
"Ra makan dulu." Nana menyodorkan sekotak nasi beserta lauknya pada Fira.
Karena merasa lapar dan lemas Fira menerima dan memakan makanan pemberian Nana dengan lahap.
"Minum susu juga Ra, kamu harus balikin stamina kamu."
"Makasih Na." Ucap Fira memeluk Nana.
"Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu Ra dan maaf untuk kejadian di cafe tadi."
"Hus nggak boleh nangis, lupakan yang tadi ya, aku tau kok kamu begitu menyayangi kakakmu."
Mereka kembali berpelukan, tanpa mereka sadari seorang suster datang menghampiri mereka.
"Permisi, disini ada yang namanya Safira? Sedari tadi pasien memanggil namanya terus." Ucap suster yang membuat kedua insan itu terkejut senang bukan main.
"Apa pasien udah sadar sus?" Tanya Nana pada suster yang dijawab dengan anggukan.
"Masuklah dulu Ra, kak Adit membutuhkanmu."
Fira berjalan masuk ke ruangan ICU. Langkahnya gontai mendekat ke arah kak Adit, telinganya merinding mendengar suara mengerikan yang keluar dari layar monitor yang menunjukkan garis naik turun layaknya gelombang air laut, siapapun yang mendengarnya pasti akan ngeri.
Air matanya tak pernah absen, turun begitu saja, padahal sedari tadi ia sudah tak mengeluarkannya.
Digenggamnya tangan Kak Adit yang tidak terpasang infus.
"Kak Adit." Sapanya lirih.
Keadaan kak Adit memang sudah berangsur membaik tapi kabel-kabel masih tertempel di tubuhnya.
Sang pemilik tangan menoleh merasakan ada yang menggenggam dan memanggil namanya.
"Safira." Ucapnya lirih.
"Maaf." Safira menundukkan pandangannya ke tangan yang ia genggam, mengeluarkan semua air matanya, karena dia, seseorang harus berada dalam posisi seperti ini, karena dia orang celaka.
"Jangan nangis Ra." Ucapnya begitu lirih tapi masih bisa terdengar oleh Fira.
Fira tersenyum pada Adit untuk menutupi kesedihannya.
"Apa masih sakit kak?"
Adit menggeleng.
'Aku rela sakit terus menerus jika dengan sakit kamu bisa sedekat dan seperhatian ini.'
Suster dan dokter datang menghampiri, mereka mulai melepas alat-alat yang mengerikan di tubuh kak Adit.
"Karena kondisi pak Adit mulai membaik, jadi alat-alatnya kami lepas ya pak dan jika besok pagi sudah banyak perubahan pak Adit bisa dipindahkan ke ruang rawat."
Fira menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
Kini Adit bisa leluasa berbicara tanpa adanya selang oksigen lagi.
"Jangan nangis Ra, kakak nggak papa."
"Kenapa harus kak Adit yang seperti ini, kenapa nggak Fira aja yang kaya gini."
Adit mengangkat tangannya mendekati wajah Fira, menghapus air mata perempuan itu dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Hus Fira nggak boleh ngomong gitu."
Seorang perempuan dari luar masuk ke ruang ICU dengan sedikit berlari dan menghambur memeluk pasien secara tiba-tiba.
"Ahhh." Rintih pasien itu karena mendapat serangan tiba-tiba.
"Apa masih sakit kak? Nana panggilkan dokter ya?"
"Tidak apa Na,kakak hanya kaget."
"Kak,Nana takut."
"Kenapa takut, disini tidak ada setan kok."
"Ih kakak,"
"Na bilang pada sahabatmu, katakan kakakmu sudah tidak apa-apa, mengapa dia terus mengeluarkan air mata, kakak kembali sakit jika melihatnya seperti itu."
Fira tidak menggubris ucapan Adit ia masih dengan setianya menggenggam tangan lelaki itu.
"Nana tidak begitu ya kak, Fira terlihat pucat karena habis mendonorkan darahnya pada kak Adit." Ucap Nana menjelaskan.
