Crazy Love

Crazy Love
Last Part


__ADS_3

ヾ(*'∀`*)


Mereka pun tiba di kediaman orang tuanya, halaman yang masih sama asri tidak berubah. Senyum terukir di wajah Rea saat ia tau ternyata Resia dan Rizal menyambut kedatangannya yang sudah 5 tahun tak pulang kekampung halamannya.


Walaupun tahun kemarin mereka mengunjungi Rea namun hal itu sangat berbeda kerinduan yang Rea rasakan saat dirumah sekarang sudah terobati.


"Oh tuhan... Anakku.." Ucap Resia dengan memeluk putrinya erat.


"Mama lebay deh perasaan tahun kemarin udah ketemu." Ucap Rea terkekeh.


"Tetep beda lah sayang, bagaimana pun dirumah sendiri itu lebih di rindukan dari pada rumah tetangga." Ucap Resia dengan tawanya.


"Itu rumput tetangga mah rumput tetangga." Ucap Rizal yang ikut tertawa.


"Mamah Papah nih anaknya baru pulang malah pada berantem." Ucap nya yang pura-pura merajuk.


"Jangan ngambek auntie cantik nanti jodohnya diambil orang." Goda Prilly yang melihat wajah cemberut Rea, Rea yang mendengar kedatangan Prilly pun memeluknya erat.


"Kakak nih apaan coba." Ucap Rea dalam pelukan Prilly dan tak lupa senyum yang terukir diwajahnya.


"Ayo masuk dulu." Ajak Resia, ia pun segera mengendong Milly untuk masuk kedalam rumah sedangkan Prilly merangkul pinggang adiknya dan menuntunnya masuk.


Teo sudah masuk terlebih dahulu karena ia mengantarkan koper milik Rea kekamarnya. Karena rasa letih Rea pun izin pamit untuk masuk kedalam kamarnya.


Kamar yang ia tempati dulu tepatnya 5 tahun yang lalu tidak berubah sama sekali persis terakhir kali ia tinggal. Setelah puas menatap kamarnya ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang untuk sejenak karena cacing-cacing di perutnya sudah pada demo ia pun membersihkan tubuhnya kemudian ia turun kebawah untuk makan malam.


"Emmm harum banget, masak apa mah?" Tanya Rea yang turun kebawah.


"Kesukaan kamu donk." Jawab Prilly yang menyahuti ucapan Rea, Prilly sedang di sebelah Resia untuk membantunya.


"Wow" Ucap Rea dengan perasaan senang. Ia pun segera duduk di meja makan dimana Rizal tengah duduk disebelah dan bermain bersama Milly.


"Jadi putri kecil papa. Kapan kamu mau masuk keperusahaan papa?" Tanya Rizal dengan senyumannya saat menatap Rea yang duduk disebelahnya.


"Mmm. Minggu depan aja lah pah." Ucap Rea setelah berpikir sejenak.


"Bagus." Ucap Rizal dengan menganggukan kepalanya.


"Tapi" Ucapan Rea terpotong saat Rizal mengernyitkan dahinya.


"Tapi apa sayang." Ucap Rizal yang tampak binggung.


"Tapi aku maunya ngelamar jadi karyawan biasa ya pah." Ucap Rea dengan wajah memelasnya.


"Sayang kamu itu anak papa, papa gak mau menempatkanmu di bagian karyawan biasa." Ucap Rizal dengan nada tak suka.


"Please pah." Mohon Rea.


"Biarin lah pah, kan masih dalam pengawasan kamu, lagian juga masih di dalam perusahaan juga kan pah?." Ucap Resia yang mendengar permintaan anaknya dan mencoba membantunya.


"Baiklah tapi hanya 2 bulan gak lebih. Setelah itu kamu harus menempati posisi yang sudah papa siapkan." Ucap Rizal dengan tegas.


"Siap pah." Jawab Rea yang tersenyum bahagia.


"Nah Mill sini sama Oma." Ucap Resia yang akan mengajak Milly keruang tengah.


"No oma.. Mil mau sama auntie." Ucap Milly yang sudah turun dari pangkuan Rizal dan berjalan kearah Rea.


"Mill makan dulu baru main sama auntie." Ucap Resia yang membunjuknya.


