
"permisi mbak, mau tanya apa pak steven nya ada ?" tanya diandra pada resepsionis yang terlihat masih baru
"siapa anda sampai mencari bos perusahaan ini" tanya resepsionis wanita itu
"oranh saya dipanggil mbak, oh iya mbak. mbak erin kemana ya kok nggak kelihatan" tanya diandra
"siapa kamu, sok-sok an bertanya seperti itu. masih kecil kok nggak sopan" kata nya sinis
"lah kenapa mbak ngegas sih" kata diandra santai
"dengar ya anak kecil, mendingan kamu pergi sekarang. masih kecil sudah mau jadi wanita penggoda" kata nya
"hahhh mbak baru ya ?" tanya diandra santai
"kenapa emang" kata nya dengan keras
"lah, kayak nya mbak bosan ya kerja di sini" kata diandra dingin
"siapa kamu berani-berani nya kamu menatap saya seperti itu" kata resepsionis
"seli, eh nona muda anda sudah sampai. tuan ada di ruangan nya nona silah kan masuk" kata erin
"mbak rin papa nggak rapat kan ?" kata diandra mendengar kata papa seli petugas resepsionis itu langsung terdiam ia tak berani menatap wajah diandra yang mulai kesal
"oke, aku mau masuk dulu" diandra berlalu pergi.
namun sebelum melanjutkan langkah kaki nya lagi diandra berhenti dan berbalik ke arah erin " ehh mbak erin tolong ajarin mbak cantik yang satu ini bagai mana cara bersopan santun pada orang lain. dan satu lagi perusahaan kami tidak memerlukan karyawan yang sombong walaupun dia cantik kami pastikan dia akan menyesal dengan perbuatan nya" ucap diandra sambil melirik ke arah seli. sementara itu seli kini gemetar ia memikirkan bagaimana nasipnya.
"nona maafkan atas kelancangan saya nona" kata seli
namun perkataan seli tidak di perdulikan oleh diandra dia berlalu pergi.
"rin apa yang harus aku lakukan ?" tanya seli pada erin dengan muka sendu
"pada hal saya selalu bilang pada mu untuk tetap ramah. karena ini pekerjaan kita nona diandra tidak seperti nona cendana yang selalu tersenyum. bahkan dia lebih sadis dari pada tuan muda adrew" kata erin
"lalu bagai mana ini" kata seli
"berdo'a lah semoga kamu tidak di pecat" kata erin
tok tok tok, diandra mengetuk pintu ruangan di mana ayah nya bekerja. setelah mendengar orang yang di dalam menyuruh nya masuk diandra kemudian melangkah kan kaki nya ke dalam untuk menghampiri sang ayah.
melihat ayah nya yang masih berkutat dengan berkas - berkas dan laptop nya membuat diandra harus menunggu. ia duduk di sofa yang ada di ruangan ayah nya. sambil mengambil minuman dingin dari lemari pendingin.
"sayang kamu sudah sampai, lohhh kenapa muka princes papa jadi masam seperti ini" kata steven papa diandra
"nggak apa-apa pa, biasa ada sedikit drama tadi di depan" kata diandra
"drama apa sayang" tanya papanya
"huh tidak ada pa, oh iya pa ada apa papa tiba-tiba nyuruh diandra ke kantor ?" tanya diandra
"ini sayang papa mendapat tawaran proyek besar dan kita akan bekerja sama dengan pemerintah untuk membangun sebuah sekolah untuk anak-anak dari kalangan menengah ke bawah. tapi dengan tender yang sangat besar ini papa tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah karena lokasi nya juga berada di pemukiman penduduk. bisa saja perusahan kita yang mendapat masalah jika papa tidak melihat nya dengan teliti. maksud papa coba kamu pelajari ini proposal mereka serta rincian dana yang akan di keluarkan serta lokasi nya" papa nya memberikan sebuah dokumen pada diandra
__ADS_1
diandra membaca sekilas dokumen tersebut namun butuh waktu untuk nya mempelajari semua dokumen tersebut.
