Crazy Love

Crazy Love
13


__ADS_3

v(\=^・ω・^\=)v


"Apa!" Ucap Rea yang sangat terkejut akan ucapan Elvano.


"Iya kekasih gue itu kakak tiri lo." Ucap Elvano dengan senyum paksanya.


"Gila... Lo tau dari siapa kakak gue tunangan sama Teo?" Tanya Rea.


"Nyokap." Ucap Elvano singkat. "Kalau lo awalnya gimana?" Tanya Elvano.


"Awalnya si gue cuma tau dari pertama kali Teo ngigau nama Ila, lo inget gak waktu lo tiba-tiba nyium gue?" Ucap Rea sedikit malu.


"Yang mana ya?" Ucap Elvano.


"Dicafe?" Ucap Rea.


"Oh itu iya inget." Ucap Elvano yang langsung terbayang kejadian lalu.


"Nah disitu waktu gue ngejar lo gue ketemu sama Teo dan pak Oscar dosen kita. Akhirnya gue ngikutin dia. Disana gue denger kalau Oscar menanyakan apa Teo cinta sama Gue terus dijawab sama Teo. Gue sayang sama Dia tapi disisi lain gue cinta sama Ila. Dia juga bilang sama Oscar kalau Ila itu segalanya untuk dia." Ucap Rea menjelaskan itu semua.


"Ila? Padahal nama itu khusus gue dan dia." Ucap Elvano dengan wajah datarnya.


"Mungkin ini bukan takdir kita Re, kita hanya bisa mengiklaskan semua sudah di atur sama Allah." Ucap Elvano yang berusaha menguatkan dirinya.


Rea hanya tersenyum tipis ia memandang kedepan, hanya gelap yang ia lihat dan suara ombak yang menemani mereka.


****


Semalam adalah hal yang paling berarti bagi mereka yaitu sebuah pengakuan Elvano dan hal yang paling memilukan namun banyak pelajaran yang mereka dapatkan dan membuat keduanya saling menguatkan. Bukan malah membuat mereka terpuruk dari kenyataan, namun mereka belajar mengambil hikmah dari masalah tersebut.


Rea sudah mulai iklas dengan apa yang terjadi ia pun menyibukan dirinya, saat ini ia tengah berkutik di dapur Villa Keluarga Elvano. Sedangkan Elvano tengah keluar dari kamarnya menuju ke dapur dimana Rea berada.


"Ehm" dehem Elvano membuat Rea menoleh lalu berpaling dan melanjutkan aktifitasnya kembali.


"Buat apaan si?" Tanya Elvano penasaran.


"Dilarang kepo." Ucap Rea, sembari menuangkan adonannya kedalam cup kertas.


"Apaan si kepala batu." Ucap Elvano lalu berjalan mendekati Rea, karena Rea tak menjawab ia pun mencomot adonan kue yang belum di masukan kedalam oven.


"Kak El itu belum matang." Dengus Rea.


"Oh belum mateng, ya udah deh dilanjut ya kepala batu." Ucap Elvano lalu menepuk pelan kepala Rea sebelum ia keluar dari dapur.


Elvano yang merasa bosan pun keluar dari villa ia melihat sebuah mobil tengah berhenti di halaman villa miliknya itu. Ia membulatkan matanya saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.


"Hai brother." Sapa orang itu pada Elvano.


"Lo ngapain kesini ogeb." Ucap Elvano ketus kemudian ia pun duduk di kursi depan Villanya.


"Ya elah lo kak, gue kesini kan mau jemput lo." Ucap Arsalan yang duduk disebelahnya.


"Ngapain di jemput si. Bisa pulang sendiri juga." Ucap Elvano dengan mendengus kesal.


"Lo ini kak. Gak baik berdua-duaan belum muhrimnya." Ucap Arsalan.


"Lagak lo sok pinter." Cela Elvano lalu menjitak kepala Arsalan.


"Ogeb sakit." Keluh Arsalan sembari mengusap kepalanya.


"Bodo amat." Ucap Elvano lalu masuk kedalam villa yang diikuti oleh Arsalan dibelakangnya.


"Lho ada tamu." Ucap Rea yang melihat seseorang dibelakang Elvano.


"Bukan tamu dia, tapi setan." Ucap Elvano terkekeh.


"Gue setan lo kakaknya setan, berarti lo iblis." Ucap Arsalan Tertawa.


"Berani lo ya." Ucap Elvano lalu menjitak kepala adiknya itu.


"Ampun deh ampun." Ucap Arsalan.


"Em... Hai kak." Sapa Arsalan pada Rea.


"Hai." Sapa Rea kikuk.


