
Indonesia
Rintik-rintik hujan turun semakin lama semakin deras, membuat gadis cantik yang bekerja di salah satu restoran ternama itu tengah berteduh sembari menunggu hujan reda. Dia menunggu di halte depan restorannya, karena ini sudah waktunya untuknya pulang.
"Ahh udah malem banget. Mana ada Angkutan lewat." Gumam Rea sembari memeluk tubuhnya erat.
Hawa dingin menembus kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis. Ia lupa tak membawa jaket karena tadi saat berangkat kerja ia terburu-buru. Gak terasa Rea sudah memasuki semester ke-2, sebenarnya ibunya Resia mengatakan jika ia harus pulang kesurabaya.
Namun Rea tak menerima permintaan ibunya ia malah sibuk dengan kerja sambilannya. Selama liburan Rea akan bekerja full time, namun jika sudah masuk kuliah ia akan ambil part time.
"Kok makin deres si. Apa nekat aja yah." Gumam Rea sambil memikirkan cara agar ia bisa pulang kekosannya.
Di tempat yang berbeda Elvano tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ia menuju rumah Bryan. Ia membuka sebelah kaca mobilnya kemudian ia pun mengeluarkan tangannya.
"Hujan." Gumam Elvano lalu membiarkan tangannya yang masih terkena tetesan air hujan.
Didepan Elvano melihat seorang yang tengah berlari menembus hujan di trotoar. Elvano mengernyitkan dahinya melihat orang itu, ia hanya tersenyum simpul teringat tentang ia yang nekat hujan-hujanan saat Prilly marah padanya. Ia berdiri di depan rumah Prilly sembari menatap kamar kekasihnya, akan tetapi apa yang Elvano lalukan itu membuahkan hasil.
Kekasihnya keluar dengan berkecak pinggan sembari membawa payung, walaupun Prilly menghampirinya dan memaafkannya namun Elvano harus siap 1 jam lebih untuk mendengar omelan Prilly.
"Kangen kamu." Gumam Elvano yang tersenyum. Tanpa sadar mobil Elvano melewati jalan yang berlubang membuat genangan airnya mengenai kearah orang yang sedang berlari di trotoar tersebut.
"Bego" teriak orang itu dengan kencangnya.
"Shit." Umpat Elvano lalu memberhentikan mobilnya. Ia pun berjalan mundur dengan emosi yang mulai muncul itu, Ia gak bisa terima jika ada yang memakinya.
Orang itu menatap dengan singit kearah mobil Elvano , namun bola matanya membulat saat mobil Elvano menghampirinya.
"Elvano" gumamnya.
"Double shit." Umpat Elvano dalam hati saat ia sudah berada didepan orang itu. Orang itu adalah Rea gadis bar-bar yang Elvano tidak suka.
"Mau apa lo?" Tanya Rea.
"Ngapain lo teriak ngatain gue bego huh?" Bentak Elvano yang sudah terlanjur membuka kaca mobilnya.
"Helo. Nyadar woi... lo tuh udah nyipratin air ke tubuh gue. Minta maaf kek malah bentak-bentak gak jelas." Ucap Rea yang kesal.
"Kok lo malah bentak gue. Lo tuh udah tau hujan malah lari-lari. Bukan salah gue lah. Salahin tuh air yang dilubang." Elak Elvano yang makin kesal.
"Lo tuh ya." Ucap Rea yang semakin kesal dengan Elvano.
"Apa" Ucap Elvano dengan senyum sinisnya.
"Ihhhhh" Ucap Rea yang geregetan sembari memberikan kepalaan tangan pada Elvano.
"Udah lah. Males gue urusan sama lo." Ucap Elvano lalu bersiap mengegas mobilnya untuk meninggalkan Rea.
"Dasar kepala batu." Ucap Rea dengan kerasnya lalu berjalan terlebih dahulu.
"Apa kepala batu! Dia ngatain gue kepala batu dasar cewek bar-bar... Woi berhenti lo!" Teriak Elvano lalu melajukan pelan mobilnya.
"Gue bilang berhenti." Teriak Elvano lagi namun Rea tak menghiraukannya ia semakin berlari.
"Ah kenapa gak sampai-sampai si" gumam Rea, matanya menangkap sebuah gardu dipinggir jalan ia pun segera berteduh disana.
