Crazy Love

Crazy Love
11


__ADS_3

d(\=^・ω・^\=)b


"Ah kakak mah bisa aja." Jawab tasya terkekeh.


"Oh iya kak-"


"Rea ajak kakak sarapan dulu. Kakak kan lagi capek." Ucap Resia menengahi mereka.


"Hehehe. Maaf kak." Ucap Rea tersenyum meringis.


Sebelum sarapan kakaknya Rea meletakkan kopernya di kamar dan berganti pakaian tak lupa ia pun mandi terlebih dahulu. Setelah selesai ia pun segera turun kebawah untuk sarapan bersama keluarganya.


"Btw acara pertunangannya di mana Rea?" Tanya kakaknya Rea.


"Di sebuah ballroom outdor dihotel The angel." Ucap Rea.


"Wah aku di dahului ya." Ucap kakak Rea menggoda.


"Ih kakak Prilly mah bisa aja." Ucap Rea tersipu malu atas ucapan Prilly.


"Kapan nih dikenalin sama adek ipar?" Tanya Prilly sambil menggoda tasya.


Prilly kakak tiri Rea adalah Aprilly Naila Julian kekasih dari Elvano Kalandra, Ia memang belum mengenal siapa calon tunangan Rea.


"Nanti kita ketemu di hotel kak, ruangan kita sebelahan sama ruangan doi." Ucap Rea dengan senyumannya.


"Bener ya." Ucap Prilly menanggapi senyum Rea.


Hari sudah semakin sore, acara pertunangan akan di laksanakan pada Jam 19.00 WIB namun sekarang pukul 15.00 WIB. Keluarga Rea telah bersiap menuju hotel dimana acara pertunangannya di selenggarakan. Untuk pemakaian gaun dan Makeup akan di lakukan di hotel sehingga mereka datang lebih awal. Rea mengenakan jaket jeans kombinasi warna biru dan putih, dengan kaos tanktop didalamnya ia pun mengenakan celana jeans dengan warna senada, tak lupa sepatu ket merah yang ia kenakan.


"Kak kita keruangan tunanganku dulu ya." Ucap Rea lalu menarik Prilly saat mereka sampai di lobby hotel tersebut.


Sedangkan Prilly ia mengenakan kaos lengan panjang dengan celana jeans sobek berwarna navy tak lupa sepatu highheels berwarna hitam yang membalut kakinya.


"Pelan-pelan Re... Duh gak sabar bener si." Goda Prilly lalu menoel dagu Rea.


"Hehehe kakak mah gitu, aku kan cuma pengen ngenalin kakak sama calon aku." Ucap Rea  dengan tersipu malu.


Setibanya di depan kamar dimana tunangan Rea berada ia pun segera masuk kedalam kamar tersebut.


Ceklek


Pintu kamar Teo tidak terkunci namun tak ada seseorang yang didalam kamar. Mata Rea meneliti kesetiap kamar, pencariannya berhasil ia menangkap selulit seorang lelaki tengah berdiri di balkon kamar.


"Hai" sapa Rea membuat Teo menoleh dan tersenyum padanya.


"Eh. Udah lama.?" Tanya Teo tersenyum.


"Baru kok kak. Ohiya aku kenalin sama kakak ku yuk kak." Ajak Rea yang diberi anggukan oleh Teo, ia pun menarik lengan Teo untuk menemui kakaknya.


Deg


Tubuh sedikit bergetar dan ada rasa yang membeku saat melihat seorang wanita yang ia hindari namun wanita itu mampu mengisi hatinya berada didepannya saat ini.


"Kak kenalin ini Teo tunangan aku, dan ini kakak aku Prilly." Ucap Rea menjelaskan.


Ada sedikit kecanggungan diantara mereka keduanya hanya saling diam dan saling memandang, terlebih Prilly terlihat sorot matanya yang terluka dan kecewa.


"Ehem" Dehem Rea membuyarkan lamunan mereka.


"Hai Prilly." Sapa Teo terlebih dahulu, ia pun mengangkat tangannya untuk menyalami Prilly.


"Hai Mr. Matteo." Sapa Prilly balik dengan membalas jabatan tangan Teo, ada perasaan tak menentu yang ia rasakan.


"Kok kakak kenal kak Teo?" Tanya Rea yang penasaran dengan mereka.


"Dia assdos dikampus aku." Jawab Prilly Singkat.


