Crazy Love

Crazy Love
18


__ADS_3

5 tahun kemudian


Seorang wanita tengah berjalan dengan anggun di bandara udara paris-charles de Gaulle. Wanita yang dulu agak tomboy itu sudah berubah penampilan lebih feminim. Pesawat yang ditumpangi wanita itu pun akan segera take off ia pun segera berjalan dengan sedikit cepat karena ia hampir terlambat. Ia pun langsung duduk di kursi eksekutif class yang sudah ia pesan kemudian matanya menatap keluar jendela pesawat.


"Gak kerasa udah 5 tahun aja gue pergi dari indonesia dan sekarang gue harus balik ke sana aja. Ya tuhan, kenapa deg degan gini sih ahhh gara-gara kak El ini. Gimana kalau ternyata di udah nikah atau malah sudah punya anak. Oh no." Gumam Rea sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Flashback on


"Gue pilih nembak nasya." Ucap Elvano yang sedikit ragu.


"Woh gila lo." Ucap Bryan dengan nada terkejut dengan Elvano, ia awalnya yakin kalau ia akan mencium Rea namun nasi sudah menjadi bubur inilah pilihan Elvano.


"Yakin lo?" Tanya Sean, yang dijawab dengan anggukan kepala Elvano.


"Lo yakin Vano? Jangan mainin perasaan cewek lah." Ucap Nira yang tidak suka keputusan Elvano.


"Iya loh Van lo jangan becandain perasaan orang." Ucap Agra.


"Yaudah lah itu semua pilihan gue." Jawab Elvano.


Hal itu membuat perasaan Rea  sedikit nyeri dalam hatinya. "Kenapa si lo gak nyium gue aja." Batin Rea yang menyesali keputusan Elvano. "Katanya suka sama gue tapi mau nembak yang lain." Batinnya lagi.


"Oke next." Ucap Rea cuek.


Botol berputar dan mengenai Rea, sedangkan saat ini Nira yang akan memberikan pertanyaan pada Rea.


"Ada gak cowok yang saat ini lo suka?" Ucap Nira saat Rea memilih truth atau berkata jujur.


"Gak ada." Jawab Rea tegas.


"Oke. Next." Ucap Nira.


Ada rasa sedih saat Rea mengatakan gak ada cowok yang ia sukai, padahal kenyatannya ia mulai menyukai seseorang, orang yang akan menunggunya namun ia akan jadian dengan orang lain.


Mereka pun melanjutkan acaranya kemudian setelah puas mereka pun mulai bersiap-siap kembali ke jakarta untuk kembali kerutinitasnya semula yaitu mempersiapkan jadwal perkuliahan mereka dan daftar ulang semester.


****


*D*ikampus Elvano tengah berjalan pelan ia menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di bangku taman fakultasnya. Elvano pun duduk di sebelahnya tanpa ia tau sahabatnya merekam sesi acara penembakan yang dilakukannya. 


"Hai" sapa Elvano canggung. Membuat Nasya langsung menoleh dengan bibir yang naik keatas dengan sempurna.


"Vano" ucapnya senang.


"Mmm... sya." Panggil Elvano pelan.


"Iya Van kenapa?" Tanya Nasya tanpa mengurangi senyum yang tercetak di bibirnya.


"Gue suka sama lo." Ucap Elvano dengan sekali tarikan nafas.


"What?" Pekik Nasya terkejut. "Lo bilang apa?" Ucapnya lagi.


"Gak ada replay." Ucap Elvano, langsung berdiri bersiap meninggalkan Nasya sendiri.


"Tunggu. Gue juga suka sama lo." Ucap Nasya lalu memeluk erat Elvano dari belakang.


Tanpa mereka tau ada seorang gadis yang merasakan nyeri di hatinya saat melihat Elvano dipeluk wanita lain. Ia pun berjalan mundur secara perlahan kemudian meninggalkan sahabat-sahabatnya yang melihat pengakuan Elvano tersebut.


Hati Rea tak rela jika Elvano bersanding dengan wanita lain namun apalah daya, ia yang memulai semua ini ia pula yang menanggung akibatnya. Seandainya waktu dapat berputar ia ingin mengatakan jika ia ada rasa dengan Elvano saat Elvano menyatakan perasaannya. 


Namun nasi sudah menjadi bubur, yang bisa Rea lakukan saat ini menhindar darinya. Rea pun kembali kerumahnya ia pun segera berkemas. Karena ia meminta pada papanya Rizal untuk memajukan pemberangkatannya ke paris. Rea pun turun dari kamarnya terlihat prilly baru memasuki rumah ini.


"Kok lo dirumah?" Tanyanya sedikit terkejut, Rea tak menjawab ia pun hanya mengangguk pelan.


"Belum masuk kuliah?" Tanya Prilly.


Rea tak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk lesu.

__ADS_1


"Lo mau kemana?" Tanya Prilly curiga yang melihat penampilan Rea yang belum mengganti pakaiannya usai dari kampus tadi.


