
(●>∪<●)
"Kak Teo"
"Rea" Ucap Teo yang langsung menoleh kearah Rea yang berdiri dibelakangnya.
"Kakak kenapa gak tidur?" Tanya Rea yang duduk disebelah Teo dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Gak bisa tidur. Kamu kenapa bangun sih?" Tanya Teo yang meletakkan ponselnya di meja.
"Pengennya di temenin kakak." Ucap Rea sambil memejamkan matanya.
"Tumben si manja banget." Ucap Teo lalu memegang kepala Rea kemudian ia letakkan di pahanya sebagai bantalnya.
"Nanti kalau udah sembuh juga gak akan manja kok." Gumam Rea pelan ia menikmati setiap belaian tangan Teo di kepalanya.
"Ye sembuh juga gak papa kali kalau manja." Ucap Teo.
"Masa?" Ucap Rea tak percaya.
"Ya udah kalau gak percaya." Ucap Teo.
"Iya iya percaya kok." Ucap Rea ia pun mulai memejamkan matanya tak lama ia pun mulai terlelap dalam tidurnya.
Sinar mentari masuk kedalam celah tirai di apartemen ini, Teo memang memiliki apartemen di jakarta. Ia datang kejakarta karena ada suatu urusan mengenai keluarga papanya, semalam ia di beri kabar oleh Resia kalau Rea sedang sakit di kosannya. Ia sudah menganggap Resia sebagai pengganti ibunya sendiri karena memang Resia memberikan perhatian kepada Teo selayaknya kepada anaknya sendiri.
Apalagi setelah ia menyetujui akan menikahi anak Resia yaitu Rea, kasih sayang Resia berkali-kali lipat kepadanya. Teo memang sangat menyayangi Rea namun di sisi lain ia mencintai Prilly. Akan tetapi Teo sudah membulatkan keputusannya jika ia memang harus memilih Rea, ia hanya tak ingin membuat Resia kecewa jika ia mengkhianati Rea.
"Morning." Sapa Teo yang melihat Rea berjalan kearah dapur dimana dia berada.
"Morning to kak." Jawab Rea lalu meminum segelas air putih.
"Mandi gih terus kita kebandara jemput mama." Ucap Teo yang sibuk membuar nasigoreng buat mereka sarapan.
"Mama kesini!" Pekik Rea yang terkejut.
"Iya tadi pagi mama telepon dia mau kesini." Ucap Teo tanpa menoleh pada Rea.
"Ya Tuhan!! Disini yang anaknya siapa sih? Kenapa malah kakak yang di bilangin. Harusnya kan aku. Heran deh mama nih." Ucap Rea dengan wajah cemberutnya.
Membuat Teo terkekeh saat melihat wajah cemberut Rea. "Hei baik kamu ataupun aku kan sama aja anak mama? Udah jangan cemberut aja nanti cantiknya hilang.." Ucap Teo yang menghampiri Rea dan tak lupa salah satu kebiasaan Teo yang tidak bisa hilang saat bersama dengan Prilly atau Rea yaitu mengacak-acak rambutnya.
"Nyebelin." Ucap Rea lalu berbalik menuju kamar Teo ia pun segera mandi dan berganti pakaian milik Teo karena disini ia tak menemukan bajunya atau baju wanita.
Rea pun keluar kamar ia melihat Teo tengah duduk di ruang makan dengan satu tangannya sibuk dengan ponselnya. Rea yang melihat itu pun merasa kesal namun ia tetap menghampirinya.
"Sini" Ucap Teo tersenyum.
Otak Rea pun berfikir dan terlintas sebuah ide jahil di pikirannya sedikit senyuman yang menggoda namun licik, ia pun berjalan pelan yang menghampiri Teo dan duduk di pangkuannya.
"Re apa yang kamu lakukan." Ucap Teo terkejut.
"Manja sama calon suami sendiri." Ucap Rea lalu menggalungkan tangannya pada leher Teo.
"Re kita sarapan dulu, jangan gini lah." Ucap Teo yang berusaha melepas kalungan tangan Rea.
"Huft. Rencana gagal. deh" Ucap Rea yang kemudian berdiri dan duduk di sebelah Teo.
"Rencana apaan?" Tanya Teo yang menyipitkan matanya.
"Rencana rahasia." Ucap Rea.
