
(\=^・・^\=)
Disebuah hotel ternama di jakarta di gelar acara pertunangan yang besar di ballroom outdor hotel tersebut. Indah satu kata yang melambangkan indahnya dekorasi yang dikombinasikan warna putih dengan hijau alam. Membuat kesan sangat sederhana namun melambangkan keindahan dan kesejukan.
Teo tengah berdiri untuk menemui para tamu tak lupa para sahabatnya hadir di acara pertunangannya dengan Rea ah ralat Prilly. Mereka akhirnya sepakat memutuskan untuk bersama setelah membaca pesan singkat dari Rea. Rizal juga pun telah melibatkan pihak kepolisian menyangkut anak tirinya yang hilang.
Resia berjalan mendampingi putri cantiknya menuju ballroom dimana acara pertunangannya di laksanakan. Gaun berwarna cream menjadi pilihannya, rambut di sanggul mengesankan sisi dewasa prilly.
Teo yang menatap kearah Prilly pun memandang kagum akan cantiknya calon istrinya hal itu membuat hatinya berdebar lebih kencang. Rizal menyerahkan putrinya pada Teo yang kemudian di sambut oleh Teo. Teo pun membawa prilly ke atas panggung saat pembaca acara meminta mereka untuk naik.
"Aprilly Naila Julian, awal ku melihatmu pikiran ini selalu memikirkanku. Mata ini selalu ingin melihatmu. Nafas ini ingin selalu hidup bersamamu. Awal aku menepis perasaan ini hingga suatu hari aku sempat terluka karena cintamu. Karena keegoisanku, aku meninggalkan dirimu namun aku pikir setelah aku pergi aku tak mencintaimu namun aku salah aku semakin mencintaimu. Hidupku, nafasku, belahan jiwaku, engkau lah permaisuri hatiku." Ucap Teo dengan menghelai nafas pelan.
"Aprilly Naila Julian maukah kau mendampingi hidupku suka maupun duka. Will u marry me?" Tanya Teo dengan perasaan ketir-ketir.
Prilly menghembuskan nafas pelan ia sangat gugup sudut bibirnya terangkat sedikit sambil menatap Teo. "Yes I do." Ucap Prilly kemudian dapat tepuk tangan oleh para tamu undangan.
Teo pun menyematkan cincin dijari manis Prilly begitu juga sebaliknya. Kemudian ia mengecup pelan kening Prilly dengan lembut. Setelah selesai sesi tukar cincin, mereka menghampiri orang tua Prilly kemudian menyalimi para tamu undangan.
"Loh ini Prilly?" Tanya Venna yang menghadiri acara pertunangan mereka.
"Iya tante." Jawab Prilly dengan sungkan, soalnya Venna tau Prilly kekasih anaknya.
"Res bukannya yang nikah Shasa ya kok jadi Prilly?" Tanya Venna binggung.
"Ahh... Gini Ven Prilly itu kakak tirinya Rea, dan tadi Rea tiba-tiba pergi, jadilah kakaknya yang menikah dengan Teo." jelas Resia dengan wajah sendu.
"Shasa pergi maksudnya ninggalin acara ini... Emm.. Kabur maksudnya... Terus gimana Res. Ya tuhan Shasa." Ucap Venna yang panik.
"Kalian tau Rea pergi kemana?" Tanya Vandi.
"Kami gak tau keberadaan Rea." Jawab Rizal menyesal.
"Ah iya Res aku inget, tadi Elvano di telepon sama Rea. Tapi aku gak tau apa yang mereka bicarain cuma setelah itu El pamit mau keluar, Mas Vandi tolong hubungi Elvano mungkin El tau keberadaan Rea." Ucap Venna setelah sadar akan kepergian putranya.
"Tunggu sebentar, maksud tante Elvano dan Rea saling kenal?" Tanya Prilly dengan mengernyitkan dahinya.
"Iya mereka saling kenal dari kecil mereka udah saling kenal iya kan Res." Ucap Venna yang di jawab anggukan oleh Resia.
"Kenapa?" Bisik Teo binggung.
"Elvano itu kekasih aku." Jawab Prilly dengan berbisik pada tunangannya.
