
(●>∪<●)
"Re lo tuh yah ngagetin kita aja sih." Ucap Ersya yang kesal karena Rea tiba-tiba teriak minta tolong, hal itu dikarenakan tubuhnya di piting oleh Elvano.
"Ya habis lo liat sendiri kan, kelakuan dia gimana? masak iya gue di jepit di ketiaknya.. Uhhh." Ucap Rea.
"Lo juga kak Van lo gak harusnya miting Rea juga kali." Ucap Dinda yang duduk diantara mereka.
"Kok gue si, ya gak lah. Dia itu masak gue di cubit duluan." Ucap Elvano yang tak mau kalah.
"Ya kak kamu duluan yang ngejar aku." Ucap Rea membela diri.
"Iya tapi tetep aja aku kan cuma bales cubitan kamu." Ucap Elvano.
"Udah-udah kalian kesini niatnya mau seneng-seneng kan bukan mau berantem." Ucap Sean menengahi.
"Baru beberapa hari lalu dibilang udah akur-akur aja ini mulai berantem lagi." Ucap Bryan yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya nih gimana sih. Padahal kita seneng kalian gak ribut lagi." Ucap Dinda.
"Iya loh." Ucap Ersya.
"Ya ya ya. Ya udah lah gue mau ganti baju." Ucap Elvano lalu masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Rea pun segera membilas tubuhnya lalu segera berganti pakaian dan berkumpul di dapur bersama dengan yang lainnya. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk memasak makanan untuk mereka. Sedangkan Ersya dan Dinda duduk dibangku sambil memperhatikan wanita itu.
"Bi nanti ikannya di panggang aja." Pinta Ersya.
"Siap non." Jawab bi Onah.
"Kedepan yuk gaes." Ucap Ersya yang mengajak Rea dan Dinda ke halaman depan.
Terlihat Elvano dan kawan-kawannya sedang duduk di gazebo depan Vila, mereka sedang memainkan gitar yang di bawa oleh Bryan.
"Request dong." Ucap Dinda.
"Mau request apaan?" Ucap Bryan yang memegang gitarnya.
"Nineball - Hingga akhir waktu." Ucap Dinda yang duduk diantara mereka diikuti oleh Rea dan Ersya.
"Lagu galau itu mah, ogah ah." Ucap Bryan menolaknya.
"Sini gue aja." Ucap Elvano yang meminta gitar dari Bryan.
"Emang kamu bisa kak?" Ucap Rea yang menatap Elvano.
"Gak bisa." Ucap Elvano dengan senyum yang menunjukan gigi putihnya.
"Boong dia tuh jago." Ucap Sean menambahi.
"Masa?" Ucap Rea tak percaya.
"Coba lah kak." Ucap Dinda.
Elvano pun mulai memetik senar gitar tersebut, lagu yang sangat mengena di hatinya. Ia pun segera bernyanyi lagu tersebut dan Dinda pun ikut juga bernyanyi.
ku coba untuk melawan hati
tapi hampa terasa di sini tanpamu
bagiku semua sangat berarti lagi
ku ingin kau di sini
tepiskan sepiku bersamamu
takkan pernah ada yang lain di sisi
segenap jiwa hanya untukmu
dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
ku ingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamubagiku semua sangat berarti
ku ingin kau di sini
bagiku semua sangat berarti lagi
ku ingin kau di sini
takkan pernah ada yang lain di sisi
segenap jiwa hanya untukmu
dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
ku ingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamu
hingga akhir waktu, hingga akhir waktu
"Jago juga lo." Ucap Dinda pada Elvano.
"Jelas siapa dulu Elvano." Ucapnya dengan penuh bangga.
"Duh gitu aja bangga." Sindir Rea.
"Iya harus lah, kalau bukan gue yang banggain siapa lagi." Ucap Elvano terkekeh.
"Terserah deh." Ucap Rea dengan memutar balikan matanya.
"Eh iya Agra belum dateng nih?" Ucap Bryan.
"Bentar lagi kayaknya tadi si OTW." Jawab Elvano.
