
WangYong Hospital.
Amora di bawa ke rumah sakit milik keluarga WangYong, kini dokter pribadi yang biasanya menangani keluarga besar WangYong tengah melakukan pemeriksaan kepada Amora di ruang VVIP.
" Bagaimana keadaannya? " Ujar Samuel saat dokter pria itu keluar dari ruangan rawat Amora.
" Nona muda hanya kecapean saja. Di harapkan nona muda saat ini tidak melakukan aktivitas yang berat-berat karena akan memengaruhi janinnya, di tambah nona muda masih hamil muda dan rentan akan resiko-resiko yang di alaminya. " Ucapan dokter tersebut membuat mereka semua terkejut.
Begitupun dengan Samuel yang tidak mengetahui bahwa wanitanya kini tengah hamil.
" Maksud dokter? Wanita saya hamil? " Ujar Samuel.
" Ya, kehamilannya sudah memasuki dua minggu. Di harapkan kalian bisa menjaganya, kalau begitu saya permisi. " Dokter pria itu pun langsung pergi meninggalkan mereka semua yang masih terdiam.
" D-dia hamil? A-anak ku? " Batin Samuel yang terus bertanya-tanya.
" Sam, apa kau yang melakukannya? " Ujar Mutiara dengan menatap putranya dengan tatapan penuh amarah.
Samuel bingung, di satu sisi Amora pergi meninggalkannya selama dua minggu dan itu yang membuat Samuel kurang percaya kalau itu anaknya, hasil perbuatannya pada siang hari itu.
__ADS_1
" Sam! Jawabbb!!! " Bentak Mutiara dengan tatapan penuh amarah dan air mata yang jatuh di kedua pelupuk matanya.
Walaupun Mutiara sangat membenci Amora. Tapi dia tidak ingin melihat putranya merusak gadis cantik itu.
Clekk ...
" Maaf, nona muda sudah sadar. Kalian bisa menemuinya, kalau kondisi nona kembali lemah, bisa panggil saya atau dokter Rian. " Ujar sang suster yang keluar dari ruangan Amora.
" Baiklah, Sus. Terimakasih. " Ujar Elsa yang mewakili mereka.
" Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi. " Suster tersebut pun langsung pergi meninggalkan mereka.
Samuel tanpa sepatah kata pun langsung masuk kedalam menemui Amora dan menanyakan tentang kehamilan Amora.
" Kau tuli!!! " Bentak Samuel lagi yang kesal karena Amora tidak meresponnya.
" Cukup! " Amora yang sudah tak kuat menahan rasa sesak di hatinya langsung berteriak menatap Samuel dengan air mata yang mengalir deras.
Sedangkan yang lainnya terdiam mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam, mereka lebih memilih berdiam di depan pintu. Mereka ingin memberikan waktu untuk keduanya berbicara, bagaimanapun mereka harus menyelesaikan ini semua secepat mungkin.
__ADS_1
" Kau puass tuan Samuel yang terhormat! K-kau menghancurkan semuanya!!! " Teriak Amora dengan terisak.
" Kenapa? Kenapa, kau tega melakukannya tuann?!! " Teriak Amora dengan terisak-isak mengingat perbuatan Samuel kepadanya pada siang hari itu.
Samuel terdiam tak mampu mengeluarkan sepatah katapun sambil menatap Amora yang tengah terisak.
" M-maaf. " Samuel hanya bisa mengatakan kata maaf sambil masih menatap Amora.
" Hahahaha, maaf? Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya? Tidakkk!!! " Teriak Amora dengan tatapan penuh kebencian.
" Saya tau, saya salah telah menabrak anda saat malam hari itu. T-tapi, apa dengan itu tuan bisa melakukan hal sesuka hati tuan? Apa tuan belum cukup menyiksa saya, di tambah lagi dengan orang tua tuan yang juga menyiksa saya, apa itu semua belum cukup!! " Ujar Amora dengan semakin terisak mengingat setiap perkataan Mutiara yang menyiksa batinnya.
Mutiara yang merasa bersalah hanya bisa terdiam sambil menitikkan air matanya. Dia menyesal telah menyakiti gadis sebaik dan secantik Amora.
" Saya mohon, tuan menjauhlah dari saya. " Ujar Amora dengan menunduk tak berani menatap Samuel.
" Tidak! Kau kira aku akan melepaskan mu begitu saja? mimpi!!! " Bentak Samuel dengan menatap tajam ke arah Amora.
" Mulai detik ini dan seterusnya, kau milikku! " Ujar Samuel lagi dengan penuh penekanan.
__ADS_1
~Bersambung~
Likenya jangan lupa😘