Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Hati Ini Hanya Rindu


__ADS_3

"Cuma karena itu sampai Fira salah paham sama Adit?" Mama Adit kembali melontarkan pertanyaan, perasaannya juga sedikit kesal tehadap Fira.


"Iya tante, terus ya gitulah jadi marahan."


"Pantas aja Adit sampai kaya gitu." Mama Adit mengumpat Fita di dalam hatinya, baru kali ini ia melihat putranya dalam kondisi yang tak karuan.


"Mungkin bisa jadi begitu tan, tapi kan kita nggak tau yang sebenarnya, mengapa mereka jadi nggak akur."


Nayla yang lebih tahu tentang hal itu, namun ia hanya berpura-pura tak tahu dan hanya ingin terlihat baik di depan mamanya Adit. Padahal, semua kesalah pahaman itu adalah rencananya sendiri.


"Ya sudahlah, ini malah bagus buat kamu dan Adit." Seketika matanya berbinar tapi Nayla berusaha menyembunyikannya, ia juga mengukir senyum di bibirnya, hatinya sangat senang mendapat lampu ijo dari mamanya Adit.


"Tante bisa aja."


"Halo, assalamu'alaikum nak Fira." Salam omanya Lisa yang sedang menelpon Fira karena janjinya pada Lisa untuk meminta Fira mengantar Lisa ke sekolahnya.


"Wa'alaikumsalam tante, ada apa ya?" Fira sedikit penasaran dengan telepon dari sang oma di tengah malam begini.


"Jadi tu gini, tadi Lisa minta tante buat tanya ke kamu, besok kira-kira bisa nggak ya kalau nganterin Lisa lagi."


Sebenarnya Fira ingin menolaknya karena merasa tak nyaman atas kesalah pahaman semua orang, namun Fira tak tega jika menolak permintaan Lisa, akhirnya Fira pun hanya mampu menyanggupinya.


"Insyaallah Fira bisa tante, besok Fira anterin Lisa."


"Makasih ya nak Fira, maaf juga jadi ngrepotin kamu terus."


"Enggak kok tante, besok Fira jemput Lisanya ya tan."


"Nggak usah nak Fira, biar besok Lisa sama Gio yang jemput kamu."


"Bukannya papanya Lisa nggak pulang ya tante?"

__ADS_1


"Iya Gio hari ini nggak pulang tapi katanya besok pagi udah pulang, jadi bisa nganterin Lisa sekolah. Oh iya, nak Fira tau dari mana kalau Gio nggak pulang hari ini? apa udah kabar-kabaran tadi?"


Seulas senyum mengembang sempurna di wajah oma, oma berpikir hubungan Fira dan Gio semakin dekat, ia memang berharap jika Fira menjadi menantunya, berharap Fira bisa menjadi ibu sambung bagi Lisa.


"Bukan-bukan gitu tante, tapi tadi papanya Lisa ke sini nganterin kak Rama pulang, terus diajakin mampir sama kak Rama. Jadi tadi denger pas mereka lagi ngobrol."


'Ya ampun hampir aja jadi salah paham lagi' kata Fira di dalam hatinya.


"Kirain tante udah saling kabar-kabaran, ya kalau hari ini belum semoga esok sudah ya." Kata omanya Lisa sambil tertawa, Fira yang mendengar ucapaan omanya Lisa menjadi bingung, mencerna setiap kata yang terdengar hingga timbul kerutan-kerutan di dahinya.


"Ya udah kalau gitu tante tutup ya teleponnya."


"Iya tante" kata Fira.


"Telepon dari siapa Ra?" Tiba-tiba suara Dinda mengagetkan Fira, ia juga baru sadar bahwa sedari tadi Rasyid masih tertidur di panhkuannya, untung saja Rasyid tidak terganggu dengan suara Fira ketika bertelpon tadi .


"Oh ini dari omanya Lisa."


"Nanya kabar mantunya?" kata Fira yang masih belum paham dengan yang dimaksud kak Rama, kemudian Fira pun menyadarinya.


"Ih kak Rama..., mantunya apaan." Fira mencubit lengan Rama, cubitan yang kecil namun menukik tajam hingga kulit Rama berhasil diputar oleh tangan mungil Fira.


"Aw, ampun Ra ampun, sakit ini." Rama mengusap-usap lengannya, ia benar-benar merasakan sakit pada lengannya itu.


"Rasain tuh, awas kalau berani sama Fira."


Fira melirik tajam ke arah Rama, bahkan lirikannya kali ini mungkin lebih tajam dari sekedar tajamnya silet.


Dinda yang melihat kelakuan suami dan adik iparnya itu pun hanya bisa tertawa, ia mengambil alih Rasyid yang sudah tertidur nyenyak, Rasyid yang merasa tidurnya terganggu pun menggeliatkan badannya.


"Bubuk lagi ya sayang." Dinda menepuk-nepuk kecil pantat anaknya, mengusap kepalanya agar mata Rasyid bisa terpejam lagi.

__ADS_1


"Ih yang, kok suaminya dijahatin adeknya malah ketawa."Rama yang mengetahui Rasyid terbangun sedikit memelankan suaranya.


"Jangan dengerin kata kak Rama mbak Dinda. Jangan di belain suami yang model gini." Adu mulut diantara kakak beradik itu ternyata masih belum selesai, pertarungan pun semakin sengit dan membuat Dinda sedikit jengah, ia memutuskan untuk membawa Rasyid ke kamarnya dan meninggalkan dua manusia yang tengah asik dalam dunia perang adu mulutnya.


"Udah-udah, kamu itu lo mas, seneng banget ngledekin adeknya." Dinda berjalan menuju ke pintu kamar Fira.


"Rasain tuh, marahin terus mbak, biar tau rasa.",


"Tenang aja, nanti mbak marahin kalau ngledekin kamu lagi Ra." Langkah Dinda sudah sampai diujung pintu, namun ia berhenti untuk menanyakan suatu hal yang tadinya akan ia tanyakan.


"Ya ampun, suaminya nggak dibelain." Ocehan suaminya tidak direspon oleh Dinda.


"Rasain."


"Oh iya Ra, tadi omanya Lisa ada perlu apa?"


"Itu tadi omanya Lisa minta tolong buat nganterin Lisa lagi."


Dinda hanya ber oh saja, lalu segera melanjutkan melangkah menuju kamarnya.


"Ra, kalau kamu nikah sama duda anak satu itu, abang rela kok ra." Rama berlari secepat mungkin sebelum ia mendapat sersngan maut untuk kedua kalinya.


Fira yang mendengar ucapan kakaknya itu hanya bisa menggelengkan kepala, ia tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini ia selalu dicomblangkan dengan papanya Lisa itu, tidak pernah terpikir di hidupnya menikah dengan seorang duda, tiba-tiba saja dirinya teringat akan Adit, tidak ada angin tidak ada hujan, ia membuka aplikasi whatsaap miliknya.


Ia hanya melihat foto profil Adit untuk meredakan sedikit rasa yang tengah berlabuh singgah di hatinya, rasa yang mungkin bisa disebut dengan rasa rindu itu, rindu mantan lebih tepatnya.


Namun, setelah melihat foto Adit bukannya rindu terobati malahan makin kritis, entah mengapa ia semakin merindu dengan seseorang itu, merindu dengan setiap tingkah laku manisnya ,ucapan manisnya, bahkan dengan hal-hal kecil yang selalu Adit lakukan untuknya, apalagi beberapa hari ini ia tidak pernah lagi melihat Adit, ya itu memang permintaannya, namun mengapa ia malah seperti menjilat ludah sendiri, ia yang menyuruh Adit menghindar dari pandangannya namun ia sendiri malah yang merindu.


Apa kamu juga merindukanku seperti aku merindukanmu.


Dan disisi lain, kondisi yang sama dengan Fira, nampak Adit yang tengah berbaring dan memandangi foto profil Fira. Memang ada rasa kecewa di dalam hatinya. Namun satu yang pasti, rindu itu lebih mendalam dibanding sakitnya hati.

__ADS_1


"Andai aja nggak ada salah paham di antara kita Ra. Mungkin mas yang udah ada disana ngasih cincin itu buat kamu. Andai aja kamu tahu Ra, hati ini tak sanggup lagi diisi jika bukan kamu."


__ADS_2