"Ini adik gue Re." Ucap Elvano yang melihat ekspresi Rea.


"Oh" gumam Rea pelan.


"Arsalan kak." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Rea" Ucap Rea membalasnya.


"Buat apaan kak?" Tanya Arsalan yang menghampiri Rea di dapur.


"Mini Cheesecake Cupcakes." Ucap Rea tersenyum kaku.


"Wah pas banget si kak. Ini makanan kesukaanku." Ucap Arsalan tersenyum senang.


"Benarkah?" Ucap Rea sangat antusias.


"Heem kak, apa aku terlihat bohong?" Ucap Arsalan menaik turunkan alisnya.


"Keliatan banget lah boongnya." Ucap Elvano yang memutar bola matanya.


"Reseh deh lo kak." Ucap Arsalan yang malas meladeni Elvano.

__ADS_1


"Udah udah jangan ribut, mending kalian keruang tengah aja." Ucap Rea menengahi.


"Oke kakak." Jawab Arsalan lalu menarik tangan Elvano untuk keruang tengah.


Setelah Mini Cheesecake Cupcakes matang Rea meletakkannya keatas piring, ia pun menyusunnya kemudian membawanya keruang tengah.


"Tara" ucap Rea dengan riangnya.


"Wihhh wangi banget kak, pasti enak deh." Ucap Arsalan dengan penuh kegirangan.


"Enak apaan paling hambar." Ucap Elvano mulai sensi.


"Mmm... Enak banget kak." Pekik Arsalan saat menikmati cake buatan Rea.


"Pasti siapa dulu yang buat." Ucap Rea tersenyum.


"Dih sombong!" Ucap Elvano ketus.


"Gaklah. Siapa coba yang sombong, faktanya aja gimana. Iya gak athalla" Ucap Rea yang memang menyombongkan dirinya pada Elvano.


"He'em." Ucap Arsalan mengangguk sambil menikmati cake buatan Rea.


Elvano yang awalnya ingin mencoba namun karena gengsinya yang besar ia pun tidak jadi mengambilnya, itu memang kesalaannya saat mengatakan cake buatan tasya hambar padahal dilihat dari tampilan dan wanginya jelas itu enak. Nasi sudah menjadi bubur ia juga tak bisa menikmati cake buatan Rea yang terlihat menggoda itu.


"Kak keluar yuk jalan-jalan kepantai." Ajak Arsalan pada mereka.


"Ayo" Ucap Rea antusias.


"Males. Kalian pergi aja." Ucap Elvano


"Ya udah. Ayo kak."Ajak Arsalan lalu menarik lengan Rea.


Mereka pun berjalan kearah pantai dan meninggalkan Elvano sendiri, senyum seringai tercetak di bibir Elvano ia pun segera melahap habis cake buatan Rea.


"Tuh kan beneran enak sih." Ucap Elvano setelah menghabiskan cake itu.


Di pesisir pantai Rea dan Arsalan berjalan beriringan mereka menantikan senja yang sebentar lagi terlihat.


"Kak" panggil Arsalan.


"Ya" jawab Rea.


"Maaf kakak kalau gue lancang, tapi kalau kakak ada masalah jangan pernah lari karena itu gak akan menyelesaikan masalah kakak." Ucap Arsalan yang membuat langkah Rea terhenti sesaat.


"Memang suatu masalah itu harus dihadapi, tapi banyak hal yang perlu dipertimbangkan." Ucap Rea tanpa menoleh pada Arsalan.


"Nggak baik loh kalau masalah ini harus menunggu terlalu lama. Kakak juga punya masa depan yang harus kakak jalani, Kakak nggak boleh seperti ini kakak harus hadapi semuanya dengan tegas." Ucap Arsalan.


"Tapi-"


"Baiklah... baiklah... " Ucap Rea mengalah, bagaimanapun yang dikatakan Arsalan memang benar adanya.


"Arsa!!!" Teriak seseorang dibelakang mereka.


Sontak membuat keduanya menoleh kearah sumber suara tersebut, ia pun mendapati seorang wanita cantik tengah menekukkan wajahnya.


"Ayank." Panggil mesra Arsalan pada kekasihnya.


"Kamu  selingkuh ya sama cewek itu." Ucap cewek itu sambil menunjuk tasya dengan dagunya.


"Aku selingkuh, ya gak lah yank. Dia itu-"


"Boong, katanya mau ketemu kak Elvano malah berduaan sama cewek ini." Ucap cewek itu kekeh.


"Duh salah paham nih." Batin Rea.


"Ayank dengerin dulu." Ucap Arsalan yang masih berusaha membujuk kekasihnya.