"Rencana rahasia apaan lagi. Aneh banget deh, tumben-tumbenan si kamu manja gini?" Tanya Teo penasaran dengan perubahan sikap Rea.
Rea hanya menatap sekilas ia tak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya sambil memakan nasigorengnya.
"Kamu marah?" Tanya Teo dengan sabar.
"Gak" jawab Rea tanpa menoleh Teo dan hanya mengaduk-aduk nasi goreng tersebut.
"Ayo lah. Tadi mama telepon itu lewat ponselmu karena ponselmu berisik jadi aku yang mengangkatnya." Ucap Teo yang tampak frustasi.
"Benarkah?" Tanya Rea sambil menatap Teo tak percaya.
"Apa aku terlihat berbohong?" Tanya Teo.
"Ah baiklah." Jawab Rea ia pun kembali memakan makanannya, Sebenarnya bukan itu yang membuat Rea sedikit kecewa. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya nama yang tersebutkan dalam iguan Teo semalam.
"Entar kita jemput mama ya." Ajak Teo dengan senyumannya.
__ADS_1
"Maaf nih kak tapi aku harus kerja." Ucap Rea dengan cengirannya ia memang belum cuti kerja.
"Keluar." Ucap Teo yang menatap tak suka, Sehari sebelum Teo membawa Rea ke apartemennya ia memang sudah mengikuti Rea hingga ke Restoran tempat ia bekerja. Namun beruntung insiden Rea bertemu dengan Elvano yang tak diketahui oleh Teo.
"Keluar apa?" Tanya Rea binggung.
"Keluar dari kerjaan kamu lah." Jawab Teo yang membuat Rea langsung membulatkan matanya.
"Gak mau." Ucap Rea dengan tegas ia yang tak terima jika harus keluar dari kerjaannya.
"Kamu keluar atau pertunangannya kita batalkan!!!" Ucap Teo dengan tatapan tak suka.
"Apa Batal!! Mudah banget ngomongnya kak, heran deh aku sama kamu. Aku gak mau keluar kerja aja kamu udah ngancem kayak gitu. Parah banget sih" Ucap Rea dengan membanting sendok makannya sehingga terdengar suara dentingan yang keras.
"Re... Rea..." Panggil Teo namun tak diindahkan oleh Rea, ia pun segera mengambil slingbag yang berada di kamar Teo. Kemudian ia pun berjalan keluar kamar namun teo yang melihat pun segera menghampirinya.
"Rea" panggil Teo yang membuat langkah Rea terhenti.
"Apa lag! Mau ngancem apa lagi! Udah lah kak aku capek berantem sama kamu." Ucap Rea dengan nada tingginya ia pun meninggalkan Teo.
Teo pun menarik Rea kedalam pelukannya, "Maaf sayang." Ucap Teo.
Namun Rea tak mengucapkan sepatah kata pun, ia memilih diam dari pada menjawab ucapan Teo. Teo yang merasa Rea yang menjawabnya pun semakin mengeratkan pelukannnya, yang pada akhirnya membuat Rea menghela nafas pelan.
"Maaf sayang, aku banyak pikiran akhir-akhir ini dan maaf aku lampiasin ke kamu." Ucap Teo yang akhirnya berkata jujur.
"Aku maafkan tapi jangan sekali-kali mempertaruhkan pertunangan kita hanya demi ancaman." Ucap Rea dengan senyuman yang terukir di bibir indahnya.
"Iya sayang. Sekarang ganti baju gih mama bentar lagi sampai." Ucap Teo yang sudah menangkan hati Rea, ia pun menyuruh Rea berganti pakaian.
"Kak aku gak punya baju disini." Ucap Rea mengingatkan.
"Ada." Ucap Teo lalu menggiring tasya masuk kedalam kamar yang berbeda dari kamar Teo.
"Wow." Pekik Rea yang melihat beberapa baju disana.
"Buruan ganti." Ucap Teo lalu keluar kamar itu.
Rea pun memilih-milih baju tersebut setelah dapat yang sesuai dengannya ia segera berganti pakaian, ia mengenakan kaos lengan pendek dan yang di lapisi jumsuit yang bawahannya rok sepaha. Tak lupa slingbag miliknya ia sampirkan di lengan kirinya.
Rea keluar kamar ia melihat Teo duduk diruang tengahnya, ia mengenakan kaos putih polos dengan dilapisi jaket hitam, terlihat sangat tampan dan semakin terlihat muda.