"Mil yang cantik dengerin oma ngomong kalau mil gak dengerin nanti auntie tinggal dan auntie gak mau main sama Mil lagi." Ucap Rea dengan senyum manisnya.


"Oke aku mam tapi auntie janji ajak aku jalan." Ucapnya dengan suara sedikit cadel.


"Iya auntie janji." Ucap Rea lalu mengulurkan jari kelingkingnya pada Milly. Milly pun langsung mengaitkan jari kelingkingnya pada Rea.


Mereka pun langsung makan malam bersama, setelah selesai mereka beristirahat masing-masing. Rea memilih masuk kekamarnya dan menyalakan Laptop miliknya ia pun lalu menonton film Korea.


****


Seminggu sudah berlalu ia berada dijakarta selama itu pula ia tak beranjak dari rumahnya, terkadang ia hanya menemani Milly di taman komplek atau mengantarkan Prilly belanja ke salah satu supermarket.


Selama di jakarta ia hanya menghubungi Ersya untuk bertemu dengan yang lainnya namun Ersya sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia memilih mengundurkan pertemuannya dengan sahabatnya setelah pekerjaan mereka selesai.


Kring Kring


Ponsel Rea berbunyi ia pun segera mengangkat panggilan masuk dari ibunya.


"Re nanti kamu dateng ya awas kalau gak dateng." Ucap Resia setelah Rea mengangkat teleponnya.


"Gak lah mah, aku dirumah aja." Jawab Rea yang sudah malas.


"Ya ampun sayang pokoknya kamu harus dateng. Gaun sudah mama siapkan kamu tinggal pakai aja apa susahnya si." Ucap Resia yang masih membujuk kehadiran anaknya.


"Hmm... Udah dulu ya mah." Ucap Rea lalu mematikan ponselnya.


"Maaf ya mah, tapi Rea beneran males banget. Lagi Mager." Gumam Rea, ia pun memilih keluar kamar dan menonton televisi.


Rea sudah memutuskan kalau ia memilih dirumah dari pada harus pergi, lagian semua keluarganya akan menghadiri acara pertunangan anak dari rekan bisnis papanya jadi menurut Rea hal tersebut pasti akan membuatnya jenuh jika ia harus ikut.


"Kamu gak ikut keluar Re?" Tanya Teo yang duduk di depan Rea dengan membenarkan kancing lengan kemeja.


"Gak males." Jawab Rea dengan santai.


"Kenapa males sih?" Tanya Teo.


"Iya gak papa secara nih ya kak, kalian udah dateng terus kalau aku gak dateng kan gak masalah." Ucap Rea.


"Akan jadi masalah Re kalau kamu gak dateng, tau sendiri kakakmu gimana. Kalau sampai dia keluar kamar dan kamu belum siap-siap habis sudah." Ucap Teo yang memang sudah bersiap sejak tadi.

__ADS_1


Prilly dan Teo terkadang tidur di rumah Resia namun kadang mereka pulang ke apartemennya hanya Milly yang mereka tinggal di rumah orang tuanya. Hal itu karena Resia merasa sepi jika Milly mereka bawa pulang ke apartemen.


"Gak akan kak tenang aja, nanti nih aku tinggal bilang sakit atau apalah pokoknya biar aku gak ikut." Jawab Rea.


"Oh gitu kamu mau bohongin kakak? Iya." Ucap Prilly yang mendengar ucapan adiknya, ia pun langsung mencubit pelan lengan Rea.


"Oow. Gak ikut-ikut aku." Gumam Teo pelan.


"Aww.. Sakit kak. lagian ngapain juga harus ikut segala males ah kak." Jawab Rea yang meringis kesakitan akibat ulah Prilly..


"Ya tuhan Re. Buruan ganti cepet!!" Perintah Prilly dengan nada memerintah.


"Ogah kak." Jawab Rea dengan tampang malasnya.


"Ok kalau kamu gak mau ikut kakak akan minta pada mama buat kesini dan menyeret kamu." Ancam Prilly.


"Gak mempan" Jawabnya malas.


"Ohiya." Ucap Prilly yang kemudian memegang ponselnya untuk menghubungi Resia, hal itu membuat Rea kesal ia pun berdecak kesal.


"Ck.. Kakak nyebelin." Jawab Rea yang melihat telpon dari Prilly sudah tersambung pada mamanya.


