Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Arti Jawabanmu


__ADS_3

"Ya Allah, mas Irsyad ternyata bisa so sweet juga ya, bagus mas kata-katanya, cincinnya juga bagus, pasti terlihat cantik kalau dipakai sama Rania."


Fira sudah tau rencana awal Isryad yang akan melamar Rania dekat-dekat ini.


"Tapi Ra, apa ini nggak terlalu cepat ya?"Keraguan pun datang menghampiri raga dan jiwa seorang Irsyad.


"Enggaklah mas, mas Irsyad sama Rania itu udah termasuk lama lo kenalnya, bahkan jauh sebelum aku kerja disini kan." Fira kembali meyakinkan Irsyad yang mulai ragu dengan apa yang akan ia jalani.


"Cuma takut aja Ra, kalau nanti tiba-tiba aku nglamar dia, terus di tolak. Akhirnya malah ngrusak pertemanan kita." Irsyad semakin terlihat tak yakin dengan dirinya.


"Bismillah, nanti aku bantuin biar mas Irsyad bisa bikin acara lamaran yang buat Rania terkesan."


"Makasih ya Ra, malah jadi ngrepotin" Irsyad kembali mengumpulkan semangatnya, iapun sedikit tertawa untuk menghilangkan keraguan dan kegugupannya.


"Nggak perlu makasih lah, kita kan juga temen, rekan kerja malah, mas Irsyad sama Rania juga udah banyak bantuin aku."


"Tapi ini cincinnya bener bagus kan? Nggak terlihat kuno kan." Tanya Irsyad kembali meyakinkan dirinya.


"Iya itu bagus kok, desainnya sederhana tapi terlihat terkesan."


"Alhamdulillah deh kalau gitu." Isyad sedikit lega mendengar kata-kata Fira, tak lama kemudian Rania dan bu Kamila sampai di tempat Fira dan Irsyad berada.


Fira memberikan kode pada Irsyad untuk segera menoleh ke belakang.


"Huh, tuh kan malah ninggalin, katanya mau traktir." Rania duduk di dekat Irsyad karena bu Kamila sudsh lebih dulu duduk di samping Fira.


Irsyad pun bergegas mengambil cincin itu sebelum Rania melihatnya, menyimpannya dan menyembunyikan di sakunya kembali.


"Eh apa tuh?" Tanya Rania kepada Irsyad yang sempat melihat sekelebat tingkah mencurigakan dari Irsyad.


"Bukan apa-apa."Irsyad mencoba menjawab pertanyaan Rania dengan santai ditambah dengan senyumannya.


"Hmmm." Rania yang kesal pada Irsyad yang tak mau memberi tahunya pun kemudian memalingkan pandangannya.


Fira yang melihat kejadian itu pun sontak tertawa dan merasa bahwa mereka memiliki perasaan yang sama namun tak ada yang berani mengungkapkannya.


"Udah-udah, ayo pesen makanan." Bu Kamila mencoba menjadi penengahnya


Setelah selesai makan siang, Rania dan Irsyad kembali lebih dulu, dan Fira meminta bu Kamila untuk bersamanya mengikuti mereka dari belakang sekaligus meminta bantuan bu Kamila untuk membantu Irsyad


"Oh jadi gitu ceritanya." Bu Kamila manggut-manggut setelah mendengarkan ucaoan demi ucaoan yang Fira lontarkan.


"Terus kapan mau lamarnya?" Tanya bu Kamila.


"Kalau itu Fira juga belum tau pasti sih bu, tinggal nunggu keputusannya mas Irsyad. Kita doakan saja ya bu semoga semuanya lancar."


"Aamin, terus kapan kamu nyusul, kalau dilihat-lihat sepertinya kamu juga sudah punya calon."


"Aih Bu Kamila ini, kenapa jadi merembet ke Fira si."


"Eh eh kok jadi malu-malu gitu."


Seketika bayangan kenangan Adit melamar Fira kembali hadir di pikiran Fira, waktu itu semuanya telihat indah, Fira merasa menjadi perempuan yang paling bahagia saat itu, cincin yang indah, pemandangan kebun teh yang menambah kesan peristiwa itu, serta kata-kata yang terucap dari Adit yang semakin membuat Fira tenggelam dari lamunannya.


Menggelar sajadahmu dibelakang sajadahku


"Hayolo malah melamun, dasar anak muda ya, ayuk kita balik ke ruangan."

__ADS_1


Apa kabar ya mas Adit? Mas Adit benar-benar nepatin janjinya, mas Adit nggak pernah terlihat di mataku beberapa hari ini.


Sementara di tempat lain, tepatnya di apartemen milik temannya Adit, yang dimana selama beberapa hari ini Adit menghabiskan hari-harinya disana.


"Woy, sampai kapan lo di sini?" Ucap temannya Adit yang tak lain pemilik dari apartemen sambil meletakkan beberapa makanan di meja.


"Sampai puaslah." Adit membuka makanan yang di bawa Bimo.


"Emangnya lo nggak ada kerjaan lain apa secara bos besar santai-santai terus kayaknya?"


"Enggak ada Bim."


"Dit, Lo pikirin lagi deh, nggak bagus juga kaya gini terus, gue juga tekor ini kalau kaya gini terus." Bimo sedikit agak kesal dengan sikap adit yang terus-terusan terpuruk sepeeti itu. Ia juga sebenarnya tidak mempermasalahkan masalah pengeluarannya selama Adit disini, namun ia hanya merasa kasihan melihat keadaan Adit sekarnag ini.


"Tenang aja, besok juga pergi." Adit mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Besok kapan?"


"Besok kalau udah waktunya."


"Fyuuh" temannya Adit hanya mampu menghela nafasnya dengan kasar.


"Suka-suka lo lah, itu beresin jangan lupa, awas aja udah numpang terus ngotor-ngotorin." kata Bimo pada Adit lalu pergi.


Sebenarnya Adit juga tak mau terus-terusan seperti ini. Tapi ia juga tak tau harus bagaimana lagi.


Tak lama kemudian bel pun berbunyi. Adit bergegas menuju pintu dan membukanya.


"Paketnya pak." Seorang berpenampilan seperti kurir menyodorkan sebuah paket.


"Ini buat bapak Adit."


"Dari siapa?" Adit kembali bertanya pada kurir itu.


Kurir tersebut tidak menjawab pertanyaan Adit, ia berlalu pergi dan menghilang dari pandangan adit.


Adit merasa ada yang tidak beres dengan paket itu, karena tidak jelas dari siapa paket itu dan kurir itu lebih mencurigakan dari paketnya.


Adit pun kembali masuk dan membuka paket itu, alangkah terkejutnya ia saat melihat isi paket. Nampak foto-foto Fira yang tengah berduaan dengan seorang laki-laki lain dan cincin yang disodorkannya pada Fira membuat Adit salah paham akan semua ini.


"Ra, jadi inikah arti dari semua jawabanmu." Adit merasa sangat kecewa melihat foto-foto Fira. Tak sadar tangannya meremas-remas salah satu foto tersebut.


Di sisi lain, seorang laki-laki turun dari mobilnya,


"Eh pak Gio, mau jemput Lisa ya."


Di sekolah Lisa tersedia tempat penitipan anak-anak, jadi setelah pembelajaran selesai ada beberapa anak yang tidak langsung dijemput, ia akan tinggal beberapa jam lagi disana menunggu orang tuanya menjemputnya, karena banyak diantara mereka berasal dari keluarga karir semua. Jadi banyak anak-anak yang dititipkan disana, termasuk Lisa.


"Iya bu, Lisanya udah selesai sekolahnya?" Tanya Gio pada gurunya Lisa.


"Udah kok pak, sebentar ya saya panggilin dulu Lisanya, mungkin masih main di dalam." Guru tersebut berlalu meninggalkan Gio untuk memanggil Lisa.


"Iya bu terimakasih."


