
rasa dingin seakan masuk kedalam tulang, begitu lah yang diandra rasakan namun ia terbantu dengan kantong tidur yang ia bawa. sementara yang lain hanya membawa selimut yang masih terasa dingin.
diandra melihat ponsel nya yang telah menunjuk pukul setengah lima pagi. diandra memutuskan untuk mandi tanpa memberitahu teman-temannya yang masih merasakan kedinginan yang amat sangat dingin.
setelah selesai mandi diandra melihat ibu sinta dan yang lainnya duduk di dekat api untuk merebus air.
"pagi buk, pak ?" kata diandra
"pagi diandra, kamu sudah bangun ?" kata sinta
"iya buk, saya barusan mandi kemudian shalat subuh" kata diandra
"teman-teman kamu mana ?" tanya sinta
"mereka belum bangun buk, mungkin karena dingin" jawab diandra
"diandra ini teh panas, lumayan untuk suasana yang dingin seperti ini" kata sinta
"iya terimakasih buk, maaf merepotkan" kata diandra
"oh iya di, gimana dengan tawaran ibu soal yang kemaren ?" tanya sinta
"itu buk, saya masih betah di kelas saya buk lagi pula saya punya teman-teman yang sudah akrab. jika saya pindah kelas mungkin saya akan sulit untuk beradaptasi lagi buk" jawab diandra
"iya juga sih, mengingat kamu seorang anak yang pendiam. baik lah ibu tidak akan memaksa kamu untuk pindah ke kelas ipa 1 lagi. asal kamu senang dan mempertahankan nilai mu. ibu bangga sama kamu, kamu rela membuat nilai mu standar demi orang lain. agar orang itu mendapatkan beasiswa kan ?" kata sinta
"tapi saya bukan ingin mengalah buk, memang orang itu memang pantas untuk mendapatkan beasiswa buk" kata diandra
"ibu salut dengan pemikiran kamu di" kata sinta
mereka saling berbagi cerita hingga tak terasa hari sudah pagi. mereka menikmati matahari terbit di balik bukit sambil menikmati secangkir teh hangat menambah nikmatnya suasana.
"pagi, ndra..kok lo udah bangun aja sih" kata olivia yang tiba-tiba datang
"em" diandra
"eh..pagi buk sinta yang cuantik sepanjang masa" kata olivia
"pagi olivia, kamu baru bangun kamu sepertinya kamu sangat semangat ya, karena kamu sangat semangat jadi sekarang kamu bangunkan semua teman-teman kemudian kita berkumpul di lapangan" kata sinta
__ADS_1
"hehehe diandra kan ada bu" kata olivia
"kamu nggak lihat diandra sudah membantu ibu menyiapkan semua makanan ini" kata sinta
"hehehe iya deh bu, karena ibu yang nyuruh oliv mau deh" kata olivia
mereka menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku olivia yang menggoda sinta.
.
.
stelah selesai sarapan seluruh siswa di peintahkan untuk pergi ke air terjun untuk melihat apa saja yang bisa di jadikan laporan untuk di serahkan ke sekolah.
semua laporan yang di kumpulkan sesuai dengan minat siswa misalnya siswa yang ingin masuk desain dan art. mereka harus membuat atau mendesain sesuatu yang berhubungan dengan apa yang mereka lihat di pegunungan tersebut.
bimo telah memikirkan konsep nya sendiri untuk di jadikan sebagai laporan.
