Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Bukan Sebagai Pacarmu


__ADS_3

"Rania." Fira memeluk teman sedivisinya dengan erat. Padahal Fira hanya cuti satu minggu, namun mereka berpelukan seakan-akan sudah terpisah lama.


"Kirain udah lupa." Rania sedikit meledek Fira dengan tatapan menyeringai.


"Eh kenapa tu mata, Enggaklah masa lupa sama orang secantik kamu."


"Berarti oleh-olehnya juga enggak lupa kan?"


Dua kata yang sering orang tanyakan pada temannya sewaktu pulang berpegian pasti tak jauh dari itu


"Emm kalau itu" Fira hanya tertawa sambil mengunci tangannya di depan dada.


"Huh, ya udah sebagai gantinya nanti kamu harus traktir aku makan siang, titik nggak pake koma apalagi tanda petik." Rania mengoceh dengan tangan menyodorkan beberapa tumpukan dokumen ke Fira .


Rania adalah sosok yang sangat ramah, walaupun Rania dan Fira belum kenal terlalu lama tapi mereka sudah akrab layaknya adek dan kakak, selain ada sisi kelebihannya ia juga punya sisi yang agak berbeda dari yang lainnya, Rania sedikit cerewet, namun itulah yang membuat ruangan divisinya menjadi bewarna dan tidak terasa sepi, mereka akan terhibur berkat ocehan-ocehan kecil dari Rania.


"Ok sip, tapi ngomong-ngomong ini buat apa?" Tanya Fira dengan polosnya.


"Kamu tu ya, udah lama nggak masuk kerja jadi lupa sama kerjaan. Ini itu tugas kamu yang udah ditinggal selama satu minggu, itu sebagian udah aku kerjain lo." Rania mengedip-ngedipkan matanya seolah seperti anak kecil yang sedang mempraktekan gaya mata genitnya, Fira yang melihat tingkah temannya itu hanya bergidik ngeri.


"Uwhh, makasih cantik, nanti bonusnya makan siang plus es teh deh." Fira kembali tertawa kemudian ia ke tempat duduknya dan mengerjakan tugasnya dengan semangat.


"Wa-wah kok kaya denger ada yang mau ngadain traktiran ya." Bu Kamila masuk ke dalam ruangan dengan diikuti Irsyad di belakangnya.


"Eh bu Kamila, apa kabar." Fira yang tengah fokus pun berdiri dan menyalami bu Kamila.


"Udah kembali lengkap ya divisi kita,


kemaren-kemaren kaya ada yang kurang nggak ada kamu Ra."

__ADS_1


"Ibu bisa aja, mas Irsyad apa kabar?"


Fira pun menyalami Irsyad dengan senyuman.


Fira mengerjakan tugasnya dengan hati gembira, apalagi jika mengingat-ingat tentang Lisa, gadis periang yang selalu datang pada Fira dengan segala keceriaanya menjadikan hari-hari Fira menjadi lebih semangat dan ceria. Sesekali ia tersenyum jika mengingat kebersamaannya dengan Lisa


Setiap mengingat Lisa memanggil dirinya dengan sebutan mama, Fira merasa terharu sekaligus kasihan, ia tidak pernah menolak akan hal itu karena ia sangat paham apa yang diinginkan dan dirasakan oleh Lisa, Fira juga pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya, namun Fira bersyukur karena ia masih diberi kesempatan untuk hidup berdampingan dengan ayahnya selama beberapa tahun, bahkan ia juga merasakan kasih sayang seorang ayah.


Namun tidak dengan Lisa, hidupnya tidak seberuntung Fira, seseorang yang seharusnya menjadi orang pertama yang ia lihat, orang pertama yang menyentuhnya dengan kelembutan, seseorang yang seharusnya menjadi sumber pertama bagi kehidupannya, seseorang yang akan menjadi surga bagi dirinya pergi terlebih dulu, tanpa ada kesempatan bagi Lisa untuk melihat wajahnya, untuk menyentuh wajahnya, bahkan untuk sekedar menyium pipinya Lisa tidak pernah bisa, ia hanya bisa melihat foto mendiang ibunya.


Tanpa terasa air matanya menetes jika membayangkan takdir Lisa. Disisi lain ia juga berpikir bagaimana kedepannya jika Fira menikah dengan seseorang, namun seseorang itu bukanlah ayah dari Lisa, apakah Lisa akan terima, akankah Lisa akan merasakan sakit karena ditinggal oleh Fira yang sudah dianggap mama oleh Lisa. Fira juga sadar, Lisa berharap lebih pada dirinya, berharap Fira menjadi ibu sambung bagi Fira, namun Fira juga tidak tau, akankah takdir berkata seperti itu, akankah ia berjodoh dengan ayahnya Lisa, sepertinya tidak mungkin.


