
(≧∇≦)/
Rea yang sedang terburu-buru pun tak memperhatikan langkahnya, ia pun segera belok kiri dari gedung A dengan langkah lebarnya.
Bugh
"Ahh" Pekik Rea yang merasakan dahinya terbentur dengan dada bidang Seseorang.
"Kau" Ucap orang itu dengan nada tak suka.
"Sorry" ucap Rea yang masih mengusap kepalanya tanpa melihat orang itu.
"Jalan pakai mata donk." Ucapnya ketus.
"Eh, gue kan udah bilang sorry lagian gue buru-buru kali." Ucap Rea yang malas saat melihat orang itu
"Whatever" Ucap orang itu sambil berlalu meninggalkan Rea.
"Lo gak papa kan?" Tanya orang berada dibelakang lelaki itu.
"Gak papa kok kak Sean." Ucap Rea dengan senyum masamnya.
"Bagus kalau gitu. Jangan dipikirin omongan Elvano, dia emang gitu orangnya." Ucap Sean menjelaskan.
"Tenang aja kak. Aku duluan kak." Pamit Rea dan disambut lambaian tangan oleh Sean.
Rea pun segera keruang kelasnya dan ternyata mata kuliahnya pagi ini di ajarkan oleh Pak Oscar dosen ganteng yang membuat banyak mahasiswi terpikat dengan pesonannya.
"Rea bisa keruangan saya sekarang?" Tanya Oscar setelah selesai jam mengajarnya.
"Saya keruangan bapak? Ada apa pak?" Tanya Rea yang sedikit binggung.
"Nanti kamu juga akan tau." Ucapnya kemudian berjalan mendahului Rea, Rea pun akhirnya memilih untuk mengekorinya dibelakang.
Mereka pun masuk kedalam ruang kerja Oscar, Oscar duduk dikursi kebesarnya sedangkan Rea yang masih canggung itu memilih berdiri didepan meja kerja Oscar dengan sesekali ia mengaitkan tangannya kedepan.
"Duduk" perintahnya kemudian ia pun segera duduk dihadapan Oscar.
"Ada apa pak?" Cicit Rea dengan ekspresi wajah yang binggung.
"Kamu mengenal Matteo Bratadikara?" Tanya Oscar tanpa basa basi.
"Ya, ada apa pak? Apa dia membuat masalah dengan bapak?" Tanya Rea dengan banyak memberikan pertanyaannya.
"Oh gak, dia gak ada masalah sama saya. Apakah ini benar?" Tanya Oscar, lalu menyodorkan undangan acara pertunangannya.
"Kok bapak bisa dapat?" Tanya Rea binggung dengan sedikit terkejut yang terlihat di garis wajahnya.
"Dia sahabat saya. Dia yang memberikan undangan ini pada saya. Saya kira dia becanda ternyata kali ini saya salah. Apa dia benar-benar mencintaimu?" Tanyanya dengan tatapan tajam.
"Kenapa anda meragukan cinta kami? Maaf jika anda meragukannya. Tapi sayang pak cinta kami akan terukir dalam ikatan pernikahan. Saya permisi." Ucap Rea yang sedang dalam mood buruk saat mendengar Oscar meragukan cinta sahabatnya dengan Rea.
"Menarik" Ucap Oscar dengan bibir yang terangkat, setelah pintu tertutup kembali.
"Dasar dosen sok tau." gumam Rea yang mengomel dengan suara pelan.
"Hoeii." Teriak sahabat Rea yang membuatnya terperanjat kaget.
"Aduh Ersya lo ini ngagetin tau." Ucap Rea sambil mengusap dadanya.
"Ya elah sayang slow down baby." Ucap Ersya lalu memeluk tubuh Rea dari samping.
"Kenapa lagi?" Tanya Rea yang melihat perubahan wajah Ersya.
"Gue kesel sama Bryan, lo tau kan dia tuh php banget." Keluh Ersya dengan wajah cemberutnya.
"Memangnya dia phpin gimana?" Tanya Rea penasaran.
"Lo tau kan, kalau kemarin malam dia nembak gue dan gue belum kasih jawaban terus tadi gue liat dia meluk pinggang cewek. Gimana gak kesel kalau lo jadi gue." Ucap Ersya merasakan kegundahan hatinya.
"Kok bisa si sya. Perasaan lo ke dia gimana? Lo suka atau gak?" Tanya Rea.