Debaran dalam hati 2 insan itu membuncahkan perasaannya. Rea tak menyadari tatapan Teo untuk Prilly. Rea yang merasa mereka saling mengenal pun segera pamit untuk berganti pakaian diruangannya.


"Oh iya udah. Kakak disini aja temenin kak Teo sampai temennya dateng." Ucap Rea yang tersenyum.


"Eh kok ditinggal si." Ucap Prilly yang sedikit gugup.


"Gak papa sekalian biar deket sama calon adik ipar kak. Lagian kan kalian udah saling kenal mungkin mau ngobrol-ngobrol gitu kak." Ucap Rea lalu meninggalkan Prilly dan Teo.


"Huft" Prilly menghela nafas pelan.


"Kenapa kita dipertemukan kembali dengan cara ini." Ucap Teo yang berjalan menuju balkon kamarnya.


Tak hanya Teo, Prilly pun mengikuti langkahnya sehingga sekarang ia berdiri dibelakangnya dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celana jeansnya.


"Jujur ak-aku kaget banget saat tau ternyata kamu itu calon suami adik tiriku." Ucap Prilly dengan menundukan kepalanya..

__ADS_1


"Emang kamu aja? aku malah lebih terkejut dibanding kamu." Ucap Teo yang menoleh sebentar ke arah Prilly.


"Terkadang hidup itu gak adil." Ucap Prilly yang masih menatap punggung Teo.


"Ya itulah hidup, namun terkadang sebuah rasa itu menyiksa." Ucap Teo pelan.


"Udah tau menyiksa itu harusnya di perjuangi jangan malah menghindar." Ucap Prilly.


"Apa kamu membenciku?" Tanya Teo setelah beberapa saat terdiam, tatapannya kosong kedepan.


"Aku gak pernah membencimu Te, sama sekali gak pernah ada rasa benci yang terukir dihatiku untukmu." Ucap Prilly pelan yang mampu membuat Teo berbalik. Air mata Prilly yang awalnya di tahan pun tumpah seketika, air matanya mengalir dengan derasanya ketika itu Teo memutuskan untuk memeluknya.


"I love you." Ucap Teo yang merasakan perasaan sakit saat orang yang ia cintai menangis, yang mampu ia lakukan adalah memeluknya erat.


"I love You to Te." Ucap Prilly membalas pelukan Teo, Hal itu membuat bibir Teo terangkat secercah senyuman yang membuat perasaannya bahagia.


"Maaf ila." Ucap Teo dengan menghapus sisa air mata Prilly setelah melepas kan pelukannya.


"Maaf untuk apa Te?" Ucap Prilly dengan binggung. Tanpa menjawab Teo pun mencium lembut bibir mungil Prilly.


"Te apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Ucap Prilly menunduk setelah Teo melepaskan ciuman yang singkat itu.


"Aku menginginkanmu." Bisik Teo lalu ******* kembali bibir ranum Prilly.


"Mmmph... " ucap Prilly disela-sela ciumannya. Teo pun melepas ciumannya ia menangkup pipi chubby Prilly mata mereka saling memandang satu sama lainnya.


"Aku harus bilang sama Rea kalau aku ingin menikah denganmu bukan dengannya." Ucap Teo.


"Tapi Te kita akan menyakiti hatinya, dia adalah anak yang baik. Apa kau tega membuatnya terluka?" Ucap Prilly.


"Aku tau. Dia gadis yang pemberani dan tegar, tapi jika aku memaksa menikahinya. Kamu dan aku akan sama-sama terluka." Ucap Teo yang kemudian meluknya kembali.


Mereka tak menyadari jika di belakang mereka ada seseorang yang mendengarkan pembicaraannya. Siapa lagi kalau bukan Rea, Ia awalnya memang keruangannya namun ia kembali lagi saat mengetahui periasnya belum datang. Ia pun memutuskan untuk kekamar Teo, namun saat itu langkahnya berhenti saat mendengar perbincangan keduanya, apa yang ia lihat dan dengar itu membuatnya sakit.


Rea hanya mampu menutup matanya ia berjalan mundur kemudian berlari meninggalkan kamar Teo berada. Ia berlari hingga keluar hotel, hatinya hancur sangat hancur. Ternyata puzzle-puzzle yang ada ia ketahui selama ini sudah ia temukan kebenarannya.


"Ternyata kamu mencintai kakakku, dan kakakku pun mencintai kamu." Gumam Rea dengan air mata yang mengalir dipipinya langkahnya tak ia hentikan ia semakin berlari tanpa menoleh kemanapun, yang bisa ia lakukan hanya berlari dan terus berlari kedepan.