"Lah terus gimana sayang?" Tanya Teo yang semakin binggung.
"Aku akan putusin dia, kan aku udah sama kamu." Ucap Prilly dengan penuh keyakinan.
Setelah menemui keluarga Elvano baik Prilly dan Teo pun menyalami para tamu yang hadir termasuk sahabat-sahabat terdekat Teo.
"Congrats brother." Ucap Oscar yang menghampiri Teo, mereka pun kemudian tos ala laki.
"Thanks Car." Jawab Teo.
"Kok calon istri lo yang ini? Bukannya Rea?" Tanya Oscar yang mengernyitkan dahinya.
"Rea kabur dan kita saling menyayangi ya udah deh kita milih buat bareng." Ucap Teo.
"Hahaha... Memang cantik pilihan lo bro." Ucap Oscar memuji kecantikan Prilly.
"Iya donk." Jawab Teo bangga ia pun mengapit pinggang Prilly membuat Prilly tersipu malu.
Setelah itu mereka pun berbincang-bincang, acara pun telah selesai. Keluarga Prilly dan Teo kembali kerumah Rizal.
"Teo mama kedalam dulu ya." Ucap Resia pamit undur diri. Setelah acara pertunangan Teo memanggil Resia tetap dengan sebutan mama dan untuk papa Prilly ia awalnya memanggil om menjadi papa.
Ada rasa sedih saat melihat wajah lesu Resia ia sangat ingin memeluknya dan meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Namun terlihat ada perasaan yang tak ingin di ganggu apa lagi setelah kepergian Rea.
"Jangan salahkan dirimu Te. Dari awal papa tau ini akan terjadi. Tapi papa gak nyangka kalau kamu nikahnya sama anak papa. Papa tau kamu lelaki yang baik dan bertanggung jawab." Ucap Rizal menepuk pundak Teo yang kemudian menyusul istrinya.
****
Cahaya gelap telah menghilang digantikan hangatnya sinar mentari pagi. Sudah 2 hari Rea pergi dari rumahnya bersama dengan Elvano. Mereka saat ini telah berada di Bali, Elvano juga sudah memberi kabar Venna jika ia bersama Rea namun Rea mencegah Elvano memberitahu keberadaan mereka sekarang. Memang yang di butuhkan Rea saat ini adalah ketenangan agar ia bisa melepas semua dengan mudah.
__ADS_1
Elvano hanya tersenyum melihat seorang gadis yang tidurnya meringkuk seperti bayi diatas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Seperti bayi yang baru lahir dan tanpa dosa dan tidak ada beban yang memikulnya. Sudut bibir Elvano terangkat keatas saat membayangkan kepanikannya Rea saat ia sampai di terminal denpasar.
Dia tidak memiliki teman atau pun saudara yang berada disini dan itu membuat Elvano hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena Elvano sangat merasa kasian dengan Rea ia pun membawa ke villa milik keluarganya yang di beli Vandi jika anak-anaknya ingin berlibur ke pulau Dewata Bali.
"Hei... kepala batu wake up!!" Teriak Elvano membangunkan Rea.
"Emm.. berisikk..." Ucap Rea yang masih memejamkan matanya.
"Bangun woi. Udah siang ini." Ucap Elvano lalu menyibak tirai jendela kamar yang ditempati Rea.
"Brisik" pekik Rea lalu menarik selimutnya agar tubuhnya tertutup semuanya tanpa ada celah sinar yang masuk.
"Bangun.. bangun.. bangun.." Ucap Elvano yang menggoyang-goyangkan tubuh Rea kekiri kekanan.
"Ya Tuhan... EL!!!" Pekik Rea yang sudah kesal karenga tidurnya diganggu, ia pun memilih segera bangun dan duduk bersandar diranjangnya.
"Bangun juga. Buruan mandi buatin gue sarapan." Ucap Elvano yang kemudian keluar dari kamar yang ditempati Rea.
"Elvano sialan." Pekik Rea dengan kesalnya ia lalu turun dari ranjangnya kemudian ia mencuci mukanya, setelah itu ia keluar kamar dan langsung menuju dapur.