Namun ia terkejut saat mobil Elvano mengikutinya, tak lama Elvano pun turun ia menghampiri Rea dengan menggunakan payung supaya ia tidak terkena air hujan.
"Ngapain lo ngikutin gue." Ucap Rea dengan memandang tak suka pada Elvano.
"Gue gak ngikutin lo. Gue cuma mau tegasin lo kalau gue bukan kepala batu inget itu." Ucap Elvano yang sedang memperingatkan Rea.
"Ohiya. Kalau lo memang bukan kepala batu terus apa? lo harusnya minta maaf kalau lo buat salah sama orang." Ucap Rea sambil memeluk dirinya sendiri karena udara dingin sudah terasa di kulitnya.
"Gue ga-" Ucap Elvano terpotong saat melihat wajah pucat Rea dengan tubuh yang sedikit menggigil karena kedinginan.
"Lo!" Bentak Rea saat ia merasakan tangan Elvano mendarat di kedua pipinya.
"Bego. Udah tau hujan deres masih aja lari-larian." Ucap Elvano lalu melepas jaket yang ia kenakan.
"Pakai" Ucap Elvano lalu memberikan jaketnya.
"Gak" jawab Rea yang memalingkan wajahnya tanpa mengambil jaket yang di berikan Elvano.
"Nyusahin banget si. Buruan pakai." Perintah Elvano yang kemudian dengan kesal memakaikannya di tubuh Rea.
"Gue bil-"Ucapan Rea terpotong,
"Gue gak nerima penolakan." Ucap Elvano lalu menarik tubuh Rea kedalam payungnya dan mereka pun berjalan ke arah mobilnya.
"Ngapain malem-malem keluyuran." Ucap Elvano saat mereka sudah didalam mobil.
"Emang penting buat lo?" Ucap Rea sedikit ketus.
"Gak penting buat gue. Mikir dong kalau lo tetep nerobos buat ujan-ujanan yang rugi siapa? Jelas lo sendiri dan bukan gue." Ucap Elvano yang menjalankan Mobilnya kearah kosan Rea.
"Kalau gue gak nerobos gue gak akan bisa pulang, di resto juga udah pada balik semua." Ucap Rea dengan menundukan kepalanya.
Elvano yang melihat wajah Rea yang lesu pun hanya terdiam. Tak lama mereka pun sampai di halaman kosan Rea, Rea pun melepas jaket yang ia kenakan.
__ADS_1
"Balikin kalau udah bersih." Ucap Elvano yang membuat Rea pun tak jadi mengembalikan Jaketnya.
Rea segera masuk kedalam kosan, ia berbalik saat melihat mobil Elvano meninggalkan halaman tempat kos Rea.
****
Elvano tiba di kediaman rumah Bryan disana terlihat Sean tengah bermain Game bersama sang pemilik rumah.
"Woi tumben lo telat banget." Ucap Sean saat melihat Elvano memasuki ruang tengah rumah Bryan.
"Biasalah lagi menikmati hujan." Jawab Elvano santai sambil duduk di sebelah Bryan.
"Ya elah menikmati hujan apaan? Tumben-tumbenan lo menikmati hujan. Kesambet apaan si?" Sela Bryan yang sekilah melirik kearah Elvano.
"Kesambet Ersya ditengah jalan." Jawab Elvano dengan tawanya.
"Anyoing lo. Ersya mana mau sama cowok cablak kayak lo." Ucap Bryan dengan tatapan sengit.
"Jelas mau lah. Secara Elvano Kalandra cowok kece badai seantreo jagat ibukota siapa coba yang gak akan terpesona sama gue." Ucap Elvano dengan nada pedenya.
"Sumpah lo.. Pedenya kebangetan." Ucap Bryan begidik ngeri.
"Ada si yang gak suka lo." Ucap Sean sambil tersenyum misterius.
"Siapa? Ayo coba katakan biar gue tembak tuh cewek dengan pesona gue." Ucap Elvano to the point.
"Wih bener lo mau nembak kalau gue sebutin orangnya?" Ucap Sean.
"Iya gue tembak cewek itu." Jawab Elvano Jelas.
"Bry lo saksi ya." Ucap Sean yang mendapat acungan jempol dari Bryan.
"Coba kasih tau siapa yang gak suka sama gue." Ucap Elvano.