"Lama kali Arga sampai." Ucap Sean.
"Woiii lo kira bandung - bogor deket." Ucap Bryan yang menonyor lengan Sean membuatnya jatuh kesamping.
"Duh sakit ogeb." Ucap Sean mengeluh.
"Kalian nih bisa gak si gak main tonyor-tonyoran." Ucap Ersya angkat bicara.
"Oke oke." Ucap Bryan.
Tin Tin
Terdengar suara klakson mobil yang memasuki halaman vila tersebut, semua mata menatap mobil tersebut yang berhenti disebelah mobil Bryan.
Terlihat seorang laki-laki yang berwajah chinesee turun dari mobil tersebut, dan disebelahnya terlihat gadis cantik berdarah melayu yang juga mengikuti lelaki itu dari belakang.
"Hai Bro." Ucapnya pada mereka.
"Panjang umur lo." Ucap Sean yang terkekeh. Mereka pun bersalaman dengan adu tos.
"Wait. Panjang umur gimana?" Ucap lelaki itu.
"Iya kita semua lagi ngomongin lo Gra." Ucap Bryan.
"Ngomongin yang jelek apa yang baik nih." Ucapnya tertawa.
"Jelas yang jelek, mang ada baiknya?" Ucap Elvano yang menanggapinya.
"Menghina lo." Ucap Agra yang tertawa.
"Eh gak menghina buktinya." Ucap Elvano yang melirikkan matanya kearah gadis yang di bawa Agra.
__ADS_1
"Oh, Kenalin ini sahabat gue Nira." Ucap Agra memperkenalkannya.
"Hai Nira." Ucap Rea tersenyum begitu juga dengan Ersya dan Dinda.
"Hai semua." Sapanya dengan suara yang lembut dan terdengar merdu.
"Gue Bryan." Ucap Bryan yang mengulurkan tangannya dahulu.
"Nira." Ucapnya yang menjabat tangan Bryan dengan senyum tipis.
"Eh Gue sean." Ucap Sean yang ikutan.
"Lo Elvano." Ucap Nira yang menunjuk Elvano.
"Kok lo tau?" Ucap Elvano yang sedikit terkejut.
"Apa si yang gak gue tau." Ucapnya terkekeh.
"Gue Dinda pacarnya Sean." Ucap Dinda yang memperkenalkan dirinya.
"Gue Ersya Gebetannya Bryan." Ucap Ersya dengan senyum tipis.
"Nah kalau dua cewek ini gue kenal, kalau itu siapa?" Ucap Agra yang menyenggol lengan Elvano.
"Oh itu Rea." Ucap Elvano yang menunjuknya dengan dagu.
"Hai gue Agra." Ucap Agra yang mengulurkan tangannya.
"Hai." Ucap Rea lalu membalas jabatan Agra.
"Eh iya ya udah kita makan dulu aja yuk udah keburu laper nih." Ucap Ersya yang melihat Bi Onah keluar dan menghampiri mereka.
"Yuk." Ucap Dinda lalu menarik Rea dan diikuti oleh semua di belakangnya.
Sesekali terlihat Nira mengobrol bersama dengan Elvano, ada perasaan aneh yang ada di hati Rea namun sesegera mungkin ia tepis.
****
Hari semakin larut tak terasa mentari telah menyinari permukaan ini. Terlihat Rea tengah berolahraga ringan dengan melakukan pemanasan begitu pula dengan yang lainnya. Setelah itu Elvano, Rea, Agra dan Nira pun berpencar dari 2 pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Rea memilih berjalan di pekarangan kebun teh milik warga, sesekali mereka berselfi ria lalu mereka upload di sosmed yang mereka miliki. Namun sikap Nira sangat lengket dengan Elvano membuat Rea sedikit menjaga jarak.
"Ah lo ngapain ikut-ikut upload?" Ucap Elvano yang membenarkan topinya.
"Suka-suka gue lah." Ucap Rea lalu berjalan mendahului Elvano.
"Eh tungguin kepala batu." Ucap Elvano lalu mengejar Rea.