"tapi pah kenapa lokasinya harus di sini ?, ini kan tempat tinggal penduduk pa" kata diandra
"itulah yang sedang papa pikirkan nak, bagaimana bisa kita membangun dan mengusir mereka itu kan tempat tanah kelahiran mereka" kata papa nya
"pa siapa saja yang terlibat dalam proyek ini pah ?" tanya diandra
"di situ tertulis pemerintah nak, namun mereka enggan memberi tahu orang - orang nya" kata papa diandra
"pah, apa papa yakin ini dari pemerintah ?" ucap diandra
"begini saja andra akan pelajari dokumen nya besok andra ke sini lagi pah" kata diandra menyimpan dokumen itu ke dalam tas
"baiklah sayang, oh iya adrew bilang kau menembak lagi. nak apa kau ingin jadi polisi wanita setelah ini" kata papa diandra
"pah, kakak hanya mengarang cerita" kata diandra
"baiklah nanti kamu harus pulang dan jelaskan pada kami nanti di rumah mama mu dan semua orang khawatir" kata papa
"emm baiklah pa, nanti aku pulang" kata diandra mengangguk
"oh iya pa, apa andra boleh melihat data karyawan papa ?" kata diandra lagi
"kenapa sayang, apa ada yang mengganggu mu ?" tanya papa
"emm tidak pa, hanya saja ada beberapa hal yang harus andra bereskan" kata diandra
"sepertinya ada yang mencoba sedikit bermain di perusahaan papa" kata diandra
"baiklah, ternyata kamu benar - benar darah daging ku hahhaa" kata papa
"papa juga sudah tahu kan siapa ?" kata diandra
"ya tapi papa ingin melihat sejauh mana dia akan bergerak nak" kata papa
"tapi kalau kamu ingin bermain juga dengan nya, ya apa boleh buat kamu kan princes nya di sini" kata papa
"ya sudah ambillah data nya di bagian personalia" kata papa
"baik pa, kalau begitu diandra pamit ya pa. lagi pula nanti sore andra harus ke tempat kak adrew buat bahas masalah yang kemaren" kata diandra sambil memasukan berkas ke dalam tas nya
"iya iya, seorang detektif memang harus cekatan" sindir papa
"pa ayo lah, jangan panggil aku detektif" kata diandra memelas
"andra, itu selosong peluru kan ?" tunjuk papa pada kalung yang melingkar di leher diandra
"oh ini" sejenak diandra terdiam
"nak sampai kapan kamu kan menyimpan nya ndra, ndra anggraini sudah tenang di sana nak" kata papa
"pa, kak cahaya akan selalu tenang pa. andra hanya memakai untuk kenang - kenangan pa" kata diandra sambil menggenggam selosong peluru tersebut
__ADS_1
"iya nak kamu harus merelakan kakak mu nak, dia harus tenang di sana. nak kamu tahu anggraini sangat senang saat kamu memanggil nya dengan cahaya. papa juga masih ingat waktu kamu bertengkar dengan ana. gara-gara kalian berdua ingin memanggil anggraini dengan sebutan yang berbeda" kata papa tesenyum
"hemmm iya pa andra ingat kok" kata diandra tersenyum ia mengingat kembali kenangan bersama kakak nya
flashback on..
"pokok nya kak aya" kata diandra kecil
"nggak dong kan nama kakak itu anggraini jadi kak ain dong" kata cendana tak mau kalah dari adik nya.
"huuu hiks ...hiks...mama lihat kak ana nggak mau kalah huuuuu...hiks.....hiks" lapor diandra pada mama nya
"ana ngalah dong" kata papa
"hemmpp hikks...tuh dengar kata papa kak ana harus ngalah" kata diandra yang masih menangis
"iya ana kamu harus mengalah kalau tidak adik kecil mu yang cengeng ini tidak akan berhenti menangis hahahhaa" kata adrew
"huaaa hiks...kak aya lihat kak adrew dan kak ana jahat" diandra semakin menjadi karena di isengin ke dua kakak nya dan ia mengis cukup lama hingga akhir nya cahaya berhasil mendiamkan gadis kecil itu
"ayo siapa yang berani bikin adik kakak nangis hah" kata cahaya sambil memegang gagang sapu
"kak adrew dan kak ana" tunjuk diandra
"oh jadi kalian" kata cahaya galak mode on
"kak aku boleh panggil kakak, kak aya kan" kata diandra
"iya dong sayang" kata cahaya sambil memeluk diandra
"dasar anak manja bhuekkk" kata adrew dan cendana meledek adik kecil mereka itu
lalu dengan galak cahaya mengejar mereka berdua sambil memegang gagang sapu tersebut. mereka juga tertawa bersama tanpa memikirkan masa depan.
sementara amanda hanya bisa melihat mereka dari kursi roda sambil tersenyum. amanda yang punya riwayat penyakit jantung tidak boleh lelah sedikit pun.
flashback of..
.
.
.
"aku merindukan nya" kata diandra dalam hati
bersambung...
happy reading ya reader
maaf kalau kata-katanya banyak yang typo
jangan lupa fav, vote, like, komen biar authornya makin semangat bikin novelnya
__ADS_1