
Adit mengejar Fira yang berlari ke arah dapur sontak semua orang terkejut. Tante Sarah menyusul keduanya, sementara yang lainnya disuruh diam di teras.
"Hoeek Hoeek Hoeek." Fira memuntahkan makanan yang baru saja dimakan, perutnya terasa perih.
Adit menghampiri Fira dan membantu Fira memijat tengkuknya agar Fira merasa lebih lega.
Fira yang sudah kehabisan tenaga menjadi lemah tak berdaya, tubuhnya sempoyongan.
Adit membawa tubuh Fira ke gendongannya dan menidurkan di Sofa, Tante Sarah semakin cemas pada keadaan Fira.
"Ra kamu nggak papa?"
"Nggak papa kok kak, hanya saja perut Fira nggak tahan sama yang asam-asam."
"Kok nggak bilang nak, kalau tau kan kamu nggak usah ikut lutisan."
"Nggak papa kok Tan, cuman agak perih."
Fira diberi minuman ramuan anti nyeri untuk meredakan nyerinya, awalnya Fira menolak tapi Adit memaksanya agar tubuhnya tidak lemas.
Karena hari semakin sore dan keadaan Fira juga sudah membaik, Adit memutuskan untuk pamit pulang.
"Hati-hati bawa mobilnya lho Dit, Kalau capek istirahat sejenak, jangan nyetir dalam keadaan ngantuk, inget kamu bawa Nana sama Fira."
"Siap Tan."
"Balik sini harus sudah halal ya." Goda Lena pada Adit.
"Ditunggu undangannya Len, kamu orang pertama yang akan aku beritahu sesuai kesepakatan kita dulu."
Ditengah perjalanan ponsel Fira tak henti-hentinya berbunyi, For yang tertidur pun terganggu dan akhirnya bangun untuk mengecek ponselnya.
Ada panggilan berulang kali dari kak Rama dan mama, Fira menjadi khawatir. Fira menelpon balik mamanya untuk menanyakan kabar.
"Hallo sayang, akhirnya kamu bisa dihubungi."
"Ada apa ma? Mama ok kan?"
"Mama ok Ra, keponakan barumu sudah lahir Ra, laki-laki. Dia mirip Rama kecil uhh tampan banget Ra."
"Benarkah mah, Fira lagi otw pulang ma, sampai sana Fira langsung kerumah sakit, di rumah sakit mana ma?"
Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Fira, mama masuk lagi keruangan Dinda.
"Uhh cucu oma haus ya, minumnya lahap banget." Ucap mama yang melihat cucunya minum ASI begitu lahap.
"Iya Oma, dedek haus."Jawab Dinda menirukan gaya bicara anak kecil.
"Fira udah dikasih tau ma?"
"Sudah Din, dia udah nggak sabar pingin ketemu ponakannya."
__ADS_1
"Mas Rama mana mah?"
"Emangnya dia nggak bilang sama kamu?"
"Enggak ma."Jawabnya dengan wajah sedikit lesu.
"Dasar tu anak satu, udah jadi ayah masih aja keluyuran."
oeek oeek oeekk
"Sayang, sayangnya bunda nggak boleh nangis ya, kangen ayah ya bentar lagi ayah datang kok."
"Assalamu'alaikum."
Pintu terbuka lebar dan masuklah rombongan keluarga Dinda yang tak disangka-sangka oleh Dinda, Dinda belum sempat memberi kabar pada kedua orang tuanya itu, tapi mungkin suaminya tau apa yang Dinda butuh.
"Ibuuu Bapakk." Kedua orang tua itu mendekat ke arah putri sulungnya, memeluk serta menciumi pucuk kepalanya.
"Liat pak, kita sudah jadi kakek nenek."
"Iya Bu, kira sudah punya cucu."
"Ibu mau gendong?"
Dengan senang hati wanita paruh baya itu mengambil alih bayi mungil itu, menimang-nimang dan menciumi dengan gemas.
"Mbak hebat, selamat ya mbak." Itu adalah Damar adeknya Dinda.
"Pasti dong mbak, Damar juga mau liat ponakan Damar."
"Siapa yang memberi tahu kalian."
"Siapa lagi kalau bukan suamimu itu mbak, kami dihubungi dan langsung disuruh berangkat kesini."
"Ya ampun mas, makasih sayang."
Rama mendekat ke arah Dinda, memeluknya dengan erat, kebahagian istrinya adalah kebahagiannya juga, ia tahu Dinda butuh seorang ibu walaupun disini juga ada mertuanya tapi pasti seorang anak perempuan menginginkan ibu kandungnya menemaninya disaat melahirkan anaknya.
