
"kenapa semua serumit ini ?" gumam diandra sambil melihat layar komputer di depan nya
"ini seperti benang kusut yang tak ada ujung nya" gumam nya lagi
karena merasa tak dapat melihat ujung dan akar masalah diandra beranjak menuju kamar mandi. ia mencuci muka kemudian berjalan menuju teras apartemen nya.
pemandangan sangat mengejutkan mata di mana dari sini terlihat semua sudut kota dengan kerlap kerlip lampu.
diandra memang sengaja memilik apartemen paling tinggi karena di sana sangat tenang dan damai.
tak terasa diandra memejamkan mata nya hingga kicauan burung membangun kan diri nya. ia segera bangun dan siap-siap berangkat ke sekolah.
setelah memakan sarapan roti dan susu ia menyambar tas nya hingga ting suara ponsel diandra berbunyi.
"gua udah di bawah nungguin lo" sebuah pesan dari seseorang yang tak lain adalah bimo
setelah melihat pesan diandra tak membalas nya melainkan langsung turun dengan santai.
.
.
sementara bimo sudah hampir setengah jam menunggu diandra di mobil. dia sudah mencoba menelpon dan mengirim pesan pada gadis itu. namun tak ada balasan apalagi niat gadis itu untuk mengangkat telpon nya.
"apa dia belum bangun ya, atau jangan-jangan dia udah pergi. tapi nggak mungkin kini baru jam tujuh kurang" gumam bimo
bimo pun berinisiatif keluar dan menanyakan pada resepsionis gedung mengenai diandra. tapi saat dia memasuki pintu masuk seorang yang ia tunggu keluar dari lift dengan santai nya bak tiada dosa. sementara bimo sudang gusar sedari tadi menunggu nya.
tanpa satu kata pun diandra langsung masuk kedalam mobil nya. bimo yang melihat itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya tak percaya.
"wahh hebat bahkan tak ada sapaan dari mulut nya, atau pun maaf sudah menunggu nya" batin bimo
"lo udah sarapan" ucap bimo memulai percakapan sambil menjalankan mobil milik diandra
"emm" angguk diandra
"oh iya pulang nanti gua nebeng lo ya" kata bimo ragu
"lo nggak bisa naik taxi atau nebeng sama temen-temen lo apa ?" kata diandra datar
"nggak" jawab bimo cepat
setelah percakapan singkat itu mereka tak lagi mengobrol semua hening hingga mereka sampai di parkiran sekolah.
banyak mata yang melihat ke arah mobil yang di kendarai bimo. mereka melihat seakan penuh tanya mengapa bimo dan diandra berada dalam satu mobil yang sama.
"sini kunci nya" kata diandra ketus
"nggak gua nggak akan kasih kunci nya, karena pulang nanti gua bareng lagi sama lo" ucap bimo sambil merangkul pundak diandra
"lepas nggak" ucap diandra
"nggak" ucap bimo tersenyum lebar
"kalau nggak gua patahin tangan lo" ucap diandra dingin
"coba aja" kata bimo menantang
"kalau lo matahin tangan gua siap-siap aja lo bakal di samping gua selama nya" bisik bimo di telinga diandra yang membuat diandra merasa geli sendiri
cup sebuah kecupan singkat mendarat di pipi diandra, membuat diandra membelalak kan mata nya.
"lo" diandra melototkan mata nya ke arah bimo yang sedari tadi berlari cepat meninggalkan diandra
"sampai jumpai nanti sayang" teriak bimo sambil mengedipkan mata nya sebelah
__ADS_1
"ORGIL" teriak diandra
merasa diri nya sedang di tatap banyak orang membuat diandra kesal "ahhh" erang diandra frustasi
.
.
bimo memasuki kelas dengan senyum mengembang yang membuat orang-orang tak mengerti pasal nya bimo jarang sekali tersenyum. namun akhir-akhir ini ia seperti orang yang berbeda jauh dari bimo yang biasanya. bimo yang cuek dingin itu sepertinya sudah hilang. kini hanya ada bimo yang ramah dan suka jail pada diandra.
