
London
Seorang pria tengah memainkan ponselnya sesekali ia menghelai nafas karena orang yang ia hubungi tak dapat di telpon. Rasa khawatir dan rindu menjadi satu namun terkadang ada sebuah titik dimana ia merasakan bosan saat orang yang ia butuhkan tidak ada bersamanya.
"Rea kamu dimana si? Gak biasanya banget nomornya gak aktif." Gumam Teo dalam kegelisahan.
My fiance
Rea dimana kamu?
Sumpah ya gak lucu kamu gak ngabarin kakak seharian.
Kakak tau kamu ospek dan sudah pulang!
Edrea where are u!
"Tuh kan ceklist. Kemana si Rea ini, Masak belum pulang Ospek tapi gak mungkin lah. Di indonesia paling gak udah hampir jam 10 malem." Gumamnya mulai kesal.
"Kalau aku telpon nyokapnya jelas nanti mamanya kuatir kalau gak di telpon aku gak tau kabarnya, tapi nanti malah jadi ribet." Gumam Teo lagi.
Ia mengusap pelan wajahnya, karena sudah berada dalam kondisi yang kurang baik, Teo pun segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Di london saat ini sudah masuk pukul 4.00 sore, hari ini Teo memang pulang dari mengajar lebih awal karena jadwal mengajarnya tidak full sehingga saat ini ia bisa sedikit bersantai.
Teo segera pergi ketaman disekitar apartemennya, tak lupa ia mengenakan earphone yang ia sematkan di daun telinganya untuk mendengarkan musik kalem asal indonesia yang ia selalu putar.
Setibanya di taman ia memilih duduk di bawah pohon yang berada di pinggir taman, kaki ia luruskan matanya sedikit terpejam. Ia hanya merasakan banyak suara orang berbicara namun tak ia pedulikan ia pun menikmati sejuknya angin yang menerpa wajahnya.
"Teo" panggil seseorang yang duduk disebelah Teo.
Namun panggilan itu tidak di jawab Teo karena ia memang tidak dengar oleh suara musik yang ia dengar.
"Teo!!!" Teriak orang itu.
"Eh!... Ya." Jawab Teo langsung yang sedikit terkejut. Ia lalu menolehkan wajahnya pada orang yang memanggilnya, senyum terukir di bibirnya saat mendapati siapa orang yang memanggilnya.
"Ngapain si teriak-teriak." Ucap Teo dengan kekehannya.
"Keseeellll tau gak si di panggilin bukannya jawab malah diem aja kayak patung tau gak si." Ucapnya.
"Eh iya kah kau manggil aku dari tadi?" Tanya Teo
"Gak!... Aku manggil hantu." Ucapnya kesel.
"Hahaha... Iya-iya Maaf Pril" Ucap Teo tersenyum.
"Terserah lah." Jawab Prilly namun mendapat kekehan dari Teo.
"Seneng banget si ketawain aku" Ucap Prilly yang masih terlihat kesal.
"Habis lucu kamunya itu." Ucap Teo lalu mencubit pipi chubby Prilly.
"Sakit Matteo!!" Teriak Prilly kencang.
"Shhht... Ntar di kira aku ngapa-ngapain kamu." Bisiknya karena banyak orang yang melihat kearah mereka.
"Bodok amat." Jawab Prilly.
"Aduh ampun deh janji gak bakal gitu lagi." Ucap Teo dengan senyum manisnya.
"Janjimu palsu." Jawab Prilly.
"Ya udah kalau gak mau." Jawab Teo lalu memalingkan muka.
"Loh kok jadi kamu yang kesel si." Ucap Prilly dengan curiga.
"Gak kesel cuma gimana ya, andai kamu salah sama orang terus kamu udah minta maaf tapi orang itu tetap aja buat kamu kesel kamu harus gimana?" Tanya Teo yang sengaja kesel.
"Iya iya. Maaf Teo." Ucap Prilly.
"Ya udah jangang di bahas, bahas yang lain aja." Ucap Teo. "Tapi kok tumben sendiri, temen kamu mana?" Tanya Teo pada Prilly.
"Oh jesica, dia lagi hangout bareng kekasihnya jadi aku milih jalan-jalan aja ditaman. Terus aku malah lihat kamu yang duduk sendirian dan gitu wajah kamu juga kamu tekuk gini nih." Ucapnya lalu menirukan wajah Teo tadi.
"Eh mana ada di tekuk gitu." Bantah Teo yang merasa malu mimik wajahnya di tiru oleh Prilly.
"Adalah buktinya nih." Ucap Prilly yang kembali memperagakan.
"Itu mah cara cemberut kamu. Hahahah..." Ucap Teo dengan tawanya.
"Ya gak lah mana ada aku cemberut gitu. Kamu itu maksudnyaaa." Ucap Prilly dengan sedikit gemas.