Dengan langkah kesal ia pun segera beranjak dari duduknya untuk menuju kamarnya. Baju untuk menghadiri acara pun sudah di persiapkan, ia segera berganti baju tersebut dan  tak lupa sedikit polesan diwajahnya agar terlihat tetap cantik natural.


"Kamu nih yank." Ucap Teo yang terkekeh bersamaan dengan Prilly.


"Ya mau gimana lagi. Dia gak mau nurut." Ucap Prilly terkekeh.


"Udah-udah kasian dia." Ucap Teo lalu menarik Prilly kedalam pangkuannya lalu ******* bibir Prilly.


Beruntung Milly dan orang tua mereka telah berangkat dahulu. Jika tidak mana mungkin Teo berani mengoda prilly, ia hanya ingin memberikan contoh yang baik buat anaknya.


Tak lama Rea pun turun ia menggunakan Dress berwarna Nude pendek tanpa lengan tak lupa High heels yang tak  terlalu tinggi berwarna hitam melengkapi menampilanya, ia pun menatap jengah pasangan yang sudah keburu tua tersebut sedang bermesraan.


"Kak Jadi gak nih.. Buruan." Ucap Rea yang berjalan cuek melewatinya.


"Eh" Ucap Prilly yang terkejut.


"Ayo yank." Ajak Teo lalu berdiri menggandeng tangan Prilly untuk menyusul Rea yang sudah berjalan dahulu kedepan.


Teo melajukan kendarannya dengan kecepatan sedang karena acara belum dimulai hal itu membuatnya sedikit santai.


Tak lama mereka pun sampai di hotel tempat acara resepsi pertunangan megah yang dilakukan secara outdoor. Mereka pun berjalan secara beriringan untuk menghampiri orangtuanya. Terlihat Resia tengah tertawa dengan wanita separuh bayah yang membelakangi mereka. Sehingga mereka tidak tau siapa wanita yang sedang bercanda dengan mamanya tersebut.


"Mah" panggil Prilly. Membuat mamanya menoleh lalu tersenyum hangat.


"Iya sayang." Ucap Resia. "Nah gitu dong dateng sayang." lanjutnya lagi yang menatap anaknya Rea.


Bibir Rea yang awalnya menyunggingkan senyum pun sedikit turun saat melihat wanita paruh baya yang bersama mamanya itu.


"Gak mungkin" batin Rea yang merasakan perasaan tidak enak.


"Eh Iya tante Ven." Jawab Rea sedikit kikuk.


Venna yang tersenyum itu langsung memeluknya erat tubuh Rea. "Tante kangen kamu sayang." Ucap Venna dengan tulus dalam pelukannya.


"Aku juga kangen tan." Ucap Rea pelan.


"Udah makin cantik aja Sha." Ucap Venna yang melepas pelukan Rea kemudian tangannya berpindah kewajah Rea.


"Gak cantik tan, tante loh yang makin muda." Ucap Rea yang tetap tersenyum.


"Mamah" panggil seorang wanita dengan nada pelan pada Venna membuat Rea menatap kearah sumber suara tersebut.


"Iya? Nay sini" ucap Venna yang menyuruh Nasya mendekat.


Hampir semua memandang tajub padanya, Nasya sangat cantik dengan dress berwarna white pendek tanpa lengan terlihat cocok dengan warna kulit Nasya yang bersih, berbanding kebalik saat dulu pertama kali Rea melihat Nasya yang berpenampilan sederahan dan tidak pernah berdandan.


"Mamah tadi di cari sama Papa" Ucap Nasya yang menghampiri Venna.


"Dimana?" Tanya Venna.


"Disebelah sana mah sama rekan bisnis papah." Ucap Nasya menjelaskan.


"Loh terus Elvano mana Nay?" Tanya Venna yang mengandeng lengan Nasya.


"Ada mah tadi ketemu temen-temennya." Jawab Nasya dengan pelan.


"Elvano nih gimana si, acara mau dimulai malah dia keluyuran." Ucap Venna dengan nada kesal.


"Gak papa mah." Jawab Nasya tersenyum.


Hati Rea terasa sakit ia pun memilih mundur dari kerumunan itu lalu berjalan kearah yang tak tentu arah. Setelah berjalan lumayan jauh ia duduk di rumput yang berada dibawah pohon kemudian ia memeluk erat kakinya.


"Bodoh." Gumam Rea tak kerasa airmatanya menetes dengan derasnya.


