
(╯✧∇✧)╯
Sebuah ikatan akan berakhir jika didalamnya tidak ada rasa saling percaya dan menghargai. Ketika sebuah kenyataan harus mengorbankan satu hati yang tersakiti. Ketika seseorang memperjuangkan hak atas kesempatan untuk mencintai dan di cintai. Ketika itu pula seseorang harus memilih, menyakiti atau disakiti, bertahan atau mengalah, serta mendampingi atau mengakhiri.
Setiap luka, setiap helaian nafas selalu terasa menyakitkan saat mengingat luka-luka yang telah mencabik-cabik hatinya. Namun dari sebuah kepahitan yang memperpuruk keadaan membuatnya dapat mengambil pembelajaran dalam sebuah proses kehidupan.
Belajar mengikhlaskan itu yang di lakukan oleh Rea yang saat ini tengah duduk di sepanjang pesisir pantai yang berada di ancol. Minggu lalu saat Rea menginjakkan kakinya kembali kerumah papa tirinya ia harus menerima kenyataan saat kakak tirinya marah besar dengannya.
Flasback On
"Lo!!" pekik seseorang dari balik punggung Rizal sehingga membuat mereka berbalik badan.
"Kak" Gumam Rea pelan yang menatap wajah marah kakaknya.
"Ngapain lo balik!" Bentaknya. Rea hanya terdiam tak ada sepatah katapun terucap di bibirnya.
"Punya mulut kan lo? Lo tuh pengecut. Lo lari dari masalah lo dan akhirnya gue yang harus bertunangan dengan Teo." Ucap Prilly dengan nada tingginya.
"Udah nak jangan ribut kalian." Ucap Resia.
"Diem mah." Ucap Prilly pada Resia.
"Kak jangan libatin mama." Ucap Rea dengan nada tak suka.
"Oh gitu, terus siapa yang harus terlibat? Jawab!" Bentak Prilly.
"Iya gue kak, Gue salah karena gue lari dari masalah ini. Gue tau gue pengecut tapi senggaknya gue gak pernah nikung dari belakang!." Ucap Rea.
"Maksud lo apa?" Ucap Prilly.
"Lo juga harusnya mikir kak, apa yang lo lakuin di kamar waktu itu? dan lo juga apa pernah lo mikir gak perasaan Elvano! Lo to kekasihnya Elvano kak." Ucap Rea yang kesal.
"Apa yang gue lakuin? Lo sendiri apa yang lo lakuin lo lari sama Elvano entah kemana. Lo mikir gak gimana malunya keluarga kita kalau sampai pertunangan itu dibatalkan." Ucap Prilly yang menyalahkan Rea.
"Malu ya kak kan ada kakak yang gantiin, lagian kalian bukannya saling cinta? gue hanya pelariannya Teo, dan lo cintanya Teo. Gue memang mundur." Ucap Rea yang malas berdebat,
"Lo ya! tapi gak gini caranya." Ucap Prilly.
"Udah lah kak males gue debat, gue tuh capek." Ucap Rea yang akhirnya meninggalkan mereka semua.
Flasback Off
Rea mengakui jika ia salah, memang tak seharusnya ia melarikan diri layaknya seorang pengecut. Akan tetapi Rea juga tak akan menyangkal jika ia harus tau kalau kakaknya benar-benar bertunangan dengan mantan kekasihnya.
Setelah berdebat cukup panjang akhirnya Prilly memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Ia juga telah bekerja di perusahaan yang dipegang oleh Teo, ia menjabat sebagai sekertaris Teo itu atas permintaannya dan sudah di setujui oleh orangtua Prilly.
"Ehm" dehem seseorang yang berdiri dibelakang Rea.
Rea pun menoleh sekilas dengan memanyunkan sedikit bibirnya dengan mimik wajah malasnya ia kembali menghadap laut. Hingga terdengar decihan kesal dari orang dibelakangnya.
"Sorry sorry." Ucapnya pelan lalu berjalan memutar dan duduk di sebelah Rea.
"Sorry? Lo tuh udah buat gue nunggu lebih dari 1 jam." ucap Rea yang kesal dengan keterlambatannya.