"Lo kok di panggil kepala batu." Ucap Agra yang memang berjalan disisinya sedari tadi.
"Oh itu, gue gak tau tanya aja sama yang manggil." Ucap Rea menjawabnya.
"Dia itu orangnya keras kepala makanya gue panggil kepala batu." Ucap Elvano yang mendengar perkataan Agra.
"Keras kepala boleh tapi ada batasannya lah." Ucap Nira yang ikutan menyahuti. Rea yang mendengarkan itu hanya memutar bola matanya malas.
"Tenang dia ada batasnya kok kalau keras kepala." Ucap Elvano yang membelanya.
"Haus gak?" Tanya Agra pada Rea.
"Mmm. Lumayan haus si." Ucap Rea.
"Gue beli minum dulu ya. Ayo Nir." Ucap Agra yang menarik Nira untuk menemaninya. Elvano dan Rea pun duduk di bangku yang terbuat dari kayu yang ada di pinggir jalan.
"Enak banget ya kuda nil. disini" Ucap Rea tanpa menoleh kearah Elvano, ia menghirup dalam-dalam udara segar yang berhembus dan menerpa wajahnya.
Tiba-tiba ELvano memeluk Rea dari samping, membuat Rea yang dari tadi menutup matanya pun terbuka lalu menoleh kearah Elvano.
"Kamu becanda kak?" Tanya Rea dengan mengernyitkan dahinya.
"Gak." Jawab Elvano yang menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rea melalui curuk lehernya.
"Aku sayang kamu" Bisik Elvano yang mampu membuat hati Rea berdesir. Namun Rea menghelaikan nafasnya perlahan, ia mencoba menormalkan debarannya namun bukan mereda malah semakin kencang.
"Kak El" Ucap Rea pelan.
"Aku tau kok, kamu belum bisa nerima aku, aku cuma mau kamu tau kalau aku tuh sayang kamu dengan tulus." Ucap Elvano dengan jujur.
"Bukan aku gak mau nerima kamu kak cuma akunya yang masih belum siap. Takut kalau akan terulang hal yang sama." Ucap Rea sembari memegang tangan Elvano.
"Aku tau." Ucap Elvano dengan nada sedikit kecewa.
"Maaf." Bisik Rea ia pun tak sadar meneteskan air matanya.
"Hei. Don't cry babe." Ucap Elvano lalu melepas pelukannya yang mengusap air mata Rea yang keluar.
"Kamu harus tau aku akan menunggumu, sampai kamu siap." Bisik Elvano.
Tangisan Rea pun mereda ia hanya tersenyum pada Elvano, ada kelegaan dalam hatinya namun belum bisa ia akui.
"Thanks big baby." Ucap Rea pelan.
"You'r welcome kepala batu." Ucap Elvano lalu mengacak-acak rambut Rea.
"Kak El!!" Ucap Rea kesal karena rambutnya berantakan.
"Hahaha ups sorry." Ucap Elvano yang tertawa.
"Lagi ketawain apa si?" Ucap Agra yang datang menghampiri mereka dengan air minum ditangannya dan terlihat ada beberapa cemilan di tangan Nira.
"Yah biasalah." Ucap Elvano tertawa.
"Wah apaan tuh Nir?" Ucap Rea yang mengalihkan topik.
"Ini ada gorengan lo mau." Ucap Nira yang menyerahkan ke Rea.
"Boleh." Ucap Rea yang mengambil bungkusan gorengan tersebut. Mereka pun duduk bersama berdampingan Nira disebelah Elvano dan Agra di sebelah Rea.
"Eh gue denger Prilly tunangan ya?" Ucap Agra pada Elvano.
"Yups, tau dari siapa lo?" Ucap Elvano yang mengernyitkan dahinya.
"Biasa anak-anak yang bilang." Ucap Agra.
"Anak-anak maksud lo Bryan dan Sean." Ucap Elvano.
"Iyalah siapa lagi." Ucap Agra.
"Oh." Ucap Elvano.
"Siapa Prilly?" Tanya Nira pada Elvano.
