
"Sudahlah Ma, sebaiknya Mama tidur saja dulu. Aku yakin Mama terlalu lelah, cobalah untuk tidur dan bermimpi yang indah," ujar Loly, ia mengecup kening Miranda.
"Ah, anak yang baik, semoga kebahagian selalu bersama denganmu, Nak!" bisik Miranda tersenyum.
"Jeff beruntung! Syukurlah, aku senang. Aku berharap anak-anakku tidak ada yang merasakan seperti apa yang aku rasakan dulu," batin Miranda bahagia.
Loly pergi ke kamarnya, ia mulai bertanya banyak hal, ia mencopot cincin kawinnya dan melihat tulisan The Love never lasting di sana.
"Hm, andaikan ada inisialnya itu lebih baik. Aku bisa langsung menebak apakah ini punya Miranda?" batin Loly, ia memasukkan kembali cincin ke jari manisnya.
Loly mencoba untuk tidur dan mengirim pesan pada Jodie bertanya di mana dia sekarang. Akan tetapi, ponsel Jodie tidak aktif, Loly hanya menarik napas.
"Jodie sangat keterlaluan! Jika benar dia ayah Jeff dan tunangan Miranda … dasar Jodie sialan! Mengapa sih dia tidak mencari di mana Miranda dan putranya? Dasar tidak bertanggung jawab sama sekali!" umpat Loly kesal.
Loly masih berpikir banyak hal, "Apakah ada sesuatu yang membuat Jodie menghindar selama ini? Ah, andaikan aku bisa bertemu dengan Jodie aku akan tahu banyak kebenaran!
"Dia selalu pergi dan datang sesuka hati mirip hantu saja! Hah! Tapi, Jodie selalu baik dan bertanggung jawab padaku, ada apa sebenarnya?
"Andaikan dia tahu Jeff bukan orang baik, Jodie tak akan pernah mengizinkan aku untuk menikah dengannya. Aku tahu bagaimana karakter Jodie," batin Loly, ia masih terus bertanya dan bertanya.
"Hm, ke mana Jeff? Mengapa dia belum kembali ke kamar? Apakah mereka memiliki rencana yang lain?" gumam Loly penasaran.
Loly tak bisa tidur ia hanya duduk dan berbaring juga hilir mudik di kamarnya menanti Jeff dan ingin bertanya mengenai dari mana dia memperoleh cincin kawin mereka yang unik.
***
Sementara Jeff, Lorenzo, Dwinov, dan Dean telah membuat kopian dari mobil Dwinov sama persis.
"Wah, kalian sangat hebat! Luar biasa sekali! Hm, semoga saja rencana kita kali ini tidak ada cacat sedikit pun," ujar Jeff.
"Ya, semoga saja! Jovink asli atau tidak bisa kita lihat kebenaran semua itu." Dean merasa kesal pada Jovink, ia merasa sudah dipermainkan begitu mengerikan.
"Sabarlah, akan ada waktu di mana kita akan mengetahui semua kebenaran yang terjadi," ujar Lorenzo lebih arif dan bijaksana.
__ADS_1
"Apakah kamu yakin Lorenzo?" tanya Dean, ia menatap ke arah Lorenzo.
"Ya, tentu saja! Aku takutnya aku bukan anak Jovink. Lalu, aku anak siapa?" tanya Dean bingung.
Semua orang diam, "Aku takut jika aku ditukar dengan anak Jovink yang asli," ujar Dean.
"Tapi, wajahmu sangat mirip dengan Jovink. Miranda pun mengenalnya demikian, lalu apalagi yang kamu takutkan?" ucap Jeff, "selain itu kamu ingat, semua perjuangan kita saat kita kecil hingga kini.
"Sudahlah, Dean! Jangan terlalu terbebani dengan semua ini … yang jelas kita harus melakukan rencana kita ini," ucap Jeff.
Dean terdiam meskipun hatinya begitu miris dan bertanya-tanya, ia takut jika Jovink bukanlah ayahnya dan ayahnya seorang yang benar-benar jahat yang telah membunuh saudaranya sendiri.
"Bagaimana jika ayahkulah, yang telah membunuh ayah kalian? Apakah kalian masih menganggapku saudara?" tanya Dean sedikit takut dan ngeri membayangkan semua itu.
