Crazy Love

Crazy Love
15 (18+)


__ADS_3

╮(╯∀╰)╭


"Tunggu"


Langkah Rea terhenti saat mendengar teriakan Elvano, dengan berlari sedikit cepat ia menghampiri Rea, ia membalikkan tubuh Rea yang tadi membelakanginya. Hati Elvano yang merasa bersalah saat ia melihat Rea mengeluarkan air matanya, dengan cepat Elvano pun merengkuh tubuh mungil Rea yang bergetar.


"Maaf" bisik Elvano pelan.


Banyak mata yang melihat mereka ada yang binggung ada pula yang mengunjing atau mengatai mereka, Elvano yang mendengar pun langsung membawa Rea keluar dari cafe tersebut.


"Kenapa kamu lakuin itu?" Tutur Rea saat mereka sudah sampai didalam mobil.


"Aku lakuin semua demi kamu." Ucapnya. Tanpa mereka sadari mereka merubah kata gue lo jadi aku kamu.


"Demi aku? apa yang demi aku Kak, Aku malu kak." Ucap Rea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Udah dong jangan nangis. Aku minta maaf." Ucap Elvano dengan nada lembutnya.


"Ak-" Ucapa Rea terputus.


"Kita Pulang ya." Ajak Elvano yang kemudian menjalankan mobilnya.


Mendengar ajak Elvano Rea pun hanya bisa mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di kursi tak lupa ia memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit beban yang ia rasakan. Binggung adalah kata pertama yang Rea rasakaan saat ini, Ia tak mengerti apa kata hatinya disisi lain dia nyaman dan di satu sisi ia masih belum bisa melupakan rasa sakit karena pengkhianatan.


Elvano memperhatikan setiap inci wajah Rea, hanya terukir sedikit senyum dalam sudut bibirnya. "Ahh gila malu banget tadi. Bego banget si Nembak dia disaat yang gak pas." Batin Elvano yang mengingat kejadian tadi di cafe.


Semua sudah terjadi yang pasti Elvano hanya menetapkan hati dan perasaannya saat ini, ia memang masih belum bisa lepas sepenuhnya dengan masalalunya namun ia harus bangkit agar keterpurukan itu bisa terlepas darinya.


****


Dalam waktu yang bersamaan di cafe tersebut Prilly tengah menatap kepergian mobil Elvano dari balik kaca cafe ia tak menyadari jika sedari tadi Teo memperhatikannya, dengan lembut Teo mengusap pelan tangan Prilly. Prilly pun langsung menatapnya dengan senyum paksa yang terukir di wajahnya.


"Kenapa?" Bisiknya.


"Gak papa." Jawab Prilly pelan.


"Bener gak papa." Ucap Teo kembali.


"Iya sayang." Ucap Prilly yang menatap Teo.


"Baiklah." Ucap Teo.


"Pril jadi lo ikut kan?" Kata seorang gadis yang duduk didepannya.


"Iya jes gue ikut, tenang aja." Ucapnya tersenyum pada Jesica sahabatnya waktu di london.


"Sip. Yank kamu kenapa diem aja si?" Tanya Jesica pada kekasihnya.


"Aku gak diem yank... cuma dengerin aja." Jawabnya.


"Ish sayank mah." Ucap Jesica lalu mencubit lengan kekasihnya.


"Aww... sakit yank." Keluhnya.


"Udah-udah kalian nih masih aja kayak anak kecil kelakuannya." Ucap Prilly terkekeh.


"Bodok" jawab Jesica dan kekasihnya bersamaan.


"Ihhh kaliannnn.... nyebelin..." pekik Prilly membuat mereka tertawa.


"Eh ngomong-ngomong itu tadi Elvano kan? Hebat juga dia nembak cewek didepan umum. Tapi sayang kayaknya ditolak." Ucap Jesica dengan cueknya.


Prilly pun tiba-tiba diam tak menanggapi ucapan Jesica, pikirannya kembali ke insiden penembakan Elvano untuk adik tirinya, entah kenapa hatinya sedikit merasakan perihnya saat ia Elvano mengungkapkan itu semua.


"Ehm" dehem kekasih Jesica lalu menoel lengan Jesica.