Tak lama kemudian,


"Papa" Teriak Lisa dari kejauhan sambil berlari ke arah Gio lalu memeluk papanya.

__ADS_1


"Gimana sekolahnya Lisa?" Giopun menciumi kedua pipi Lisa.


"Asik pa, seru banyak temennya." Jawab Lisa dengan penuh keceriaan.


"Ini kok nggak sama istrinya lagi pak Gio?" Tanya guru Lisa pada Gio, Gio hanya bisa tersenyum dan tak tahu harus bagaimana menjawabnya.


"Mama masih kerja bu guru." Lisa mewakili Gio, menjawab pertanyaan ibu guru dengan polosnya.


"Gitu ya, kalau gitu hati-hati di jalannya ya, titip salam buat mamanya Lisa, dada sayang."


"Iya bu guru, dada bu guru." Jawab Lisa sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


Sementara itu Gio hanya terdiam dan tersenyum melihat Lisa yang terlihat sangat bahagia.


Lisa mengalungkan tangannya di leher sang papa, mulutnya mulai mendekat ke arah telinga Gio.


"Pa, papa sayang Lisa nggak." Mendengar suara lembut dari Lisa membuat kening Gio berkerut, dalam hatinya bertanya anaknya ini pasti menginginkan sesuatu, ia sudah hafal dengan tingkah laku Lisa.


Jangan aneh-aneh ya sayang, Gio berbicara dalam hatinya, berharap permintaan sang putri sesuatu yang wajar tidak seperti yang sudah terlewati.


"Tentu, papa sayang sama Lisa."


"Sayangnya segini apa segini pa?" Lisa membandingkan dengan tangannya, awalnya ia membuka tangannya selebar bahunya, yang kedua merentangkan kedua tangannya.


Gio pun tertawa, dan terus melanjutkan langkahnya sampai di mobil, membuka pintu dan mendudukkan Lisa disana.


"Lisa maunya sayangnya papa seberapa?"Gio mencolek hidung mancung milik Lisa.


"Segini dong pa." Merentangkan kedua tangannya selebar mungkin.


"Nah itu juga jawaban papa, sudah yuk kita pulang, oma kayaknya udah dirumah."


Gio menutup pintu mobil dan segera berjalan ke arah pintu sebelah kanan. Di perjalanan pulang,


"Papa, lagi sibuk nggak?" Tanya Lisa pada Gio.


"Enggak sih, emang ada apa sayangnya papa?" Gio masih fokus, oandnagannya tertuju pada jalanan di depan.


"Lisa mau ke makamnya bunda." Lisa berkata selembut mungkin, yang membuat pandangan Gio menoleh pada Lisa.


"Boleh, nanti kita ke sana." Jawab Gio sambil tersenyum ke arah Lisa.


"Bener ya pa."Lisa kembali meyakinkan sang papa.


"Bener Lisa sayang, tapi kita makan dulu aja ya, Lisa juga belum makan kan." Gio mencubit hidung Lisa.


"Tapi Lisa maunya makan bakso." TawarLisa yang memang sedang menginginkan makanan berbentuk bulat-bulat seperti bola itu.


"Iya nanti kita makan bakso, habis itu ke makamnya bunda, ok?"


Setelah mereka berdua makan, mereka pun langsung menuju ke makam bundanya Lisa.


"Assalamu'laikum bunda, hari ini Lisa udah mulai sekolah lo, hebat kan Lisa udah sekolah. Oh iya tadi Lisa juga di anter sama mama cantik, sama papa juga. Bunda nggak marah kan tadi papa nganterin mama cantik ke tempat kerjanya, bunda jangan cemburu ya ."Lisa mulai mengeluarkan kata-katanya, ia mencurahkan apa saja yang ia lewati hari ini.


Gio yang mendengar kata-kata putrinya itu hanya terdiam dan kaget karena tak menyangka putri kecilnya dapat berbicara seperti itu.


Ada yang ngira lamaran Irsyad buat Fira?😆

__ADS_1


__ADS_2