"Iya deh iya. Terus kenapa gak ikut Jesica?" Tanya Teo menyerah.
"Gak lah ngapain juga ikut, yang ada jadi obat nyamuk aku." Ucapnya terkekeh.
"Ya udah gimana kalau kita jalan-jalan, soalnya bosen juga kalau cuma duduk-duduk gini doang." Ajak Teo yang berusaha membuat moodnya kembali membaik.
"Memang gak papa nih kita jalan bareng?" Tanyanya.
"Gak papa Pril, Gak ada yang marah juga kan santai aja." Ucap Teo kemudian berdiri dan diikuti oleh Prilly dibelakangnya.
"Pril jalan kok dibelakang si, sini nah" Ucap Teo yang menarik lengan Prilly tak lupa ia pun terkekeh melihat wajah Prilly.
Mereka pun akhirnya jalan beriringan, Teo sudah sedari tadi melepas pegangan tangannya dari lengan Priily, tak lupa senyum yang mengembang di bibir menghiasi wajah mereka.
__ADS_1
"Kita kemana?" Tanya Prilly.
"Nonton aja gimana? terus kita sekalian makan malam." Ucap Teo kemudian di beri anggukan oleh Prilly.
"Oke boleh." Jawab Prilly.
Mereka pun menuju parkiran apartemen dan segera menaiki mobil yang diberikan oleh pamannya Teo, supaya Teo dapat dengan mudah pergi kekampus atau mengunjungi pamannya selama ia di London.
Tak sampai 30 menit mereka tiba di WESTFIELD STRATFORD CITY yang merupakan pusat pembelanjaan terbesar di London. Setelah Teo memarkirkan mobilnya ia berjalan masuk kedalam mall beriringan dengan Prilly.
Mereka pun akhirnya langsung menuju ke vue cinemas karena film yang mereka pilih masih 1 jam lagi penayangannya sehingga ia mengajak Prilly untuk makan terlebih dahulu.
"Kita makan dimana nih?" Tanya Teo
"Mmm di McD aja deh." Ucap Prilly sambil menunjuk kearah McD.
"Oke" Ucap Teo kemudian masuk ke restoran tersebut.
"Pesen apa?" Tanya Teo.
"McChicken Sandwich, side salad, diet drink." Ucap Prilly tersenyum.
Teo pun memesan pesenan Prilly dan pesanannya kemudian ia membawa pesanan mereka ke meja yang sudah diduduki Prilly.
"Kamu diet?" Tanya Teo saat melihat pesanan Prilly.
"Iya" jawab Prilly malu.
"Kenapa diet si kamu tuh udah kecil ngapain mau diet segala." Ucap Teo sambil memperhatikan Prilly.
"Takut gak laku." Jawab Prilly yang langsung mendapat kekehan dari Teo.
"Gak laku apa gak laku." Ucap Teo yang menggoda Prilly.
"Gak lucu Te" ucap Prilly pura-pura cemberut.
"Mppftt... oke oke... Aku gak akan ketawa." Ucap Teo mencoba menahan tawanya namun wajah Prilly yang cemberut membuat Teo gemas lalu mencubit pipi Prilly.
"Teo sakit!!! Kebiasaan banget deh cubit-cubit pipi aku. Kalau pipiku kayak bakpao gimana coba." Ucap Prilly sambil mengusap pipinya.
"Yayaya... Kalau jadi bakpao tinggal di makan lah, Makanya jangan cemberut jadi kelihatan gemes dan pengen nyubit bawaannya." Ucap Teo kemudian melanjutkan makannya.
"Kalau di makan aku mana ada pipi, Dasar manusia jahil." Ucap Prilly.
"Iya iya gak jadi di makan pipinya biar gak ilang. Hehehe..." Ucap Teo cengegesan.
Tak terasa sudah hampir 1 jam mereka duduk di McD mereka pun segera menuju vue cinemas karena sebentar lagi film yang mereka pilih akan dimulai.
Prilly dan Teo duduk dibangku paling atas sendiri mereka memilih film Solo: A star wars story yang menceritakan tentang serangkaian petualangan yang berani di dalam dunia kejahatan yang gelap dan berbahaya, Han Solo bertemu dengan co-pilot masa depannya Chewbacca dan bertemu dengan seorang penjudi terkenal bernama Lando Calrissian, dalam sebuah perjalanan yang akan membuatnya menjadi salah satu pahlawan perang dalam dunia Star Wars.
Teo pun mengantar Prilly pulang keapartemennya yang ternyata mereka satu gedung. "Loh Pril kamu disini juga?" Tanya Teo tak percaya.
"Iya dong, makanya tadi aku bisa jalan-jalan ketaman dan bisa ketemu kamu." Ucap Prilly.