"Kenapa aku harus dateng kesini, mending tadi gak usah nurutin ucapan mamah sama kakak. Aku gak akan ngerasa sesakit ini kalau tau bakal tau dia bertunangan." Gumam Rea dengan sesenggukan.


"Kalau nangis jangan disini." Ucap seseorang dibelakang Rea dengan tiba-tiba.


Rea sangat terkejut hal itu langsung membuatnya mengangkat wajahnya lalu menghadap kearah sumber suara itu berada.


"Kamu." Suara Rea terasa tercekik dan tak mampu berkata saat melihat seseorang yang ia hindari dan juga ia tangisi berada didepan matanya. Sedang berdiri dengan posisi tangan dimasukan kedalam saku celananya.


Lelaki itu mengenakan jas Formal berwarna Nude dengan kemeja berwarna Putih dan celana bahan berwarna Nude menyempurnakan penampilannya yang sangat tampan.


"Gak nyangka ya selama 5 tahun kita berpisah kamu masih tetap sama." Ucap Elvano yang menilai penampilan Rea dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apaan si. Jangan liat-liat." Ucap Rea dengan nada ketus ia pun segera berdiri sembari menghapus airmatanya.

__ADS_1


"Jangan nangis." Ucap Elvano yang berjalan mendekatinya.


"Buk-" Ucapan Rea terputus saat tubuhnya didekap erat oleh Elvano.


"Apa yang kamu lakuin." Ucap Rea pelan.


"Aku merindukanmu." Bisik Elvano.


"Jangan gila ya El! kamu tuh udah mau nikah, sadar dong!" Ucap Rea dengan  nada tinggi agar menutupi rasa sakit yang ia rasakan setelah mengucapkan kata-kata itu ia pun langsung terlempar kenyataan jika Elvano akan menikahi gadis lain..


"Iya aku memang gila. Aku gila karena mu." Gumam Elvano ia pun langsung melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Rea dan mengajaknya berjalan menuju kearah orang tuanya berada.


"Lepasin" Ucap Rea pelan sembari berusaha melepaskan gengaman tangan Elvano.


Bukan semakin melemas pegangan tangannya malah semakin erat, hingga mereka sampai ditempat orang tua mereka berada. Rea yang malu pun hanya dapat menundukan kepalanya karena rasa malu saat semua menatapnya.


"Mohon perhatiannya." Ucap Elvano ditengah-tengah para tamu undangan yang hadir, hal tersebut membuatnya menjadi pusat perhatiian semua orang.


"Saya tau saya bukanlah lelaki yang sempurna tapi saya ingin menjadikan kehidupan saya bermakna. Dengan itu saya disini ingin melamar gadis yang amat saya cintai." Ucap Elvano. Belum sempat Elvano lanjutkan kata-katanya Rea sedikit menghempaskan tangan Elvano sehingga tangan Rea terlepas dari gengaman Elvano, Dengan berat hati ia pun berlari meninggalkan Elvano air mata yang ia bendung pun sudah tak dapat menampungnya sehingga air mata itu lolos juga membasahi pipinya.


"Edrea Zakeisa Will U marryme!!" Teriak Elvano yang membuat langkah Rea berhenti. Ia pun tak percaya dengan ucapan Elvano sehingga hal itu membuatnya berbalik menghadap Elvano yang berdiri ditempat semula berada. Elvano yang melihat Rea menghentikan langkahnya dan berbalik pun mendekatinya lalu bersujud dengan satu kaki didepan dan mengeluarkan cincin permata dari dalam sakunya.


"Will U marryme please." Ucap Elvano dengan memohon.


"Nasya gimana" gumam Rea pelan.


"What Nasya? Ya tuhan dia itu tunangan dengan Agra." Ucap Elvano yang terkekeh.


Membuat Rea membulatkan matanya kesal, ia sangat malu namun apalah daya dihadapannya sekarang laki-laki yang dicintainya. "So will u marry me." Ucap Elvano dengan lantang.


"Yes i do." Ucap Rea lalu mendapat tepuk tangan dari para tamu.


Elvano pun langsung memasangkan cincinnya dan segera merengkuh tubuh mungil Rea lalu diangkatnya dan ia berputar sebentar. Membuat Rea terpekik dengan senyumannya. Ia pun memukul pelan lengan Elvano, tak henti-hentinya Elvano mengecup kening Rea berkali-kali.


