Crazy Love

Crazy Love
6


__ADS_3

Uhuk Uhuk


"Bodoh." Gumam Elvano yang melihat Rea tersedak.


"Ya ampun Re, pelan-pelan napa." Ucap Ella menepuk pelan punggung Rea.


"Lo gak papa?" Tanya Sean.


"Gak papa kok." Ucap Rea tersenyum.


"Hadeh... Gitu aja pada heboh sih." Gumam Elvano dengan malasnya.


"Bukan heboh bro kalau Rea kenapa-kenapa gimana coba?" Ucap Bryan menengahi.


"Simpel tinggal di bawa ke rumah sakit udah ada yang nolong ini." Ucap Elvano.


"Ihhhhh." Ucap Rea yang sedikit geram.


"Udah deh kalian ini kayak kucing sama tikus aja kalau ketemu. Entar lama-lama cinta loh." Ucap Ersya langsung membuat semuanya mengangguk setuju, kecuali Rea dan Elvano.


"Gak" Ucap Rea dan Elvano berbarengan.


"Tuh kan... Cie cie... " Goda Ella yang mulai heboh ngegodain mereka.


"Ckckck... Awas berujung cinta tapi bilangnya benci." Ucap Bryan dengan tangan di dagunya serta mengangguk-anggukan kepala.


"Eh apaan si. Sorry ya gue sudah ada calon sendiri, dan gak bakal gue suka sama dia." Ucap Elvano dengan tegas.


"Siapa juga yang mau sama lo!!" Ucap Rea dengan nada sinisnya.


"Tuh kan mulai ributnya, kalian berdua ini lama-lama kita nikahin juga." Ucap Sean yang langsung mendapat satu tinjuan ringan dari Elvano.


"Ngomong apaan si lo." Ucap Elvano, namun di tertawakan oleh Sean dan Bryan.


"Becanda kali bro. Udah ah kita disini mau seneng-seneng lo jangan cemberut kayak mau minta di kawinin aja." Ucap Sean langsung mendapat kekehan dari semuanya.


"Bodo lah... Terserah kalian." Ucap Elvano ia memang gak bisa marah dengan sahabatnya itu. Ia tau gak ada maksud apa-apa dari ucapan mereka, dan Elvano juga gak akan mengambil pusing.


Mereka pun melanjutkan obrolannya candaan yang terlontar mampu mencair kan suasana, sehingga tak terasa sudah 2 jam mereka bercerita. Mereka semua pun meninggalkan Cafe tersebut.


"Lo gak papa naik taxi sendiri?" Tanya Ersya pada Rea.


"Gak papa kok." Ucap Rea tersenyum.


"Kenapa gak bareng aja si?" Tanya Bryan yang memperhatikan Rea dan Ersya.


"Gue ada kerjaan." Jawab Rea singkat.


"Yups.. Dia tuh kerja restoran di daerah xxxx." Jawab Ersya menambahi.


"Kenapa gak bareng Elvano aja dia kan mau kedaerah sana juga." Ucap Bryan sambil menatap Elvano.


"Iya bener, mending bareng Elvano aja." Ucap Sean menambahi.


"Eh kok gue?" Ucap Elvano gak suka.


"Gak papa kok. Lagian taxi banyak." Ucap Rea yang malas berdebat.


"Janganlah, dari sini ke sana jauh lo Re. Harusnya gue yang anter lo tapi lo tau kan bokap udah nyuruh pulang harus pulang." Ucap Ella yang menyesal karena hanya Ella yang membawa mobil sedangkan Rea dan Ersya tadi Nebeng mobilnya.


"Ayo lah brother lo gak kasian sama tuh cewek, kalau ada apa-apa gimana coba kita." Bisik Bryan pada Elvano.


"Ya ya ya. Buruan naik." Ucap Elvano ketus sambil menaiki mobilnya.


"Tap-" Ucapan Rea dipotong oleh Bryan.


"Udah buruan naik sebelum berubah jadi Dragon itu orang." Ucap Bryan dengan mengangkat dagunya kearah Elvano.


Dengan terpaksa Rea mengikuti Elvano karena desakan sahabatnya itu, ia juga takut terlambat masuk kerja sebenarnya. Rea bekerja part time ia memilih bekerja di jam sore hingga malem.


Hanya ada keheningan di dalam mobil, hubungan Elvano dan Rea memang tidak semakin baik dan mereka juga jarang bertemu keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.


"Turun" Ucap Elvano yang sudah menghentikan mobilnya di daerah xxxx dimana tempat kerja Rea.


Sebelum turun Rea melepas sabuk pengamannya, "Makasih kak." Ucap Rea yang lalu turun dari mobilnya.


