika dirinya menyentuh harta pusaka milik suaminya.
"Mampuslah aku! telah membangunkan singa tidur!" batin Loly.