
Jeff dan Loly memeluk Miranda juga Jodie, mereka bertangisan, Jodie menyeka air matanya melihat kedua putra adiknya.
"Kemarilah, peluklah aku! Aku hanya bisa melihat kalian dari jauh. Selama ini, aku selalu mengawasi kalian. Aku mengira hanya kalian milikku," ujar Jodie.
"Pa! Pa-man!" lirih keduanya bingung ingin berkata apa.
"Panggillah aku papa, Nak. Kalian juga anakku!" ujar Jodie.
Ketiganya berpelukan dengan tangisan, "Lorenzo … kemarilah kawan! Aku merindukanmu," lirih Jodie.
"Hai, Jodie! Aku pun merindukanmu!" lirih Lorenzo, keduanya saling berpelukan.
"Ya, aku pun merindukanmu! Aku tidak tahu mengapa semua ini begitu aneh bukan?" ucap Lorenzo, ia tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Jodie yang mereka sangka mati.
Semua orang masuk ke dalam rumah untuk makan dan beristirahat.
Miranda dan Jodie masih saling pandang dan tersenyum mesra dan malu-malu. Semua orang makan dengan bahagia.
"Sebenarnya apa yang terjadi dulu, Jodie? Mengapa kau pergi tak pernah kembali?" tanya Miranda penasaran.
"Saat aku meninggalkan Tijuana bersama Jhon, kami langsung pergi ke Denver untuk mencari Jovink dan Pedrosa …," lirih Jodie.
***
Denver 1990
"Jodie, apakah kamu yakin jika Jovink yang mengirimkan telegram itu?" tanya pria jangkung bermata hijau dengan tulang pipi yang terlihat bak seorang aristokrat.
"Ya, Jhon. Aku penasaran … mengapa Jovink dan Joey tidak membalas semua telepon, surat, dan telegram yang aku kirim. Ada apa sebenarnya?" lirih Jodie duduk di samping Jhon yang mengemudi.
"Lalu mengapa kamu tidak membawa pengawal Jodie? Aku merasa ini sangat aneh, Jovink tidak mungkin bisa terluka jika hanya bertemu dengan Tuan Alec Dove (Ayah Alexander Dove)?
"Lagian Pedrosa dan para pengawal La Costra Nostra banyak di sana? Aneh, sekali! Jika memang ada sesuatu aku sangat yakin Pedrosa akan segera menghubungi kita? Begitu juga dengan Joey!" ucap Jhon masih mengemudikan mobil.
"Entah-"
Dor! Dor!
Berondongan tembakan bergema dari balik semak dan pepohonan Pinus, Denver belum begitu ramai dan se-modern pada zaman sekarang.
"Awas, John!" teriak Jodie, ia langsung mengambil senapan dan menembak ke arah musuh yang muncul dari balik semak.
Dor! Dor!
__ADS_1
Jodie membalas tembakan, "Lompat!" teriak Jodie, ia melihat seseorang sedang melemparkan granat kepada mereka.
Jhon dan Jodie langsung melesat dari balik pintu dan bergulingan di jalanan dan masuk ke dalam parit di kanan-kiri sisi jalan.
Duar! Duar!
Ledakan mobil bergema, Jodie maupun Jhon hanya melihat dari balik parit dan beberapa orang langsung memeriksa ledakan. Jodie dan Jhon saling pandang dan menganggukan kepala.
Dor! Dor!
Keduanya langsung menembak para penyerang yang berniat memeriksa ledakan, hingga semua musuh tewas menyisakan satu orang yang terluka.
"Siapa yang melakukan semua ini?" teriak Jodie ia mengokang senjata mengarah kepada musuh yang sudah terkapar di jalanan dengan darah merembes dari nasi di lehernya.
"Jo-jovink …," lirihnya dan ia pun meregang nyawa.
"Jovink? Yang benar saja?" umpat Jodie, "tidak mungkin adikku sendiri yang ingin membunuhku? Apa latar belakangnya? Jika dia menginginkan harta dan kedudukan di La Costra Nostra, aku pasti akan memberinya!
"Mengapa harus membunuhku dan John?" batin Jodie penasaran.
"Jhon! Ayo, kita pergi! Aku mendengar sirine polisi!" ajak Jhon, langsung menarik tangan Jodie yang masih termenung bingung.
"Jhon … apakah mungkin Jovink yang melakukan semua ini pada kita?" ucap Jodie.