Laki-laki itu berdecak tak suka saat melihat Rea mulai ngambek dengannya. "Oke tuan putri Shasa yang cantik jelita bak putri malu yang selalu malu-maluin bin kepala batu yang super duper manja." Ucapnya dengan suara yang sangat formal.
"Cih.. Niat muji atau menghina si. Dasar big baby." Ucap Rea dengan memukul pelan lengan Elvano.
"Aw.. iya iya.. maaf Re." Ucap Elvano dengan nada sinis.
"Gak iklas gitu minta maafnya." Ucap Rea yang melihat ketidak iklasan di wajah Elvano.
Elvano pun berdiri menghadap Rea, "Baiklah tuan putri Shasa. Saya Elvano Kalandra sang pangeran tampan dari negeri sakura menghadap dan memohon maaf atas keterlambatan saya." Ucap Elvano dengan membungkukkan tubuhnya.
"Hahahhaha... Apaan coba... haha" Ucap Rea yang tertawa melihat tingkah formal Elvano yang meminta maaf.
"Seneng huh!! Dasar kepala batu." Pekik Elvano yang kemudian mengelitiki Rea.
"Aaa.. El stop.." pekik Rea.
"Makanya jangan godain." Ucap Elvano yang menghentikan aksinya.
Rea pun tersenyum melihat wajah kesel Elvano, Elvano pun yang merasa dipandangi kemudian menatap kembali Rea. Mereka saling memandang dengan sudut bibir keduanya terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Makasih." Ucap Rea pelan tanpa melepas pandangannya.
"Ya ya ya... berapa kali mau bilang makasih hmm.." Ucap Elvano terkekeh kemudian ia pun mengacak-acak rambut Rea.
"Ihhh nyebelin." Pekik Rea yang pura-pura kesal.
"Duh kepala batu cemberut nih." Goda Elvano lalu menoel hidung Rea.
"Dasar bayi gede." Ucap Rea dengan menjulurkan lidahnya.
"Terserah deh kepala batu." Ucap Elvano lalu berjalan meninggalkan Rea ke arah parkiran mobil.
"Cih... ditinggal malahan." Ucap Rea yang mengikuti langkah Elvano.
"Van!" Teriak seseorang yang membuat langkah Rea dan Elvano berhenti mereka pun menoleh kearah dimana suara itu berada.
"Bryan" Jawab Elvano yang melihat Bryan menghampiri mereka dengan seorang gadis yang tengah berjalan disebelahnya.
"Hai bro." Sapa Bryan mereka pun tos ala laki.
"Siapa itu." Bisik Rea pada Elvano yang merasa diperhatikan oleh gadis sebelah Bryan.
"Reen kenalin ini Rea, Re kenalin itu maureen gebetan Bryan." Ucap Elvano memperkenalkan pada gadis bernama Maureen.
__ADS_1
"Rea." Ucap Rea dengan mengulurkan tangannya.
"Uda tau nama gue kan." Ucapnya tanpa menjabat tangan Rea.
"Oh." Gumam Rea lalu menarik kembali tangannya.
"Sorry nih Bry gue cabut dulu." Pamit Elvano yang merasa gak enak dengan sikap Maureen.
"Oke. Ntar gue kerumah lo." Ucap Bryan dengan suara pelan.
Tangan Elvano pun mengandeng tangan Rea kemudian mereka berjalanan beriringan tanpa mereka sadari maureen tengah mengepalkan tangannya karena kesal.
"Lo kenapa acuh gitu sih." Ucap Bryan pada Maureen.
"Gue?... Ogah banget sama cewek kampung kayak gitu." Ucap Maureen dengan blak-blakan.
"Tapi tetep aja gak boleh kayak gitu bebie." Ucap Bryan.
"Gitu gimana si Bry, gue kalau gak suka ya tetep gak suka. Jangan paksa gue deh." Ucap Maureen yang mulai kesal.
"Iya udah iya iya, Sorry gue gak akan maksa lo." Ucap Bryan yang merangkul pundak Maureen.
"Hmm.." Gumam Maureen.
"Ih masih ngambek jadi jalan gak nih." Ucap Bryan.
"Menurut lo?" Ucap Maureen balik dengan wajah keselnya.
"Duh duh iya iya gitu aja marah si. Ya udah ayo." Ucap Bryan lalu mengajak Maureen ketempat tujuan mereka.
