Crazy Love

Crazy Love
4


__ADS_3

"Oh tutup." Ucap Elvano belum sadar namun ia langsung menghentikan mobilnya mendadak. "Apa tutup!" Teriak Elvano dengan membulatkan matanya.


"Duh gimana dong kak? Ampun deh masak iya tidur dijalanan" Ucap Rea yang mengusap wajahnya pelan.


"Lo hubungin temen lo deh." Ucap Elvano memberikan solusi.


"Ponsel gue mati kak." Ucapnya meringis.


"Gila bener." Ucap Elvano menggelengkan kepalanya.


"Terus gimana dong kak." Ucap Rea dengan menunduk.


"Lo inget nomor telepon temen lo, nih pakai ponsel gue." Ucap Elvano lalu memberikan Hpnya.


"Lah mana kak, Mati pun." Ucap Rea yang memperlihatkan Hp Verrel.


"Lah mati juga Hp gue." Gumam Elvano.


"Ya udah lah terpaksa ini mah terpaksa." Ucap Elvano lalu menjalankan mobilnya kearah yang berlawanan dengan kosan Rea.


"Loh kak mau kemana ini?" Tanya Rea karena binggung jalanannya berbeda dari yang biasa ia lewati.


"Menurut lo." Ucap Elvano dengan memincingkan matanya.


"Lo gak akan aneh-aneh kan kak?" Tanya Rea waspada.


"Gue aneh-aneh ke lo! Gak mungkin." Ucap Elvano.


"Jelasin dulu kita mau kemana?" Ucap Rea kekeh dengan pertanyaannya.


"Lo kan yang bilang tadi kalau kosan lo jam segini udah tutup... Terus kalau gue turunin lo di kosan lo, lo tidur dimana?" Ucap Elvano yang membuat Rea terdiam.


Ia membenarkan perkataan Elvano yang ada benarnya, sejujurnya Rea sangat binggung karena ini baru pertama kali ia keluar berdua dengan cowok sampai malam banget. Kalaupun di berhentikan di hotel masih mending tapi masalahnya ini Rea masih belum tau Elvano mau membawanya kemana.


"Terus kemana donk? Huft gue disini aja baru sebulan belum paham daerah sini." Ucap Rea sambil membuang nafas kasar.


"Diem tar lo tau sendiri." Ucap Elvano yang males berdebat.


Sudah 1 jam perjalanan mereka pun sampai di sebuah rumah yang mewah, Rea sudah terlelap dalam tidurnya. Elvano memarkirkan mobilnya setelah itu ia pun membangunkan Rea.


"Bangun" Ucap Elvano sambil menepuk pelan pipi Rea.


"Emmmgh" erang Rea dalam tidurnya ia pun mengerjapkan matanya berkali-kali hingga kesadarannya pun mulai penuh.


"Dimana?" Tanya Rea.


"Rumah gue. Turun!" Perintah Elvano ia pun segera turun dari mobilnya dan diikuti Rea dibelakangnya.


"Kok kesini?" Tanya Rea binggung.


"Terus kalau gak dirumah gue dimana? Hotel? kalau hotel bisa aja tapi lo bayar sendiri bisa? atau lo mau tidur dijalanan?" Ucap Elvano dengan nada cuek lalu ia pun berjalan meninggalkan Rea untuk masuk kedalam rumahnya.


"Mas" panggil Venna yang melihat putranya masuk kedalam rumah. Venna memang sengaja menunggu kepulangan Elvano, jika sudah di rumah baru ia bisa beristirahat.


"Assalammualaikum mah." Ucap Elvano lalu menyalimi Venna.


"Waalaikumsalam mas. Kok?" Ucap Venna yang binggung melihat seorang gadis yang membuntuti Elvano dibelakang, Rea memang menundukan kepalanya karena ia sangat malu dengan mamanya Elvano.


"Ohiya ini Rea mah, maba dikampus aku, tadi aku nolongin dia karena dia pingsan, Udah gitu berhubung kosannya udah tutup jadi aku bawa kesini. Gak papa kan mah." Ucap Elvano menjelaskan pada Venna.


"Rea" panggil Venna dengan nada tak suka.


"Maaf tante saya udah ngrepotin anak tante." Ucap Rea yang masih menunduk takut.


"Kalau bicara tatap mata lawan bicara kamu." Ucap Venna dengan tegas.


Rea pun memberanikan untuk menatap Venna namun terlihat jelas baik Rea atau Venna sama-sama terkejut.


"Shasa" panggil Venna tak percaya.


"Tante Ven" Ucap Rea yang baru mengingat siapa wanita di depannya ini. Keluarga Rea dan sahabat mamanya termasuk tante Venna memang memanggilnya Shasa.