Selama perjalanan mereka sama-sama terdiam tak ada percakapan diantara keduanya. Teo pun mulai memulai percakapan tersebut.
"Kamu tetep mau kerja?" Ucap Teo dengan hati-hati.
"Iya, Kenapa?" Tanya Rea balik ia penasaran kenapa Teo menanyakan hal ini.
"Bisa gak kamu gak kerja disana?" Ucap Teo lagi.
"kak kenapa sih pengen aku keluar dari sana?" Ucap Rea yang mulai kesal.
"Re dengerin dulu, ini semua aku lakuin demi kebaikan kamu." Ucap Teo dengan sangat pelan.
"Kebaikan apanya sih kak?" Ucap Rea makin gak ngerti.
Teo pun menghelai nafas pelan ia pun menceritakan tentang keadaan restoran tersebut, pemilik restoran itu sudah menjual tempatnya kepada perusahaan paman Teo. Hal tersebut sudah diketahui oleh Teo, rencananya tempat itu mau di gusur dan mau di alih fungsikan. Sehingga ia memilih Rea untuk berhenti bekerja sebelum semua terlambat.
"Apa!" pekik Rea yang sangat terkejut. "Kok bisa gitu kak... Duh terus gimana sama semua pegawai kalau di keluarkan." Lanjutnya.
"Udah yang penting kamu segera keluar ya." Ucap Teo lalu mengusap pelan kepala Rea.
Setibanya dibandara tak seberapa lama Rea melihat ibunya. "Mah." Panggil Rea sambil tersenyum bahagia.
Teo tengah berdiri disebelah Rea dengan menyambut Resia dengan hangat, tak lupa disebelah Resia ada seorang laki-laki yang tersenyum hangat padanya.
"Hai sayang" sapa Resia lalu memeluk erat Rea.
"Papa" gumam Rea pelan saat melihat Papanya tersenyum padanya.
"Miss you mah." Ucap Rea yang membalas pelukan mamanya.
Setelah berpeluk ria, mereka pun segera menuju rumah dimana papanya dulu tinggal. Rea sangat terkejut saat mamanya mengatakan akan tinggal dijakarta, karena papanya akan mengurus usahanya yang berada dijakarta.
Papanya Rea saat ini bernama Rizal ia adalah suami kedua Resia, ayah kandung Rea telah meninggal dan 3 tahun lalu mamanya menikah kembali. Dia memiliki kakak tiri dan hanya bertemu sekali itupun saat akad pernikahan papa dan mama. Setelah itu ia tak pernah muncul dan Rea memang gak begitu peduli dengan kakak tirinya itu.
"Jadi ini rumah papa?" Tanya Rea pada Rizal. Membuat Rizal tersenyum lalu mengangguk atas pertanyaan Rea.
Tasya pun mengikuti langkah Resia dan Rizal untuk masuk kedalam rumah baru mereka. "Nak disana kamarmu ya." Ucap Rizal menunjuk kamar Rea.
__ADS_1
"Baik pah. Rea kesana dulu" pamit Rea yang masuk kedalam kamar dilantai 2 yang ditunjukan Rizal.
Kamar Rea memang sangat sederhana baik dari interiornya atau perabotannya dan Rea sangat suka sesuatu yang simple tidak terlalu ribet dan mewah. Kamarnya juga terhubung dengan balkon yang membuatnya dapat berinteraksi dengan bulan dan bintang jika malam telah hadir.
"Kamu setuju tinggal disini?" Tanya Teo yang memperhatikan tingkah Rea.
"Iya kak. Aku ingin dekat dengan mama dan papa." Ucap Rea lirih namun masih didengar oleh Teo.
"Aku mendukung keputusanmu, berjanjilah kau akan memberitahuku jika kau menginginkan pindah dari sini." Ucap Teo dengan senyumannya.
"Siap." Jawab Rea ikut tersenyum.
"Aku akan pergi beberapa minggu, salah satu keluarga papa memintaku untuk membantunya bekerja disalah satu perusahaannya yang hampir bangkrut." Ucap Teo dengan menatap Rea.
"Pergilah" Jawab Rea tersenyum tulus.
"Kamu gak marah?" Tanya Teo.
"Gak. Kamu pergi untuk membantu saudara papamu bukan." Jawab Rea yang membuat perasaan Teo lega.