"Apa yang harus aku dengerin huh." Bentaknya lumayan keras membuat mereka jadi pusat perhatian.


"Kamu tuh salah paham" Sela Rea.


"Gak usah ikut campur." Ucap cewek itu sinis.


"Apaan nih." Ucap Elvano yang menghampiri mereka.


"Kak Elvano!!!" Pekik cewek itu yang membuat bola matanya membulat sempurna. "Kakak disini juga?" Lanjutnya.


"Iya kenapa?" Tanya Elvano dengan tatapan menyelidik.


"Liat nih kak, Arsa... dia main-main dibelakangku sama tuh cewek." Ucap cewek itu dengan tatapan tak suka pada Rea.


"Main dibelakang?? Main belakang gimana maksudnya Aisya?" Tanya Elvano yang semakin binggung.


"Yank kamu tuh salah paham." Sela Arsalan yang berniat menjelaskan pada Aisya..


"Salah paham apanya si,,, buktinya nih ya... kamu kesini gak ngajak aku... eh gak taunya jalan sama cewek." Ucap Aisya ketus.


"Cewek?" Tanya Elvano pada Arsalan kemudian Arsalan pun memberi kode sebuah lirikan ke arah Rea.  Membuat Elvano langsung mengerti maksud dari perkataan Aisya.


"Tanya sendiri lah kak sama playboy cap karet itu." Ucap Aisya sedikit emosi.


"Ya ampun!!!" Pekik Elvano, dengan menepuk pelan kepalanya. "Jangan bilang cewek yang lo maksud cewek gue ini." Ucap Elvano lalu menarik pinggang Rea untuk mendekat padanya.


Membuat Rea memberikan tatapan tajam pada Elvano, sedangkan Aisya mengernyitkan dahinya lalu menatap mereka bergantian. "Eh pacarnya kakak... Bener yank?" Tanya Aisya pada Arsalan.


"I-iya" Jawab Arsalan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Apaan si lo." Bisik Rea pada Elvano.


"Udah nurut aja." Bisik Elvano balik.


"Maaf ya kak, aku Aisya." Ucap Aisya sedikit malu ia pun menggulurkan tangannya.


"Gak papa kok. Rea." Jawab Rea lalu menjabat tangan Aisya.


"Jalan yuk kak." Ajak Aisya lalu mengandeng tangan Rea hingga membuat tangan Elvano terlepas dari pinggang Rea.


"Lho yank aku kok ditinggal." Ucap Arsalan lalu mengikuti langkah Aisya dan Rea begitu pula Elvano yang mengekori mereka.


"Yank" Panggil Arsalan lalu menarik pinggang Aisya, membuat Aisya berbalik lalu menatap Arsalan.


"Kode keras tuh. Kita kesana aja yuk." Ajak Elvano lalu menarik lengan Rea.


"Duh main tarik-tarik mang dikira boneka apa." Ucap Rea yang berusaha melepas genggaman tangan Elvano.


"Kak kalian itu pacaran tapi kok gak mesra shi." Ucap Aisya.


Membuat Rea pun menghentikan aksinya ia pun mendekat kearah Elvano. "Mang kalau pacaran harus mesra?" Ucap Rea.


"Gak juga si kak." Ucap Aisya dengan sedikit malu.


Elvano pun melepas lengan Rea lalu Ia berpindah menggenggam tangan Rea, membuat Rea sedikit terkejut dan menatap Elvano penuh tanya. Namun Elvano memandang Rea dengan intens membuat kedua hati mereka merasakan sebuah perasaan nyaman dan damai.


Setelah puas melihat matahari tenggelam dengan cahaya orange yang menghiasi langit yang mengubah cahaya itu menjadi gelap namun dihiasi cahaya bintang dan bulan sabit. Mereka pun menuju kesebuah restoran dimana letak restoran itu tak jauh dari villa mereka.


Setelah makan malam bersama mereka kembali kevilla, Rea segera membersihkan tubuhnya setelah itu ia mengenakan baju hangatnya kemudian keluar kamar. Terlihat dua sejoli yang dimabuk asmara tengah bermesraan di ruang tamu membuat Rea putar haluan dan keluar villa lewat dapur.


Rea duduk disebuah gazebo yang menghadap kepantai, ia merenungi setiap kata yang terucap dari bibir Arsalan dan kata-kata yang diucapkan oleh Elvano. "Haruskah gue kembali" batin Rea.


Tanpa Rea sadari ada sepasang mata yang mengawasi gerak geriknya ia pun berjalan sangat pelan untuk menghampiri Rea. Ia mengerti apa yang Rea pikirkan sedikit banyak ia tahu setelah pulang dari restoran Arsalan juga bercerita padanya.