Melihat keduanya berpelukan seperti sudah lama kenal itu membuat dahi Elvano mengerutkan keningnya. Ia gak pernah ketemu dengan gadis ini sebelumnya, yang ia ingat ia pernah menghukumnya di Toilet selebihnya ia tak ingat sama sekali pernah bertemu dengan dia.


"Mama kenal?" Tanya Elvano yang penasaran.


"Sangat kenal dia ini anaknya tante Resia." Ucap Venna setelah melepaskan pelukannya.


"Tante Resia yang mana Mah?" Tanya Elvano yang masih mengingat-ngingat sahabat mamanya itu itu. Namun seingatnya mamanya tidak mempunyai teman yang bernama Resia.


"Sahabat mama yang disurabaya lo mas, terakhir kali kalian bertemu waktu kamu mau masuk SMP terus akhirnya kamu langsung pindah kesini. Padahal dulu kalian kan sering bareng main sama Shasa. Masa kamu lupa si mas?" Tanya Venna.


"Gak inget aku mah." Ucap Elvano ia memang tidak ingat karena terlalu banyak orang yang ia kenal sehingga ia lupa.


"Kamu ini mas masih muda tapi lupaan, dasarnya kamu gak pernah kesurabaya lagi setelah mama dan papamu pisah. Kalau mama tiap ke surabaya jenguk Arsalan pasti sering ketemu sama tante Resia dan Shasa." Ucap Venna kembali menjelaskan.


"Oh.. Ya udah aku masuk kekamar dulu mah." Pamit Elvano lalu masuk kekamarnya dilantai atas.


"Duh Sha tante kangen banget sama kamu,  udah 3 tahun tante gak ketemu sama kamu dan mama kamu. Gimana kabar mama kamu sayang." Ucap Venna yang memeluk Rea dari samping.


"Alhmdulilah baik Tant kabar mamah, Tante gak main ke Surabaya lagi?" tanya Rea.

__ADS_1


"Gak sayang, kan sekarang Arsalan minta SMA di bali dan keluarga baru om Vandi juga di bali jadi ya udah gak ke surabaya lagi Sha." Ucap Venna menjelaskan. Rea pun mengangguk mengerti akan penjelasan dari Venna.


"Duh malah ngobrol terus, kamu istirahat dikamar tamu ya Sha. Nah ini kamar tamunya." Ucap Venna yang menunjukan Rea kamar tamu yang akan ia tempati.


"Makasih tante. Aku masih gak nyangka lo tant kalau dia itu kak Andra." Ucap Rea yang masih mengingat sedikit bayangan Elvano semasa kecil.


"Gak nyangka gimana?" Tanya Venna penasaran.


"Iya gak nyangka aja gitu tan, Dulu kan Kak Andra orangnya Ceria kok sekarang sedikit cuek dan galak tan." Ucap Rea mengingat pertemuan pertama dengan Elvano.


"Oh iya? emang Dia galak gimana Sha?" Tanya Venna.


"Iya dia sering menghukum aku pas ospek tan." Ucap Rea malu-malu.


"Itu mungkin kamu yang salah... Hahaha.." Ucap Venna yang terkekeh.


"Iya si tan." Ucap Rea meringis.


"Tapi Elvano beneran lupa ya sama kamu, eh bukan dia aja kamu juga lupa sama Elvano. Tapi Wajarlah kalian pisah juga sekitar 9 tahunan dan itu gak pernah ketemu lagi kan." Ucap Venna yang masih terkekeh.


"Iya tan." Ucap Rea tersenyum canggung.


"Ya udah kamu buruan istirahat. Didalem lemari ada baju piyama kamu pakai aja buat ganti." Ucap Venna tersenyum.


"Heem tan, Makasih tan udah di izinin tinggal disini malam ini." Ucap Rea tersenyum.


"Kayak sama siapa aja si Sha." Ucap Venna membalas senyuman Rea. "Ah kalau kamu laper ada makanan di kulkas kamu panasin aja. Atau mau buat mie juga ada terserah kamu aja, anggap aja rumah sendiri." Ucap Venna lalu mengusap kepala Rea.


"Baik tante." Ucap Rea tersenyum lembut.


Venna pun kemudian kembali kekamar utama untuk beristirahat, sedangkan Rea pun masuk kekamarnya ia pun membersihkan tubuhnya sekitar 20 menit. Ia pun segera mengambil baju piyama, setelah berganti pakaian ia merebahkan tubuhnya.


Krcuuuk


"Duh laper lagi. Mmm keluar ga yah.. tapi kalau gak keluar cacing cacing diperut demo terus.." Gumam Rea, ia pun keluar kamar secara pelan kemudian ia pun membuat segelas susu coklat panas dan sereal yang berada di lemari kaca.


