
(^・x・^)
"ADE!!" Pekik Resia lalu memeluk erat tubuh wanita yang bernama Ade tersebut.
"Wah ini anak kamu de? Cantik dan ganteng." Ucap Resia setelah mempersilahkan duduk Ade dan keluarganya.
"Ah kamu bisa aja. Itu yang ganteng baru anak aku Re namanya Bryan. Dan itu wanita cantik itu kekasihnya namanya Ersya." Ucap Ade memperkenalkan anak dan kekasih anaknya.
"Bryan tan." Ucap Brian yang menjabat tangan Resia dan Rizal.
"Shht" bisik Rea pada Ersya.
"Gilaaa gue ga nyangka kita bisa ketemu disini." Bisik Ersya dengan cengirannya.
"Apa lagi gue yang gan tau apa-apa." Ucap Rea yang hanya memutar balikan matanya, sedangkan memperkenalkan diri Bryan ia terkekeh melihat reaksi Rea dan Ersya.
"Bryan" panggil Ade padanya.
"Eh iya mah." Jawabnya.
"Kenalan dulu sama anak tante Resia." Ajak Ade tersenyum.
"Udah kenal kali mah, Rea adek tingkat aku, dia seangkatan dengan Ersya." Jawab Bryan santai.
"Woahh ternyata anak kita saling kenal Res." Ucap Ade tertawa.
"Iya gak nyangka yah de, berarti kamu seangkatan dengan Elvano Bryan?" Tanya Resia.
"Iya tan, satu angkatan satu kelas satu permainan. Pokoknya satu untuk bersama lah tan." Jawab Bryan terkekeh.
"Wah bagus donk." Jawab Resia membalas senyum Bryan.
"Coba aja Bryan gak punya pasangan pasti udah aku jodohin sama anak kamu Res." Ucap Ade dengan tertawa. Membuat Bryan, Ersya dan Rea saling memandang, mereka memang tau sifat Ade yang suka bercanda jadi tidak membuat anak-anaknya salah paham.
"Aduh jaman gini jangan main jodoh2an." Ucap Resia yang ikut tertawa.
"Anak muda jaman sekarang mana mau ikut perjodohan, Gak kayak jaman kita dulu." Ucap Suami Ade menambahi.
"Betul banget mas Hendri, jaman dulu kalau gak mau ikut perjodohan pasti dikucilkan keluarga." Ucap Rizal menambahi.
"Aduh pah mah kalian ini jangan bahas jodoh menjodohkan." Ucap Rea yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biar aja sayang sih sayang kita kan hanya bernostalgia." Ucap Resia yang masih tertawa.
"Eh iya ngomong gimana sama perkembangan bisnis baru kamu." Ucap Hendri pada Rizal.
"Ya begitu lah mas, semua juga masih dalam proses perkembangan." Jawab Rizal.
"Kamu jangan ragu kalau mau berkerjasama sama perusahaanku silahkan aku akan menerimanya." Ucap Hendri .
"Waduh terima kasih mas atas kebaikan yang sudah diberikan, Tapi gimana ya mas" Ucap Rizal sedikit binggung karena ia harus diskusi dahulu dengan Resia..
"Udah gak papa kali zal, Resia kan sahabat kami jadi wajar lah saling membantu." Ucap Ade.
"Masalah itu belakangan sekarang gimana kalau kita makan dulu." Ucap Resia mengalihkan pembicaraan.
"Bener banget mah pah, udah laper aku." Ucap Bryan yang membantu Resia.
"Ya udah ayo makan dulu." Ucap Ade.
Mereka pun makan malam bersama dengan membahas masalah-masalah ringan tapi tidak melibatkan urusan pekerjaan. Setelah selesai makan malam Bryan, Ersya dan Rea keluar dari restoran untuk menuju kesebuah cafe milik Sean. Awalnya Rea menolak untuk ikut namun Ersya memaksa, Resia pun juga sudah mengizinkan hingga akhirnya ia pun mengikuti kemana mereka akan kumpul.