Sedangkan Elvano ia terkikik saat melihat Rea menuruti pemintaannya walaupun dengan wajah terpaksa dan sudah membuat ia kesal namun ia tetap membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
"Selamat makan." Ucap Elvano yang sedang menikmati sarapan pagi buatan Rea.
"Habis ini lo mau ngapain?" Tanya Elvano yang melihat Rea hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Gak tau." Jawab Rea cuek.
"Ya elah gitu aja ngambek. Nanti ikut gue." Ucap Elvano dengan senyum misterius.
"Ogah." Jawab Rea sambil memalingkan wajahnya.
"Bodok amat, gue gak mau tau lo harus ikut." Uca Elvano kekeh.
"Dih maksa." Ucap Rea ketus.
"Iya jelas maksa, orang lo yang bawa gue kesini. Masak iya cuma duduk-duduk doang mana seru. Mending lo ikut gue gak bakalan nyesel deh." Ucap Elvano.
Mereka pun sudah menyelesaikan sarapannya, sebelum mereka pergi Rea mandi terlebih dahulu dan segera mengenakan baju casual yang santai. Mereka pun segera ketempat yang di tuju dimana Elvano berjalan mendahului Rea, sedangkan Rea ia berjalan sangat lamban pikirannya melayang kepada dua orang yang sekarang ini mungkin sedang bersenang-senang.
Bukan hanya Rea namun Elvano juga sebenernya menyembunyikan perasaannya yang sama kacaunya, ia mendengar dari mamanya jika Prilly saat ini telah bertunangan dengan mantan tunangannya Rea, ingin rasanya Elvano menghampiri kekasihnya itu namun ia mengerti situasi saat ini ia akan menemui Prilly setelah Rea tenang.
"Woi kepala batu buruan, lambat banget si." Pekik Elvano yang mulai kesal melihat langkah Rea yang berjalan pelan.
Elvano pun menarik tangan Rea kemudian ia berjalan cepat sehingga Rea harus berjalan mengimbangi langkah kaki Elvano dengan terseok-seok. Tak berapa lama mereka pun sampai di tempat penyewaan jetski. Mereka mengambil pakaian selam yang di sediakan oleh pemilik jet ski tersebut.
"Ngapain si gue ikut segala." Gerutu Rea yang dipaksa ikut oleh Elvano bermain ski.
"Berisik, tinggal ikut doang aja protes." Jawab Elvano dengan memutar bola matanya.
Mereka pun mulai menaiki jet ski, Rea baru pertama kali menaiki Ski ia pun sedikit takut jika ia terjatuh, maka dari itu ia pun memilih memegang erat pinggang Elvano.
"Pelan-pelan bego." Pekik Rea yang kesal karena Elvano menaiki kendaraannya dengan sangat cepat.
"Gak seru lah kalau lambat. Dasar kepala batu gitu aja takut." Ucap Elvano yang terlihat senang.
"Aaaaa!!" Pekik Elvano yang membuat Rea terkejut hampr saja ia melepas pegangan di pinggang Elvano.
"Apaan si teriak-teriak." Ucap Rea.
"Coba aja teriak. Biar beban yang lo rasain lebih ringan." Ucap Elvano tersenyum tipis.
"Ogah." Ucap Rea malas.
"Aaaaaa!!" Teriak Elvano lagi.
"Lo ini ya." Pekik Rea.
"Cobain gih." Ucap Elvano yang berusaha menghibur Rea agar ia sedih lagi.
"Aaa!" Teriak Rea pelan.
__ADS_1
"Kurang keras." Ucap Elvano.
"Aaaa!!!" Teriak Rea dengan kerasnya.
"Eh iya loh bener lega banget." Ucap Rea ia pun mulai kembali berteriak.
"Aaaa!!!" Teriak mereka bersamaan.
"Hahhaha lega kan." Ucap Elvano dengan perasaan senang.
"Iya lega banget.. aaaa!... aaaa!" Pekik Rea yang teriak berulang kali.
"Ternyata bener yang di katakan si cowok misterius kalau kita teriak kita akan merasa lega. Tapi kok aneh ya cowok itu dia gak mau ngungkap identitasnya siapa tapi dia kenal aku dan cowok itu akhir-akhir ini gak pernah komunikasi sama aku atau jangan-jangan itu kak El? tapi gak mungkin deh." Batin Rea yang sedang berdebat.