"Eh udah mau sore balik yuk." Ajak Rea yang langsung berdiri.
"Iya nih ayo balik." Ucap Agra, membuat Elvano dan Nira pun ikut berdiri.
Mereka pun kembali pulang ke vila dimana belum ada teman-temannya yang kembali. Membuat Rea menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu. Elvano yang melihat Rea pun segera menuju dapur ia mengambil minuman yang berada di dalam kulkas kemudian membawanya ke depan.
Sedangkan Agra berhenti diluar, ia sedang mendapat telepon dengan kekasihnya, berbeda dengan Nira ia langsung menuju kamar mandi.
"Kepala batu minum nih." Ucap Elvano lalu menyenderkan tubuhnya di sebelah Rea .
"Uh baiknya." Goda Rea, ia pun menandas habis minuman tersebut.
"Wow.. sekali tenguk langsung habis." Ucap Elvano terperangah.
__ADS_1
"Haus banget tau." Ucap Rea cengegesan.
"Pakai banget ya." Ucap Elvano terkekeh.
Rea pun kembali bersandar di sofa namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Elvano. "Nyaman banget si." Batin mereka bersamaan tanpa mereka tau.
Elvano pun menikmati moment kebersamaan mereka membuatnya tersenyum dalam diam kemudian ia pun mengelus pelan kepala Rea.
"Cieee" Ucap Bryan, Sean, Ersya dan Dinda bersamaan saat melihat kedekatan mereka.
"Kalian apaan si?" Ucap Elvano yang mengubah posisi duduknya begitu juga dengan Rea.
"Hahaha. Udah jadian ya?" Ucap Bryan yang ikutan duduk bersama dengan yang lain juga.
"Jadian?" Tanya Rea dengan mengernyitkan dahinya.
"Iya kalian jadian gak bilang-bilang pantes nempel terus." Ucap Ersya yang membuat Rea semakin binggung.
"Nempel apaa-" ia pun baru sadar jika ia tadi bersandar di bahu Elvano
Pipi Rea pun merona karena ia malu karena teman-temannya memperhatikan dia.
"Aku kekamar dulu." Pamit Rea melarikan dirinya.
"Ciee blushing." Goda Dinda tertawa.
"Udah-udah jangan digodain." Bela Elvano pada Rea.
"Siapa yang jadian?" Ucap Agra yang baru masuk.
"Bukan siapa-siapa nih mereka lagi becandaan." Ucap Elvano buru-buru menjawab, tak lupa tatapan tajam diarahkan kemereka.
"Lagi becanda kita Gra." Ucap Bryan yang mengerti maksudnya.
"Lah Rea mana?" Tanyanya.
"Istirahat katanya. Kalau gitu kita keatas dulu ya." Ucap Ersya yang kemudian menarik lengan Dinda.
Tersisa 4 cowok yang duduk berhadapan mereka pun mulai Mabar games di ponsel mereka, keseruan tersebut terdengar dari atas membuat Nira yang tadinya tiduran pun turun kebawah. Ersya yang melihat pun saling melepar tatapan ke arah Dinda mereka pun akhirnya mengangkat bahunya dan langsung ikut tertidur bersama Rea.
****
Tak terasa hari sudah berganti pagi semua tengah berkumpul di ruang tengah vila, ada yang duduk diatas dan ada yang duduk di bawah.
"Btw kita main TOD yuk." Ucap Dinda saat ia keluar dari kamar Sean untuk mengambil ponsel si pemilik kamar.
"Ah Ogah lah, itu permainan jebakan." Ucap Rea yang memang tak menyukai permainan itu.
"Ayo lah. Please." Ersya memohon pada Rea.
"Gak ah." Ucap Rea yang menggeleng keras.
"Kenapa kepala batu lo takut?" Ucap Elvano dengan tampang menyeringai.
"Gue gak takut gue cuma-"
"Cuma apa? Cuma alesan hmm?" Pancing Elvano.
"Ya udah si kalau gak mau gak usah diajak." Ucap Nira.
"Ayo ikut Re." Ucap Agra dengan memelas.