"Sayang kamu udah dateng." Sapa Resia pada Prilly, ia pun menghampiri Prilly lalu memeluknya.


"Iya mah. Soalnya ada yang mau Prilly sampaiin." Ucap Prilly dengan nada pelan.


"Oh ya udah sebentar lagi papamu pulang sayang. Nanti sekalian ikut anterin Rea kebandara ya." Ucap Resia lembut.


"Kebandara? Ngapain mah?" Tanyanya.


"Rea dapet beasiswa sampai S2 di Paris, berangkatnya hari ini." Ucap Resia tersenyum.


"Wow pinter donk  adikku ini." Ucap prilly sedikit sombong.


"Kakak bisa aja." Ucap Rea dengan senyum tipis.


"Nah gitu dong kalian baikan." Ucap Resia senang melihat anak-anaknya akur.


"Eh" Ucap mereka terkejut.


"Aku minta maaf dek kalau aku udah ngerusak semuanya." Ucap Prilly terlebih dahulu.


"Udah lah kak semua juga udah berlalu sekarang yang penting kakak bahagia." Ucap Rea lalu memeluk Prilly.


"Thanks adikku"  Ucap Prilly yang menepuk pelan punggung Rea.


"Inget jaga diri! jangan kecantol cowok lain, fokus aja belajar." Ucap Prilly yang menasehati Rea.


"Loh mang dulu kakak gak fokus?" Ucap Rea terkekeh.


"Fokus loh fokus fokus." Ucap Prilly dengan nada yang seperti Marsha tak lupa ia pun ikut tertawa.


"Hahaha kakak nih bisa aja." Ucap Rea.


Tak terasa waktu sudah menjelang sore, Rizal pun telah pulang dari kantornya setelah makan bersama, mereka mengantarkan Rea ke bandara tak lupa Prilly juga ikut.


"Oke" jawab Prilly. 


Mereka pun berpelukan kemudian Rea pun pamit pada orang tuanya kemudian ia pun berjalan kearah dimana pesawat yang akan ia naiki berada.


Flashback off


Rea menghembuskan nafasnya perlahan, ia memang tidak pernah menghubungi Elvano setelah pernyataan cintanya pada Nasya, lebih tepatnya ia menghindari komunikasi dari Elvano, semua akun sosial media pun Rea Blokir karena ia hanya ingin fokus belajar.


Begitu juga dengan para sahabatnya pun juga jarang ia berkomunikasi, setiap mereka ingin membahas atau mengungkit nama Elvano, Rea pun marah dan hasilnya mereka pun tak pernah membahasnya lagi.


Kepulangan Rea dari Paris memang tidak ada yang mengetahui kecuali kakaknya Prilly dan Teo. Hubungan ketiganya membaik  setelah kepergian Rea dan mereka malah semakin dekat sekarang ini. Perasaan Rea untuk Teo juga sudah tidak ada, hanya saja perasaan yang menganjal di hatinya untuk Elvano yang masih tersisa.


Setibanya di bandara internasional soekarno-hatta Rea turun dengan menyeret kopernya. Ia melihat kekiri dan kekanan ia mengernyitkan dahinya, ia tak melihat keberadaan Prilly padahal kakaknya bilang akan menjemputnya.


"Auntie." Panggil seorang gadis kecil yang berlari kearah Rea.


"Hai princess Milly." Ucap Rea lalu berjongkok dan memeluk erat gadis kecil yang bernama Milly.


"Milly, udah berapa kali daddy bilang jangan lari-lari." Ucap seorang dengan suara yang ngebass  dibelakang gadis kecil itu.


"Kak Teo, Biarin napa orang Milly tuh lagi aktif-aktifnya." Ucap Rea yang membela Milly.


"Iya tapi ini bukan tempat untuk bermain, kalau Milly ketabrak orang gimana? Kakak yang bakal kena omel kakakmu." Ucap Teo dengan nada kesal.


"Gak akan, kan ada aku." Jawab Rea dengan mengerucut bibirnya.


"Whatever." Ucap Teo pada Rea


"Milly ayo kita pulang." Ajak Teo pada anaknya ia pun mengendongnya.


"Daddy no no no." Ucap Milly memberontak dalam gendongan Teo.

__ADS_1


"Milly nurut kata daddy." Ucap Teo dengan nada tegas.


"Daddy aku tuh mau di gendong sama auntie bukan sama daddy." Ucap Milly yang mulai merajuk karena ia ingin digendong oleh Rea.


"Auntiemu capek Mill." Ucap Teo yang masih kekeh membawa Milly dalam gendongannya.


"Udah sini Millynya aku gendong kak." Ucap Rea yang mengambil Milly dari gendongan Teo.


"Ck" Gumam Teo berdecak.


"So kakak ku yang ganteng sedunia. Tolong bawain koperku ya." Ucap Rea dengan nada bossy.


"Kau menyuruhku hmm." Ucap Teo dengan nada menyeringai.