"Hmm." Gumam Elvano menjawab pertanyaan Rea, ia pun segera menjalankan mobilnya saat Rea sudah menutup pintu tersebut.


"Dasar cowok saraf." Umpat Rea lalu masuk kedalam tempatnya bekerja.


Rea bekerja di salah satu restoran ternama, ia masuk kerestoran ini juga karena pertolongan dari Ella karena paman Ella bekerja disini sebagai manager Restoran.


London


Sebuah taman yang berada di tengah area kampus membuat beberapa mahasiswa tengah duduk bersila di rerumputan bawah pohon. Tak hanya itu banyak juga yang duduk juga di setiap bangku taman yang menghadap ditengah air mancur.


Ada seorang laki-laki yang menutup mata seorang gadis dengan tangannya.


"Eh..." Ucap gadis itu terkejut kemudian tangan gadis itu berusaha menarik lengan pria itu.


"Teo berhenti menjahiliku." Ucap Prilly saat tau jika Teo yang menutup matanya dari belakang.


Prilly sangat hapal aroma parfum yang Teo kenakan, begitu juga Teo ia akan tau aroma parfum yang Prilly kenakan.

__ADS_1


"Gak seru ah." Ucap Teo lalu duduk di sebelah Prilly.


"Udah selesai?" Tanya Prilly sambil menatap wajah Teo.


"Udah. Ohiya gimana pengajuan judulnya?" Tanya Teo, karena Prilly sudah memasuki sebentar lagi akan selesai.


"Udah di acc tinggal tahap pembuatan laporan proposal sih." Jawab Prilly terkekeh.


"Bagus donk. Semangat ya. Eh iya maaf ya Ila. Minggu depan aku harus balik ke indonesia." Ucap Teo yang akhirnya menyampaikan kabar kepulangannya yang dipercepat.


"Kok cepet banget? Bukannya beberapa bulan lagi?" Ucap Prilly heran.


"Ia maunya gitu tapi ada urusan yang mendesak disana." Ucap Teo dengan senyumannya.


"Baiklah. Tapi jangan sekali-kali untuk tidak memberi kabar." Ucap Prilly dengan nada mengancam.


"Kalau gak ngasih kabar gimana?" Tanya Teo yang sengaja ngegodain.


"Kalau gak ngasih kabar, maka aku akan menculikmu." Ucap Prilly tertawa.


"Dasar gadis nakal." Ucap Teo ikut tertawa dengan mengacak-acak rambut Prilly.


"Teo stop it." Pekil Prilly kesal kalau rambutnya yang rapih di berantakin.


"Ahhhah... kamu tuh ngegemesin banget sih." Ucap Teo sambil mencubit pipi Prilly.


"Teo jangan mencubit pipiku sakit tau." Ucap Prilly kesal lalu pergi dari Teo.


"Hei. Kenapa kau marah? Baik, baik.. aku minta maaf." Ucap Teo sambil mencekal lengan prilly.


"Aku maafkan asal kamu traktir aku." Ucap Prilly tersenyum jahil.


"Deal" Ucap Teo, Prilly yang tak berniat membalas ucapan Teo malah memeluk tubuhnya.


"Why?" Tanya Teo yang binggung dengan sikap Prilly yang berubah.


"Jangan merindukanku ya." Bisik Prilly pelan.


"Kalau aku ternyata merindukanmu gimana?." Ucap Teo pelan.


"Berarti kamu harus kembali kesini." Ucap Prilly dengan tawanya.


"Oh tidak!... Gimana kalau kita keluar mumpung aku masih disini." Ucap Teo lalu mengandeng tangan Prilly menuju mobilnya.


"Kita kemana?" tanya Prilly yang binggung dengan ajakan Teo.


"Kamu akan tau nanti nona." Ucap Te laolu menjalankan mobilnya keluar kampus mereka.


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam mereka sampai di London Eye atau mata london kalau diindonesia disebut dengan biang lala. Matahari telah terbenam di ufuk barat. Membuat cahayanya hilang diganti dengan cahaya rembulan dan cahaya dari lampu-lampu yang menghiasi jalanan sekitar london eye.


"Indah bukan." Ucap Teo yang berjalan menuju antrian untuk membeli tiket masuk kedalam london eye.  Agar mereka dapat menikmati indahnya kota london dimalam hari.


"Ayo" ajak Teo lalu menarik tangan Prilly untuk masuk kedalam gondola london eyes.


"Ila." panggil Teo pelan.


"Iya Te?" Ucap Prilly sambil menatap T.eo


"Apa kita bisa bertemu lagi?" Tanya Teo sambil menatap Prilly.


Matteo merasakan perasaan yang sulit di artikan, ia tak rela meninggalkan Prilly disini sendiri. Kebersamaannya dengan Prilly mampu menuliskan nama Prilly di Hatinya.