"Jujur gue sayang sama dia, tapi sifat playboynya yang gak bisa hilang itu yang ngebuat gue benci." Ucap Ersya dengan sedikit meluapkan emosinya.
"Udah jangan emosi. Kalau lo benci sifat dia, lo harus bisa ngerubah Bryan jadi cowok yang lebih baik." Ucap Rea sambil menepuk pelan pundak ersya.
"Gue ngerubah sifatnya? Tapi gimana caranya?" Tanyanya binggung.
"Coba lo tanya sahabat kita si Ella, Dia tau gimana menghadapi sifat player kayak Bryan gitu." Ucap Rea tersenyum.
"Gitu ya." Ucap Ersya kemudian ikut tersenyum, dan di beri anggukan oleh Rea.
"Yuk nemuin Ella." Ucap Ersya setelah berpikir sejenak.
"Sya Maaf tapi gue harus balik." Ucap Rea dengan wajah memelas.
"Kok balik?" Tanya Ersya yang tiba-tiba penasaran.
"Iya soalnya gue mau ketemu my fiance." Ucap Rea dengan terkekeh.
"Cie cie... Yang punya My Fiance... Gue My galau aja deh.." Goda Ersya sambil menoel pipi Rea.
"Apaan si." Ucap Rea.
"Duh yang mau jadi nyonya Bratadikara... Cie cie..." Ucap Ersya yang masih ngegodain Rea.
"Pliss Stop." Ucap Rea yang sudah sangat malu.
"Hahaha loh mah enak udah ada yang di gandeng, Lah gue kapan ya." Ucap Ersya dengan wajah murungnya.
"Jangan murung lah sya nanti pasti ada laki-laki yang mencintai lo apa adanya." Ucap Rea dengan senyumannya.
"Ya semoga ajalah." Ucap Ersya.
"Senyum deh kalau manyun nanti cantiknya ilang di bawa komodo." Ucap Rea dengan tawanya.
"Reaaa!!" Pekik Ersya.
"Hahaha... Ya udah ah gue balik ya sya." Pamit Rea dan di jawab anggukan oleh Ersya.
Setelah keluar dari kampusnya Rea segera menuju kekantor dimana Matteo berada, setibanya di kantor Teo ia segera menuju ke meja resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu." Ucap seorang wanita yang dinametag nya bernama Nita.
"Saya ingin bertemu dengan bapak Matteo Bratadikara" Ucap Rea tersenyum.
"Apa ibu sudah membuat janji?" Tanya Nita sembari memperhatikan penampilan Rea yang sangat sederhana.
"Sudah mbak. Bilang saja saya Rea." Ucapnya tersenyum.
"Baik mbak. Tunggu sebentar." Ucap Nita lalu menghubungi ruangan dimana Teo berada.
"Mari mbak saya antar keruang bapak Matteo." Ucapnya pelan lalu membimbing Rea menuju lantai 5.
__ADS_1
"Ini ruangannya mbak." Ucap Nita kemudian meninggalkan Rea didepan sebuah pintu ruang kerja Teo. Sekertaris Teo pun sedikit menundukkan wajahnya lalu membimbing Rea untuk menemui Teo.
"Permisi pak." Ucap Siska sekertaris Teo setelah mengetuk pintu.
"Ya" Ucap Teo tanpa menoleh kesumber suara.
"Ini ibu Rea pak." Ucap Siska yang langsung membuat teo menoleh lalu tersenyum.
"Kamu boleh makan siang Siska. Tapi sebelum itu kosongkan jadwal saya setelah makan siang." Ucap Teo kemudian di jawab anggukan oleh Siska kemudian ia permisi keluar ruangan Teo.
"Sini" Ucap Teo yang menyuruh Rea menghampirinya.
"Makan siang bersama?" Tanya Teo kemudian mendapat anggukan oleh Rea.
"Tunggu sebentar, aku selesaikan ini dulu baru kita bisa makan siang." Ucap Teo yang di balas dengan sebuah anggukan oleh Rea.
Rea yang bosan karena harus menunggu Teo menyelesaikan kerjaannya pun memilih membuka akun sosialnya ia jarang membuat status ia hanya suka me scroll status dari orang-orang yang ia ikuti.
