Cold Heart

Cold Heart
korban


__ADS_3

diandra yang melihat berita itu setiba di rumah sakit merasa geram dengan pernyataan yang di lontarkan pihak perusahan.


"wah ternyata mereka ingin bermain kucing-kucingan dengan kami baiklah kita lihat sampai mana mereka akan bertahan" batin diandra kesal


"diandra lo datang juga" sapa danuar yang kembali dari mengurus admistrasi pengobatan ibu dan anak itu


"eh dan lo ngapain di sini ?" tanya diandra


"oh gua jenguk bimo terus tadi gua bayarin pengobatan ibu dan anak itu, kasian mereka. mereka korban kebakaran yang tidak mendapat ganti rugi" jelas danuar dengan menunjuk ke dua ibu dan anak yang sedang di rawat oleh dokter


"apa ?..sialan mereka berani berbohong ternyata" gumam diandra yang terlihat sangat kesal


"ada apa ndra lo kenal mereka" tanya danuar bingung


"oh belum, gua duluan ya dan ada urusan" diandra berlari meninggalkan danuar yang bingung akan sikap diandra


"oh kenapa tu anak aneh banget" ucap danuar yang memutuskan untuk kembali ke kamar bimo


"dari mana lo dan ?" tanya ranza pada danuar yang baru saja masuk


"bim coba hidupin tv lo, gua pengen lihat berita kebakaran" ucap danuar yang kemudian mereka menonton berita yang mengadakan konferensi pers oleh pimpinan perusahan yang mengatakan bahwa pihak perusahaan telah membayar semua biaya pengobatan korban.


"bulsh**t bohong itu semua" ucap danuar yang terlihat kesal


bimo dan yang lainnya bingung dengan sikap danuar yang terlihat kesal.


"lo kenapa sih dan ?" ucap olivia bingung


"ia nih lo kesal kenapa emang itu pabrik bokap lo bukan kan ?" ucap ranza santai


"gua yakin semua yang di bicarakan oleh orang itu bohong, soalnya gua sendiri yang ngebayarin biaya pengobatan ibu dan anak korban kebakaran itu. gua nggak tega lihat adik kecil itu menangis kesakitan karena tidak di perdulikan akibat mereka belum membayar biaya rumah sakit. sementara dari pihak perusahan mengatakan bahwa mereka telah membayar semuanya. apa lagi kalau bukan mereka yang pembohong" ucap danuar yang mengacak rambutnya frustasi


"udah lah dan, lo nggak usah ikut campur urusan mereka kita yang masih sma ini bisa apa. salah-salah kita yang jadi sasarannya nanti" ucap raanza


"iya dan ranza benar tuh" tambah olivia sambil mengelus pundak danuar


"eh bukankah itu perusahan yang di demo oleh karyawannya gara-gara mereka tidak membayar gaji karyawan pada beberapa bulan terakhirkan ,?" tanya bimo


"maksud lo bim ?" tanya ranza


"coba lo cari artikel tentang perusahaan itu" ucap bimo pada ranza


kemudian ranza mencari informasi tentang perusahaan tersebut namun beberapa artikel sepertinya di kunci dan berita buruk tentang perusahaan itu seperti terkunci sangat rapat.


"lihat nih ada beberapa artikel yang terkunci sepertinya ini adalah berita tentang perusahaan itu yang di blokir oleh pihak tertentu" ucap ranza


saat mereka asik membahas tentang berita tersebut tiba-tiba pintu kamar bimo di ketuk.


tok..tok..tok " selamat sore bim," ucap dokter


"sore dok" jawab bimo


"baiklah berdasarkan hasil pemeriksaan malam ini kamu sudah boleh pulang" kata dokter

__ADS_1


"beneran dok, terimakasih ya dok" ucap bimo senang


"iya, saya juga sudah bicara pada mama mu tadi, sekarang beliau telah mengurus kepulangan mu. jaga kesehatan, dan pola makan mu ya. oh iya usahakan untuk beberapa hari ke depan kaku tidak usah masuk sekolah terlebih dahulu" ucap dokter


