
(*^_^*)
"Apa-"
"Sorry sorry gue udah peluk lo." Ucap orang itu sembari menatap Rea.
"Ngapain sih lo pakai peluk-peluk gue?" Tanya Rea to the point.
"Emm... Gak papa pengen aja." Jawabnya cuek.
"Lo gila ya." Pekik Rea dengan kesal.
"Gue gak gila gue waras kok." Ucapnya santai.
"Terserah lo." Ucap Rea yang bersiap meninggalkan orang itu.
Namun lengannya di tarik hingga tubuh tasya menabrak orang itu kembali, tanpa ia sangka orang itu mengecup bibir mungil Rea. Tubuh Rea tak bereaksi ia sangat terkejut hingga membuatnya melongo tak percaya.
"Bye." Ucap orang itu sembari menahan tawanya.
"Elvano!" Teriak Rea yang sangat kesal bukan main saat melihat orang itu pergi meninggalkan Rea yang baru sadar dari keterkejutannya.
"Dasar gila sarap mesum!!!" Pekikny kesal ia tak peduli jika ada orang yang melihat Rea teriak-teriak seperti orang gila itu.
Rea pun berusaha berlari untuk mengejar Elvano namun sayang langkah lari Rea masih kalah cepat, terlihat Elvano yang sudah menaiki mobilnya, Rea bersiap menghadang Elvano di tengah jalan namun langkah Rea terhenti saat ia melihat sosok yang ia kenali berjalan dari arah yang berlawanan dengan seseorang.
"Kak Teo dan pak Oscar." Cicit Rea pelan.
Rea pun memilih mengekori mereka, beruntung mereka tidak melihat Rea yang sedang berlari mengejar ELvano sehingga dengan aman ia mencoba mencari tahu sesuatu yang selama ini ia pikirkan. "Semoga dengan ngikutin mereka gue bisa ambil keputusan yang tepat." Ucap Rea dengan berjalan sangat pelan dibelakangnya.
Elvano telah melajukan mobilnya keluar dari cafe tersebut ia merasa bodoh dan kesal dengan dirinya sendiri..
"Bego banget si gue." Pekik Elvano dengan memukul setir mobilnya pelan.
"Gara-gara Bryan dan Sean nih... Shit..." Umpatnya.
"Coba aja gue gak sibuk dan gue bisa ngajak tuh cewek sarap makan gak kayak gini jadinya. Lo emang bego Elvano!" Gumamnya yang masih kesal.
"Bodo amat anggap aja nyium kucing." Ucapnya yang berusaha menormalkan kekesalannya tersebut.
Elvano dengan kondisi yang kurang baik itu pun memilih melajukan mobilnya kearah rumahnya, ia pun memilih mengendarai dengan kecepatan sedang karena untuk menghindari yang namanya kecelakaan lalulintas. Sesampainya dirumah terlihat sebuah mobil yang sangat ia kenali terparkir cantik dirumahnya.
"Assalamualaikum." Ucap Elvano saat masuk kedalam rumahnya.
"Waalaikumsalam." Sapa orang yang ada dirumah Elvano.
"Papa kesini kok gak bilang-bilang." Ucap Elvano dengan penuh rasa bahagia.
"Hahaha... Papa sengaja gak bilang biar jadi kejutan donk." Ucap Vandi papa Elvano dengan senyum lebarnya.
"Arsalan mana pah? Terus mama Sarni gak ikut?" Tanya Elvano dengan banyak pertanyaan yang di ucapkan.
"Aduh El satu-satu tanyanya." Ucap Vandi terkekeh.
"Iya iya pah, Arsalan ikut gak pah?" Tanyanya satu persatu.
"Ikut dia dikamarnya. Mama Sarni ada di dapur sama mama Venna." Ucap Vandi yang menjawab semua pertanyaan Elvano diawal.
"Ya udah, aku kedapur dulu ya pah." Ucap Elvano lalu menuju dapur dirumahnya.
"Mama" panggil Elvano dengan senyum lebarnya yang membuat 2 ibu didapur menoleh padanya.
"Hai sayang." Sapa Sarni.
"Mas udah pulang?" Ucap Venna yang juga tersenyum.
"Mama Sarni gimana adik bayinya sehat?" Tanya ELvano yang melihat perut buncit Sarni.
"Sudah mah, tadi dikerjain sama Bryan dan Sean karena kesel ya udah deh balik aja kerumah." Ucap Elvano yang juga menjawab pertanyaan Venna.