Setibanya di parkiran Elvano dan Rea segera memasuki mobil. "Sorry Maureen memang gitu kalau sama orang gak dikenal." Ucap Elvano yang menjelaskan sikap Maureen pada Rea.
"Its oke. Gak papa kok." Ucap Rea dengan senyum masamnya.
"Lo laper gak?" Tanya Elvano yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Laper." Ucap Rea meringis.
"Oke. Lo pengen makan apa?" Ucap Elvano.
"Ahh aku pengen makan lalapan pak songot." Pekik Rea.
"Dimana itu?" Tanya Elvano yang binggung dengan nama itu.
"Deket kosanku dulu." Ucapnya kemudian memberi arahan dimana tempat lalapan itu.
"Oh kosan yang dulu, Mang enak apa makannya?" Tanya Elvano dengan memincingkan satu matanya.
"Banget enaknya, gak kalah dengan Restoran-restoran ternama tau." Ucap Rea membanggakan.
"Masa? Gak percaya lah." Ucap Elvano.
"Beneran? Sampai segitunya." Ucap Elvano yang heran.
"Ntar liat aja ya, pasti banyak para mahasiswa yang disana soalnya udah murah, enak banget dan porsinya banyak." Ucap Rea menjelaskan.
"Jadi penasaran seenak apa rasanya." Ucap Elvano.
"Ya udah ntar cobain aja." Ucap Rea.
"Eh iya btw ada jalur beasiswa keluar negeri lo." Ucap Elvano yang memperhatikan Rea.
"Beasiswa keluar negeri kak? Kakak liatnya dimana?" Ucap Rea.
"Di Share sama anak-anak, Lo tertarik? Ntar gue bagi deh linknya." Ucap Elvano membuat Rea mengangguk antusias.
"Gue pengen coba siapa tau berhasil masuk." Ucap Rea terkekeh.
"Ya dapet atau enggak semua tergantung dari keberuntungan." Ucap Elvano.
"Iya yah keberuntungan." Ucap Rea pelan.
"Tapi kalau berusaha keras pasti bisa." Ucap Elvano lalu mengusap pelan kepala Rea.
"Iya yang penting usahanya dulu." Ucap Rea dengan senyum manisnya.
"Nah gitu donk optimis jangan pesimis." Ucap Elvano dengan mengusap pelan kepala Rea.
"Duh Kak El nih." Ucap Rea yang merasa gemas.
"Hahahah... Dasar kepala batu." Ucap Elvano yang tertawa.
"Eh... Bayi gede." Ucap Rea yang mulai ikut tertawa.
Dalam perjalanan mereka pun terus bercanda, setelah berkelut dengan kemacetan karena sudah waktunya jam pulang kerja hal itu membuat perjalanan semakin lama. Namun yang membuat perasaan Elvano semakin kesal karena lalapan pak songot tidak buka.
"Yah tutup." Ucap Rea yang merasa kecewa.
"Terus?" Tanya Elvano yang menjalankan kembali mobilnya.
"Terserah deh." Jawab Rea pasrah.
"Oke." Ucap Elvano kemudian mengarahkan mobilnya kesalah satu cafe ternama dijakarta.
"Oh iya gimana lo sama kakak gue?" Ucap Rea yang menanyakan kelanjutan hubungan mereka.
"Putus." Ucap Elvano.
__ADS_1
"Emang udah ketemu sama kakak gue?" Tanyanya.
"Belum hehe... Tapi gue anggap putus karena dia udah ada pasangan masak iya gue harus nungguin dia kan gak mungkin." Ucap Elvano.
"Oh kirain udah ketemu kalian." Ucap Rea yang kemudian membuang pandangannya kedepan.
Setibanya di sebuah cafe Rea dan Elvano berjalan kedalam ia memilih tempat duduk yang berada di sudut. Setelah memesan makanan, Rea menatap kesekelilingnya matanya menuju pada dua laki-laki dan dua gadis yang duduk tak jauh dari mereka tengah bercanda.
Elvano pun mengernyitkan dahinya saat melihat mata Rea yang mulai berkaca-kaca, karena penasaran ia pun mengikuti dimana Rea melihat. Tangannya mengepal ia pun dengan nafas berat ia berdiri dan menutupi pandangan Rea dengan tubuhnya.