Awalnya ia menganggap Prilly sebagai adiknya namun perlahan perasaan itu ada, ia tak boleh egois ada gadis yang sedang menunggunya, ia yang sudah mengikatnya dengan janjinya. Walaupun Teo dan Rea belum secara resmi bertunangan namun Teo yakin Rea bukanlah gadis yang mudah untuk ditahlukkan.


"Kamu ngomong apa si? Indonesia itu kecil. Kita pasti akan bertemu lagi." Ucap Prilly dengan senyum manisnya.


Prilly pun demikian terkadang ia egois ia lebih mementingkan Teo dari pada Elvano. Padahal status Elvano adalah kekasihnya, ia kadang sedikit berbohong jika ia sedang berjalan dengan Teo dan saat itu pula Elvano menghubunginya.


"Aku cuma takut kita gak bisa ketemu lagi. Gak bisa kayak gini." Ucap Teo lalu memegang wajah Prilly.


Mereka pun saling menatap merasakan perasaan yang terlarang yang harusnya tidak tumbuh dalam hatinya, namun perasaan itu tidak dapat mereka tepis. Detak jantung keduanya semakin cepat kala wajah mereka semakin dekat hingga bibir mereka bersentuhan.


Bibir Teo ******* pelan bibir Prilly, ia pun membalas ciuman dari Teo. Ia menggalungkan tangannya di leher Teo matanya pun terpejam menikmati sentuhan yang Teo berikan.


Nafas mereka terputus-putus setelah melepaskan ciumannya kening mereka menyatu. Tangan kiri Teo turun kepinggang Prilly kemudian tangan kanannya memejang pipi Prilly.


"I love u" Bisik Teo pelan.


Membuat Prilly memisahkan tubuhnya spontan dengan menutup kedua mulutnya tak percaya. "Apa! kamu mencintaiku Te?" Tanya Prilly sedikit gugup.


"Entahlah." Ucap Teo setelah mencerna kata-kata Prilly barusan. Teo mengatakan itu tanpa sadar setelah mengingat kembali apa yang terjadi ia hanya bisa mengusap wajahnya pelan.


Akan tetapi ucapan Teo telah menohok hati kecil Prilly yang membuatnya memalingkan wajahnya dan mengigit bibir bawahnya.


"Kita hanya terbawa nafsu Te." Ucap Prilly setelah menemukan kepercayaan dan berulangkali menghembuskan nafas pelan.


"Maafkan aku." Ucap Teo sambil menunduk.


"Gak ada yang perlu dimaafin Teo." Ucap Prilly dengan penuh ketenangan.


Tak ada yang bersuara hingga gondola berhenti ditempat penurunan. Mereka larut dalam dalam pemikiran masing-masing. Prilly berjalan lebih dahulu ia meninggalkan Teo yang berjalan di belakangnya.


Prilly berniat menaiki bus untuk pulang keapartemennya namun niatnya diurungkan saat Teo membawanya naik kedalam mobilnya. Merekapun sampai di apartemen, Prilly turun lebih dahulu sebelum itu ia menatap Teo sekilas.

__ADS_1


"Sebaiknya kita jangan bertemu dulu Te." Ucap Prilly lalu menutup pintu mobil Teo kemudian masuk kedalam gedung apartemennya.


"Shit" maki Teo sambil memukul setir mobilnya berkali-kali.


"Harusnya gak lepas kontrol gini. Agrhhh..." Ucap Teo lalu menggenggam erat setir mobilnya. Ia pun memilih pergi menuju kesesuatu tempat yang membuatnya nyaman untuk sementara.


Di dalam apartemen Prilly duduk bersandar sambil memegang dadanya. Entah kenapa perasaannya bergemuruh seakan tak menerima jawaban yang Teo ucapkan saat ia menanyakan Teo mencintainya. Tubuhnya bergetar air mata yang ia tahan pun runtuh seketika, dadanya sesak ia hanya bisa melampiaskan semuanya dengan air mata.


****


Sudah seminggu setelah kejadian di london eye, Prilly selalu menghindari setiap ia berpapasan dengan Teo baik di kampus maupun tanpa sengaja bertemu didalam lift. Jesica sahabatnya merasa heran dengan sikap Prilly, padahal ia selalu pergi bersama Teo jika jam mengajar Teo selesai lebih dahulu.


Seperti saat ini Prilly lebih memilih pulang bersama Jesica dan berencana menginap di apartemen Jesica. Memang Prilly akui apartemen Jesica lebih besar atau lebih tepatnya 2kali besarnya dari apartemen milik Prilly.


"Lo marahan sama Teo?" Tanya Jesica yang duduk di sebelah Prilly.