****
Disinilah mereka berkumpul saat ini di lantai 2 cafe milik Sean, Posisi duduk mereka pun di atur Bryan duduk disebelah kanan Ersya dan Rea disebelah kiri Ersya, sedangkan di kiri Rea ada Elvano lalu disebelah Elvano ada Sean bersama kekasihnya Dinda.
"Lengket banget lo bro." Ucap Elvano pada Sean. Ia memperhatikan saat Sean tak pernah melepaskan ranggulan pundaknya pada Dinda.
"Ah iya harus kalau gak lengket nanti Dindanya gue kabur lagi." Ucap Sean dengan menaik turunkan alisnya.
"Ya ampun Sean gak mungkin lah Dinda kabur, Udah gede gini." Ucap Ersya menimpali.
"Ya kali aja kan. Apa lagi dindanya gue terlalu cantik sih." Ucap Sean yang menggombalinya.
"Sean." Pekik Dinda dengan melebarkan matanya.
"Ahhwww.. ampun my queen" ucap Sean yang merasakan cubitan akut dari Dinda.
"Makanya jangan gombal terus." Ucap Dinda dengan mencipitkan matanya.
"Iya iya iya my queen." Ucap Sean sambil mengusap pelan cubitan Dinda tadi.
"Parah lo, masak kekasih lo di cubit gitu si." Ucap Bryan terkekeh.
"Biar dia tau rasa, Nyebelin sih" Ucap Dinda.
"Udah udah kalian ini ribut mulu kalau ketemu." Ucap Elvano.
"Iya nih." Ucap Ersya.
"Eh Re lo napa diem aja?" Tanya Dinda.
"Gak papa Din, Gue dengerin kalian nih yang lagi pada ribut." Ucap Rea dengan senyum tipisnya.
"Kepala batu kenapa sih?" Ucap Elvano dengan mengacak-acak rambutnya.
"Elvano" pekik Rea kesal.
"Hahahaha.. awas ibu Kalandra ngamuk." Goda Bryan dengan tertawa.
"Sejak kapan Rea jadi ibu Kalandra?" Tanya Sean dengan pikirannya yang sedikit lola.
"Astaga Seann! Lemot banget si." Pekik Bryan.
"Hahaha emang enak." Ucap Elvano tertawa.
"Ah parah kalian gue gak lemot cuma gak tau." Ucapnya meringis.
"Kalau gak lemot apa coba?" Ucap Bryan.
"Em apa ya." Ucap Sean berpikir,
"Ah lemot lo." Ucap Elvano yang menonyor kepala Sean.
"Duh sakit woi." Ucap Sean dengan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Skip dah." Ucap Dinda sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Kapan nih kita bisa libur bareng?" Tanya Dinda.
"Ah. Akhir-akhir ini masih gak bisa sayang. Deadline skripsi kita biar cepet kelar lah ini." Ucap Sean.
"Iya nih kita aja masih magang sama nyicil buat proposal skripsi jadi kalau proposal skripsi kelar kita langsung bisa maju buat penelitian." Jawab Elvano menambahi.
"Yoi Brother kita bakal bareng-bareng buat lulus.." Ucap Bryan.
"Iya, Semoga kalian bisa lulus bareng." Ucap Ersya.
"Amin." Jawab mereka serempak.
"Guys mmmmm..." Ucap Rea yang ingin mengutarakan sesuatu.
"Kenapa kepala batu?" Tanya Elvano yang melihat kegundahan diwajah Rea.
"Sorry nih sebelumnya." Ucap Rea dengan menghela nafas pelan.
"Kenapa Re?" Tanya Dinda dan Ersya bergantian.
"Sorry ya gaes, tapi bulan depan gue harus pindah kampus." Ucap Rea dengan sedikit gugup.
"Ngapain pindah kampus segala?" Tanya Bryan yang merasa aneh.