"Yakin lo mau tau?" Ucap Sean yang masih memancing-mancing.
"Alah lama banget si lo tinggal bilang aja." Ucap Elvano yang penasaran.
"Dia adalah Rea sahabat Ersya." Ucap Sean dengan lantang.
"Dih kalau itu gue juga ogah." Ucap Elvano memungkirinya tak lupa ia memutar bola matanya.
"Kenapa? Bukannya dia cantik lho. Udah gitu aktif lagi." Ucap Sean dengan semangat.
"Secara dia tuh gadis bar-bar, gue benci sama dia." Ucap Elvano.
"Gak. Pokoknya sekali benci tetep benci." Ucap Elvano tegas.
"Ok ok. Gue catet ya." Ucap Sean dengan berpura-pura mencatat dalam ingatannya.
"Tapi lo kan udah janji lo mau nembak Rea dengan pesona lo." Ucap Bryan mengingatkan.
"Iya nih lo yang janji sendiri kan tadi." Ucap Sean.
"Gak mau pokoknya." Ucap Elvano tegas.
"Man janji tetap janji." Ucap Bryan lalu menepuk pelan pundak Elvano.
"Oke gue akan deketin dia tapi sekedar ajak dia makan, bukan jadian atau tembak dia. Oke." Ucap Elvano yang merasa bodoh karena ia menjanjikan hal itu.
"Ya udah terserah lo." Ucap Bryan.
"Btw gimana hubungan lo sama Prilly." Ucap Bryan mengalihkan pembicaraannya.
"Ya gitu lah." Ucap Elvano.
"Gitu gimana?" Tanya Bryan.
"Dia tuh aneh gitu setiap gue hubungi bilangnya ini itu lah. Sampai-sampai minggu kemarin gue emosi sama dia dan sampai sekarang dia gak ada ngabarin gue." Ucap Elvano dengan wajah lesunya.
"Sibuk bener kali dia. Ntar juga baik sendiri." Ucap Sean.
"Bener itu, Lo harus positif thinking mungkin cewek lo sibuk dengan kuliahnya. Kalau gak lo coba hubungi dia dulu." Ucap Bryan memberi nasehat.
"Gue harap begitu, entar deh gue coba lagi hubungi dia." Jawab Elvano dengan tampang memelas.
"Nah gitu dong," Ucap Sean menepuk pelan pundak Elvano.
Malam semakin larut mereka memang memutuskan menginap dirumah Bryan karena mereka akan bermain games sampai pagi menjelang.
Disisi lain, kos tempat tinggal Rea sangat sepi, karena ini musim liburan jadi banyak para mahasiswa pulang kampung. Rea tengah merebahkan tubuhnya diranjang, suhu tubuhnya sedikit menghangat disertai mengigil, kepalanya pun tak mau kalah pusing yang di derita Rea sangat hebat mungkin ini efek ia menerobos hujan tadi.
Bip bip
Suara nyaring yang mengejutkan Rea membuatnya mengerjapkan matanya berkali-kali ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Tertera nama mamanya yang menghubunginya.
Mom calling...
"Halo mah." Ucap Rea dengan suara lemahnya.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Resia terdengar panik.
"Sepertinya demam mah." Jawab Rea.
"Ya Tuhan sayang. Sudah minum obat?" Tanya Resia.
"Udah kok mah. Aku tidur dulu ya mah." Ucap Rea sembari pamit pada ibunya.
Ia pun meletakkan kembali ponselnya di nakas, ia akan mengambil air di dapur kosan. Namun baru beberapa langkah sebelum mencapai pintu kamarnya ia terjatuh. Tubuhnya membentur lantai hingga matanya mengabur dan lama-lama gelap.
Sudah hampir 3 jam Rea pingsan, ia pun mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya yang pusing pun sudah sedikit membaik. Namun ia mengernyitkan dahinya saat ia mendapati dirinya di atas kasur. Terakhir kali yang dia ingat ia pingsan dan terjatuh dilantai.
Ia pun mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, ia binggung karena ini bukan kamarnya. Kamar yang terkesan cool dan harum mint menandakan kalau ini adalah kamar seorang cowok.
"Kamu udah sadar." Tanya orang itu pada Rea. Membuat jantung Rea berdetak kencang ia pun menoleh kearah sumber suara itu.