"Kenapa gak bilang coba kalau ternyata kita di apartemen yang sama." Ucap Teo penasaran.
"Orang kamu gak tanya." Ucap Prilly terkekeh.
"Oh gitu ya kamu harus bertanya dulu gitu." Ucap Teo dengan nada pura-pura sinis.
"Kan bener kamu gak tanya dan aku juga gak mungkin bilang lah." Ucap Prilly masih tertawa.
"Iya iya. ya udah turun yuk." Ajak Teo yang sudah keluar dari mobilnya dan di ikuti Prilly dari belakang.
"Aww" pekik Prilly yang kakinya tersandung batu membuatnya terjatuh.
"Kamu gak papa?" Tanya Teo yang menghampiri Prilly kemudian membantunya berdiri.
"Gak papa kok... aww" Ucap Prilly saat mencoba melangkahkan kakinya yang sakit. Salah satu kaki Prilly terkilir dan ada bekas luka saat ia tersandung batu tadi.
Tanpa meminta persetujuan kepada Prilly ia pun membuat tubuh Prilly melayang dalam Gendongannya, hal itu sontak membuat Prilly terkejut dan karena ia takut jatuh ia pun mengalungkan tangannya ke leher Teo supaya ia ada pegangan.
"Te" ucap Prilly pelan.
"Udah diem" jawab Teo kemudian menatap intens mata Prilly.
"Shit.. kenapa berdebar-debar gini si." Batin Teo.
"Ya allah maafkan hambamu ini. El maaf." Gumam Prilly dalam hati.
"Emm" gumam Prilly memyadarkan lamunan Teo membuatnya kikuk lalu membawa Prilly masuk kedalam gedung apartemen mereka.
"Lantai berapa?" Tanya Teo memecahkan keheningan diantara mereka.
"Lantai 15" ucap Prilly pelan.
Mereka pun masuk kedalam lift, hanya keheningan yang tercipta membuat suasanya awkward setelah sampai di lantai 15 mereka keluar lift Prilly pun menunjukan letak dimana kamarnya berada.
"Kebetulan atau memang aku yang gak tau ya kalau kamar kita ternyata berhadapan." Batin Teo.
Mereka pun masuk kedalam apartemen Prilly, ia segera mendudukan Prilly di sofa apartemennya. "Ada obat urut?" Tanya Teo.
"Ada dikotak P3K." Jawab Prilly.
__ADS_1
Teo pun mengambilnya lalu ia pun mulai memijat kaki Prilly, awalnya Prilly menolak di pijat oleh Teo ia sangat malu dan merasa tidak sopan, namun Teo tetap memaksakan kehendaknya. Ia hanya takut jika kakinya akan semakin parah, sebelum memijit ia membersihkan luka di kakinya setelah itu barulah Teo mulai memijit pelan.
"Makasih." Ucap Prilly tersenyum.
"Sama-sama, ya udah aku balik kekamar dulu ya. Hati-hati kalau butuh apa-apa hubungi aja." jawab Teo yang tanpa sadar mengusap lembut kepala Prilly.
Prilly pun mengangguk kemudian Teo pun keluar dari apartemen. Setelah mengantar Teo keluar Prilly segera masuk kekamarnya ia mengganti pakaiannya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Tak lupa sebuah boneka doraemon yang menemaninya saat ia terlelap pun tak luput dari dekapannya.
Indonesia
Seorang remaja yang tengah berjalan keluar dari ruangan ospek panitia tersenyum karena ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia tak banyak berdebat dengan para komdis seperti biasanya. Karena rasa letih yang ia rasakan sudah menyiksanya.
"Van lo langsung balik atau mau ikut kita jalan?" Tanya Bryan yang berjalan bersama Elvano menuju parkiran kampus.
"Sorry gue balik Bry soalnya nyokap nitip kue di toko langganan." Ucap Elvano penuh penyesalan.
"Ok gak papa Van santai aja, gue sama anak-anak duluan kalau gitu." Ucap Bryan kemudian memasuki mobilnya.
"Oke Hati-hati Bry." Ucap Elvano.
"Duluan Van." Ucap Sean yang melambaikan tangannya.
"Yoi. Salam buat bini gue Arga." Ucap Elvano terkekeh saat mengatakan sahabatnya yang beda kampus itu bininya.
Sean hanya mengangkat jempolnya, Arga merupakan sahabat Elvano waktu SMA ia memilih kuliah di Bandung, karena baik Elvano sama Arga sama-sama di tinggal oleh kekasihnya. Bukan ditinggal dalam arti putus tapi ditinggal untuk menempuh pendidikan dinegeri orang.
Arga selalu kejakarta setiap 2 minggu sekali kadang 1 bulan sekali tiap weekend, ia meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan para sahabatnya dan keluarganya. Seperti sekarang ini namun Elvano harus absen karena ini permintaan dari Venna yang tidak bisa di bantah olehnya.