"Pindah kemana lo?" Tanya Dinda yang di beri anggukan oleh teman-temannya.
"ke Paris." Ucap Rea dengan cengirannya.
"What!! Paris!!" Pekik mereka bersamaan yang terkejut dengan ucapan Rea.
"Kamu bohong kan?" Ucap Elvano tak percaya.
"Jujur aku udahan kak." Jawab Rea dengan menunduk.
"Kenapa baru bilang sih?" Ucap Elvano dengan sedikit nada tak suka.
"Sorry soalnya papa baru bilang tadi sore, kalau pengajuanku diterima." Jawab Rea, namun mampu membuat Elvano menahan amarahnya.
"Berapa tahun disana?" Tanya Ersya penuh selidik.
"Sampai S2." Jawab Rea.
"What! Berarti sekitar 5 tahunan?" Ucap Bryan.
"Kamu dapet beasiswa?" Ucap Elvano yang curiga.
"Bukan, tapi biaya dari papa. Maunya si dari beasiswa tapi liat nanti disanalah cari beasiswa yang S2 disana." Ucap Rea tertawa senang namun ada perasaan sedih.
"Kok lo baru bilang sekarang si Re?" Tanya Ersya dengan wajah sedihnya.
"Iya nih Re lo nih udah minggu lalu ngilang eh ini malah kumpul-kumpulnya ada kabar kayak gini." Ucap Dinda yang ikutan merasa sedih.
"Aduh udah deh gaes lagian gue kan balik kesini lagi. Gak mungkin gue lupa kalian." Ucap Rea terkekeh.
"Yaudah weekend besok kita kepuncak." Ucap Elvano yang mendapat anggukan oleh teman-temannya, karena baginya ia ingin menghabiskan kebersamaan dengan Rea sebelum Rea berangkat ke Paris.
"Serah deh." Ucap Rea yang pasrah.
"Yes kita liburan." Ucap Dinda senang.
"Iya dong." Ucap Ersya.
"Mau ajak Agra sekalian gak?" Tanya Bryan pada mereka.
"Ajaklah ntar gue hubungi dia." Ucap Elvano yang mendapat tatapan tanya oleh Rea.
"Siapa kak?" Tanya Rea yang memang belum mengenal Agra.
"Sahabat aku, ntar ku kenalin." Ucap Elvano lalu mengusap pelan rambut Rea.
"Eh eh... ada gosip baru lo." Ucap Dinda dengan nada nyaringnya.
"Apaan my queen?" Tanya Sean.
"Apa Din?" Tanya Ersya yang penasaran.
Sedangkan Rea, Elvano dan Bryan hanya ikut menatap Dinda dengan rasa penasaran yang gak terlalu terlihat.
"Kalian denger gak si ada yang ngomongnya sekarang pakai aku kamu loh, yang biasanya ribut tiap ketemu ini adem ayem." Ucap Dinda yang menyindir Elvano dan Rea. Tak lupa tatapannya yang ditujukan pada mereka berdua.
"Oh iya bener lo Din, tumben ya gak ribut kalau ketemu. Jangan-jangan ada apa-apa dengan mereka." Ucap Ersya yang menangkap maksud dari ucapan Dinda.
"Siapa si?" Tanya Sean yang mulai loading lama.
"Ampun deh Sean lo nih kayak gini aja gak mudeng." Ucap Bryan.
"Maksud kalian apa ya?" Ucap Rea.
"Gitu aja kamu gak mudeng si Re." Ucap Elvano.
"Iya gak paham aku." Ucap Rea yang memang gak paham.
"Ya elah lo mah, masak gak paham." Ucap Bryan.
"Wah parah ikutan lola lo Re sama kayak Sean." Ucap Ersya dengan tertawa.
"Terus apaan aku gak paham." Ucap Rea beneran gak paham.
"Maksudnya itu kita kalau ketemu gak pernah ribut." Ucap Elvano yang membuat Rea langsung menutup wajahnya dengan tangan.