"Sehat dong mas El tunggu 2 bulan lagi adiknya mas lahir" Ucap Sarni tersenyum.
"Wah bentar lagi adik aku nambah lagi. Yes yes yes." Ucap Elvano dengan senyum bahagianya.
"Iya dong." Ucap Sarni.
"Mas memang kamu dikerjain gimana sama Bryan?" Ucap Venna.
"Iya nih mah kan aku ada janji sama mereka terus aku lupa tuh masak mereka nyuruh aku nyium cewek sarap." Jelas Elvano tanpa sadar.
"Apa mas nyium cewek?" Ucap Venna sedikit memincingkan matanya.
"Eh anu gak mah itu..." Ucap Elvano yang binggung mencari alasan ia keceplosan berbicara jujur dengan Venna dan Sarni.
"Siapa cewek sarapnya mas?" Tanya Sarni yang mulai penasaran.
"Ah itu adalah pokoknya mah, ya udah aku kekamar dulu ya mah." Pamit Elvano buru-buru ia tidak ingin di introgasi lagi.
__ADS_1
Setibanya dilantai atas ia menuju ke kamar Arsalan ia membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci. Terdengar samar-samar suara dari arah balkon kamar Arsalan membuat Elvano berjalan sangat pelan untuk menghampiri adiknya itu.
"Iya, besok aku kesana sayang..... jangan sayang... iya sayang janji... ya udah.... good night to sweetty." Ucap Arsalan lalu metutup telponnya.
"Cie yang udah punya pacar." Ucap Elvano yang menggoda adiknya yang telah usai menelepon.
"Kakak." Pekik Arsalan yang sangat terkejut.
"Anak mana pacar lo?" Tanya Elvano dengan senyum seringainya.
"Bali lah. Oggah gila LDRan." Ucap Arsalan yang masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Elvano dibelakangnya.
"LDR itu nyiksa banget ya?" Ucap Elvano di barengi dengan tampang bodohnya.
"Emang. Baru ngerasa punya pacar kok mau jauh-jauhan." Ucap Arsalan sembari merebahkan tubuhnya diranjang.
"Ya 3 tahun gak ketemu, dah gitu akhir-akhir ini dia gak bisa di hubungi. Kesel banget kan kalau punya cewek kayak gitu, kalau aku marah dia ikutan marah. Kalau lagi kangen cuma bisa lewat telepon dan gak bisa ketemu buat kangen-kangenan." Ucap Elvano menceritakan kisahnya.
"Curhat nih." Goda Arsalan sambil menatap kakaknya.
"Ya. Puas." Ucap Elvano dengan tampang cemberutnya lalu berjalan keluar kamar.
"Eh jangan ngambek kak!" Teriak Arsalan yang masih terdengar Elvano namun ia abaikan. Ia pun masuk kedalam kamarnya sendiri.
Makan malam telah siap keluarga Elvano pun telah berkumpul di meja makan. Setelah makan malam mereka pun duduk di ruang tengah rumah Venna.
"Papa kok tumben kesini?" Tanya Elvano yang penasaran.
"Memang gak boleh apa papa kesini?" Ucap Vandi sembari menatap anaknya.
"Boleh banget pah. Tapi tumben gak bilang-bilang." Ucap Elvano.
"Hahaha.. Papa kesini karena sahabat mamamu mengundang kita sekeluarga untuk menghadiri acara pertunangan anaknya." Ucap Vandi terkekeh pelan.
"Oh gitu." Ucap Elvano yang hanya menganggukan kepalanya, mereka pun mulai berbincang-bincang ringan tentang perihal pekerjaan papanya.
"Ohiya Mas, kamu ikut jadi model brand ambassador milik mama ya." Ucap Venna sembari menatap Putranya.
"Kok aku si mah. Ogah." Ucap Elvano begidik ngeri karena ia tak begitu suka menjadi model.
"Kenapa si mas. Kan enak jadi model brand ambassador punya mama." Ucap Vandi.
"Ya udah terserah mama lah." Ucap Elvano yang akhirnya pasrah.
"Fix Mas jadi model brand ambassador mama. Udah ah udah malem mama tidur dulu." Ucap Venna pamit.
"Papa sama Mama sarni pamit juga mau tidur dulu ya mas." Ucap Vandi yang mendapat anggukan Elvano dan Arsalan.
"Gue keluar dulu ya." Ucap Elvano yang segera keluar dari rumahnya.