"Jangan dilihat oke." Bisik Elvano kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Membuat Rea membulatkan matanya namun ada sedikit senyum di bibirnya. Bukan hanya Rea sebenarnya Elvano juga merasakan sakit namun ia berusaha menenangkan dirinya, Ia tau Rea lebih sakit darinya.
"Tunggu bentar." Ucap Elvano yang membuat Rea mengernyitkan dahinya.
"Kemana?" Tanya Rea yang binggung.
"Toilet." Ucap Elvano dan mendapat anggukan oleh Rea. ia pun meninggalkan Rea.
Mata Rea pun masih menuju kearah dimana seorang laki-laki tengah memakaikan kalung pada gadisnya. "Kamu bahagia ya sama kakakku." Gumam Rea sangat pelan.
"Tes tes." Ucap seseorang di atas panggung didalam cafe.
"Selamat sore menjelang malam semua, disini saya hanya memberikan sedikit kejutan untuk seseorang yang spesial dalan hidup saya." Ucapnya.
Rea yang merasa tak asing dengan suara itu pun menoleh kearah sumber suara tersebut. Ia melongo saat melihat Elvano berbicara, tak hanya ia namun pasangan yang diperhatikan Rea pun menoleh kearah Elvano berada.
"Elvano." Gumam Prilly pelan.
"Dia kan?" Ucap Teo menggantungkan kalimatnya.
"Ya." Jawab Prilly pelan.
"Saya memang gak pandai buat merangkai kata namun saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya." Ucap Elvano yang membuat hati Prilly sedikit teriris dan ada rasa pedih, Prilly berpikir jika ia sudah memberikan kejutan buat dia saat pertemuan mereka saat ini.
"Bego" gumam Rea saat menyadari mungkin lagu ini buat kakaknya Prilly.
Ia pun segera duduk di kursi, dengan perlahan ia pun mulai memainkan piano hingga terdengar sebuah alunan lagu yang sangat menyentuh.
MINE-PETRA SIHOMBING Versi indonesia
Wajahmu hatimu telah lama ku dambakan
Kamu yang sejak dulu aku nantikan
Ketika kau di sampingku berdebar rasa di hatiku
Diriku tersipu malu karena dirimu
Ku ingin kau milikku
Oh baby i'll take you to the sky
Forever you and i (you and i), you and i
Dan kita kan selalu bersama
Cintaku selamanya jika kamu milikku, milikku
Senyummu, candamu, selalu dapat ku bayangkan
Kamu yang sejak dulu aku nantikan
Ku ingin kau milikku
Oh baby i'll take you to the sky
Forever you and i (you and i), you and i
Dan kita kan selalu bersama
Cintaku selamanya jika kamu milikku, milikku
And i want you to be mine
And i want you to be mine
Oh baby i'll take you to the sky
Forever you and i, you and i
Dan kita kan selalu bersama
Cintaku selamanya jika kamu milikku,
kau milikku.
Setelah bernyanyi Elvano pun mengambil Mic kemudian menatap kearah seseorang yang membuatnya nyaman saat ini.
"Mungkin ini terdenger gila dan egois, karena saat-saat ini kita sama-sama terpuruk dalam masalah yang ambigu namun kita selalu tau cara untuk menghibur satu sama lainnya. Apa yang aku nyanyikan ini memang benar, aku bilang ini kejujuran. Edrea Zakeisha i want you to be mine." Ucap Elvano yang mampu membuat kejutan untuk Prilly dan Teo.
Bukan hanya mereka namun Rea sendiri terkejut dengan ungkapan Elvano. Rea menatap penuh tanda tanya pada Elvano, namun hatinya binggung disisi lain ia merasakan nyaman berada didekat Elvano, akan tetapi ia juga merasakan kecewa dengan sikap Prilly dan Teo.
Berulang kali Rea menghela nafas pelan dan ia buang secara perlahan. Terlihat seluruh pengunjung cafe tengah menatapnya. Dengan pelan Rea berdiri ia pun berjalan kedepan. Namun siapa sangka jika ia berjalan bukan kearah podium namun hendak keluar dari cafe tersebut.
"Tunggu!!"
__ADS_1
Tobe Continued