"Aaaa kalian nyindir gue." Ucap Rea yang langsung tersipu malu.
"Dih blushing." Ucap Elvano yang melihat pipi merah Rea.
"Kak El!!" Pekik Rea yang dapat membuat semua teman-temannya ikut tertawa.
"Becanda ya Re kita, But kita seneng kalian gak ribut kayak biasanya." Ucap Ersya.
"Bener banget. Kalau gini adem ayem deh." Ucap Dinda menambahi.
"Uhhh... Makasih." Ucap Elvano dengan nada manja yang mampu membuat semua tertawa.
Mereka pun melanjutkan acara ngobrolnya hingga sudah larut malam mereka pun pulang, Rea yang tadi ikut bareng Ersya pun sekarang diantar oleh Elvano kerumahnya karena rumah mereka searah.
__ADS_1
****
Hari telah berganti dengan cepat tak terasa rencana liburan mereka pun telah tiba. Saat ini Rea telah bersiap-siap menaruh barang-barangnya di tas ransel miliknya, sebeneranya Rea sudah pamit untuk tidak ikut namun siapa sangka Elvano datang kerumah Rea dan meminta izin pada Rizal dan Resia. Beruntung orang tuanya mengizinkannya sehingga semua sedang berkumpul di teras rumah Rea.
"Sayang lama banget si." Ucap Resia yang masuk kedalam kamar anaknya.
"Iya mah bentar lagi." Ucap Rea yang sudah menyelesaikan bawaannya.
"Udah pada dateng itu, buruan sayang." Ucap Resia lalu membawa tas ransel Rea dan dibelakangnya Rea mengekorinya.
"Aduh cantik kenapa baru turun sih." Ucap Ersya.
"Iya nih untung aja si tante kasih cemilan buat kita." Ucap Dinda yang masih memakan cemilan yang di suguhkan Resia.
"Ya udah nih kalian bawa aja cemilannya." Ucap Resia yang sudah menyiapkan 1 kantong plastik besar makanan ringan.
"Uhh tante memang yang terbaik." Ucap Dinda dengan cengirannya.
"Makasih Tan." Ucap Mereka bersamaan.
"Kita berangkat dulu ya mah." Ucap Rea yang pamit, setelah itu disusul oleh yang lainnya pamit pada Resia.
Mereka pun menempuh perjalanan hampir 4 jam dikarenakan perjalanan kali ini sangat padat untuk arus kearah Puncak, Setelah melewati kemacetan yang lumayan parah mereka pun sampai ke Vila yang dimiliki oleh keluarga Ersya.
"Sorry ya guys gak bagus villanya." Ucap Ersya.
"Kayak gini gak bagus sya. Ya allah ini mah bagus banget." Ucap Rea yang antusias.
"Hahaha ah lo mah bisa aja." Ucap Ersya tersipu malu.
"Bagus kok Sya." Ucap Dinda menimpali.
"Tenang aja Beb apapun yang lo pilih tetep bagus dimata gue." Ucap Bryan dengan senyum menawannya.
"Uwekkk." Ucap Elvano yang pura-pura muntah.
"Gombal dapur gombal dapur." Ucap Sean yang ikut-ikutan.
"Udah ayo masuk." Ucap Rea yang di beri anggukan oleh yang lain.
Mereka pun masuk kedalam vila tersebut, divilla itu terdapat bibi Onah dan mang Dadang sepasang suami istri yang merawat villa milik Ersya. Vila ini ada 3 kamar, namun para ceweknya dikamar yang atas dan para cowoknya berada dikamar bawah.
"Mandi ah." Ucap Rea yang telah membereskan pakaiannya.
"Gue duluan." Pekik Dinda yang langsung menyerobot masuk.
"A elah lo mah." Ucap Rea menggumam tak jelas.
"Napa lo?" Tanya Ersya.
"Nih Dinda, giliran gue mau mandi malah langsung di serobot." Jawab Rea.
