
Sebuah tembakan bergema mengenai tangan Jodie tapi, tembakan Jodie berhasil membunuh Pedrito dengan tembakan di kepala hingga Pedrito jatuh terjengkang ke belakang podium.
"Pedrito!" teriakan semua temannya.
"Papa!" teriakan Pablo dan Pedro.
"Papa!" teriak Loly.
Loly melompat dari tempat duduknya langsung menggenggam dua pistol kecil di tangan untuk menyerang siapa pun yang ingin membunuh Jodie.
Dor! Dor!
Tembakan bergema di mana-mana, kerusuhan mulai terjadi, para wartawan berlari bersembunyi.
"Tutup pintu, jangan biarkan seorang pun kabur!" teriak Pablo, ia tak ingin jika semua kejahatan yang dilakukan keluarganya akan terungkap.
Para pengawalnya langsung menutup pintu gerbang sehingga tak seorang pun bisa ke luar. Semua pengawal Montes menodongkan senjata pada wartawan.
"Tetap di tempat, Kalian!" teriak salah seorang pengawal dengan kejam.
Para wartawan kembali berdiri berjongkok dengan tangan di atas kepala, sementara desingan peluru terus bergema di sana-sini.
"Aduh, sial! Mengapa aku jadi wartawan sih?" teriak seorang wanita cantik, ia sedikit kesal.
Wartawati tersebut tidak ingin menjadi wartawan tetapi, ia menginginkan sebuah kebenaran. Sehingga ia pun harus terperangkap di sana.
"Dean …," lirihnya.
"Joana?! Apa yang kau lakukan di sini?" ujar Dean mendekati kekasih hatinya dan menariknya untuk mendekat padanya di sebuah pilar.
"A-aku ingin mencari kebenaran," ucap Joana, tubuhnya gemetar ketakutan.
Dean merasa kasihan dan mendekapnya, "Jangan jauh-jauh dariku!" bisik Dean.
"I-iya," balas Joana, ia memeluk erat kekasihnya dan menyiarkan secara langsung.
Dor! Dor!
Sementara kekacauan terus terjadi berbarengan dengan umpatan dan makian Loly yang bergema.
"Bajingan, kau Bangsat!" teriak Loly, ia menembak ke arah pengawal dan ketua mafia geng Montes.
Jodie dan Loly bergerak bersembunyi di balik pilar kasti La Costra Nostra, sementara Jeff, Dwinov, Dean, dan Lorenzo pun mulai menyerang melindungi Jodie dan Loly.
__ADS_1
Loly tidak peduli jika dia pun tewas, ia ingin berbakti pada Jodie yang telah membesarkannya sedari umur 7 tahun. Bahkan, selama 20 tahun Loly hanya mengenal jika Jodie adalah ayahnya.
"Anak, bodoh! Mengapa kau kemari? Bukankah kalian sudah tewas?" teriak Jodie, ia bingung menatap Loly yang mengenakan seragam wartawati dan kacamata.
"Tidak, Pa!" balas Loly, "ceritanya panjang!" lanjut Loly.
"Pergilah, Loly! Demi Tuhan kau keras kepala persis John," umpat Jodie.
Deg!
"Jadi, benar aku putri Johny Campbell? tanya Loly, "katakan Jodie! Siapa sebenarnya dirimu dan Johny Campbell?" teriak Loly, ia ingin suatu kebenaran.
"Sesudah jadi istri pun kau masih saja barbar! Apakah Jeff tidak mengajarimu dengan baik!" teriak Jodie dari pilar lain dan masih menembak.
Keduanya masih saja bertengkar seakan mereka masih berada di Denver, "Kau lebih cerewet dari John dan Gwenie!" teriak Jodie.
"Mengapa kau selalu menyembunyikan kebenaran dariku!" teriak Loly murka, ia terus menembak ke arah musuh tanpa ampun.
"Aku sudah bilang kehidupanku dan John sangat rumit!" teriak Jodie, "aku ingin bertanya pada Jeff. Mengapa dia tidak mengajarimu menjadi wanita yang sesungguhnya?" umpat Jodie.
"Apa yang diajarinya? Aku dibesarkan oleh pria dan Ya, Tuhan! Aku tak mengerti mengapa aku bisa terjebak di dalam semua ini?" umpat Loly.
"Maafkan, aku Loly! Aku ingin membesarkanmu secara manusiawi. Tapi, aku takut jika musuhku dan ayah kandungmu akan mengetahui siapa kau? Dan kau tak siap Loly!" umpat Jodie.