Elvano menaiki mobilnya yang berada di ujung setelah itu ia keluar dari gerbang kampusnya namun baru 50 meter ia melihat seorang gadis yang mengenakan atribut maba tengah berjalan sedikit lamban dengan langkah kaki yang sempoyongan. Akan tetapi saat Elvano melewatinya gadis itu ia melihat gadis itu pun terjatuh di trotoar.
Cittt
Elvano menghentikan mobilnya ia pun langsung menolong gadis itu dan membawanya masuk kedalam mobil. Entah dorongan dari mana Elvano menolong gadis itu bisa saja ia tinggalkan gadis itu di jalanan namun hati kecilnya berteriak untuk menolongnya. Akhirnya tak butuh waktu lama Elvano pun tiba di klinik yang berada di sebelah kampusnya.
"Gimana keadaannya dok?" Tanya Elvano pada dokter yang memeriksa gadis itu.
"Pasien hanya kecapekan. Nanti setelah pasien siuman, tolong berikan obat dan vitamin yang saya berikan." Ucap dokter itu.
"Baik dok." Ucap Verrel kemudian menerima resep dari dokter dan membelinya di apotik.
Sudah hampir 2 jam lebih gadis itu belum sadarkan diri, hal itu membuat Elvano menggerang frustasi. Tak lama ponsel Elvano berbunyi ibunya meneleponnya. Elvano pun keluar ruangan kemudian mengangkat telepon dari ibunya.
"Assalammualaikum mah." Ucap Elvano.
"Waalaikumsalam mas kenapa belum pulang?" Tanya Venna dengan nada cemas.
"Bentar lagi mah. Nanti kalau udah dirumah aku jelasin." Ucap Elvano membuat Venna disana menghelai nafas pelan.
"Iya udah hati-hati mas." Ucap Venna kemudian mematikan ponselnya.
Elvano pun masuk kedalam ruangan dimana gadis itu berada terlihat dia mulai mengerjapkan matanya pelan.
"Alhmdulilah sadar juga." Gumam Elvano lalu mendekati gadis itu.
"Gue dimana?" Ucapnya saat melihat Elvano disebelahnya.
"Klinik, lo pingsan tadi." Ucap Elvano sambil berdiri disebelah bankar gadis itu.
"Nama lo?" Tanya Elvano to the point.
"Rea kak." Ucap Rea dengan sedikit canggung.
"Mau pulang?" Tanya Elvano membuat Rea menatapnya kemudian mengangguk.
"Bisa jalan kan?" Tanya Elvano lagi membuat Rea sedikit tak yakin namun tetap mengangguk.
Rea pun bangun dari tidurnya ia mendudukan tubuhnya lalu ia pun turun dari ranjangnya, Elvano pun memasukkan obat yang ia beli diapotik tadi ke dalam tas Rea. Baru beberapa langkah tubuhnya oleng yang membuatnya jatuh terduduk dilantai. Elvano pun mengernyitkan dahinya sambil menghelai nafas pelan.
"Nyusahin banget si. NAIK!" Ucap Elvano yang sudah berjongkok didepan Rea.
Rea pun menurut dan menaiki punggung Elvano, ia tau kalau Rea menyusahkan namun ia tak ingin berdebat lagi. Setelah Rea berada digendongan Elvano, ia pun segera membawanya keparkiran klinik dimana mobilnya berada.
"Inget obat itu di minum jangan di buat pajangan." Ucap Elvano.
"Iyah kak. Makasih." Ucap Rea yang memutar bola matanya malas.
"Jangan iya-iya aja, tapi di laksanain." Ucap Elvano.
"Iya Kak (Bawel). Ucap Rea dengan mengatakan Elvano Bawel sangat pelan sekali.
"Alamat lo." Tanya Elvano setelah mereka berdua sudah berada didalam mobil.
Rea pun memberitahu alamat kosannya namun matanya menyipit saat melihat jam yang berada di mobil Elvano.
"Jam 11" Ucap Rea tercaya. "Jam ini mati kan gak mungkin jam 11 udahan?" Tanya Rea.
"Itu jam asli bukan mati. Kenapa sih?" Tanya Elvano terlihat binggung.
"Mampus gue." Ucap Rea sambil menepuk jidatnya pelan.
"Kenapa sih lo, aneh banget deh." Ucap Elvano mengernyitkan dahinya saat Rea menepuk jidatnya.
"Gue gak bisa balik kekosan, Aaa! kosan gue jam 10 udah tutup." Ucap Rea mengerang frustasi.
__ADS_1
"Oh tutup." Jawab Elvano belum sadar namun ia langsung menghentikan mobilnya mendadak. "Apa tutup!" Teriak Elvano dengan membulatkan matanya.
Tobe continued