"Ini tidak lebih dari pengorbananmu mengandung sampai melahirkannya yang."
"Rasa sakit dan lelah itu seketika hilang saat melihat wajah anak kita mas,semuanya melebur menjadi bahagia, terimakasih telah sabar menemaniku selama ini tanpa mengeluh sedikitpun."
"Udah pelukannya mbak, itu anaknya rewel mau minta ASI kayaknya."
Mereka yang menyadari bahwa disini banyak orangpun melepas pelukannya, Rama mengambil alih bayi kecilnya dan memberikannya dipangkuan Dinda untuk diberi ASI.
Dinda meneteskan air matanya, ia sangat bahagia malaikat kecil telah hadir di kehidupannya, dia juga sangat bahagia karena saat ini orang-orang yang disayanginya hadir menemani dirinya.
"Jangan nangis, Mas hanya mau lihat senyummu itu."
"Ini air mata bahagia mas, betapa bahagianya Dinda bisa memiliki mas."
__ADS_1
"Mas juga bahagia, bahagia bisa memiliki kalian berdua, perjalanan kita masih panjang yang, kita harus tetap berjuang untuk putra kecil kita."
Sementara insan-insan yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum bahagia, ibu dari Dinda tak henti-hentinya mengeluarkan air mata kebahagiaan, putri kecilnya hidup dengan bahagia tanpa kekurangan satupun, memiliki suami yang sangat menyayanginya, mertua yang juga sangat menyayanginya, sungguh kehidupannya berbanding terbalik dengan dirinya dulu, ia sangat bahagia melihat putrinya bahagia.
Rama yang menyadari ibu mertuanya menangis mendekat dan memeluknya.
"Ibu jangan menangis, maafkan Rama telah membuat Dinda kesakitan melahirkan anak Rama."
"Bukan karena itu ibu menangis nak, ibu bahagia anak ibu bisa hidup bahagia, terimakasih kamu telah menjaga amanah terindah yang Tuhan berikan pada kami, kamu menjaganya dengan sangat baik, kamu memberikan kebahagian padanya melebihi kebahagiaan yang telah kami berikan padanya, kamu berikan dia kecukupan yang dulunya kami tidak bisa memenuhinya, terimakasih nak, terimakasih menantu."
"Ibuuu,"
"Sudah jangan menangis, kita bukan bayi lagi seperti anakmu itu." Ibu melepas pelukan menantunya dan beralih memeluk Dinda.
"Ibu sama yang lainnya nginap di rumah mama ya untuk beberapa hari."
"Tidak " Suara Mama mengagetkan semuanya.
"Tidak untuk beberapa hari, Keluargamu bisa menginap dirumah mama menemanimu selama yang kamu inginkan."
"Terimaksih ma." Mama memeluk menantunya itu dengan penuh kasih sayang, Dinda merasa beruntung mempunyai ibu dan mama yang sangat menyayanginya.
"Assalamu'alaikum."Pintu kembali terbuka dan munculah perempuan anggun mengabaikan pashmina hitamnya, ya itu Safira bersama Adit.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semua orang yang ada disana dengan satu pasang mata menjawabnya tanpa mengalihkan pandangan matanya pada gadis berhijab itu.
"Uhh ponakan aunti, sini aunti cium, uhhh gemas deh."
"Berisik dek, dedek bayinya lagi bubuk tu." Tegur Rama pada Fira.
"Apaan si kak, mbak Dinda aja nggak sewot kok."
"Aunti mau gendong?"Tanya Sirna yang melihat mata Fira berbinar-binar tak berkedip memandang malaikat kecilnya itu
"Bo- - - ."
"Belum waktunya yang, nanti salah gendong dianya." Sanggah Rama yang tau jika Fira belum bisa menggendong bayi.
"Uhh kakak nyebelin."
Saat masuk keuangan Dinda, Fira asal nyelonong saja tanpa memperhatikan orang-orang disekitar, ia lupa menyalami orang-orang Yang ada disana, ia juga melupakan sosok Adit yang entah dimana.
"Ibu sama bapak sudah lama?"
"Bekum nak, baru aja, Adeknya Rama makin cantik aja ya, kayaknya kemaren terkahir ketemu masih kecil sekarang sudah besar sudah bisa dandan lagi."
"Ih ibu jangan bikin Fira malu dong."
"Benar kata ibu nak, kamu makin cantik dan dewasa." Suara bapak tak mau kalah.
"Dewasa apanya pak, kelakuannya masih kaya anak kecil gitu." Sambung mama menjawab ucapan sang besan.
__ADS_1