Tak lama Teo pun berdiri ia merapihkan bajunya sedikit kemudian menghampiri Rea tangan mereka saling mengait saat mereka keluar dari ruang kerja Teo, banyak pasang mata yang mengamati mereka namun mereka tetep cuek. Mereka pun segera makan di salah satu restoran terbaik dijakarta.
"Kak." Panggil Rea pelan saat melihat Teo sibuk dengan ponselnya.
"Iya" jawab Teo tanpa menatap kearah Rea.
Tasya menghela nafas pelan, "kakak kenal sama Oscar?" Tanya Rea yang membuat max langsung menatapnya dengan sedikit terkejut namun ia pun segera menormalkan ekspresinya setelah meletakkan ponselnya.
"Kenal, kamu kok kenal dia?" Tanya Teo dengan penasaran.
"Dia dosen di kampus ku. Dia tadi manggil aku, aku kira kenapa ternyata dia bilang kakak sahabatnya." Ucap Rea menjelaskan pertemuannya dengan Oscar.
"Oh." Itu jawaban yang keluar dari mulut Teo setelah Rea menjelaskannya. Membuatnya sedikit kecewa dengan tanggapan Teo namun Rea tak mau ambil pusing ia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka ini.
Setelah makan siang mereka pun melakukan fitting baju untuk acara pertunangannya minggu depan. Fitting baju telah selesai mereka pun segera pulang kerumah, Resia meminta Teo untuk makan malam bersama karena Rizal mengadakan syukuran kecil-kecilan hanya untuk keluarga mereka.
"Re tolong panggil papamu dan Teo." Ucap resia yang menyembulkan kepalanya dari dapur.
"Ok mah." Ucap Rea dengan sedikit berlari ia pun segera menuju ruang kerja Rizal.
Tadi Teo dipanggil oleh Rizal karena ada yang mau mereka bahas sehingga baik Rea atau Resia tidak ada yang berani ikut dalam obrolan mereka. Setibanya didepan ruang kerja Rizal langkah Rea berhenti saat mendengar percakapan antara Rizal dengan Teo yang membuat hatinya sakit seperti tertusuk dengan ribuan sebuah jarum.
"Om tau ada wanita yang kamu cintai selain Rea." Ucap Rizal.
"Maafkan saya om. Hati saya yang memilih untuk mencintai siapa. Namun saya juga tidak akan melepas tanggung jawab saya pada Rea. Saya merelakan perasaan saya demi kebahagiaan Rea." Ucap Teo pelan.
"Lalu apa kamu bahagia?" Tanya Rizal dengan nada tidak suka.
"Kebahagiaan saya tidak penting yang terpenting Rea bahagia." Ucap Teo.
"Teo apa kamu yakin, menikah tanpa cinta memang bisa tumbuh dengan berjalannya waktu. Tapi hatimu memilih wanita lain apa kamu sanggup menjalaninya." Ucap Rizal.
"Yakin om dan saya tetap putuskan menikahi Rea." Ucap Teo.
"Baiklah jika itu keputusanmu." Ucap Rizal.
Hancur hati rea rasanya, ia sakit saat mendengar itu semua, tanpa ia minta air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia pun menghapusnya dengan kasar berulang kali ia menghembuskan nafas kasar agar air matanya tak kembali menetes. Ia pun berusaha menulikan telinganya tentang kenyataan yang membuat perasaannya ngilu.
Tok Tok Tok
"Pah." Panggil Rea lalu masuk kedalam ruang kerja Rizal.
"Ya sayang." Ucap Rizal dengan nada lembut.
"Makan malam sudah siap." Ucap Rea dengan senyum palsu yang ia paksakan.
Mereka pun berjalan menuju meja makan dimana Resia dan para asisten rumah tangga sudah berdiri didekat meja. Rea hanya membuntuti dari belakang ia terlihat murung tidak ada nafsu untuk makan.
"Ayo kalian duduklah." Ucap Rizal yang duduk kemudian mereka pun mulai ikut duduk.
Setelah berdoa mereka segera menyantap makan malamnya, Rea yang pikirannya kemana-mana pun hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya. Teo yang memperhatikan sikap Rea pun mengernyitkan dahinya ia binggung dengan perubahan sikap Rea.
Acara makan malam berjalan lancar saat ini Rea tengah duduk dibalkon kamarnya. Sedangkan Teo sudah pamit pulang usai makan malam karena ada pekerjaan yang belum terselesaikan.