"Kak Teo" Ucap Rea tak percaya, ternyata ia berada dikamar Teo.
"Kenapa bisa demam gini si?" Tanya Teo sembari mengecek suhu tubuh Rea.
"Keujanan." Ucap Rea nyengir.
"Kamu ujan-ujanan. Kok bisa si Re kamu kan gampang sakit." Ucap Teo lalu mengusap wajahnya pelan.
"Hehehe... Kakak pulang dan gak kasih kabar aku." Ucap Rea yang ingat jika Teo harusnya masih di london.
"Suprise dong, Tapi malah aku yang kena suprise dari kamu." Ucap Teo menyengir gak jelas.
"Maaf gara-gara prilly aku lupa memberitahumu. Oh tuhan maafkan aku." Batin Teo merasa bersalah.
"Hadeh. Kok aku bisa di sini kak?" Tanya Rea yang binggung dengan keberadaannya.
"Oh itu. Jadi gini tadi Mama telepon dia bilang kalau kamu sakit dan ngasih tau alamat kosmu. Mama kan tau aku baru sampai jakarta sore ini. Terus pas sampai kosan kamu aku panggilin gak jawab akhirnya aku buka aja ternyata gak kekunci kamarmu, eh pas masuk aku panik kamu udah tergeletak di lantai" Ucap Teo menjelaskan.
"What. Mama tau... Menyebalkan..." Ucap Rea cemberut.
"Kok cemberut si cantik. Nanti hilang cantiknya." Ucap Teo lalu memeluk tubuh Rea, Rea pun tersenyum dalam pelukan Teo ia pun membalas pelukannya.
"Aku kangen kamu kak" Ucap Rea.
"Me to" Jawab Teo singkat, kemudian mengusap pelan kepala Rea.
"Makan dulu yuk. Aku udah buatin bubur terus minum obat." Ucap Teo yang melepas pelukannya lalu segera mengambil mangkuk berisi bubur yang ia letakkan di dapur apartemennya.
"Kak" panggil Rea saat Teo duduk disebelahnya.
"Kenapa?" Tanya Teo.
"Ini kita dimana?" Tanya Rea.
"Apartemen kakaklah." Ucap Teo terkekeh.
"Dih sombong punya apartemen." Ucap Rea terkekeh.
"Gaklah." Ucap Teo dengan tawanya.
"Gak apaan kak?" Ucap Rea dengan memincingkan matanya.
"Gak akan sombong kan apartemen ini bakal jadi punya kamu juga." Ucap Teo.
"Sungguh?" Ucap Rea dengan mata berbinar.
"Iya lah kapan aku bohong?" Ucap Teo dengan senyum menawannya.
"Eh kak, kakak udah selesai kuliahnya?" Tanya Rea dengan pelan.
"Kalau belum selesai, aku mana bisa disini sih Re." Ucap Teo lalu memegang lembut pipi Rea.
"Ah aku bisa sering-sering sama kakak kalau gitu. Senengnya aku, kak suapin dong." Ucap Rea sedikit manja.
"Dasar manja" Ucap Teo namun tetap menyuapinya.
"Biarin manja orang sama calon sendiri pun." Ucap Rea yang mampu membuat Teo tersedak air liurnya sendiri.
"Minum minum kak" Ucap Rea menyodorkan air di gelasnya.
"Kakak gak papa?" Tanya Rea setelah melihat Teo minum airnya.
"Gak papa" ucap Teo tersenyum kemudian ia melanjutkan menyuapi Rea dengan telaten.
Setelah selesai makan dan minum obat Rea pun kembali memejamkan matanya, ia harus memulihkan tenaganya agar ia bisa bekerja kembali. Sedangkan Teo ia berjalan keruang tengah, ia mengeluarkan ponselnya kemudian melihat foto-foto di galeri ponselnya.
Bibir nya terangkat keatas saat ia melihat foto saat ia sedang bercanda dengan Prilly dan foto dimana ia menghadiri acara kampus bersama Prilly. Banyak orang-orang yang memang memasangkan Prilly dengan Teo, ada juga yang mengejeknya namun baik Teo dan Prilly sama-sama cuek.
"Kak Teo"
"Rea" Ucap Teo yang langsung menoleh kearah Rea yang sudah berdiri dibelakangnya.
Tobe continued
__ADS_1