Udara malam yang dingin dan sangat segar udaranya jika di hirup membuat Elvano menikamtinya, ia terus berjalan tanpa sadar ia sudah berada di taman dekat kompleks rumahnya, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok gadis yang tengah terisak terlihat bahunya yang bergetar. Elvano pun merasa ada sesuatu didalam dirinya yang menuntunnya untuk mendekati gadis itu.
Elvano pun duduk di bangku dimana gadis itu menangis, karena merasa terganggu gadis yang menangis itu membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Ia pun menatap Elvano dengan pandangan tak percaya, begitu sebaliknya Elvano sangat terkejut melihat gadis didepannya ini.
"Kenapa lo nangis?" Tanya Elvano pelan setelah menutupi keterkejutannya.
"Bukan urusan lo." Ucapnya jutek.
"Emang bukan urusan gue, setau gue lo tuh bukan gadis cengengy kayak gini." Ucap Elvano tanpa menoleh padanya.
"Maksud lo." Ucapnya binggung.
"Lo itu gadis tegar, kuat dan lo itu Edrea si gadis bar-bar yang gue tau." Ucap Elvano dengan menahan senyumnya.
"Kuat? Sekuat apapun gue, tapi gue juga bisa rapuh. Tegar? setegar apapun gue, gue juga bisa jatuh juga kok" Ucap Rea yang menahan airmatanya yang akan menetes kembali.
"Gue tau, nangis aja jangan di tahan." Ucap Elvano yang langsung merengkuh tubuh gadis itu.
Tubuh Rea menegang mendapat pelukan tiba-tiba 2 kali dari Elvano. "Nangis aja tapi setelah itu jangan lo keluarin lagi air mata lo yang berharga." Ucap Elvano sambil mengusap pelan punggung Rea.
Entah apa yang Elvano lakukan ini sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan saat menghadapi sikap bar-bar Rea yang selalu membuat mood Elvano berantakan. Tangisan Rea pun pecah seketika saat merasakan usapan dipunggungnya membuatnya nyaman saat ia menghirup harum tubuh Elvano.
"Makasih." Ucap Rea yang sudah berhenti menangis ia pun memilih melepaskan pelukannya dan menatap Elvano dengan sedikit senyum.
"Nah gitu dong, lo cantik kalau senyum." Ucap Elvano yang mampu membuat pipi Rea merona. Beruntung ini malam jadi Elvano tak mengetahui jika pipi Rea merona akibat gombalan recehnya.
"Bisa aja lo." Ucap Rea memalingkan wajahnya.
"Kok lo disini sih bukannya kosan lo di daerah xxxx." Ucap Elvano yang menyadari sesuatu.
"Udah pindah. Bokap beli rumah di blok C kompleks sini." Ucap Rea yang menjelaskan.
"Berarti deket ya rumah lo sama gue. Gue di blok A." Ucap Elvano terkekeh.
"Ya ya ya kan gue udah pernah kerumah lo, tapi gue lupa si alamat rumah lo jadi gak nyadar lo juga disini." Ucap Rea memutar bola matanya.
"Hei gadis bar-bar lo gak laper." Ucap Elvano yang menatap Rea.
__ADS_1
"Gak" Jawab Rea namun tidak dengan perutnya yang berbunyi nyaring, hal itu membuat Elvano menahan tawanya.
"Jadi masih ingin mengelak gadis bar-bar?" Tanya Elvano yang akhirnya terkekeh.
"Sorry." Cicit Rea pelan ia sangat malu.
"Ayo kita cari makan." Ucap Elvano yang langsung berdiri kemudian di ikuti oleh Rea.
Mereka pun menuju ke sebuah kedai pinggir jalan yang tak jauh dari taman komplek. "Kita makan disini aja ya." Ucap Elvano yang berhenti di kedai sate ayam madura.
"Ok." Ucap Rea tersenyum.
"Bang sate 2 porsi ya dimakan sini." Ucap Elvano yang memesan pada penjual sate.
"Oke dek siap tunggu sebentar yak." Ucapnya dengan logat madura.
Rea yang duduk di sendiri pun menoleh, ia mendapati Elvano yang berjalan mendekatinya ia tengah menatapnya tanpa senyum. Elvano pun duduk di sebelahnya, tak ada yang berbicara hanya terdengar suara kendaraan yang lewat.
"Btw lo tadi kenapa nangis?" Tanya Elvano yang memecahkan keheningan diantara mereka.
"Apa yang lo lakuin jika kekasih lo menyukai orang lain?" Tanya Rea yang langsung menatap kearah Elvano.