"Apa yang pikir hm?" Tanya Elvano yang sudah berada disisi Rea.


Membuat Rea sedikit terkejut namun ia tak akan memarahinya ia hanya menatap Elvano lalu menghela nafas pelan, ia menyandarikan tubuhnya di dinding gazebo.


"Gue mau pulang." Ucap Rea tanpa menoleh kearah Elvano.


"Bagus donk. Terus apa yang lo pikirin?" Tanya Elvano lalu duduk disebelah Rea.


"Gue cuma belum sanggup ketemu mereka." Ucap Rea seperti sebuah bisikan.


Elvano pun menggenggam tangan Rea, membuat sang pemilik tangan menatap Elvano. "Lo pasti bisa, gue yakin karena lo cewek yang kuat." Ucap Elvano dengan tulus.


Ada sedikit rasa hangat dalam hati Rea membuatnya sedikit lebih berani. Ia pun mengangguk samar membuat Elvano tersenyum lalu menepuk puncak kepala Rea.


Malam telah larut sinar mentari telah menampakkan cahayanya, Rea sedang sibuk kesana kemari ia membersihkan peralatan masak yang ia gunakan untuk membuat sarapan. Setelah ini mereka akan kembali ke jakarta, tak selamanya ia akan berlari dari masalah yang terjadi, mereka harus menyelesaikannya apa yang belum selesai.


"Harumnya kak." Pekik Aisya yang baru keluar dari kamar.


"Hehehe. Panggil yang lain gih kita sarapan." Ucap Rea yang terkekeh.


Aisya pun langsung memanggil Arsalan dan Elvano,  tak lama mereka berkumpul diruang makan untuk sarapan. Setelah selesai mereka segera berangkat ke bandara ngurah rai Denpasar.


Elvano selalu menggenggam tangan Rea selama perjalanan pasalnya Aisya selalu mengomentari jika jarak Rea dan Elvano sedikit berjauhan, atau terlihat tidak mesra. Jadi lebih baik mereka mencari cara teraman yaitu bergandengan tangan.


"Aisya memang cerewet gitu ya?" Tanya Rea yang duduknya bersebelah dengan  Elvano didalam pesawat.


"Banget. Apa lagi sampai Arsalan deket sama cewek bisa marah 7 hari 7 malem." Ucap Elvano terkekeh.


"What? Serius?" Ucap Rea tak percaya.


"Gak percaya? Tanya langsung sana." Ucap Elvano yang pura-pura ngambek ia pun langsung membuang wajahnya.


"Ya elah gitu aja ngambek." Ucap Rea memanyunkan bibirnya.


"Ya hab-" Ucapan Elvano terpotong saat melihat wajah lucu Rea yang manyun itu membuatnya menahan tawa.


"Hahahaha" Tawanya pecah seketika.


"Gak lucu." Jawab Rea ia pun semakin cemberut.


Cup


Elvano tiba-tiba mengecup pipi Rea membuatnya menatap tajam pada Elvano ia pun memalingkah wajahnya karena pipinya sangat hangat dan pasti sekarang sudah merah seperti tomat. Elvano yang menyadari tindakannya tadi pun langsung mengumpat dirinya pelan, ia merutuki kebodohannya karena mencium Rea sembarangan.


Suasananya pun semakin canggung hanya keheningan yang mereka rasakan. Hingga pesawat mendarat di bandara internasional soekarno-hatta.


Elvano pun mengantar Rea ke kediaman Rizal dimana ibunya Rea tinggal sekarang. Berulang kali Rea menghela nafas kasar namun ia berulangkali meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.


"Udah sampai. Ayo." Ajak Elvano.


Rea menatap sebentar kepada Elvano untuk meyakinkan hatinya, kemudian ia pun mengangguk samar. Setelah itu mereka turun terlihat Resia yang langsung membukakan pintunya dan menyambutnya.


Resia memeluk erat anaknya ia menghujaninya dengan kecupanb-kecupan ringan di wajah Rea. Membuat Rea hanya diam tanpa membalas pelukan erat Resia,  mereka pun masuk namun Elvano memilih pamit untuk kembali kerumahnya.


"Rea" panggil Rizal ayah dari Prilly yang menghampiri Rea dan memeluknya.


"Maaf sayang." Bisik Rizal pada Rea.


"Papa gak salah." Bisik Rea pelan.


"Lo!!" pekik seseorang dari balik punggung Rizal sehingga membuat mereka berbalik badan.


Tobe continued

__ADS_1


__ADS_2