"baik dok" jawab bimo


"baiklah kalau gitu saya permisi ya" kata dokter


"iya dok terimakasih" ucap mereka bersamaan


"gua ambil mobil dulu biar sekalian kita antar pulang" kata ranza


" iya za, nih kuncinya" kata danuar


"bim kita pulang ya, oh iya sebentar kita tunggu supir jemput" ucap mama bimo


"nggak usah tante itu ranza sudah nunggu di bawah pakai mobil danuar aja tante. terus barang-barang di mobil olivia aja tante. kebetulan kita bawa dua mobil" ucap danuar


"tapi nanti tante ngerepotin kalian" kata mama bimo


"nggak kok tan, bimo juga teman kita kan jadi nggak repot sama sekali" ucap olivia


"kalau begitu baik lah, terimakasih ya kalian baik banget" kata mama bimo


"eh tante bisa aja" ucap olivia yang membantu danuar beres-beres


saat mereka sampai di depan resepsionis mereka tak sengaja melihat diandra yang sedang berjalan menuju ruang administrasi.


"mana ?" tanya olivia


"itu, ngapain dia di sini ?" tanya fely


"oh itu tadi dia bilang ada urusan" jawab danuar


"urusan, urusan apa ?" tanya olivia


"mungkin ada saudaranya yang sakit juga kan siapa yang tahu ?" jawab danuar


"em iya sih, gua sapa nggak ya" ucap olivia


"udah yuk" ucap danuar


akhirnya bimo pulang ke rumah dan istirahat sementara danuar dan yang lainnya juga pulang ke rumah masing-masing.


.


.


"halo ndra, gimana hasil laporan biaya pengobatannya apakah sesuai yang mereka katakan di tv ?"


"nggak kak hanya 15 persen karyawan yang di biayai itu pun hanya setengah dari biaya pengobatan" jawab diandra yang melapor apa yang ia dapatkan.


bagi diandra tak sulit untuk mendapatkan informasi tentang rumah sakit ia bisa meretas sistem informasi hanya dengan ponselnya saja.

__ADS_1


"coba buka email lo kak udah gua kirim" ucap diandra


"ok..oh iya ndra untuk tiga hari ke depan kita diam kan saja. jika kita bergerak sekarang maka mereka akan curiga dan menutup semua akses yang bisa kita ketahui"


"baik kak" jawab diandra


"dan lagi bertindak lah seperti tidak terjadi apa-apa. lo juga harus tetap siaga jangan sampai lengah"


"lo tenang aja gua tahu apa yang akan gua lakukan" ucap diandra


.


.


.


tiga hari kemudian seperti biasa diandra berangkat sekolah dan bersikap seperti biasa dengan sikap dingin dan cueknya.


"eh bim, lo udah sehat ?" tanya fely yang melihat bimo dan yang lainnya menuju kantin


"em ya gua udah mendingan dokter juga udah ngebolehin gua sekolah. kalian apa kabar ?" tanya


bimo


"kita baik," jawab olivia yang menghentikan makannya dan menjawab pertanyaan bimo


"oh iya ndra, makasih ya lo udah ngebantuin gua waktu itu. sekali lagi makasih ya ndra" ucap bimo tulus


"eh ndra lo denger nggak" kata fely sambil menyenggol diandra yang fokus pada ponsel dan telinga yang terpasang earphone


"uh apa ?" jawab diandra datar sambil melepaskan earphone nya


"makasih udah ngebantuin gua waktu itu" ucap bimo


"oh iya" jawab diandra singkat kemudian ia fokus kembali pada ponsel dan earphone nya.


diandra sedang fokus melihat rintihan dan tangisan beberapa korban kebakaran yang tidak mendapatkan pertanggung jawaban dari perusahan.


dret..dret..dret "emm" diandra menjawab ponselnya dan meninggalkan kantin menuju atap sekolah


"ndra besok malam lo sama anak - anak beraksi"


"ok,,besok gua ke sana" jawab diandra yabg kini berdiri di atas atap sekolah sambil melihat pemandangan yang menyedihkan


"heh lucu sekali mereka" batin diandra


*bersambung...


happy reading ya reader


maaf kalau kata-katanya banyak yang typo


jangan lupa like, komennya biar authornya makin semangat bikin novelnya

__ADS_1


__ADS_2