"Terimakasih." Jawab Teo lalu membelai lembut rambut Rea.
Mereka pun akhirnya turun kebawah terlihat Resia tengah berbincang dengan seorang wanita paruh baya.
"Ohiya mbok Idah ini anak saya, Rea namanya." Ucap Resia memperkenalkan Rea pada Mbok Idah pembantu yang bekerja di rumah ini.
"Saya Idah non." Ucapnya lalu mengulurkan tangannya.
Rea pun menyambut baik mbok Idah, setelah berbincang sebentar Rea kembali ke kosannya untuk mengambil barang-barangnya. Teo ikut membantunya, beruntung barang Rea hanya sedikit jika banyak, Rea tak akan menyanggupi untuk pindah hari ini.
"Udah beres?" Tanya Teo, setelah menatap barang Rea di mobil miliknya.
"Udah kak." Ucap Rea ia pun pamit pada teman-teman kosannya serta ibu kos.
Mereka pun tiba di rumahnya, karena sudah larut malam Rea berulang kali menguapkan mulutnya.
"Kamu capek? Istirahat gih ditata besok aja." Ucap Teo yang mampu memberhentikan langkah Rea.
"Siap" Jawab Rea kemudian ia pun masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
...****************...
Hari berganti dengan cepatnya tak terasa waktunya Rea masuk kuliah. Libur hampir 2 bulan ini membuatnya bosan apa lagi setelah ia keluar kerja membuatnya hanya jadi anak rumahan ya walaupun terkadang ia keluar bersama sahabatnya.
Cahaya sinar mentari pagi telah menembus tirai dan cahanya masuk kedalam setiap celah tirai tersebut, membuat Rea menggeliatkan badannya sebelum bangun. Setelah kesadarannya sudah kembali sepenuhnya ia pun segera memanjakan tubuhnya di dalam bathtub. Setelah berlama-lama ria disana ia pun segera keluar dan berganti pakaian, ia mengenakan make up tipis yang natural.
Setelah siap ia pun segera turun terlihat papanya duduk di kursi ruang makan sedangkan mamanya menatap sarapan paginya.
"Morning mah pah." Ucap Rea lalu duduk disebelah kiri papanya.
"Morning sayang, ohiya Re minggu depan kakakmu kembali bisa kau jemput dia?" Tanya Rizal sambil menatap penuh harap pada putri tirinya.
"Kakak kembali. Baiklah pah." Ucap Rea tersenyum membuat Rizal bernafas lega.
"Sayang jangan Rea yang menjemputnya, kau lupa kalau malamnya Teo akan melamarnya." Ucap Resia menyela membuat Rea memutar bola matanya.
"Untung kamu ingetin aku sayang. Maaf Rea papa lupa akan pertemuan itu." Ucap Rizal dengan penuh menyesal.
"No problem pah. Lagian kakak kan akan datang. Udah 3 tahun kakak pergi pah. Dan dia kembali itu pasti menyenangkan." Ucap Rea terkekeh.
"Papa harap begitu sayang." Jawab Rizal yang kemudian tersenyum bahagia.
Mereka pun sarapan dengan di selingi obrolan ringan yang membuat mereka sedikit tertawa dalam makannya. Setelah selesai sarapan Rea segera membantu ibunya untuk membereskan meja makan. Rizal pun pamit akan berangkat kerja dan Rea akan menebeng papanya untuk pergi kekampus.
"Papa berangkat mah." Ucap Rizal lalu mengecup kening Resia.
"Hati-hati sayang." Jawab Resia tersenyum.
"Ayo sayang." Ajak Rizal kepada Rea.
"Bye mah. Assalammualaikum." Ucap Rea setelah mencium tangan mamanya.
"Waalaikumsalam." Jawab Resia lalu melambaikan tangannya pada keduanya saat mobil Rizal keluar dari pekarangan rumahnya.
Arah kantor Rizal dengan kampus Rea memang searah hanya berjarak 20 menit dari kampus Rea sehingga memudahkan Rizal untuk mengantar anaknya. Setibanya di kampus Rea pamit pada Rizal ia pun segera berjalan cepat menuju kelas.
Rea yang sedang terburu-buru pun tak memperhatikan langkahnya, ia pun segera belok kiri dari gedung A dengan langkah lebarnya.
Bugh
__ADS_1
Tobe Continued