
Semalaman Diandra tidak tidur karena mencari informasi tentang
kematian kakaknya. Dia masih belum menemukan petunjuk apa-apa. Diandra merasa
frustasi dengan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa selama bertahun-tahun
ini. Dimana ia hanya bisa menyimpan semuanya sendiri tanpa ada yang tahu.
“aku yakin itu bukan lah kecelakaan,bahkan keluarga mereka sampai sekarang tak
terlihat kembali” gumam Diandra
“jika seperti ini apa yang harus ku lakukan kak ?, bahkan orang itu
tak memperlihatkan batang hidung nya setelah beberapa tahun ini” gumam Diandra sambil mengadahkan kepalanya kelangit-langit
ruangannya.
Merasa sudah bosan akhirnya Diandra pergi untuk menenangkan
pikirannya. Ia biasa meluapkan segalanya dengan lari pagi di sekitaran gedung
apartemen miliknya.
Diandra sudah siap dengan hodie dan celana hitam panjang di tambah
dengan topi hitam semakin membuatnya jadi misterius.
Saat hendak keluar dari gedung tak sengaja Diandra menabrak seorang
laki-laki dewasa.
Bruk…”ah maaf dek saya tak melihat” kata laki-laki itu
“iya tidak apa-apa” jawab diandra dengan suara datar tanpa melihat
wajah laki-laki itu
Diandra tak mempermasalahkan akan kejadian tadi dan ia memilih
untuk pergi dan melanjutkan kegiatannya. Sepanjang jalan banyak orang yang
melakukan hal yang sama seperti dirinya mungkin karena ini adalah akhir pekan. Maka
dari itu orang-orang memanfaatkan hari libur untuk olah raga.
“pak air mineralnya satu” ucap diandra
“ini nona” kata penjual
Setelah menerima air mineral itu diandra membayar dengan pay***
melalui ponselnya. Sudah satu jam ia berlari keringat juga sudah bercucuran
bahkan menembus hodie nya untuk keluar. Setelah meminum air yang ia beli, ia
memutuskan untu istirahat sejenak kemudian kembali ke apartemennya.
Ia duduk di bawah pohon dan bersandar sendiri, ia tersenyum pahit
melihat hanya dirinya yang sendiri. Sedangkan mereka dengan keluarga, ya sudah
hampir satu minggu Diandra tidak pulang ke rumah.
“ngapain sendirian aja ?” ucap seseorang yang mendekat kearah Diandra
Namun seperti biasa bukan Diandra namanya jika langsung merespon
orang lain dengan cepat. Diandra masih diam dengan earphone bluetooth miliknya.
“emang ya, kalau cuek dari bawaan enggak bisa di ubah lagi” ucap
laki-laki itu
“ngapain lo ke sini ?” ucap Diandra dingin
“dingin banget sih Ndra, padahal gua udah berjam-jam nungguin lo
dari pagi. Jauh-jauh dari rumah gua. Masa yang lo enggak ada senyum-senyum nya
nyambut gua gitu” ucap laki-laki itu
“langsung aja bim, apa mau lo ?” kata diandra tanpa basa-basi
“enggak ada sih cuman pengen nyapa lo aja, kenapa enggak boleh ya ?”
kata Bimo
“iya enggak boleh” ucap diandra setelah meneguk minuman nya kembali
“ternyata enak juga ya, taman dekat gedung lo. Cocok banget buat joging
pagi kayak gini apalagi enggak sendirian” sindir Bimo
__ADS_1
“hehh” diandra senyum sinis pada bimo ia tahu maksud dari perkataan
bimo
“emang lo enggak bisa lari pagi di dekat rumah sendiri ya, sampai
harus jauh-jauh kesini” ucap Diandra
“ahh ga tahu jangan-jangan lo takut ya, lari pagi di dekat rumah
lo. Secara lo itu caper parah” kata Diandra membalas perkataan Bimo
“siapa yang caper ?” jawab Bimo tak mau kalah
“itu buktinya” kata Diandra
“ahhh iya deh gua emang caper, puas lo” ucap Bimo mengalah
“tapi caper nya cuman sama lo hemm” kata Bimo menggoda Diandra
“udah lah gua enggak kemakan dengan omongan lo yang enggak jelas
itu” ucap Diandra yang kemudian berdiri hendak meninggalkan Bimo
“mau kemana ?” ucap Bimo sambil menahan lengan tangan Diandra
Diandra melihat tangannya di tahan oleh Bimo menatap tajam kearah
Bimo seperti ingin membunuh Bimo.