Keluarga Elvano dan Rea pun berkumpul jadi satu membuat Rea mengernyitkan dahinya. "Tunggu deh, aku masih binggung. kamu tiba-tiba ngelamar aku dan acaranya sudah ada." Ucap Rea pada Elvano.


"Hahaha dasar kepala batu ini semua itu ide dari orang  tua kamu dan mamah aku." Ucap Elvano terkekeh.


"Oh jadi tadi itu mamah maksa aku buat hadir itu karena acara ini memang buat aku?" Ucap Rea pada mamahnya.


"Bener banget sayang." Ucap Resia tersenyum bahagia.


"Terus kakak juga ikut-ikutan." Ucap Rea menunjuk kearah Prilly dan Teo.


"Iya dong." Jawab Prilly yang tertawa.


"Ya Tuhan. Ini acara aku tapi aku sendiri gak tau kalau aku mau bertunangan." Ucap Rea lalu mengusap wajahnya.


Membuat semua keluarga yang berkumpul pun tersenyum melihat tingkah lucu Rea. Hatinya sangat bahagia ternyata ia dapat berkumpul dengan orang -orang yang mencintainya.


Elvano pun mengajak Rea untuk berkumpul dengan para sahabatnya dalam perjalanan Rea menyenggol lengan Elvano.


"Kenapa?" Tanya Elvano.


"Kok Nasya bisa panggil tante Ven mama?" Ucap Rea yang penasaran akan hal itu.


"Oh itu ceritanya panjang intinya waktu itu mama kangen banget sama kamu karena kamu pergi gak pamit mama kayak murung gitu jadi pas aku jalan sama Nasya, mama tau dan mama mulai suka tuh dari situ mama udah ngangep Nasya anak sendiri." Ucap Elvano menjelaskan.


"Terus kenapa ada acara kayak gini?" Ucap Rea penasaran dengan hasil diskusi pertunangannya yang ia sendiri tak tau.


"Udah itu nanti aja ceritanya sekarang kita samperin mereka." Ucap Elvano yang melihat sahabat-sahabatnya berkumpul di depan.


"Wohh... Congrats Bro." Ucap mereka bersamaan.


"Thanks gaes." Ucap Elvano.


"Duh sahabatku yang cantik ini akhirnya tunangan juga dengan sang pujaan hati." Ucap Ersya yang mengoda Rea namun ia pun langsung memeluknya.


"Apaan coba" Ucap Rea dengan kesal.


"Tuh kan Kak El harus tanggung jawab nih Rea marah sama gue." Ucap Ersya yang menatap kearah Elvano.


"Eh kok gue, suami lo tuh." Ucap Elvano yang menunjuk kearah Bryan dengan dagu.


"Wait... Maksud kalian?" Ucap Rea penuh tanya.


"Jadi gini sahabatku yang cantik, kita itu memang sengaja ngerjain lo, gak mau nemuin lo biar buat lo kesel sama kita." Ucap Dinda.


"Terus tujuannya?" Ucap Rea.


"Tujuannya ya buat hari ini." Ucap Dinda dengan senyum manisnya.


"Duh kalian ini ya." Ucap Rea lalu memeluk para sahabatnya.


"Eh iya kak El pinjem ponselnya?" Ucap Rea setelah memeluk para sahabatnya.


"Nih" Ucap Elvano yang memberikan ponselnya.


"Kak El jadi selama ini, ini nomor kakak." Ucap Rea yang menunjukan panggilan di ponsel Rea.


"Eh mampus." Gumam Elvano sembari menepuk jidatnya.


"Ih kakak ini ya jadi selama ini si cowok Crazy yang selalu menghibur aku tiap hari itu kakak." Ucap Rea lalu memukul pelan Elvano.


"Hahahah... Maaf ya sayang." Ucap Elvano lalu memeluk tunangannya itu.


Mereka semua sangat bahagia, terlihat Agra dan Nasya tengah tersenyum membalas senyuman Rea. Rea pun akhirnya tahu kalau hubungan Dinda dan Sean berakhir dan beralih pada Aditya salah satu sahabat Elvano. Kemudian acara pernikahan Ersya yang sudah sah beberapa bulan yang lalu.


The end

__ADS_1


__ADS_2