"Ok gue ikut." Jawab Rea yang kesal karena ucapan Nira.
Mereka pun duduk mengelilingi meja yang berada diruang tengah, Dinda yang keluar dari dapur pun memberikan botolnya, Mereka pun memulai memutar botol tersebut dan berhenti kearah Bryan
"Shit man." Umpat Bryan.
"Truth or Dare." Ucap Sean,
"I'm truth." Jawab Bryan dengan tampang sok coolnya.
"Siapa cewek yang diem-diem lo sukai dibelakang pacar lo?" Ucap Sean yang membuat ersya menajamkan matanya pada Sean.
"Hahaha" tawa Elvano dan Agra pecah seketika hal itu membuat Bryan mengumpat kesal.
"Gak ada." Jawab Bryan nada malas.
"Ohiya?" Ucap Sean menyeringai.
"Shit. Oke oke gue suka cassandra lee. Puas lo." Ucap Bryan dengan umpatannya.
"What?" Tanya Ersya tak percaya.
"Clam down babe." Ucap Eryan memegang tangan Ersya.
"Jadi kamu suka cassandra?" Tanya Ersya dengan tatapan tak percaya.
"Iya aku memang suka dia tapi karena aku fans sama dia. Dia artis go internasional babe. Apa aku salah?" Ucap Bryan membuat semua melonggo.
"Tapi kamu tau kan Cassandra itu sepupu jauh aku." Ucap Ersya dengan nada tak suka.
"Babe aku cuma ngefans sama dia, suka biasa gitu lo." Ucap Bryan
"Whatever. Walaupun kamu suka dia, tapi dia gak bakalan mau sama kamu." Ucap Ersya yang tiba-tiba langsung tertawa saat melihat wajah lesu Bryan.
"Babe" ucap Bryan kesal lalu mencubit pipi Ersya.
"Bryan sakit!!." Ucap Ersya dengan mengusap pipinya.
"Ok next." Ucap Elvano.
Bryan pun memutar botol itu dan tara Elvano yang menjadi akan menjadi sasaran Bryan saat ini. Membuat Bryan tersenyum licik, Elvano yang melihat senyum itu merasa bakal ada yang terjadi yang membuat perasaannya tidak enak.
"Truth or Dare." Ucap Bryan dengan seringainya.
"Dare." Ucap Elvano yang telah berpikir sejenak.
"Ok. Lo harus mencium Rea di bibir." Ucap Bryan dengan senyum jahilnya.
Membuat Rea membulatkan matanya kesal, tak hanya itu Agra pun terkejut karena tantangan Bryan pada Elvano.
"Kenapa gue di ikutin si." Ucap Rea kesal.
"Ganti Bryan." Pinta Elvano yang kesal karena permintaan Bryan.
"Jangan gitu lah Bry permintaannya." Ucap Agra.
"Iya nih apaan coba." Ucap Nira dengan tatapan tak suka.
"Ya udah karena semua pada minta ganti gue kabulin." Ucap Bryan.
"Nah gitu dong." Ucap Agra.
"So gantinya apa?" Ucap Elvano yang curiga.
"Gantinya itu lo harus nembak Nasya anak fakultas sebelah yang tergila-gila sama lo." Ucap Bryan yang membuat Rea mengernyitkan dahinya atas ucapan Bryan.
"What!" Pekik Elvano terkejut. "Ogah." Ucap Elvano lagi.
"Gak ada pilihan brother, terserah lo mau pilih yang pertama atau yang kedua." Ucap Bryan tersenyum mengejek.
Elvano yang kebinggungan dengan kedua opsi tersebut pun merasakan perasaannya tidak enak. Ia juga sudah berjanji akan menunggu Rea siap, Elvano tak ingin menyakiti perasaan Rea tapi ia benar-benar tak akan melakukan itu padanya hanya demi sebuah tantangan.
Dan hasilnya Elvano pun memilih pilihan yang menurutnya tepat dengan mengangguk pelan. Kemudian menatap semua orang disana.
__ADS_1
"Gue pilih...."
Tobe continued