"Jangan-jangan Jovink benar-benar tertembak!" ujar Jhon, ia terus berlari membelah semak dan pohon Pinus untuk menghindari kejaran polisi.
Jodie pun berlari mengikuti Jhon yang terus membelah sungai dan undakan-undakan hingga mereka tiba di pusat kota Denver di La Costra Nostra.
"Ayo, kita masuk ke dalam!" ujar Jodie.
Dor!
"Menjauhlah dari situ Jodie! Aku tidak mengizinkanmu masuk!" ucap seorang pria yang yang tak lain adalah Papito (Pedrito)
"Aku ingin bicara pada Alec Dove. Aku adalah ketua La Costra Nostra! Apa hak kamu melarangku?" ucap Jodie.
"Apa hakku?" ujar Papito, ia memandang semua orang dan tertawa.
"Kau tahu, Jovink telah mengambil alih semua La Costra Nostra wilayah Denver! Ia sudah memutuskan persaudaraan denganmu!" umpat Papito.
"Apa?! Seorang keluarga tak mungkin begitu mudahnya untuk berkata putus hubungan? Apalagi, aku dan Jovink sedarah! Minggir!" teriak Jodie.
Dor! Dor!
__ADS_1
Papito dan Alec Dove langsung menembak ke arah Jodie dan Jhon. Jhon dan Jodie tak menyangka akan hal itu, hingga keduanya terluka dan berlindung di balik pilar gedung.
Dor! Dor!
Tembakan bergema tetapi Jhon dan Jodie kalah senjata dan hanya berdua walaupun mereka berhasil membunuh beberapa, Jodie terluka di dada, hingga Jhon langsung memapah Jodie untuk kabur.
Kelompok Papito langsung mengejar mereka hingga keduanya terus kabur di pusat kota membuat Papito harus menyembunyikan senjata karena banyaknya orang juga para polisi yang sedang berpatroli.
Bruk!
Jhon dan Jodie terluka langsung ambruk di depan sebuah rumah bercat putih, "Lalita! Kemarilah!" ujar seorang wanita setengah baya yang memanggil putrinya.
"Ada apa, Ma?" tanya Lalita, seorang wanita cantik berambut hitam legam menghampiri ibunya.
"Mereka siapa, Ma?" ucap Lalita terperanjat.
"Entahlah, Nak. Ayo, bawa masuk sebelum segalanya menjadi kacau!" ujar Myra.
Myra langsung menyeret Jodie bersama Lalita membaringkan di ruang bawah tanah kemudian mengambil Jhon.
Keduanya langsung mengoperasi semua luka dan mengobati keduanya. Setelah selesai keduanya langsung merosot duduk ke lantai.
"Ma, Mama tidak ke rumah sakit?" tanya Lalita.
"Aku rasa … aku terlambat. Bukankah ini jam kamu masuk kerja Lalita?" ujar wanita berdarah Meksiko tersebut.
Myra menatap Jhon, "Aku rasa dia pun orang Meksiko," lirih Myra.
"Ya, aku rasa … berbeda dengan pria ini (menunjuk ke arah Jodie)!" jawab Lalita, "baiklah aku pergi dulu!" ucap Lalita membersihkan tangan dan ke luar dari tingkap pintu masuk dan pergi ke salah satu rumah sakit di pinggiran kota Denver yang keras.
***
Sementara Myra masih mengobati keduanya, selama seminggu Lalita dan ibunya yang janda ditinggal mati suaminya yaitu : ayah Lalita mengurus Jhon dan Jodie.
Jika malam Myra pergi ke luar untuk menjadi dokter keliling di Denver mengobati para tunawisma dan orang miskin di pinggiran Denver.
"Aku di mana?" lirih Jhon, ia membuka mata dan sadar terlebih dahulu daripada Jodie.
"Kamu di rumahku! Orang gila mana yang bisa baku tembak begitu mengerikan! Memang kamu memiliki berapa nyawa, sih?" umpat Lalita, ia memeriksa kantung infus dan dada Jhon dengan stetoskop.
"Kau … kau siapa?" lirih Jhon, ia paling risih jika seorang wanita menyentuh tubuhnya.
Jhon dan Jodie memiliki kesamaan yaitu : tidak suka bermain dengan wanita. Berbeda dengan Joey dan Lorenzo yang playboy dan Pedrosa dan Jovink yang lebih tergila-gila dengan senjata.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di tubuhku?" teriak Jhon, ia merasa sesuatu berdebar di jantungnya hanya karena sentuhan wanita tersebut.