“ah sory gua enggak maksud” kata Bimo melepaskan tangan Diandra
berlahan
“lo mau kemana ?” kata Bimo lagi
“pulang” kata Diandra
“lah terus gua gimana Ndra ?” kata bimo
“serah lo la, emang gua perduli” jawab Diandra yang pergi
meninggalkan Bimo yang masih berdiri mematung di bawah pohon tersebut.
“yahhh hehh gua di tinggal lagi” kata bimo lirih melihat Diandra
yang semakin menjauh
.
.
menyangka bahwa saat lari pagi tadi, ia bertemu dengan Bimo laki-laki yang
selalu mengusiknya beberapa lama ini.
Laki-laki itu berbuat semaunya meski ia bersikap dingin namun
laki-laki itu tetap di samping nya.
Bahkan Diandra sudah terbiasa dengan keberadaan nya, ya meski
awalnya laki-laki itu sangat menggangu. Namun entah sejak kapan lambat laun ia
tak mempermasalahkan nya. Hingga terkadang Diandra terpaksa merespon nya karena
jika tidak laki-laki itu tidak akan diam.
Dan menggunakan nya terus sampai Diandra meresponnya. Setelah
membersihkan diri diandra pergi ke dapur ia mencari sesuatu yang mungkin bisa di
jadikan sebagai pengganjal perutnya.
Diandra melihat nasinya masih ada, kemudian di kulkas juga ada
telor, potongan dada ayam, sosis dan beberapa sayuran. Karena nanti siang ia
akan pulang ke rumah orang tuanya maka Diandra memutuskan untuk membuat nasi goreng
saja.
Diandra memang pandai memasak karena sejak ia memutuskan untuk
tinggal sendiri semenjak smp. Kedua orang tuanya tak mengizinkan Diandra untuk
terlalu sering membeli makanan di luar.
Oleh karena itu, setiap pagi dan sore bik Marni mengantarkan
makanan untuknya. Membuat wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumahnya itu
harus bolak-balik rumah dan apartemennya.
__ADS_1
Melihat itu Diandra menjadi tak tega, akhirnya ia mencoba untuk
memasak apa saja yang bisa di makan. Selagi ia tidak keracunan itu lah yang
ia pikirkan saat itu. Meski pun percobaan pertamanya adalah memasak telor dan
itu gosong.
Ia belajar masak dengan sendirinya, ia tak pernah meminta bantuan mama,
atau bik marni untuk mengajarnya. Bahkan saat pertama juga ia tak tahu
bagaimana cara menghidupkan kompor.
Namun sekarang Diandra tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Dan punya
tujuan hidupnya sendiri.
Setelah setelah selesai masak Diandra memakan masakannya. Kemudian melihat
beberapa email yang di kirim oleh anak buahnya.
Tring..ponsel Diandra berbunyi ia melihat nama yang tertera di
ponselnya.
“Di, hari ini kamu pulang kan ?” pesan
mama
“iya ma” balas Diandra
Setelah mendapat pesan dari mamanya, Diandra membereskan semua file dan email yang di kirim oleh anak buah
nya.
Hari mulai siang, Diandra bergegas ke luar ruangan karena ia sudah
janji dengan orang tuanya, bahwa ia akan sampai di rumah sebelum jam makan
siang.
“di, nanti malam kakak tunggu di kantor, ada beberapa hal yang harus
kita bahas” Diandra
mendapat pesan dari Adrew
“baik kak, nanti Andra ke sana” balas
Diandra
“kamu, di mana sekarang ?” chat
Adrew
“baru mau jalan pulang ke rumah kak” balas Diandra
**“ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan” **chat Adrew
“iya kak” balas diandra
Setelah selesai membalas pesan dari Adrew diandra menyalakan mobil
hitam miliknya. Ia menunggu sejenak agar mesin kuda besi miliknya nya panas. Setelah
itu ia menuju rumah kediaman keluarga Ghueta.
Tak butuh waktu lama Diandra sampai di lahaman rumah miliknya. Suasana
rumah Nampak sepi ya begitulah keadaan rumah milik mereka. Tak ada kegaduhan
atau pun suatu hal yang membuat berisik.
Karena penunggu rumah merupakan orang-orang dewasa yang tak suka kebisingan.
“selamat dating nona” sambut bik Marni ketika melihat nona muda nya
itu dating
“nona, bapak dan ibu sudah menunggu nona di meja makan” ucap bik
Marni
“emm iya bik” ucap Diandra
“siang es batu…..”
.
.
Bersambung…….
__ADS_1