"Pantas saja Na, kak Adit seperti merasakan hal lain yang sungguh luar biasa di dalam tubuh kakak, kakak jadi punya kekuatan besar untuk sembuh."
Tepat pukul dua pagi, suster memindahkan Adit ke ruang rawat, Nana dan Fira mengikutinya dari belakang. Kini di ruangan itu hanya ada tiga orang.
"Tidurlah Ra, lihat sahabatmu sudah ke alam mimpinya." Fira menoleh ke arah Nana yang memang sudah mulai terlelap di sofa.
"Kak Adit tidur dulu, kak Adit harus banyak istirahat." Ucap Fira tersenyum.
Adit yang mendengar ucapan Fira akhirnya memilih tidur lebih dahulu, ia memejamkan matanya, sebenarnya ia tidak benar-benar tidur.
"Maafin aku Kak, Ini semua Fira penyebabnya. Maafkan Fira juga yang belum bisa menyerahkan hati Fira untuk kak Adit yang begitu tulus mencintai Fira." Lagi-lagi air mata keluar dari mata Fira, Adit yang mendengar ucapan Fira menjadi terharu.
Fira mulai tertidur dengan posisi duduk, kepalanya ia sandarkan di pinggiran ranjang. Ia benar-benar terlelap dengan posisi itu.
Adit mulai membuka mata dan mendapati Safira yang sudah tertidur, dielusnya pucuk kerudung Fira dengan lembut.
"Bukan salahmu Ra, aku tau kamu punya masa lalu, dan kamu belum bisa berdamai dengan masa lalumu itu." Ucap Adit lirih.
Jam sudah menunjukkan angka 4, Nana terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah brangkar. Ia terkejut saat mendapati Fira tidur dengan posisi duduk.
"Permisi, sarapan pagi untuk pasien." Fira menerima jatah sarapan Adit dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Kak Adit makan ya, Fira suapin." Ucap Fira yang dijawab anggukan oleh Adit.
"Nana mana Ra?"
"Nana pulang kerumah untuk mengambil pakaian dan sekalian mau menjemput mama sama papanya kak Adit di bandara."
Adit dengan lahapnya menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Fira.
Krucuukkkk
"Ra, kamu belum makan?" Tanya Adit karena ia tahu suara perut keroncongan itu milik Fira.
"Habis ini Fira makan kak." Jawab Fira menahan rasa malunya.
Adit mengambil alih sendok yang ada ditangan Fira, ia menyodorkannya didepan mulut Fira.
"Ini sarapan Kak Adit, Kak Adit harus habiskan."
"Kak Adit udah kenyang, sekarang giliran Fira yang makan. Apa kamu tak mau makan dengan sendok bekas gigitanku?" Tanya Adit, Fira menggeleng dan membuka mulutnya menerima suapan dari kak Adit tanpa merasa jijik.
"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Fira dan Adit.
"Ma pa." Ternyata yang datang adalah orang tua dari kak Adit.
Sebenarnya sudah sedari tadi mereka di depan ruangan Adit, mereka bahkan melihat ketelatenan Fira dalam menyuapi Adit, mereka mengira Fira adalah pacar Adit.
"Dasar kamu ya, belum lulus bawa mobilnya." Ucap Papa kak Adit pura-pura memarahi.
Fira mencium tangan kedua orang tersebut.
"Namanya siapa nak?"
"Fira tante."
"Baru kali ini kamu pinter cari perempuan Dit." Papa Adit merasa takjub melihat Fira di depannya.
Fira tidak memberikan penjelasan apapun pada orang tuanya Adit begitupun dengan Adit.
Setelah mengobrol lama, Fira ijin akan pulang karena sedari kemaren ia belum berganti pakaian. Adit dengan berat hati mengijinkan Fira pulang.
"Nanti Fira datang lagi kak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam wr wb."
"Dit kapan mau dilamar, jangan sampai direbut orang lo."
Tanya papa Adit yang disusul dengan cubitan keras mama pada lengan papa.
"Anak lagi kayak gini malah bercanda mulu."
__ADS_1
Adit yang melihat kelakuan kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum.