Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Berdesir


__ADS_3

Sambil menyelam minum air, begitu pikir gadis cantik berhijab itu. Rencana awal untuk memperbaiki ponselnya akan dirampel dengan bershoping-shoping ria menghabiskan sedikit uang untuk kesenangan diri semata. Menghibur diri dan memberikan award untuk kerja kerasnya mengais rejeki di tengah-tengah perjalanan hidupnya.


Hiruk pikuk pekerjaan kantor sedari pagi hingga selesai cukup membuat Fira lelah hari ini, ditambah memikirkan tentang kelangsungan hidup ponsel miliknya menambah keresahan pada Fira.


"Yukk semangat yukkk bentar lagi bisaa cuci mata." Semangatnya pada diri sendiri.


Waktu pulang kantor pun sudah di depan mata, meluruskan niat dan mengisi energi positif tentu harus dan wajib dilakukan bagi setiap muslim.


Mereka berdua berjalan semangat, eitss yang satu terlampau semangat yang satu terlihat ogah-ogahan antara mau senang tapi juga tidak bisa membohongi diri kalau diapun lelah.


"Ya elah buu, ayuuu dong semangat kan mau menguras isi dompet."Godanya pada Fira.


"Aishh kamu ini."


Berjibaku dengan segala urusan kewajibannya disusul berbenah diri memoles-moles wajah agar kembali terlihat segar tengah dilakukan dua anak orang di dalam mushola kantor, mereka berdua mojok dengan benda berkilau yang setia menempel di tangannya memperlihatkan hasil riasan diri masing-masing.


"Aduh neng, pulang kantor harus stayy cantikk yaaa." Ucap pak satpam yang waktu itu tengah selesai menjalankan kewajibannya, berjalan ke arah luar mushola namun bibirnya tak tahan untuk berkomentar, pasalnya sedari ia masuk ke mushola mereka berdua sudah mulai touch up touch up cantik.


"Iya atuh pak, berangkat pulang harus sama-sama cantik."


Balas Rania dengan wajah cengengesannya.


Pak satpam pun hanya mengangguk kemudian menggeleng-gelengkan kepala tapi tidak sambil riang gembira.


"Yukk gas, aku ga boleh pulang kemalaman sama..."


Belum sempet Rania meneruskan omongannya, Fira sudah menyeret temannya itu untuk keluar dari mushola, mereka harus berhenti sejenak karena terdapat beberapa anak manusia yang akan masuk ke mushola, Fira mengecek kembali ponselnya sembari menunggu giliran mereka keluar, entahlah ada perasaan yang mendesir di hatinya karena memikirkan..

__ADS_1


Ponselnya bisa selamat atau tidak


"Eh ayukk Raaa malah bengong." Seret Rania sedikit membuat Fira terkejut.


Pulang dengan perasaan yang tidak bisa diartikan, Fira masuk kerumah dengan salamnya. Berlalu langsung masuk kamar karena tidak perpapasan dengan siapapun, ingin mencari mamanya tapi merasa badan sudah lengket iapun bergegas masuk kamar dan akan bebersih diri.


Ceklek


Suara pintu beserta putaran kunci terdengar dari kamar orang tua Rasyid yang tak jauh dari ruang makan itu. Mbak Dinda keluar dengan Rasyid yang berada di gendongannya. Celingak celinguk kesana kemari mencari seseorang yang barusan masuk ke dalam rumah, ia mendengar pintu diketuk dan suara salam yang ia yakini itu adik iparnya. Namun karena sedang berjibaku di kamar mandi, mbak Dinda tak lekas keluar kamar dan hanya menjawab salam di batinnya.


Ponsel yang sudah beberapa tahun membersamainya tidak bisa diselamatkan hidupnya, boro-boro diselamatkan dihidupkan untuk sementara pun tidak ada kesempatan lagi pasalnya ponsel Fira terjatuh terbanting secara tidak sengaja dengan posisi layar menghadap ke lantai.


Gajian bulan ini harus ia relakan untuk membeli ponsel baru, gadis itu tersenyum bahagia setidaknya ini adalah pertama kalinya gadis itu membeli barang yang harganya lumayan fantastis dengan hasil jerih payahnya sendiri, sebenarnya ia bisa menggunakan transferan dari kakanya yang baik hati itu karena sampai sekarang walaupun adik kesayangannya sudah bekerja namun masih rutin mengirimi jatah jajan untuknya.


Meninggalkan ponsel baru dengan apa-apa yang serba barunya itu agar perfoma dalam pengisian baterai berjalan dengan aman, gatal memang sudah tangannya untuk mengutak atik ponsel barunya, namun harus ia urungkan demi mencharger atau mengisi daya ponsel barunya itu.


Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Fira telah sampai di ruang kerja kanornya dengan wajah sumringah sambil mengotak-atik ponselnya menunggu jam kerja dimulai, hari ini dia berniat berangkat lebih awal karena akan menyetting ponselnya terlebih dahulu, melakukan beberapa panggilan pada nomer-nomer yang ia hafal sudah ia lakukan, namun rupanya sang pemilik nomer sedang tidak bisa diganggu dan tidak terdengar jawaban sama sekali hanya deringan telepon terdengar.


Setengah jam sudah Fira berperan seperti tukang service ponsel hingga tidak menyadari ika ruangannya telah berformasi lengkap dengan irsyad yang telah kembali ke kantor.


“Loh kalian kapan datang, selamat pagi Bu” Tidak mengurangi Rasa hormat Fira menyapa ibu Kamila selaku orang yang paling tua diatara mereka.


“Udah dari tadi kelesss, kamu aja yang sibuk ngotak atik ponsel melulu.” Jawab Rania sambil memutar bola matanya berpura-puraa jengah.


“Wihh ponsell baruuu nih, save nomerku dong. Nomer baru juga?” Cecar Irsyad yang seketika mendapat pelototan tajam dari Rania.


“Ampun Bu, cuman mau tukeran nomer ajaaa ngga lebih, kan kita sedivisi juga.” Mengacungkan kedua tagannya keatas pertanda memohon ampun.

__ADS_1


“Aduh duh ngak mau ikutan ah, yuk Bu mulai kerja.” Fira mendekat ke meja Bu Kamila untuk mengambil pekerjaannya hari ini.


Tanpa terasa jam makan siang tiba dengan gagahnya membuat semua karyawan berbondong-bondong ke kafetaria untuk mengisi perut mereka yang kelaparan. Ada juga yang belok kanan berseberangan dengan arah kafetaria untuk mengisi energi positif sekaligus melaksanaakn kewajibannya sebagai umat muslim.


“Belok kiri duluu yuks, habis tu belok kanan mikir akhirat.” Rutinitas Fira dan Rania dan tentunya tanpa Irsyad karena ia telah duluan ke TKP bersama karyawan-karyawan cowo rombongannya.


Hal itu sudah hampir seminggu dijalankan oleh Irsyad, makan siang tanpa kekasih hati, mereka sadar bahwa tidak semua waktu harus dihabiskan berdua, apalagi beberapa kali mereka yakin Fira tidak enak makan siang bertiga karena Fira sering menghabiskan waktu di mushola terlebih dahulu kemudian menyusul mereka di kafetaria sedangkan acara makan siang pasangan tersebut telah usai, semacam bertukar tugas di dua tempat. Tidak mau ambil pusing, Fira melakukan hal tersebut memang sengaja, ia sengaja memberikan ruang dan waktu bagi pasangan tersebut bukan karena merasa jengkel ataupun yang lainnya hanya saja dirinya paham karena pernah merasakan indahnya jatuh cinta.


Seklebat bayangan Rayhan dan Adit pun bermunculan seperti diputar dengan runtutnya di atas baying-bayang.


“Hehh, ngelamum malah. Kamu cari tempat duduk gih, aku pesen makanannya.”


“Hari ini lagi pingin yang panas-panas tapi segerrr, baksoo yaa Ra” Fira menjawab dengan mengacungkan jempolnya, ia tengah melanjutkan eksekusi ponselnya kembali.


“Sini aku save nomerku di ponselmu.” Merebutnya secara paksa dan langsung menyimpan namanya dengan keinginannya.


“Udah pesennya?”


“Udah, nih uangmu ditraktir sama cowo ganteng kitaa.”


“Siapa? Irsyad?”


Sementara di lain meja, cowo ganteng yang barusan namanya disebut oleh Rania menepuk pelan punggung irsyad yang tengah mengecek email di ponselnya.


“Soryy yaa, barusan aku traktir Rania sama temennya, bukan Ranianya si tapi temennya paham la broo.”


Irsyad yang paham pun hanya mengangguk tanpa ambil pusing, temennya itu memang orang yang paling menjaga perasaan orang lain, hingga hal sekecil itupun harus ia utarakan.

__ADS_1


“Belum ada kemajuan nih?” Toleh Irsyad pada temennya.


"Boro-boro maju, masih jalan di tempatt, ngga punya nyali akuu buat mulai deketin.”


__ADS_2