"Whatever." Ucap Rea yang menirukan nada bicara Teo tadi.


Milly adalah buat hati Prilly dan Teo yang berusia 3 tahun lebih, pernikahan Prilly diadakan setelah beberapa bulan setelah kepergian Rea. Bukan Rea tak merestui sehingga ia tak hadir dalam acara penikahan mereka namun karena ia fokus dengan kuliahnya sehingga ia tak akan izin untuk pulang keindonesia.


Walaupun demikian saat bulan madu mereka pun memilih ke paris agar ia bisa mengunjungi dan berbagi kebahagian dengan Rea, dan tahun lalu saat Milly berusia 2 tahun Prilly pun mengunjungi Rea berserta dengan Rizal dan Resia.


Teo pun membawa Rea dan anaknya kedalam mobil yang terparkir di depan bandara. Setelah itu mereka pun melesat menuju kerumah yang di diami oleh orang tuanya.


"Kak prilly kok gak ikut kak?" Tanya Rea saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Dia lagi gak enak badan Re, gak tau bawaannya marah-marah mulu." Ucap Teo.


"Marah-marah gak dikasih jatah kali sama kakak." Ucap Rea terkekeh sembari memandangi Milly yang tengah memainkan tali tasnya.


"Auntie, auntie Milly mau es cream." Pinta Milly.


"Eh. No sayang nanti giginya sakit." Ucap Rea sembari mengibaskan tangannya.


"Daddy Milly mau es cream" renggek Milly pada Teo.


"Kan kemarin udah sayang." Ucap Teo dengan mengusap kepala Milly.


"Hiks... hikss... mom dad jahat, milly mau es cream..." Rengek Milly, ia pun mulai menangis dengan kencangnya.


Membuat Rea mengusap pelan punggung Milly sembari menawarkan akan dibelikan es cream.


"Udah ya sayang, jangan nangis nanti cantiknya hilang. Gak bisa beli es cream gimana?" Ucap Rea dengan suara pelan.


"Auntie hiks.. beneran Hiks.. mau beliin aku hiks.. es cream hiks..." ucap Milly dengan terbata-bata.


"Iya auntie akan beliin tapi jangan nangis lagi oke." Ucap Rea yang membuat tangisan Milly mulai mereda.


"Kak kita berhenti di McD depan aja kak." Ucap Rea pada Teo dan diberi anggukan olehnya.


Mereka pun sampai di McD yang berada di dekat Mall terbesar di jakarta, Rea mengendong Milly turun dari mobil sedangkan Teo memilih menunggu didalam mobilnya sembari memainkan ponselnya untuk memberi kabar istrinya, jika tidak Prilly akan ngamuk dan itu tidak menguntungkan untuk Teo.


Rea berjalan masuk kedalam McD ia pun segera memesan beberapa menu disana untuk dibawa pulang. Setelah memesan ia pun duduk di kursi depan kasir, sedangkan Milly ia menikmati es cream yang sudah berada ditangannya.


Sembari menunggu Rea melihat kekelilingnya matanya menangkap seorang wanita yang cantik dengan balutan dress simple berwarna peach dan seorang pria dengan setelan casual yang sangat familir di matanya itu tengah berjalan beriringan dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.


Mereka berdua melewati McD dimana Rea berada dan terlihat laki-laki itu menuju kearah sebuah cafe yang berada di bersebelahan McD.


"Oh Tuhan..." Pekik Rea. Ia pun kembali menajamkan penglihatannya sungguh sangat disayangkan, pemandangan ini bukanlah seperti yang ia harapkan.


Setelah pesanan Rea selesai ia segera keluar dari McD dan sesekali menoleh kearah cafe tersebut. laki-laki dan wanita itu memilih duduk di area outdoor Cafe, sesekali laki-laki itu mengacak-acak rambut wanita itu dan selalu diberikan wajah kesal wanita itu namun hal tersebut membuat lelaki itu tertawa senang.


Tanpa Rea sadari air matanya sudah mengumpul di pelupuk matanya hatinya sungguh sakit. Ia selama ini berpikir jika 5 tahun tanpa bertemu dengannya tanpa tau kabarnya itu membuatnya semakin kuat dan membuatnya melupakan lelaki itu namun dalam sekejap mata merasakan perih dan sakit hatinya.


Matanya selalu memandang kearah mereka ia tak bergerak dari tempatnya lamunannya kemana-mana. Hal yang tak terduga pun terjadi lelaki yang sedari ditatap oleh Rea pun menoleh kearah Rea dengan wajah terkejut saat ia menatap balik Rea.


Lamunan Rea buyar saat Milly mencubit pipinya dan ia pun menatap Milly dengan senyum, matanya kembali menatap lelaki itu namun siapa sangka lelaki itu masih menatap Rea. Rea yang kepergok pun langsung memalingkan wajahnya lalu berjalan kearah mobil Teo tanpa menoleh kembali kearah lelaki tersebut.


Tobe Continued

__ADS_1


__ADS_2