Membuat jesica menoleh dan menyadari kesalahannya karena ia mengucapkan nama Elvano yang seharusnya gak ada dalam pembahasan ini. "Pril" panggil Jesica pelan.


"Ya" Jawab Prilly saat menyadari panggilan Jesica.


"Sorry.. gue-" ucapan Jesica terpotong.


"Gue gak papa." Jawab Prilly yang langsung memalingkan wajahnya menghadap Teo.


"Kita balik dulu ya Jes." Ucap Teo yang menyadari tingkah Prilly yang mulai tidak nyaman disini.


" gue bener-bener minta maaf." Ucap Jesica penuh penyesalan.


"Its oke Je, gak ada yang harus di maafin kita gak ada masalah apa-apa kan. Gue balik yaJe bye kevin." Pamit Prilly lalu segera menggandeng tangan Teo untuk pergi dari cafe ini.


Didalam mobil tak ada yang memecahkan keheningan semua larut dalan insiden tadi, baik Prilly atau Teo mereka masih larut dalam pemikiran mereka. Saat Rea dipeluk oleh Elvano membuat sedikit perasaan Teo  merasakan kekecewaan dalam hatinya. Ia memang tak boleh egois ia sudah menentukan pilihan yang terbaik dari yang paling terbaik. Ada rasa menyesal namun ia menepis itu semua karena ia yakin pilihannya ini adalah kebahagian untuknya.


"Te" panggil Prilly


"La" panggil mereka bersamaan membuat mereka saling pandang.

__ADS_1


"Kamu duluan." Ucap mereka bersamaan.


"Ah.. haha" tawa Prilly pelan, Teo pun mulai ikut tertawa.


"Mau ngomong apa Te?" Ucap Prilly.


"Nanti aja lah, kamu sendiri?" Tanya balik Teo.


"Sama lah kalau gitu." Ucap Prilly.


"Ya udah." Jawab Teo dengan senyumannya.


Mereka pun tiba di apartemen milik Prilly, Teo hanya mengekori Prilly dari belakang. Setelah masuk keapartemen Teo pun menutup dan menguncinya pintu apartemen tersebut. Sedangkan Prilly ia pun menuju dapur untuk membuat minum. Namun ia merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya, Prilly tersenyum saat menoleh kepada Teo yang memeluknya dari belakang.


"Teo" panggilnya pelan.


"Hmm" gumam Teo ia menyandarkan kepalanya di bahu Prilly.


"Apa kamu meragukan aku Te?" Tanya Prilly pelan dengan menunduk.


"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?" Tanya Teo yang kemudian membalikkan tubuh Prilly.


"Aku takut kamu raguin aku." Ucap Prilly menunduk.


Teo menatap Prilly kemudian ia pun mengangkat dagu Prilly lembut tak lupa senyum yang terukir di bibirnya. "Aku gak pernah raguin kamu. Cuma kamu harus selesaikan masalahmu dengannya." Bisik Teo ditelinga Prilly.


"Masalah itu ya, Aku udah bilang akan selesaiin secepatnya. Tapi apa kamu masih memiliki perasaan pada adikku?" Tanya Prilly dengan nada was-was.


"Mmmm... menurutmu?" Tanya Teo lalu ia pun mendekatkan bibirnya pada bibir prilly.


Ia pun mengecup sekilas bibir mungil Prilly membuat Prilly membulatkan matanya yang mulai kesal. "Menurutku kamu masih sayang dia." Jawab Prilly dengan nada jutek kemudian melepaskan tangan Teo dari pinggangnya, ia meninggalkan Teo dengan wajah di tekuk.


Teo hanya terkekeh melihat wajah jutek dan cemberut Prilly, ia pun mengikuti langkah Prilly keruang tengah dan duduk di kursi sembari menyalakan televisi. Ia memanyunkan bibirnya kesal karena jawaban Teo tidak sesuai yang ia harapkan. Teo pun berlutut dihadapan Prilly kemudian ia pun mengenggam erat tangan Prilly dan menatap mata Prilly dengan tatapan yang penuh cinta.


"Kalau aku masih punya perasaan sama Rea aku gak mungkin disini babe. Kamu yang aku cintai saat ini dan seterusnya." Ucap Teo dengan jujur dan suara yang lembut.


"Apa buktinya?" Jawab Prilly dengan nada ketus dan tidak percaya dengan ucapan Teo.