Kini, ia menyadari putrinya yang tak lain adalah putri John sangat mirip dengan ayahnya. Jodie meneteskan air mata kesedihan.
Jeff berdiri di depan Loly dengan pistol dan darah mulai merembes di tangan,
"Tidak, Papa! Jika kau mati! Aku pun akan mati!" teriak Loly.
"Kau bukan anak-anak lagi, Loly! Jangan mengancamku!" teriak Jeff, ia mengingat Loly akan selalu mengatakan hal itu, jika Jodie ingin pergi jauh.
"Tangkap dan bunuh Jodie! Juga wanita itu!" teriak Pablo.
"Bukankah itu istri Jeffry Dimitri Nostra?" gumam semua orang.
Semua wartawan langsung menyiarkan semua berita ke seluruh dunia. Mereka tak peduli lagi, "Jika kita mati ada bukti siapa pelaku sebenarnya?" ujar salah satu wartawan dan langsung menyiarkan secara live.
Semua wartawan mengikuti aksi pria tersebut. Mereka secara bersama-sama menyiarkan secara live sebagai bukti kejahatan Montes dan semua mafia.
Dor! Dor! Dor!
Jeff, Dwinov, Dean, dan Lorenzo masih menyerang musuh dan pengawal mereka. Di luar pun terjadi kekacauan tim SWAT dan polisi mulai mendobrak pintu bersama Bowen Utara dan Frank.
__ADS_1
Sementara Jeff melesat dengan menembak dan berlari melompati bangku demi bangku untuk melindungi istri dan ayahnya.
"Jangan mencoba untuk membunuh istriku!" umpat Jeff, ia menembak Kent yang ingin menodongkan pistol pada Jodie dan Loly yang masih saja terus bertengkar.
"Jeff! Terima kasih, Tuhan! Kau anak dan menantu yang baik, Nak. Terima kasih, sudah menjaga putriku," ujar Jodie tersenyum.
"Halo, Paman!" sapa Dean.
"Halo, Paman! Anda mirip Jeff! Loly anak Paman? Sepertinya terbalik Jeff yang anakmu, Paman!" sela Dwinov.
"Apa?! Miranda …." Jodie tak lagi bisa bersuara, ia menatap Jeff, ia menatap dirinya sewaktu muda.
"Miranda …," lirih Jeff.
Dor!
Jodie lengah dan terperanjat sehingga tangannya pun tertembak, "Aaa!" teriak Jodie sadar dari lamunannya.
Jodie mengingat Miranda dan semua kenangan terakhir mereka jika Miranda telah hamil. Jodie menyangka jika Miranda telah menggugurkan bayi mereka atau bayi itu telah meninggal.
Dor! Dor!
Jeff, Loly, Lorenzo, Dwinov, dan Dean menembak tewas Jordan. Dean tak peduli jika Joana akan marah padanya.
"Hahaha, aku rasa reuni keluarga disudahi saja! Sangat bagus! Kita bisa membunuh mereka semua!" ujar Pablo.
"Tangkap dan tembak mereka semua!" teriak Malcom, ia sudah menarik pistolnya.
Namun tak seorang pun bergerak karena semua anggota mafia Montes telah ditaklukkan oleh Bowen Utara, Frank, dan semua komplotan mafia Jodie juga para polisi.
"Well! Kalian harus menyerah! Satu hal lagi mulai detik ini La Costra Nostra bubar! Tidak ada lagi!" ucap Jodie.
"Apa?!" teriak para wartawan.
"Lalu, jika ada kerusuhan. Bagaimana Tuan Jodie?" tanya seorang wartawan.
"Ada polisi dan pemerintahan! Mereka yang berwenang!" ujar Jodie, "aku ingin hidup tenang bersama keluargaku!" ujar Jodie.
Semua mafia Montes dan komplotannya ditangkap, ambulan telah mengobati luka Jodie. Loly senantiasa berada di sisi Jodie menggenggam tangan Jodie.
"Sayang, aku tidak apa-apa! Aku tidak akan mati! Andaikan aku mati, sudah ada putraku yang ajan menjagamu, Nak!" bisik Jodie pelan.
"Jodie, kau harus bertanggung jawab pada seorang wanita! Kau ingin aku ditelantarkan putramu itu?" tariak Loly murka.
__ADS_1
"Apa?! Aku bertanggung jawab apa? Aku tidak pernah meniduri wanita selain …. Miranda …," lirih Jodie, ia sedikit malu menatap Jeff yang masih terus memandangnya.
"Maafkan, aku Jeff. Aku kira … kau tidak pernah ada. Ceritanya panjang …," ujar Jodie.