
Malam hari tiba, suasana di rumah Adit begitu hangat, momen yang sangat langka dan jarang mereka lakukan.
Makan malam bersama, terlihat lengkap dan harmonis, ada seorang mama, papa, dan kedua anaknya.
Mereka makan dengan lahap, selama mama berada dirumah, pelayan dilarang untuk masak, mama yang mengambil alih, sementara bersih-bersih tetap dilakukan pelayan.
"Coba aja tiap hari gini, pasti Nana senang deh ma pah." Ujar Nana di akhir acara makan.
"Sabar ya nak, besok kalau mama sama papa udah nemuin orang yang bisa diandalkan di masing-masing cabang, papa sama Mama pasti akan tinggal bersama kalian."
"Mama tadi buat pudding Lo, pas banget untuk makanan penutup."
Mama menyajikan puding di lambaran kecil, menyodorkan pada suami dan anak-anaknya.
"Oh iya Dit, gimana dengan Nayla?"
Uhuuk
Adit terbatuk mendengar pertanyaan papa, pasalnya papa tidak memposisikan pertanyaan di waktu yang tepat, disini masih ada Nana.
"Nayla, siapa Nayla pa?"
"Sudahlah Dit, Nana juga udah dewasa cepat atau lambat pasti akan tau."
"Nayla adalah anak teman papa, papa berniat mengenalkan dia dengan kakakmu Na."
Nana menatap Adit menunggu jawaban dari mulut kakaknya itu.
"Adit belum cari tau pa, mungkin besok Adit akan cari tau."
"Kak,..."
"Kamu tidak perlu repot-repot mencari tau tentangnya Dit, papa sama om Hendra udah siapin acara lunch buat kalian, kalian bisa saling kenal besok."
"Apa tidak terlalu cepat Pa?"
"Bukannya lebih cepat lebih baik kan?"
"Baiklah Pa."
Setelah acara makan malam selesai, semuanya bubar ke kamar masing-masing, sementara kedua orang tua berpindah ke ruang keluarga, menonton tv untuk menghibur diri.
Adit berjalan ke kamarnya, merebahkan diri, memejamkan matanya seperti memikirkan sesuatu.
"Kak Adit."
"Ya Allah Na, ketuk pintu dulu kenapa si? Bikin kaget aja."
"Kak Adit utang penjelasan sama Nana."
"Utang apa?"
"Itu tadi yang papa omongin, Kak Adit nggak serius kan?"
"Hmm."
"Kak jawab Nana, jangan bikin Nana penasaran, Kak Adit akan tolak kan."
"Kamu tau kan, Kakak nggak bisa nolak permintaan papa?"
"Ih kak Adit, gimana dengan Fira, Fira....." Ucapan Nana menggantung membuat Adit mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Fira kenapa?" Tanya Adit dengan ekspresi datar.
"Gimana dengan Fira, kak Adit udah nyerah gitu buat Fira?"
"Entahlah Na, Kak Adit nggak akan maksa Fira."
"Ih kak Adit masa nyerah gitu aja si."
"Udah malam Na tidur sana, anak kecil nggak baik tidur kemalaman."
"Nana udah besar kak Adit."
Adit merasa kesal dengan pertanyaan yang Nana lontarkan, semacam wartawan saja, Adit menggiring tubuh Nana untuk keluar dari kamarnya, ia sedikit mendorong tubuh kecil adeknya, dan akhirnya berhasil mengeluarkan makhluk dengan ribuan pertanyaan. Adit mengunci pintunya agar Nana tidak kembali masuk lagi.
"Kak Adit jahat ihhh."
Nana menjadi sangat bimbang disatu sisi Nana sudah berjanji pada Fira bahwa ia tak akan menceritakan hal itu pada Adit, tapi disi lain Nana juga bingung akankah ia membawa kabar ini pada Nana.
Jika saja ia tidak terlanjur berjanji pada Fira, mungkin saja Nana sudah mengatakan pada Kak Adit, sebelum semuanya terlambat.
Arghhhh
'Sudahlah, biarkan mereka menjalani urusan mereka masing-masing, kenapa juga aku yang pusing.'
Nyatanya Nana tetap kepikiran tidurnya pun tidak nyenyak, ia bingung harus bagaimana.
~
Matahari sudah memunculkan senyumnya, Warna jingganya begitu menyeruak, siapapun mata yang memandang pasti akan terpikat.
