Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Sedikit Ada Bukti


__ADS_3

"Terimaksih Ra, kamu telah menerima cinta kakak."


"Fira yang harusnya bilang makasih kak, makasih sudah mau menunggu sampai sejauh ini, maaf jika karena Fira kakak pernah terbaring lemah di rumah sakit, maaf- - -."


"Hus, kakak nggak mau bahas itu. Bukan salahmu tapi salahku yang tak hati-hati."


Fira tersenyum ke arah Adit, Aditpun membalas senyuman Fira yang dibumbui dengan cubitan gemas di pipi Fira.


"Sakit kak, mulai berani ya."


"Hahah, sini kejar kakak kalau bisa."


Mereka menghabiskan waktu dengan main kejar-kejaran layaknya anak kecil.


"Heh heh heh, sudah kak Fira capek nggak kuat."


Adit yang mendengar deru nafas Fira pun menjadi tak tega, ia berbalik arah dan mendekati Fira, dengan cepat Fira mencubit pinggang Adit.


"Aww Ra, sakit tauk. Pinter boong ya sekarang."


Tak terasa adzan dhuhur berkumandang, mereka memutuskan untuk pulang kerumah Tante Sarah.


Sesampainya dirumah, Adit langsung masuk dengan diikuti Fira.


"Fira."Teriak seseorang yang memekikan gendang telinga Fira, siapa lagi kalau bukan Nana. Mereka berdua berpelukan layaknya Teletubbies.


"Udah Na, pengap." Ucap Fira melepaskan pelukannya.


"Nggak ketemu beberapa hari aja kaya nggak ketemu sebulan."


"Biarin kak Adit syiriik aja, bilang aja pingin dipeluk juga. Sini-sini Nana peluk."


"Idih najis dipeluk sama kamu Na."


"Udah-udah, waktunya sholat habis itu kita makan."


Mereka semua melakukan sholat berjamaah dengan diimami oleh suaminya Lena yang tak lain menantunya Tante Sarah, sedangkan Fira dan Lena menyiapkan makanan di meja makan karena mereka sedang tidak sholat.


"Wah cincinnya bagus banget dek, kamu udah tunangan?" Tanya Lena pada Fira.


"Eh e eh, belum kok mbak." Jawab Fira gugup menyembunyikan tangannya ke belakang, ia baru menyadari kalau saat ini di tangannya tengah terpasang sebuah cincin.

__ADS_1


Kak Adit memaksa Fira untuk menerima cincin tersebut, awalnya Fira menolak, Fira meminta Adit untuk menyimpannya terlebih dahulu sampai waktu lamaran resmi itu tiba, lamaran di depan keluarga Fira. Namun Adit tetap bersikukuh ingin Fira memakai cincin itu, kata Adit anggap aja ini bukan cincin tunangan tapi cincin tanda Fira menerima perasaan Adit, ya mau tidak mau akhirnya Fira yang kalah dan memakai cincin tersebut.


"Tapi kaya cincin tunangan." Tanya Lena yang sedikit mengeraskan suaranya, sengaja agar yang lainnya dengar.


Kebetulan mereka semua sudah selesai sholat dan berjalan menuju tempat makan, tentu saja semuanya mendengar itu.


"Siapa yang tunangan mbak?" Tanya Nana pada Lena.


"Tuuu." Lena melirik ke arah tangan Fira yang disembunyikan, sontak Nana menarik tangan Fira dan terlihatlah cincin yang terpasang di jari manis Fira.


"Whattt kalian udah jadian dan secepat ini tunangan?"


"Enggak, - - -"


"Sudahlah Na, Adit sudah berumur sudah saatnya dia cepat-cepat ke jalan yang lebih serius." Ucap Tante menyela Fira yang akan memberikan penjelasan.


Mereka makan siang bersama, canda dan tawa menghiasi suasana rumah itu. Raka yang mendominasi suasana diruang makan itu, ocehannya berhasil membuat semua orang terhibur.


Semenjak kenal Firapun, Raka tidak lagi malu-malu untuk meminta Fira untuk menyuapinya, Raka juga minta dipangku oleh Fira, namun Adit tau berat badan Raka sudah melebihi batas umurnya, ia bisa dibilang gendut, maka dari itu Adit yang memangku Raka dan Fira duduk disebelah Adit menyuapi Raka dengan telaten. Nana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia mengambil foto ketiga orang itu yang sudah seperti keluarga kecil bahagia.