"bim, lo mikirin apa sih ?" kata ranza
"mikir apa ?" kata bimo bingung
"tuh lo punya lidah bisa di jaga kagak kalau nggak sini biar gua jaga" kata bimo
"ah elah gua kan becanda bim nggak usah marah juga kan" kata ranza
"udah ah males gua ngelayanin lo za, bikin darah tinggi gua kambuh entar" kata bimo
"lah, gua kan cuman nanya sebagai sahabat yang baik gua cuman khawatir sama lo habisnya lo ngelamun mulu sih, enat kesambet terus lo panggil-panggil siapa gitu. mending kalau lo panggil diandra kalau lo panggil yang lain kan bisa repot. bisa-bisa gua yang paling repot kalau danuar kan dia ada urusan lain dari pada ngurusin lo hehehehe" kata ranza
"gua nggak ngelamun ranza yang perhatian, gua sedang mikir apa yang bakal gua kumpul entar untuk tugas individu, kalau kelompok gua nggak ambil pusing lah kalian ada" kata bimo
"ohh kirain hehhe, sekalian dong pikirin yang gua juga, gua lagi nggak bisa mikir soalnya" kata ranza
"nih mau lo biar otak lo encer" bimo mengarahkan sebuah tinju pada ranza
"gila sih pemandangan nya bagus banget, airnya juga jernih" kata ranza mengalihkan pembicaraan karena ia melihat bimo mulai naik darah. jika ia lanjutkan maka dia sendiri yang akan susah oleh karena itu dari pada - dari pada lebih baik ia menghinndar
"oh iya ngomong - ngomong danuar mana ya ?, kok dari tadi nggak kelihatan ?" tanya bimo
__ADS_1
"ahh gimana si lo, kayak nggak tahu aja. tuh anak semenjak udah punya pacar udah mulai lupa kalau dia punya teman" kata ranza
"masa sih, bukan nya di lagi ada urusan sama mentor tadi ?" kata marvi
"ahh itu sih cuman alasan danuar aja biar ketemu sama olivia. dia kan nggak ada kerjaan lain selain pacaran hahhaaaa" kata ranza yang sedang menghibah sahabat nya itu
"lo gosipin danuar nanti kalau dia dengat bakal marah besar" kata marvi yang memilih duduk sambil bimo yang sedang merendam kakinya di air karena mereka sekarang sedang berada di sungai yang tak terlalu besar airnya
"emang kenapa kalau danuar marah, toh dia nggak bakal berani sama gua" kata ranza dengan percaya diri
"oh iya gimana kalau danuar datang terus mukulin lo" kata lexi yang melihat danuar yang berada tepat di belakang ranza dan sayang danuar mendengar semua perkataan ranza tentang dirinya
"mana danuar, dia tuh nggak berani sama gua kalau dia berani bakal gua tarik dia terus gua letak kepala di kaki, kaki di kepala hahhaa" kata ranza
sementara bimo, lexi dan marvi berusaha menahan tawa karena melihat muka danuar yang merah padam melihat tingkah laku sahabatnya yaitu ranza. ranza memang seperti itu ia selalu berbicara omong kosong yang tak ada artinya sehingga membuat orang naik darah. dan benar ranza tak mampu menahannya lagi dan dia mukul kepala ranza.
plak...suara pukulan danuar tiba-tiba mendarat di kepala ranza terdengar begitu keras.
"auu, sakit tahu, ahh,, nggak lo nggak bimo suka banget mukul kepala gua. emang apa kesalahan kepala gua coba ?" kata ranza ia meringis kesakitan karena kepalanya kena sedikit pukulan dari danuar
"kepala lo emang nggak salah cuma otak sama lidah tak bertulang lo itu yang sala. lo dari tadi gibahin gua kan ?, udah kayak ibu-ibu aja lo za suka ghibah" kata danuar
"iyaa mau gimana lagi lidah gua yang tak bertulang ini nggak bisa di ajak kerjasama. terus otak gua ngedukung lagi hhahaaa" kata ranza
"itu,,itu dia kenapa kepala lo sering jadi sasaran bogem gua sama bimo ya nggak bim ?" kata danuar
"yess bener banget" kata bimo
"lah bim kok lo ikut-ikutan belain danuar sih kan tadi lo juga ikut ghibahin danuar" kata ranza
"gua kapan, eh vi tadi gua nggak nyautkan perkataan nih orang" kata bimo yang membuat ranza sedikit kesal dengan sahabat-sahabat nya yang semakin menggoda nya
bersambung...
happy reading ya reader
maaf kalau kata-katanya banyak yang typo
jangan lupa like, komennya biar authornya makin semangat bikin novelnya.
__ADS_1
koh iya ayo join di grup juga nanti disana banyak hadiah yang menantiloh join ya 😙😘🤗