Setelah puas berteriak diatas jet ski mereka pun segera menyandarkan jet ski karena rasa lapar yang sudah melanda. Mereka pun segera mengganti pakaian, kemudian menuju kesebuah restoran yang dekat dengan penyewaan jet ski.
"Emmm nikmatnya." Pekik Rea senang saat menikmati makan siangnya.
"Enak kan. Ini menu andalan gue kalau lagi kesini. Ayam betutu yang super pedas dan gurih." Ucap Elvano yang terkekeh.
"Yayaya.." ucap Rea sambil memutar bola matanya.
Mereka pun makan siang dengan diselingi candaan, perasaan mereka sama-sama sedikit lega dan yang meraka lakukan adalah sama-sama menutupi luka yang mereka rasakan.
****
Malam telah menampakkan sinarnya cahaya rembulan menghiasi malam ini, terlihat bintang-bintang bertaburan menambah indahnya langit itu. Rea keluar dari vila ia duduk di bangku yang menghadap ke pantai, hembusan angin malam tak membuatnya merasakan dinginnya angin malam ini.
Pluk
Sebuah selimut mendarat sempurna di kepala tasya yang menutupi tubuhnya, ia pun menurunkan selimut itu dari kepalanya agar terlihat siapa yang melemparkan selimut itu.
"Elo" ucap Rea terkejut saat melihat ternyata Elvano yang berada dibelakangnya.
"Ngapain malam-malam disini. Gak takut sakit lo?" Tanya Elvano dengan penuh curiga.
"Gak" jawab Rea singkat.
"Jangan terlalu dipikirin, lihat sesuatu yang berada didepanmu yang harus kamu capai." Ucap Elvano yang menasehati Rea dan dirinya sendiri.
"Gak semudah itu." Ucap Rea tanpa menoleh pada Elvano.
"Re liat gue." Ucap Elvano yang menatap Rea namun tak membuat Rea memalingkan wajahnya.
"Liat gue kepala batu." Ucap Elvano kesal ia pun langsung memegang rahang Rea agar menoleh padanya.
"Bukan cuma lo, gue juga punya masalah yang sama, tapi gue berusaha bangkit. Gue gak mau terpuruk. Karena didepan gue ada sesuatu yang lebih indah dari itu semua." Ucap Elvano dengan tulus.
"Lo tuh gak tau apa yang gue rasain, kalau ngomong itu mudah semudah membalikkan telapak tangan." Ucap Rea tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap Elvano.
"Gue merasakan apa yang lo rasakan." Ucap Elvano dengan suara paruhnya.
"Gak mungkin, lo gak tau apa-apa." Ucap Rea dengan suara yang sama pelannya.
"Gue tau, sangat tau, posisi kita sama." Ucap Elvano yang kekeh.
"Gak kita beda, kita gak sama lo gak akan tau sakitnya hati gue." Ucap Rea dengan wajah terunduk.
"Kita sama Re, sama-sama terpuruk dalam jeratan yang namanya cinta." Ucap Elvano yang meyakinkan.
"Lo terpuruk? Gak yakin gue.. Heh.." Ucap Rea yang mengangkat sekilas kepalanya untuk menatap Elvano setelah itu ia pun membuang wajahnya kesamping namun tangan Elvano menahan kembali rahang Rea.
"Gue terpuruk, lo tau kekasih gue sekarang memilih bertunangan dengan seseorang yang juga memiliki kekasih, dia gak mutusin gue namun dia memilih bersama laki-laki lain. " Ucap Elvano menghentikan ucapannya.
"Tunggu maksud lo?" Ucap Rea yang mulai nyambung.
"Maksud gue kekasih gue itu kakak tiri lo." Ucap ELvano dengan pelan ia pun menundukkan kepalanya untuk menatap kebawah, Ia mencengkram tangannya sendiri dengan kuat keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.
"Apa!" Ucap Re yang sangat terkejut akan ucapan Elvano.
To Be Continued
__ADS_1