"Bisa gak sih jangan bahan dia? Bikin males mikirnya." Ucap Prilly lalu tiduran di Kasur busa yang di letakkan di dekat kolam.


"Ya elah Aprilly. Jangan sensi gitu kali. Ohiya gimana sama Elvano?" Tanya Jesica yang ikutan tengkurep di kasur.


"Ya gitu lah. Lo tau kan dia tuh Childish beda banget sama Teo, dia tuh-" ucapan Prilly terputus saat ia sadar jika ia sedang membandingkan kekasihnya dengan sahabatnya.


"Lo cinta ya sama Teo." Ucap Jesica dengan jelas.


"Gak" elak Prilly.


"Suka juga gak papa kali bu." Ucap Jesica menggoda Prilly.


"Gak"


"Suka"


"Gak jesi!" Ucap Prilly gemas.


"Hahahhaah. Ngaku aja kali gue kan sahabat lo bu. Gue ini masak masih gak mau ngaku si." Ucap Jesica dengan tawanya.


Prilly pun masih ikut tertawa, sebelum ia menceritakan semuanya pada Jesica. Ia mengakui perasaannya, yang membuat Jesica terkadang cekikikan namun wajah Jesica berubah sendu saat ia mendengar tentang sikapnya pada Elvano.


"Terus gue harus gimana?" Tanya Prilly.


"Saran gue mending lo pilih satu dari keduanya." Ucap Jesica sambil menepuk pelan bahu Prilly.


"Gitu ya." Ucap Prilly pasrah lalu mengusap pelan wajahnya.


Ditempat lain, Teo telah mengepak barang-barangnya hari ini adalah hari keberangkatan Teo untuk kembali ke indonesia. Setelah selesai ia segera keluar apartemennya ia akan berpamitan dengan Prilly namun Prilly tak membuka pintunya ia pun memasukan sebuah amplop lewat bawah pintu.


Teo segera berangkat menuju heathrow airport, ia pun mengeluarkan ponsel yang berada didalam sakunya kemudian ia mengetik sesuatu setelah selesai ia memasukan kembali ponselnya.


Diapartemen Jesica terlihat Prilly tengah mengeluarkan ponselnya dari tasnya saat mendengar ada pesan masuk.


Matteo


Hai. Maaf kalau aku udah buat kamu marah.


Aku pergi kamu baik-baik disini.


Pesan Teo membuat Prilly langsung panik ia segera mengambil tasnya. "Ada apa pril?" Tanya Jesica yang melihat perubahan wajah Prilly.


"Dia pergi." Ucap prilly.


"Siapa?" Tanya jesicca binggung.


"Matteo pergi aku harus susul dia." Ucap Prilly kemudian ia pun keluar apartemen Jesica.


"Gue ikut" Ucap Jesica lalu menyuruh Prilly masuk kedalam mobil.


Prilly berusaha menghubungi Teo namun nomor Teo tidak aktif ia pun berpikir sejenak.


"Bandara" Ucap Prilly setelah ingat jika Teo memang harus pulang ke Indonesia.


Setelah melawan dengan kecepatan, Prilly segera mencari Teo ia menyusuri setiap ruang tunggu di bandara. Namun tak kunjung ditemukan, ia pun segera ke meja informasi.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas tersebut.


"Maaf, untuk pesawat yang menuju Indonesia apa sudah berangkat?" Tanya Prilly dengan perasaan was-was.


"Tunggu sebentar." Ucap petugas tersebut kemudian mengeceknya.


"Maaf ibu. Pesawat dengan tujuan indonesia sudah berangkat 10 menit yang lalu." Ucap petugas tersebut.


"Udah berangkat!" Pekik Prilly yang akhirnya ia pun menundukkan wajahnya.


"Makasih" jawab Prilly pelan lalu menuju kearah Jesica.


"Gimana?" Tanya Jesica.


"Dia udah pergi." Ucap Prilly yang di beri pelukan oleh Jesica membuatnya menumpahkan tangisannya.


Setibanya digedung apartemen, Prilly membalas senyum hangat Jesica sebelum sahabatnya itu meninggalkan gedung apartemennya. Prilly yang meminta untuk diantarkan keapartemennya. Ia berjalan menuju pintu apartemennya setelah dibuka ia tak sengaja melihat kebawah ada sepucuk surat terselip disana.


"Teo" gumam Prilly saat mengambil surat itu ia pun segera menutup pintu tak lupa menguncinya.


Dengan buru-buru Prilly segera membuka surat tersebut. Nafas Prilly tercekat saat ia membaca setiap kata yang Teo tulis. Membuat air mata Prilly mengalir deras hingga sesenggukan dengan menggenggam surat itu.

__ADS_1


Tobe Continued


__ADS_2