"Apa kau mau aku buktikan sekarang hmm?" Tanya Teo dengan senyum misterius.


"Ya" jawab Prilly dengan tegas.


"Kau yakin mau aku buktikan sekarang?" Tanya Teo sekali lagi.


"Iya Te iya...." Ucap Prilly.


Posisi Teo yang awalnya berjongkok pun sudah berpindah menjadi posisi duduk di sofa dengan memangku Prilly diatasnya. Tangan Teo pun tak tinggal diam ia pun memasukkan tangannya kepunggung Prilly lalu merabanya.


Prilly pun memainkan jemarinya untuk mengacak-acak rambut Teo sesekali ia menjambaknya. Tangan Teo pun berhasil membuka pengait bra milik Prilly. Prilly pun mengangkat tangannya keatas sehingga kaos miliknya pun terlepas dari tubuhnya begitu juga dengan bra miliknya.


Teo pun kembali ******* bibir prilly tangannya pun mulai meraba buah dada milik Prilly. "Ahhh." Desah Prilly disela-sela ciumannya.


Ciuman Teo pun turun kebawah leher kemudian di payudara Prilly. Bibir Teo mengulum buah dada Prilly yang kanan dan yang sebelah kiri ia mainkan dengan tangannya.


"Ohhh... max... mmm.. ahhh.." desahan demi desahan keluar dari bibir prilly membuat Teo semakin menggila.


Aksi mereka pun berlanjut dengan panas tak ada yang bisa menghentikan mereka karena mereka yakin kalau mereka akan selalu bersama.


****


Di tempat yang berbeda Elvano telah mengantarkan Rea sampai di rumahnya, namun karena lelah Rea pun terlelap dalam perjalanan. Elvano yang melihat tidur pulas Rea pun enggan membangunkannya sehingga ia segera membukakan pintu milik pintu penumpang dimana Rea duduk. Dengan hati-hati ia mengendong Rea hingga masuk kedalam rumahnya terlihat Resia tengah menatap kearah Elvano yang baru masuk dan melihat Rea dalam gendongannya..


"Lho El kenapa Rea?" Tanya Resia yang terlihat khawatr.


"Ketiduran tan." Jawab Elvano yang membuat raut wajah Resia tenang.


"Oh baringkan di kamarnya ya nak." Ucap Resia dengan lembut.


Tanpa menunggu dua kali perintah dari Resia ia pun membawa Rea kekamarnya kemudian meletakannya dengan pelan keranjang.


"Enghh" gumam Rea dalam tidurnya.


"Lo tuh cantik banget" Gumam Elvano. Elvano pun tersenyum saat ia memandangi Rea yang sedang tertidur ia pun mendekat kewajah Rea dan mengecupnya cukup lama. Setelah selesai ia pun segera keluar dari kamar Rea, terlihat Resia menunggunya di ruang tamu.


"Tante." Panggil Elvano.


"Iya El." Ucap Resia.


"El bisa kita bicara sebentar?" Ucap Resia.


"Boleh tant, tante mau bicara apa?" Ucap Elvano yang kemudian duduk di sofa sebelah Resia.


"El kamu tau kan baik Rea atau Prilly mereka itu putri-putri tante." Ucap Resia membuat Elvano mengangguk. Resia pun menghela nafas pelan dengan sedikit memejamkan matanya ia pun melanjutkan ucapanya.


"Tante tau kamu kekasih Prilly tapi kamu tau Prilly sudah bertunangan, tante tau baik kamu dan Rea sama-sama terpuruk dan saling menguatkan. Hubungan kamu dengan Prilly apa sudah di selesaikan?" Ucap Resia.

__ADS_1


"Belum tan karena akhir-akhir ini saya sangat sulit untuk bertemu dengannya." Ucap Elvano.


"Selesaikan nak jika tidak yang tante takut salah satu dari kalian akan ada yang kecewa." Ucap Resia dengan tenang.


"Baik tan. Kalau gitu saya pamit dulu tan." Ucap Elvano.


"Ya sudah ini juga udah malem banget. Salam buat mama kamu." Ucap Resia.


Elvano pun menggangguk ia keluar dari rumah Rea dan menjalankan mobilnya kearah rumahnya yang hanya berbeda beberapa blok.