"Kalau mandi pakai kamar mandi bawah aja, tempatnya ada disebelah dapur." Ucap Ersya, yang membuat Rea langsung berdiri kemudian menuju kamar mandi bawah.
"Hei kepala batu." Panggil Elvano saat melihat Rea turun dari tangga, ia melihat Rea menyampirkan handuk di bahunya.
"Apaan?" Jawab Rea yang sudah turun di kebawah..
"Ikut aku." Ucap Elvano ia pun langsung menyeret Rea kebelakang villa. Rea hanya mengekori Elvano dari belakang karena lengannya ditarik oleh Elvano.
Byur
Rea tidak bisa bersiap-siap saat Elvano mendorongnya ke kolam renang yang berada dibelakang villa. "Huahahhaha" tawa Elvano kencang.
"Aaaa..." teriak Rea kesal pada Elvano.
"Enak kan langsung mandi, gak perlu repot-repot." Teriak Elvano terbahak-bahak.
"Ihhh El nyebelin!!!" Pekik Rea lalu mencipratkan air kearah Elvano
"Woi" pekik Elvano yang terkejut saat ada air yang mengenainya.
"Emang enak." Pekik Rea yang senang bisa membalas perbuatan Elvano namun dari arah belakang ada sean yang berjalan mendekati mereka dengan perlahan. Elvano tak menyadari itu ia masih sibuk dengan mengelap wajahnya yang terkena cipratan air, sedangkan Rea berhasil memberikan kode kepada Sean. Beruntung tingkat kepekaan Sean sedang bagus ia pun mengangguk mengerti dan hingga akhirnya terdengar sebuah suara.
Byur
"Hahahahha... Kenak kan." Pekik Rea yang kegirangan karena Elvano berhasil tercebur kedalam kolam akibat di dorong dari Sean.
"Sean!!" Pekiknya saat tau siapapelakunya.
"Sorry gue gak bermaksud." Ucap Sean dengan tatapan memelas.
"Shit." Umpat Elvano.
"Karma tuh karma." Ucap Rea yang masih kegirangan.
Akhirnya karena sudah terlanjur basah Elvano pun melepas kaosnya, begitu juga Rea yang melepas kaosnya yang hanya menyisakan tanktop. Mereka pun berenang kesana kemari sembari menikmati sejuknya udara di sekitar villa ini.
"Hei kepala batu." Ucap Elvano yang mendekati Rea.
"Hmm" gumam Rea dengan malas.
"Lo-"
"Ya ampun Rea Elvano Lo pada berenang gak ngajak-ngajak." Ucapnya dengan nada manja.
"Ya tuhan Ersya yang cantik jelita. Gue gak bakalan berenang kalau gak si kuda nil ini nyeburin gue." Ucap Rea yang menunjuk Elvano dengan dagunya.
"Apa lo bilang kepala batu? Gue kuda nil huh?" Ucap Elvano tak suka dengan julukan barunya.
"Iya dasar bayi gede kuda nil." Ejek Rea, Rea pun berusaha menghindari Elvano saat ia melihat Elvano mendekatinya dengan mimik wajah kesal.
"Hahaha.. kepala batu vs bayi gede kuda nil main kejar-kejaran di air." Teriak Ersya dengan tawa yang terbahak-bahak.
"Kenapa si sayang?" Tanya Bryan yang keluar dari dalam villa karena mendengar teriakan Ersya, Ia mendekati Ersya tak lupa mereka memakai hoodie couple dengan warna senada grow grey.
"Tuh liat kuda nil vs kepala batu." Ucap Ersya menunjuk kearah Rea dan Elvano yang saling mengejar dan menghindar.
"Kuda nil? Kepala batu?" Tanya Bryan tak paham.
"Itu kuda nil si Elvano dan kepala batu si Rea. Merek-" ucapan Ersya terpotong.
"Tolong!!!"
Tobe continued
__ADS_1