"Tentu saja! Tidak masalah! Benarkan Jeff! Terpenting ibu kita sama dan ayah kita adalah saudara Dean," ujar Dwinov.
"Ya, Dwinov benar! Kita tetap saudara selamanya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, kita belum tahu kebenaran di depan. Kamu jangan terlalu menghakimi diri kamu sendiri Dean?" ucap Jeff.
"Lorenzo benar! Ayo, kita lakukan saja semua rencana kita malam ini," ujar Jeff.
"Baiklah, ayo!" jawab mereka semua dengan bersemangat.
Semua orang langsung pergi ke tempat tujuan di perbatasan Puerto Rico di sepanjang pantai San Juan, mereka memasukkan keempat mayat lelaki dan 1 mayat perempuan ke dalam mobil dan membawa mobil di jalanan.
Keempat pria tersebut bersembunyi di mobil lain dan menanti keajaiban apa yang akan mereka hadapi di pantai San Juan.
Baru saja mereka melepaskan mobil dengan cara otomatis mengemudi sendiri yang dikendalikan oleh Dwinov dengan komputer, mobil melesat dengan cepat membelah malam.
Namun, baru saja mobil melesat ingin memasuki kawasan La Costra Nostra beberapa mobil langsung menyalip dan menembak mobil tersebut.
"Sialan! Mereka benar-benar ingin membunuh kita. Bajingan! Kau pikir aku mudah untuk kau kalahkan? No way!" umpat Dwinov.
Dwinov langsung menekan sesuatu di keyboard dan menekan enter hingga sebuah roket menyerang mobil musuh hingga ledakan terjadi.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu serius, kapan kita matinya?" ketus Dean tidak sabar.
"Oh, benar juga ya? Rasanya kasihan! Andaikan mereka memiliki keluarga, tidak mungkin mayatnya pun masih bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab!" lirih Dwinov, ia merasa dunia begitu kejam.
"Ya, uang di atas segalanya! Dan yang miskin akan selamanya teraniaya," ucap Jeff.
Mereka kembali melihat di layar monitor jika mobil yang membawa kelima mayat yang didandani seperti mereka terus melesat tetapi tidak terlalu kencang.
Duar!
Sebuah hulu ledak langsung menembak mobil yang membuat mobil yang membawa mereka langsung meledak menjadi serpihan dan tak lagi menyisakan apa pun dari jasad mereka yang menjadi serpihan terbakar.
Semua orang diam melihat bayangan rencana mereka sempurna tetapi, jauh di dalam hati mereka merasa sedih, marah, benci, dan murka menjadi satu.
"Andaikan itu kita …." Lorenzo terdiam, ia ingin menelepon istri dan kedua anaknya untuk mengabarkan jika dia masih hidup.
Namun, ia tahu konsekuensinya dari semua rencana yang mereka susun. Sehingga Lorenzo berusaha untuk menahan dan membiarkan istrinya menangis bersama kedua anak dan menantu juga cucunya.
Semua orang hanya memandang di layar monitor apa yang telah menimpa mereka.
"Selamat kita sudah meninggal!" ucap Dwinov pada dirinya dan semua orang.
"Ya!" balas Dean cuek.
"Aku tidak menyangka jika mereka begitu serius ingin membunuh kita!" ketus Jeff, "siapa pun mereka, yang pasti mereka memiliki kekejaman yang sangat luar biasa! Aku yakin, jika itu Jovink asli tidak mungkin dia juga berniat membunuh putranya sendiri," ucap Jeff.
"Bisa saja! Karena Mama mengetahui semua sepak terjangnya dan dia pun tahu jika mama lebih mencintai Jodie. Entahlah, aku tak bisa berpikir dengan jelas lagi saat ini," ujar Dean.
Semua orang hanya diam tak lagi berbicara apa pun hingga Dwinov kembali mengendarai mobil membawa mereka pulang ke Fajardo.
"Jeff, aku rasa … kita tidak usah tinggal lagi di Fajardo. Aku yakin jika musuh akan mengambil alih semua aset milik kita termasuk milikku di San Fransisco, milik Dean di Washington, dan milikmu Fajardo juga aset lain lagi."
Dwinov mulai memikirkan hal itu, ia sangat yakin musuh tidak akan membiarkan aset milik mereka akan aman.
__ADS_1