Didalam kamar Teo dan Prilly saling melepas rindu, sekarang Teo mengantar Prilly kekamar sebelahnya dimana Rea berada. Ia akan menjelaskan tentang semua ini agar tidak terjadi pertikaian yang lebih hebat.


"Eh  ileh kau nih Te kok baru muncul sih, ini calon mempelainya imut banget deh te Sini ike makeup in biar tambah cantik." Ucap Ivan si gemulai yang akan meriasi Rea, namun ivan salah menarik mempelainya, ia malah menarik Prilly.


Prilly pun hanya melonggo, sedangkan Teo mengerutkan keningnya dengan sedikit binggung. "Van kau dari tadi disini gak ada gadis lain yang masuk kesini sebelum kita?" TanyaTeo pada Ivan.


"Apa! kok gak masuk kesini sih." Ucap Teo pada dirinya sendiri.


"Stay di sini sayang." Ucap Teo pada Prilly ia kemudian keluar mencari Rea perasaannya mulai tidak enak. Ia menghubungi Rea namun nomor Rea tidak terhubung ia pun segera berlari kelobby Hotel.


Teo mencari keseluruh hotel hingga bertanya pada resepsionis dan security sudah ia lakukan tapi mereka tak mengetahuinya. Terlihat orang tua Rea yang berjalan menghampiri Teo, dimana Teo saat ini sedang berdiri didepan kamar rias mempelai wanita.


"Loh Teo kok kamu diluar?" Tanya Resia binggung.


"Maaf tante tapi ada masalah." Ucap Teo dengan sedikit gugup.


"Masalah apa Teo?" Tanya Rizal.


"Gini Mah, tapi ini Rea menghilang." Ucap Teo yang membuat Rizal dan Resia sangat terkejut.


"Apa!" Ucap Rizal yang sangat terkejut.


"Ya tuhan anakku kemana." Ucap Resia sambil menutup mulutnya tak terasa air matanya mengalir deras.


Rizal menuntun resia masuk kedalam kamar Teo, begitu pula Teo yang mengikutinya dari belakang. "Kenapa kok Rea sampai menghilang?" Tanya Rizal sembari menenangkan Resia.


"Tadi setelah Rea ngenalin Prilly sama aku, kemudian dia pamit kesebelah untuk merias dirinya dengan ivan. Karena aku sama Prilly sama-sama kenal kita pun akhirnya ngobrol pah, Setelah hampir 1 jam kita ngobrol pun kita menyusul di kamar sebelah terus ivan bilang kalau dia udah nunggu mempelainya tapi ia gak dateng." Jelas Teo.


"Kemana pah Rea." Ucap Resia meneteskan air mata.


"Om mah aku minta maaf gak bisa jagain Rea." Ucap Teo yang menunduk.


"Bukan salah kamu Te, Re memang selalu begitu. Sudahlah acara ini kita batalkan saja." Ucap Rizal dengan menghela nafas berat.


"Tapi Pah-"


Ting


Ada pesan masuk di ponsel Resia ia pun segera mengambil ponselnya kemudian membaca pesan masuk.


My Son Rea


Mah maaf tapi Rea gak bisa melanjutkan pertunangan ini. 


Rea juga ingin kak Teo bahagia dengan orang yang dia cintai.

__ADS_1


Restui hubungan kak Teo dengan gadis itu mah.


Rea pergi untuk sementara waktu mah.


Jangan kuatirin Rea.


Rea akan baik-baik aja.


Tubuh Resia lemas saat membaca pesan dari anaknya, Rizal pun mengambil alih ponselnya untuk membaca pesan tersebut.


"Siapa gadis yang kamu cintai nak?" Tanya Rizal.


"Maksud om?" Tanya Teo yang tak mengerti, Rizal pun menyodorkan ponsel tersebut kepada Teo.


"Mmmm maaf sebelumnya om. Saya mencintai putri om Prilly." Ucap Teo yang kemudian mendapat tatapan tak percaya dari Resia.


"Mulai kapan kamu mencintai anak saya?" Tanya Rizal tegas.


"Saat saya mengajar di kelasnya Prilly om. Saya minta maaf, saya benar-benar gak tau jika Rea dan Prilly bersaudara." Ucap Teo dengan wajah menyesal.