Setelah selesai makan, Fira membantu Lena membersihkan piring kotornya, sedangkan Nana menemani Raka tidur, dan yang lainnya mengobrol di ruang tengah.


Umur Lena dan Adit seperantaran, mereka tumbuh bersama dan tinggal bersama karena sedari kecil Adit sudah dititipkan pada Tante Sarah.


"Kamu tau nggak Ra, dulu mbak sama Adit pernah bilang besok kalau kita punya keluarga bakalan ngadain piknik bersama, eh ternyata mbak udah punya anak Adit masih belum nikah."


Fira tidak menjawab ucapan Lena, ia hanya menjadi pendengar setia setiap ucapan Lena.


Adit yang menunggu Fira menjadi sedikit kesal, pasalnya ini sudah tiga puluh menit Fira mencuci piring dengan Lena tapi belum kelar-kelar juga.


"Ekhem." Deheman Adit mengagetkan Lena dan Fira, sontak mereka menengok ke arah Adit.


"Ada apa Dit? Kangen sama calon?"


"Mbak tau aja."


"Dasar, bucinnya nggak ketulungan."


Seakan sadar akan keadaan Lena pergi meninggalkan dapur, memberikan ruang pada kedua insan yang sedang kasmaran itu.


"Ada apa kak?"

__ADS_1


"Kamu lama banget si Ra, nggak tau apa kakak udah kangen yang."


Yang? kak Adit memanggilku sayang.


"Sabar dong, dari kapan kak Adit jadi bucin gitu si?"


"Udah ah, yuk ke teras ngumpul sama yang lainnya."


Adit dan Fira berjalan ke arah teras rumah yang sudah dipenuhi oleh kerabatnya itu tak terkecuali Nana.


"Duh pasangan baru masih anget-angetnya. Nempel teroos." Goda Lena pada Adit.


"Cepet halalain dong kak." Tambah Nana tak mau ketinggalan.


"Apaan si Na." Balas Safira yang ikutan duduk di samping Nana.


Mereka semua duduk di teras berniat ingin membuat lutisan dan dimakan sama-sama, kebetulan di depan rumah Tante terdapat pohon mangga yang tengah berbuah dan pohon jambu air yang lagi lebat-lebatnya berbuah.


"Adit kamu ambil jambu air ya?"


"Ok, dimana Tan?"


"Tuuuuu di atas sana?" Tunjuk Tante Sarah ke arah jambu air yang masih menggantung di tangkainya.


"Yaampun Tan, Adit disuruh manjat?"


"Kak Adit nggak bisa manjat?" Bukan Tante Sarah yang menjawab tapi Fira yang bertanya.


"Ya pasti bisa dong. Apa si yang Adit nggak bisa."


"Huh buktikan jangan ngomong tok, ingat Ra lelaki kalau bicara tu sedikit ada bukti yang lainnya ma gombal." Lena memberikan wejangan pada Fira, Fira hanya tertawa tipis melihat ekspresi kak Adit saat ini.


Adit melangkah menuju pohon jambu air yang Tante Sarah maksud. Memanjat dengan perlahan dan memetik satu persatu jambu air yang bertengger disana.


Mereka menikmati lutisan atau rujak buah itu dengan begitu lahapnya, namun tidak dengan Fira, Fira yang tak tahan dengan asam-asam, tak jarang nyengir-nyengir kuda saat menggigit jambu air atau mangga muda yang rasanya sedikit masam itu.


Tiba-tiba saja Fira merasakan sesuatu yang bergejolak didalam perutnya seperti ingin mengeluarkan sesuatu, Fira membisikkan sesuatu ke telinga Adit.


"Kak, perut Fira perih pingin muntah."


Nana dan Lena tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda pasangan tersebut.

__ADS_1


"Romantis banget si kalian, ngomong aja sampai bisik-bisik."


Fira yang sudah tidak kuat berlari menuju ke dapur, memuntahkan isi perutnya di wastafel.


__ADS_2