****


Malam semakin larut cahaya bulan sudah digantikan oleh cerahnya sinar mentari, sinar itu yang memasuki celah-celah tirai yang berada dikamar Rea.


"Enghhh" gumam Rea saat membuka matanya ia menatap sekelilingnya dahinya mengernyit.


"Kok dikamar." Gumam Rea sendiri.


"Masak sih kak El yang bawa gue kesini." Gumam nya lagi.


"Gak mungkin deh pasti papa." Ucap Rea dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Ia pun segera mandi tak lupa celana pendek berbahan kaos warna hitam dan kaos lengan pendek warna biru yang ia kenakan. Rea pun kemudian turun kebawah terlihat Resia sedang menyiapkan sarapan untuk Rizal dan dirinya.


"Pagi mah pah." Ucap Rea yang menghampiri mereka.


"Pagi sayang." Ucpa Rizal lalu tersenyum pada anak tirinya.


"Mah yang bawa aku kekamar siapa?" Tanya Rea saat meminum susunya dan duduk disebelah Rizal didepan mamanya.


"El." Jawab Resia dengan tersenyum.


Uhuk uhuk


"Pelan-pelan sayang." Ucap Rizal sambil mengusap punggung Rea.


"Mama gak boong kan?" Tanya Rea yang masih belum yakin.


"Apa mama terlihat bohong sayang?" Jawab Resia.


"Ya ya ya" ucap Rea yang mau tak mau ia harus menyerah dan mempercayainya.


"Kamu mau keluar gak atau ada acara lain?" Tanya Resia.


"Ada mah. Tapi siang." Jawab Rea sembari menyantap sarapan paginya.


"Pulangnya?" Tanya Resia lagi.


"Ya gak tau lah mah. Kenapa si mah?" Tanya Rea penasaran.


"Gak papa, cuma nanti temenin mama ketempat temen mama." Ucap Resia tersenyum.


"Gak ah males urusan ibu ibu pasti lama." Jawab Rea.


"Gak nerima penolakan sayang." Jawab Resia.


"Terserah lah." Jawab Rea pasrah.


Sore pun tiba Rea yang tidak jadi pergi keluar siang tadi pun hanya menonton Drama korea kesukaannya, Film tersebut belum selesai ia tonton namun Resia sudah berteriak sedari tadi agar Resa cepat mandi dan berganti pakaiannya.


Ternyata acara malam ini adalah makan malam bersama keluarga teman Resia, terlihat Resia mengenakan dress berwarna cream senada dengan kemeja milik Rizal. Memang bukan Resia dan Rea saja namun ada Rizal yang ikut dalam acara ini.


"Sayang come on." Ucap Resia dari bawah.


"Wait mah." Jawab Rea, ia pun segera keluar dari kamarnya menuju ruang tengah dimana mamanya menunggu.


"Uhh cantiknya anak mama." Jawab Resia saat melihat anaknya mengenakan dress lengan pendek dengan warna atas hitam bawah cream.


"Mama baru tau kalau anaknya ini cantik. Ah telat mama mah." Jawab Rea yang berjalan keluar rumah bersama Resia untuk menghampiri Rizal yang menunggu di mobil.


"Duh cantik anak papa." Jawab Rizal tersenyum.


"Makasih pah." Jawab Rea dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Pah udah telepon Prilly?" Tanya Resia pada Rizal.


"Udah tapi dia gak bisa." Jawab Rizal sedikit ada guratan kesedihan diwajahnya.


"Maafin Rea ya pah." Ucap Rea yang melihat wajah sedih Rizal.


"Kamu gak salah sayang." Jawab Rizal lalu tersenyum.


Setelah menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan mereka pun sampai disebuah restoran mewah dijakarta. Meja untuk mereka pun sudah di reserve terlebih dahulu oleh Rizal karena memang Resia yang menggundang temannya untuk makan malam bersama. Tak lama orang yang ditunggu pun sampai mereka menghampiri Resia.


"Hai Res." Sapanya lembut membuat Resia menoleh dan menyambutnya dengan hangat.

__ADS_1


Berbeda dengan Rea saat melihat dengan siapa orang tersebut datang membuat wajah Rea terkejut dan sedikit binggung.


Tobe continued


__ADS_2