"Apa anak saya juga mencintai kamu? Apa kamu tau anak saya sudah memiliki kekasih?" Tanya Rizal dengan menatap Teo, rahangnya sudah mulai mengeras.


"Sudah pah. Acara juga sudah kesebar lebih baik kita tanya sama anak kita apa dia mau menikah dengan Teo atau gak." Lerai Resia kemudian bangkit dari ranjangnya.


Mereka pun masuk kedalam ruangan di mana Prilly berada. "Mama papa." Ucap Prilly yang menatap orang tuanya masuk kekamarnya. Terlihat wajah sayu tanpa rona bahagia di wajah mereka.


"Sayang mama mau tanya apa kamu mencintai Teo?" Ucap Resia to the point.


"Mama kok tanya gitu? Ini kan acara pertunangan Rea dengan Teo mah." Ucap Prilly yang sedikit binggung dan takut ia salah bicara.


"Jawab aja nak." Ucap Rizal membelai rambut anaknya.


"Tapi pah-" ucap Prilly terpotong.


"Jawab ila, aku sudah jujur kalau aku mencintaimu." Ucap Teo yang menatap Prilly dengan lembut.


"Mah Pah maafkan aku... Ak-aku juga mencintainya Mah." Ucap Prilly meneteskan air matanya. Teo pun langsung memeluk erat tubuh Prilly, kedua orang tua Prilly pun hanya saling menatap dan mengangguk. Resia mengandeng tangan suaminya lalu meninggalkan mereka berdua.


****


Di dalam sebuah bus Rea tengah duduk di pinggir jendela bus, air matanya terus saja mengalir ia tak menyadari jika seseorang yang disampingnya terus menatapnya dengan tatapan kasian.


"Mau sampai kapan lo nangis kayak gini? Lo juga ngapain bawa gue segala." Keluh lelaki itu pada Rea.


"Sampek hati gue sembuh. Gue gak ngajak lo kali, lo nya aja yang ikut sendiri orang gue mau pergi lo malah ngintilin gue dari belakang." Ucap Rea sambil memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.


"Lo tuh bener-bener ya, cewek sedeng geblek pokoknya kepala batu lah." Ucap lelaki itu dengan terkekeh.


"Eh dasar cowok sarap, ngatain gue geblek, kepala batu, lah situ apa coba dasar bayi gede hmm." Ucap Rea yang mengolok lelaki itu balik.


"Cih.. dasar kepala batu." Ucap lelaki itu sambil mengacak-acak rambut Rea.


"Ihh nyebelin banget si lo." Ucap Rea memanyunkan bibirnya.


"Uh uh...  marah nih yee." Goda lelaki itu dengan senyum jahilnya.


"Huft" Rea menghela nafas kasar dengan mengeluarkan tatapan sinis pada lelaki itu.


"Kita mau kemana si?" Tanya lelaki itu.


"Menurut lo, mang lo tadi naik bus gak liat apa kita kemana?" jawab Rea santai.


"Enggak." Jawabnya.


"Lo liat tulisan itu gak, coba lo baca." Ucap Rea sambil menunjuk tulisan yang ada di kaca depan bus.


"Oh bali." Ucapnya santai, namun tak berapa lama mata lelaki itu membulat.


"Apa bali!!!" Pekik lelaki itu dengan  tatapan yang tajam ke arah Rea.


Rea yang melihat hanya meringis saat melihat lelaki itu terlihat terkejut. "Shhht lo jadi pusat perhatian lo." Ucap Rea sambil mengangkat jari telunjuknya di bibir.


"Eh" pekik lelaki itu yang melihat kesekelilingnya ternyata benar banyak penumpang yang menatap kearahnya.


"Sorry sorry." Gumam lelaki itu pelan dengan senyum meringisnya.


"Makanya kalau ngomong di jaga jangan teriak-teriak." Bisik Rea kemudian menarik hidung lelaki itu.


"Ah aww...." pekik lelaki itu kesal karena hidungnya sakit akibat ditarik Rea.


Rea tertawa saat melihat kesakitan yang diderita lelaki itu, membuat sedikit perasaan sakit dari dirinya menghilang sedikit. Keheningan pun tercipta Rea pun mulai terlelap dalam perjalanannya menuju bali. Lelaki itu menyandarkan kepala Rea pada pundaknya, ada rasa tenang saat ia yang sengaja mengikuti Rea pergi.


"Gue gila kali ya, kok kalau deket lo gue bisa nyaman si." Gumamnya pelan.

__ADS_1


Tobe continued


__ADS_2