"Gue lepas, karena dia gak akan bahagia jika bersama kita sedangkan hatinya milik orang lain." Ucap Elvano dengan senyum tipis.
"Gitu ya." Ucap Rea berpikir sejenak. "Lo bener, cinta itu gak pernah mengenal waktu dan tempat untuk mulai cinta sejati. Semuanya terjadi tanpa sengaja, dalam satu detak jantung dalam sekejap, menghasilkan momen mendebarkan." Ucap Rea saat menerawang dengan tatapan kedepan.
"Cinta adalah saat kebahagiaan orang lain lebih penting dari milik Kita sendiri." Ucap Elvano yang merasakan hatinya juga merasakan hal yang sama.
"Saat seseorang dimabuk kepayang, kita akan siap mengorbankan apapun demi sosok orang yang kita kasihi. Hal apapun akan kita lakukan selama itu bisa membuatnya tersenyum."
"Bahkan meski pada akhirnya itu justru menyakiti dan menguras air mata kita. Lebih baik diri kitalah yang terluka dibandingkan melihatnya menangis. Melihatnya tersenyum dengan kebahagiaannya bersama orang lain." Lanjut Elvano dengan menghembuskan nafas pelan.
"Kayaknya kita sama." Ucap Rea yang menatap Elvano.
"Gak lah." Bantah Elvano yang menyadari ucapannya tadi.
"Jangan membantah kita sama kak." Ucap Rea tersenyum.
"Ya ya ya. Kita sama tapi beda lah. Kalau kekasih gue dia disana dinegeri orang tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia gak pernah kasih kabar gue." Ucap Elvano menceritakan keluhannya.
"Hati-hati jangan sampai ada yang lain disana." Ucap Rea terkekeh.
"Gak, gue gak akan terima itu.." Ucap Elvano dengan rahang mengeras.
"Hei. Tadi lo nasehatin gue kok sekarang jadi kayak gini?" Tanya Rea yang menyadari perubahaan sikap Elvano.
"Eh." Ucap Elvano akhirnya tersenyum meringis.
"Berkata memang mudah tapi mengiklaskan itu memang hal yang sulit." Ucap Rea tersenyum.
"Bener banget." Ucap Elvano pada akhirnya..
Mereka pun akhirnya makan bersama sebenernya Elvano gak lapar tapi karena ia gak tega melihat Rea kelaparan, ia pun memilih untuk ikut makan. Setelah itu ia pun mengantarkan Rea sampai ke gang rumahnya karena Rea tak ingin ia diantar sampai kerumahnya.
"Lo duluan gih." Ucap Elvano saat sudah sampai di Gang rumah Rea.
"Oke. Makasih Kak udah anterin sampai sini." Ucap Rea dengan senyum tipisnya.
"Santai aja. Udah masuk gih." Ucap Elvano.
"Oke kak, Bye." Ucap Rea lalu ia berjalan masuk kedalam gang tersebut. Setelah melihat Rea pergi, Elvano pun langsung kembali kerumahnya.
****
Malam telah berganti pagi, suasana di dapur milik keluarga Rea sedikit ramai, Resia tengah sibuk membantu bi Idah yang membuatkan sarapan.
"Tumben masak banyak mah?"tanya Rea.
"Iya kakakmu sebentar lagi kan sampai." Ucap Resia semangat.
"Kok mama baru bilang aku kan belum mandi ah bau lagi. Aku mandi dulu mah." Ucap Rea lalu sedikit berlari menuju kamarnya dan segera bergegas mandi.
Sudah hampi 30 menit Rea berkutik dikamarnya ia pun akhirnya keluar kamar, karena mamanya sudah memanggilnya berulang kali. Namun Rea masih saja tidak segera turun dari kamarnya.
Rea hanya mengenakan kaos biru berlengan pendek dengan celana hotpants, rambut ia urai karena agak basah usai keramas, tak lupa sedikit makeup yang natural membuatnya wajahnya terlihat ayu.
"REA!!" Panggil Resia kesekian kalinya.
"Iya iya mah aku turun." Jawab Rea yang sudah menuruni tangga.
"Hai." Sapa seseorang gadis cantik yang bertubuh mungil tengah menyapa Rea.
"Hai kak." Sapa balik Rea dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Makin cantik ya adik aku ini." Ucapnya tersenyum lalu memeluk ringan Rea.
"Ah kakak mah bisa aja." Jawab Rea dengan sedikit malu.
__ADS_1
"Oh iya kak-"
Tobe continued