Hanya takdir yang akan menjawabnya.


Tanpa Fira sadari, sedari tadi Irsyad memperhatikan Fira, ia sempat terkejut Fira yang tadinya senyum-senyum sendiri tiba-tiba meneteskan air matanya, Irsyad yang mengetahui itupun memberi isyarat pada Rania agar menoleh ke arah Fira, Rania yang mengikuti arah mata Irsyad pun juga sempat terkejut, ia segera berjalan mendekati Fira dan memegang bahu Fira.


Fira yang kaget dengan sentuhan Rania pun menjadi tersadar dari kamunanya, ia juga tak menyadari jika air matamya sudah mengalir di kedua pipinya, segera ia menghapus dan manampakkan cengiran khasnya.


"Masa si Ra?"


"Iya, besok kalau sempat temani aku ke optik yuk buat cek mata." Fira berusaha mengalihkan perhatian Rania dengan membahas topik lain, ia tidak mungkin menceritakan tentang Lisa pada orang lain, itu juga mungkin menjadi masalah pribadi bagi keluarga Lisa.


"Oklah kalau gitu, sini sebagian tugas kamu biar aku dan Irsyad yang menyelesaikan, mungkin benar matamu mulai minus Ra."


Tak terasa karena terlalu sibuk bekerja jam makan siang telah tiba, seperti yang telah Fira janjikan, ia akan mentraktir Rania. Namun tidak hanya Rania, ada bu Kamila dan Irsyad yang sudah biasanya makan siang bersama.


Ketika Rania sedang berbincang-bincang dengan Bu Kamila, Irsyad mengajak Fira untuk pergi ke kantin lebih dulu, Fira dengan senang hati menerima ajakan Irsyad karena perut-perut di cacingnya sudah demo minta diisi.


Fira berjalan sejajar dengan Irsyad yang tingginya lebih tinggi dari kepala Fira.

__ADS_1


Sesampainya mereka di sana, Irsyad menarik tangan Fira agar duduk dihadapannya, Irsyad terlihat seperti sedang merogoh sesuatu di kantung sakunya, kemudian ia menyodorkan sebuah kotak cincin bewarna biru kepada Fira. Fira sedikit tercengang melihat tingkah laku Irsyad.


Sebuah cincin lamaran dengan permata putih di bagian tengahnya, memang bukan berlian namun penambahan permata ditengah-tengah cincin menjadikan cincin itu terkesan estetik dan mewah.


Irsyad belum mengatakan sepatah ataupun dua patah kata, Isyad terlihat sedang mengatur nafasnya ia mengambil nafas lalu mengeluarkan secara perlahan-lahan, keringatnya pun ikut andil menambah kegugupan yang tengah Irsyad rasakan.


Tanpa mereka sadari gerak-gerik mereka seakan selalu diawasi. Ada sebuah kamera yang selalu mengabadikan kebersamaan Fira dan Irsyad yang tak pernah disengaja mungkin. Memang tak disengaja, namun jika akhirnya menimbulkan tanda tanya akhirnya kesalah pahaman yang menyertainya.


Semoga ini tidak akan menimbulkan masalah bagi siapapun itu.


"Ra." Irsyad mulai membuka suara, namun karena ia masih dirundung rasa gugup suaranya sedikit tertahan.


Fira yang melihat raut wajah Irsyad pun menjadi tau jika Irsyad sedang dilanda kegugupan.


"Ya mas?" Fira masih terlihat santai.


Terlihat Irsyad kembali mengulang kegiatannya, mengambil dan mengeluarkan nafasnya dengan perlahan, mungkin hal itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Gimana menurut kamu ra?"Tanya Irsyad pada Fira. Irsyad sudah mulai bisa mengatasi kegugupannya. Jantungnya pun mulai berdetak dengan normal lagi.


"Hmm, bagus, jadi ini yang mau kamu tunjukin ke aku?"


"Iya, tapi."


"Tapi?" Fira mengulangi ucaaan yang sempat terhenti dari mulut teman sedivisinya itu.


"Tapi aku sempat nggak yakin dengan ini."


"Kenapa harus nggak yakin?" Irsyad yang mendengar jawaban Fira pun kembali bersemangat, terlihat ia seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk kembali bersuara.

__ADS_1


"Mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi tidak denganku, saat pertama kali kita bertemu entah mengapa hati ini merasa berbeda, melihat kedua bola matamu seakan ada masa depanku disana, melihat senyummu, menjadikan hati dan rasa ini tenang, jadi maukah kamu menerimaku, bukan sebagai pacarmu namun sebagai calon suamimu."


Fira diam, belum mulai angkat suara, Fira juga masih bersikap santai seperti tadi, tidak ada perubahan pada wajahnya.


__ADS_2