"pagi semua" ucap bimo dengan senyuman menyapa orang di dalam kelas
"pagi" jawab mereka serentak
"lo bimo kan ?" ucap ranza tak percaya
"jangan - jangan lo kembaran nya bimo ya, bimo nya mana" kata danuar
plak,,plak bimo menjitak kepala kedua sahabat nya itu membuat mereka sadar.
"sejak kapan gua punya kembaran" ucap bimo ketus
"ahhh beneran bimo" ucap danuar
"bim lo nggak sakit kan" ucap siswa lain nya
"iya bim"
"kok lo akhir-akhir ini aneh sih bim"
"iya nih, bentar-bentar senyum bentar-bentar dingin, bentat-bentat ketus. bim lo sehat kan ?" tanya ranza
"gua sehat lah" jawab bimo
"lo nggak perlu tahu" kata bimo
"hahhh pelit lo" ucap ranza
"bebeb bimo mobil baru ya" ucap fayzia dengan dengan nada manja
"maksud lo" kata bimo dingin
"emm aku nebeng ya, pulang nanti" kata fayzia
"sory ya itu bukan mobil gua" kata bimo
"oh iya mobil orang tua kamu kan" kata fayzia
"bukan itu mobil diandra cewek gua" kata bimo dengan penuh penekanan
"APA ?" teriak fayzia tak percaya
"heehh nggak mungkin, nggak mungkin cewek miskin itu punya mobil kayak gitu pasti dia minta sama om om di luar sana kan. pasti di kerja malam kan" kata fayzia
"cukup, kalau lo berani macam-macam sama cewek gua habis lo di tangan gua. dan satu lagi jaga mulut lo. sekali lagi lo ngomong yang nggak-nggak gua pastiin kalau lo bakal keluar dari sekolah ini" kata bimo yang mulai emosi
"kamu nggak akan bisa keluarin aku dari sini bim, karena papa aku itu punya saham di sini" kata fayzia masih dengan nada manja
"kok ada ya cewek yang gak tahu malu kayak itu" ucap ranza
"apa maksud lo" kata fayzia kesal merasa tersindir
"wihhh nyadar orang nya" kata danuar
hahhahaa...hahahha tawa siswa di kelas itu.
__ADS_1
"awas ya kalian" kata fayzia keluar dari kelas
"eh fay, mau kemana kamu kelas akan di mulai" ucap guru yang masuk
"emm buk saya" kata fayzia
"masuk" kata guru itu
"baik buk" kata fayzia sambil menunduk
"kata nya mau keluar" sindir ranza
"udah la za, makin ribet entar" kata danuar
mereka pun mengikuti pelajaran dengan tertib hingga istirahat tiba.
"kantin yuk lapar gua" kata ranza
"yuk" jawab danuar
"bim lo kantin nggak, kita mau ke kantin nih" kata ranza
"kalian mau pesan apa biar olivia yang pesan kan" kata danuar
"mereka udah di kantin soalnya, ada diandra juga pastinya" kata danuar
"gua ayam geprek aja dek sama minum nya es jeruk" kata ranza
"gua sama nasi ayam minum nya es teh aja" jawab bimo
"ok" jawab danuar sambil mengetik
"ahh lo pada pacaran nah gua" kata ranza
"apaan sih lo" kata bimo
"siapa yang pacaran" kata danuar
"lo bedua, lo sama oliv, terus bimo sama diandra nah gua sama siapa dong" kata ranza
"kan ada fely yang nganggur" kata danuar
"ahh cewek oon itu, ahh bisa gila gua" kata ranza
"kenapa emang dia cantik lumayan lah kalau buat lo" kata bimo
"cantik sih cantik tapi otak nya yang nggak cantik" kata ranza frustasi mengingat tingkah absurt nya fely yang membuat ranza merinding
"udah syukurin aja hahhaha...hahha" kata danuar
mereka pun berjalan menuju kantin sambil bercanda gurau, dan tak lupa kalau mereka selalu jadi pusat perhatian orang karena ketiga nya sangat tampan.
memang di sekolah itu banyak pria tampan tapi mereka bertiga lebih tampan. apa lagi mereka tinggi sungguh membuat pencerahan pada mata.
.
.
.
bersambung...
happy reading all
jangan lupa fav, vote, like, komen biar authornya makin semangat bikin novel nua
__ADS_1