Gadis cantik dengan balutan tunik dan celananya duduk di meja riasnya, memoleskan bedak tipis dan lipstik ke bibirnya.
"Ma Fira berangkat ya, nggak sempat sarapan."
"Siap ma."
Fira pergi ke kampus dengan ojek online, setelah sampai kampus ia segera masuk ke kelasnya.
Hari ini kelas Fira mendapatkan tugas kelompok, Fira sekelompk dengan Rista, Raka, Rizki dan Rena.
"Nanti siang ngerjain di cafe gimana?" Tanya Rista antusias.
"Kenapa nggak di kampus aja si." Jawab Fira.
"Yah nggak asih Lo Ra, kan sekalian kita makan-makan di cafe." Timpal Raka.
"Iya Ra, sekali-kali, kita ke cafe milik papaku saja." Rizki menambahkan.
"Wah ide bagus, siapa tau dapat gratisan." Tambah Rena antusias.
"Eitsss kalian mau bikin aku bangkrut, no no no."
"Hmm karena kalian semua 4R lawan 1F, Fira terpaksa ngikut kalian."
"Hahah, oiya ya nggak sadar kalau hanya Fira yang pake F semuanya pake R."
"Lebih tepatnya S ya, Safira Natasya, karena huruf S jatuh setelah huruf R ya ginilah nasibku."
Setelah berdebat agak lama, akhirnya Fira mengikuti kemauan tim kelompoknya, semuanya pergi ke cafe milik Rizki dengan menumpang di mobil Raka.
Sesampainya mereka disana, mereka langsung duduk di meja yang telah dipesan oleh Rizki.
__ADS_1
~
"Dit kok belum siap-siap si, kan bentar lagi waktu makan siang."
"Adit udah mandi kok ma, tinggal ganti terus otw."
"Jangan buat Nayla menunggu Lo Dit."
"Siap mamaku sayang, Adit siap-siap sekarang." Ucap Adit mencium pipi sang mama.
Adit telah sampai di cafe tempat ia akan bertemu dengan Nayla.
Ia melirik kesana kesini untuk mencari nomor meja yang telah dipesan oleh papanya.
Adit melihat di meja tersebut sudah ada seorang perempuan yang tengah membelakanginya, rambutnya digerai pakaiannya tidak terbuka dan cukup sopan. Bukan seperti gadis pada jaman sekarang umumnya.
Adit melangkah menuju ke arah Nayla, seketika Nayla menatap seseorang yang tengah berdiri di depannya.
"Kamu." Ucap keduanya bersamaan.
"Kamu Adit?" Tanya Nayla.
Adit hanya mengangguk dan menanyakan hal yang serupa.
"Dan kamu Nayla?"
"Astaghfirullah kenapa orangnya kamu si."
"Ya mana aku tau, aku hanya korban disini."
"Korban apanya yang korban, aku yang jadi korban ketidakmanusiaanmu."
"Hahaha, Jadi kamu masih nginget-nginget kejadian tempo hari yang lalu."
"Jelaslah, aku dipermalukan olehmu, huh kalau aku tau Adit yang dimaksud adalah kamu, sudah kulaporkan kamu ke papaku."
"Eits santai dong, lagian kemaren aku hanya iseng kok."
"Awas aja kalau kamu macam-macam lagi denganku, "
"Mau apa kamu? mau laporin ke papamu, asal kamu tau ya persahabatan papamu dan papaku itu sangat dekat dan kerjasama mereka juga sangat besar jadi jangan bawa-bawa masalah kita pada mereka."
"Dasar, suka ngancam."
"Kayaknya nggak baik kalau kita bertengkar terus, mulai sekarang kita baikan ok? Kita mulai perkenalan dari awal, anggap aja kita belum pernah ketemu sebelum ini."
"Ada syaratnya?"
"Dasar perempuan, dendam nggak baik, nggak boleh bawa perasaan disini, nanti kalau kamu suka sama saya nah baru tau."
"Huh pdnya."
"Apa syaratnya?"
"Kamu harus nurutin semua kemauanku selama tiga hari."
"Apa? Tidak ma......"
__ADS_1
"Jika tidak mau, aku akan ngomong ke papamu soal kejadian kemaren, gimana." Ancam Nayla pada Adit.
"Ok ok aku turutin kemaunmu."