"Ngapain lo." Tanya Elvano yang mengejutkan Rea.


"Aww" pekik Rea yang terkejut akibat suara Elvano yang tiba-tiba muncul dan membuatnya tersiram air panas.


Rea lalu mengibas-ngibaskan tangannya yang tersiram sesekali ia tiup, namun tangannya langsung dicekal dan disiram air dingin oleh Elvano. Kemudian ia pun membawa Rea di meja mini bar dapurnya lalu mengoleskan obat luka bakar agar lukanya tidak melepuh.


"Ceroboh." Ucap Elvano merasa kesal.


"Helooo.. gue kesiram juga karena lo. Coba kalau lo gak ngagetin gue gak gini kejadiannya." Ucap Rea yang langsung menunjukkan wajah cemberutnya.


"Gak pakai manyun gitu bisa kali, udah maju tambah maju entar itu bibir." Ucap Elvano.


"Udah diem disini." Ucap Elvano lalu menuju dapurnya.


Ia memasukkan Sereal kedalam lemari setelah itu ia menyeduh susu yang sudah Rea tuang kedalam gelas, kemudian ia memanaskan sayur dan lauk yang Venna letakkan dikulkas. Setelah 20 menit berkutik didapur ia pun meletakkan nasi dan lauk pauknya di bar dapur dimana Rea berada.


"Ayo makan." Ajak Elvano lalu disambut oleh binar-binar dimata Rea.


"Selamat makan." Ucap Rea setelah meletakkan nasi dan lauknya di piring.


Elvano pun menahan senyumnya saat melihat Rea makannya dengan lahap. "Lo gak makan?" Tanya Rea.


"Yang sopan sama senior." Ucap Elvano dengan mendengus kesal.


"Upss sorry kakak andra" ucap Rea terkekeh.


"Jangan Andra panggil Elvano aja. Dasar Rere si gadis boncel." Ucap Elvano yang ikutan tertawa.


"Eh kok diganti Rere, Rea kak Elvano... Biar boncel tapikan cantik." Ucap Rea sambil memeletkan lidahnya.


"Habisin jangan banyak ngomong dulu." Ucap Elvano memperingatkan.


Rea pun mengangguk lalu melanjutkan makannya, sedangkan Elvano hanya meminum susu coklat hangat yang seharusnya ia buat untuk Rea namun ia minum saja hingga tandas tak tersisa.


"Buruan tidur udah malem." Ucap Elvano setelah Rea menyelesaikan Makan malamnya.


"Good night kak." Ucap Rea lalu melangkah menuju kamar tamu.


"Good night." Gumam Elvano pelan kemudian ia pun naik kelantai atas dimana kamarnya berada.


Elvano pun mengecek ponselnya namun tak ada balasan dari Prilly. Elvano pun mencoba menghubunginya namun ponsel Prilly tidak aktif ia pun menghembuskan nafas kasar.


"Kemana si kamu?" Ucap Elvano pada dirinya sendiri.


"Bodok amat, tidur aja lah capek." Ucap Elvano lalu merebahkan tubuhnya diranjang. Tak lupa ia berdoa terlebih dahulu sebelum tidur hingga lama-lama ia pun terlelap.


****


Kukuk kuruyukkkk


Bunyi alarm ayam berkokok milik Rea pun berbunyi dengan malas ia pun mengambil ponselnya yang diatas nakas. Kemudian mematikan kembali, namun kesadaran Rea pun kembali rasa kantuknya hilang saat ia ingat ia sedang berada di rumah orang.


"Mandi, bantu tante ven masak terus pulang terus tidur lagi deh." Gumam Rea lalu segera bergegas mandi, setelah selesai mandi ia pun bergegas melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Bego mana gak ada baju selain piyama lagi." Gumam Rea saat melihat lemari tersebut.

__ADS_1


Rea pun keluar kamar ternyata didabur sudah ada pembantunya Venna yang sudah datang. Pembantunya Venna hanya akan ada di jam 4 subuh sampai jam 5 sore. "Bi boleh saya bantu." Ucap Tasya dengan suara pelannya.


Membuat bibi tersebut menoleh pada tasya lalu tersenyum. "Jangan non nanti ibu marah. Eh tapi non ini kok gak pernah kelihatan sodara ibu ya?" Tanya pembantu itu.


"Jangan panggil non bi panggil Rea aja. Bukan sodara cuma tante ven sahabat mama saya." Ucap Rea menjelaskan.


"Iya iya. Panggil aja bi Ijah ya non." Ucapnya.


"Rea bi Rea" Ucap Rea mengulangi lagi.


"Iya Non Rea." Ucap bi ijah tersenyum.


"Ya allah bibi nih, Ya udah terserah bibi deh. Saya bantu bi." Ucap Rea kemudian membantu bi Ijah memasak menu sarapan pagi dan membantu bersih-bersih.


"Shasa" panggil Venna saat ia keluar kamar dan mendapati Rea tengah menyapu rumah mereka.


"Iya tan." Ucap Rea mendekati venna.


"Kamu tamu kok malah bersih-bersih?" Tanya Venna keheranan.


"Maaf tan. Tapi kalau aku diem aja malah gak sopan tan." Ucap Rea sedikit kikuk.


"Gak sopan gimana si Sha. Udah kamu ikut tante sarapan biar dilanjutin bi Ijah." Ucap Venna lalu menarik Rea keruang makan.


"Pagi mah." Sapa Elvano yang menuruni tangga lalu menghampiri mamanya.


"Pagi sayang, kamu mau kemana kok udah ganteng aja." Ucap Venna memuji anaknya.


"Anterin tuh bocah pulang." Ucap Elvano lalu duduk di depan Rea, Venna pun berjalan kedapur untuk mengambil sesuatu.


"Lo gak ganti baju?" Tanya Elvano yang memperhatikan Rea yang masih mengenakan piyama semalam.


"Kan aku gak punya baju ganti." Jawab Rea sambil nyengir kuda.


"Bentar." Ucap Elvano lalu naik kekamarnya dan mengambil pakaiannya yang udah gak muat untuknya dan celana pendek selutut.


"Nih pakai." Ucap Elvano yang menyerahkannya pada Rea.


"Kenapa gak pakai baju tante aja?" Tawar Venna yang melihat anaknya memberikan baju buat Rea.


"Telat nawarinnya mah." Ucap Elvano terkekeh pelan.


"Saya ganti dulu tan." Ucap Rea lalu kembali kekamar tamu untuk berganti pakaian.


Setelah menyelesaikan sarapan Elvano pun bersiap mengantar Rea pulang kekosannya. Ia sekalian keluar karena mau berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.


"Tant aku pulang dulu ya." Pamit Rea lalu mencium tangan Venna.


"Hati-hati, sering-sering main kesini ya Sha tante kadang sering kesepian apa lagi kalau mas udah sibuk sama kegiatan kampusnya." Ucap Venna lalu memeluk singkat Rea.


"Beres tan." Ucap Rea tersenyum.


"Assalamualaikum tan." Ucap Rea lalu melambaikan tangannya pada Venna.


"Berangkat mah" ucap Elvano lalu masuk kedalam mobilnya.


Mereka pun keluar dari rumah yang Elvano tinggalin, dengan kecepatan sedang mobil Elvano membelah jalanan jakarta.


Rea memperhatikan wajah Elvano dengan seksama terlihat dahinya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ngapain lo ngeliatinnya gue kayak gitu?" Tanya Elvano yang tak sengaja bertemu pandang dengan mata Rea.


"Gak si cuma mikir aja. Kakak lagi ada masalah apa kok mukanya gak kayak biasanya." Ucap Rea dengan santai.


"Gue ada masalah? Sok tau banget sih lo." Ucap Elvano lalu memfokuskan menyetir kembali.


"Iya iya Maaf kalau gue Sotoy." Ucap Rea mengangguk-angguk.


Mereka pun sampai di kosan Rea, Rea pun segera turun dari mobil Elvano. "Mampir kak?" Tanya Rea  saat kaca pintu Elvano terbuka.


"Gak makasih. Duluan ya." Jawab Elvano lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman kosan Rea.


Rea pun masuk kekosan kemudian mengcharger ponselnya, setelah itu ia pun merebahkan tubuhnya diranjangnya. Beruntung ini weekend jadi ia bisa bebas tidur seharian.


London


Pagi menjelang Prilly sedang tertidur pulas namun tidurnya terganggu saat bel apartemennya berbunyi. Dengan mengumpulkan nyawanya Prilly perlahan bangun dan berjalan sedikit terseok-seok.


Ceklek


Prilly membuka pintu apartemennya. Terlihat seorang laki-laki yang menunjukkan senyum manisnya.


"Oh god Teo kau mengacaukan tidurku." Ucap Prilly lalu berjalan masuk keapartemennya lalu duduk bersandar disofa sambil memejamkam matanya.


"Wake up kita jalan pagi biar sehat." Ucap Teo sambil duduk di sebelah Prilly.


"No Matteo kakiku sakit." Ucap Prilly tanpa membuka matanya.


"Ah baiklah. Ponsel mu mati ya Pril?" Tanya Teo yang berdiri lalu menuju dapur Prilly.


"Eh mati... mampus..." gumam Prilly yang langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas kamarnya.

__ADS_1


Tobe Continued


__ADS_2