Ting
Ponsel Rea berbunyi, ia pun segera mengambil ponselnya ada pesan masuk dari orang misterius yang beberapa hari ini berchat ria dengan Rea.
Crazy
Hai.
Lg apa lo?
Me
Hai to.
Lgi duduk aja dibalkon.
Lo sndiri?
Crazy
Biasalah,
Lagi merenungi nasip.
Me
Kenapa?
Crazy
Cewek tuh aneh ya.
Kita perhatian salah,
gak perhatian salah juga.
Terus gue harus gimana?
Me
Ye elah gitu aja galau.
Kalau cewek kayak gitu
coba kasih sesuatu yang berbeda.
Dan jangan terlalu memaksakan kehendak.
Crazy
Gue gak pernah maksa.
__ADS_1
Cuma gue gak suka ada penolakan.
Me
Itu sama aja.
Dasar sarap.
Crazy
Apa lo bilang gue sarap?
Kalau gue sarap lo juga dong.
Kan lo temenan sama orang sarap.
Wkwkwk
Me
Yayaya it's ok.
U win.
Crazy
Hahaha.
Udah malem tidur gih.
Good night.
Me
Lo duluan gih gue mau begadang.
Crazy
Ngapain lo begadang,
Udah gini sakit ntar lo.
Ah jangan bilang lo lagi putus cinta.
Hahaha
Me
Kok lo tau?
*Bukan putus cinta tapi *
pengkhianatan cinta
Crazy
Kasian banget si lo.
Gue kasih tips ampuh
Kalau lo dikhianati mending
lo pergi sejauh-jauhnya
dan cari tempat teraman lo
teriak sekenceng-kencengnya
supaya beban lo ilangi
Me
Boleh juga ide lo.
Crazy
Yoi donk.
Gue gitu lo harusnya tau lah
Hidup itu simpel dan jangan di buat ribet.
Gak suka ya udah lo tinggalin
kalau suka lo pertahanin
Me
Oke thanks sarap.
hahaha
Crazy
Eh..
Lo juga kan cewek sarap.
Me
Ya udah yo tidur udah malem.
Good Night.
Rea pun terkekeh membaca pesan dari orang gila ini, tapi mampu membuat Rea tertawa, ia meletakkan ponselnya kenakas kemudian ia pun segera merebahkan dirinya di ranjang kingsize miliknya.
Hidup adalah sebuah pilihan yang harus ia lalui, saat ini Rea masih memikirkan cara untuk menyelesaikan semua ini. Ia bisa saja egois untuk mengesampingkan tentang kebahagiaan Teo, rasa ragu mulai menjalar di hatinya ia takut jika ia tak bisa membahagiakan Teo apalagi dia sudah berkorban banyak untuk Rea.
****
Sudah 5 hari setelah Rea mendengar fakta jika Teo mencintai gadis lain selain dia namun selama 5 hari pula ia memikirkan cara agar keputusan yang dia ambil tidak merugikan orang lain. Besok lusa adalah hari pertunangannya akan dilakukan sebelum semuanya terjadi dan akan menjadi sebuah penyesalan ia pun memantapkan sebuah keputusan untuk besok lusa.
Sore ini Rea keluar rumah ia memutuskan menuju kesebuah cafe menggunakan motor scoopy merah kesayangannya. Terlihat orang berjalan kesana-kemari yang memenuhi seisi cafe ini membuat Rea keheranan karena tidak biasanya cafe ini seramai ini.
"Tumben rame." Gumam Rea ia pun berjalan memuju kearah sudut cafe, namun belum sampai tempat dimana ia akan duduk.
Langkahnya terhenti secara tiba-tiba karena ia merasakan seseorang yang menarik tangannya hingga ia menabrakkan tubuhnya pada orang yang saat ini memeluknya dengan erat. Rea berusaha melepaskan diri dari orang itu namun sayang usahanya sia-sia.
Setelah hampir 10 menit berpelukan hingga semua pengunjung menatap mereka penuh curiga membuat orang itu melepaskan pelukannya lalu menyeret Rea keluar dari cafe. Langkah lebar lelaki itu membuat jalan Rea terseok-seok hingga membuatnya kesal, dengan kuat ia menghempaskan tangannya hingga terlepas dari pegangan lelaki itu.
"Apa-"
Tobe Continued
__ADS_1