Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Di Saat Ku mulai Nyaman


__ADS_3

Ya Allah kenapa kau mempermainkan hati ini


Disaat dia datang aku masih memikirkan yang dulu


Disaat di berusaha mendekatiku, aku masih enggan membuka hatiku,


Disaat aku mulai membuka hati untuknya, dia memilih yang lain.


Disaat hatinya sedang rapuh dan sakit, entah apa yang dipikirkan Fira, Fira ingin secepatnya belajar naik mobil untuk menghilangkan rasa pedih yang ia rasakan.


Setelah sampai Rumah, Rama dan Dinda masuk ke dalam kamar membokar semua yang ia beli, sedangkan Fira pamit untuk pergi ke kamarnya.


Tuut Tuuut Tuut


"Ya Hallo,"


"Sibuk nggak Na?"


"Enggak, tumben ni ada apa?"


"Keluar yuk, kamu jemput aku ya."


"Jam segini? Mager Ra."


"Ayolah, aku butuh teman curhat ni."


"Baiklah aku mandi dulu, habis itu otw rumahmu."


Safira sudah siap untuk pergi bersama Nana, ia menunggu Nana di depan rumahnya, lima belas menit kemudian mobil Nana berhenti di depan rumah Fira, tanpa disuruh Fira langsung masuk ke dalam mobil Nana.


"Mau kemana kita?"


"Ke Danau yuk?"


"Kamu mau ngajakin aku kencan Ra?"


"Iya, habisnya nggak ada yang ngajakin yaudah deh ngajakin kamu, aku lagi pingin naik sepeda air ni."


Siapa yang mau ajakin kamu kencan Ra Ra, pacar aja nggak punya, kamu jomblo Ra jomblo😂


"Baiklah ayo."


Nana menjalankan mobilnya dengan hati-hati, tiba-tiba ia mengerem pedal mobilnya mendadak saat Safira mengatakan sesuatu.


"Apa Ra?"


"Aku mau kamu ngajarin aku nyetir Na."


"Enggak salah?"

__ADS_1


"Enggak, mau ya Na."


"Minta ajarin kak Adit aja deh, aku takut Ra"


"Enggak ah, kamu aja."


Safira meminta bertukar posisi, sedikit-sedikit ia tau tentang mengemudikan mobil, selama beberapa hari ini Fira membaca artikel tentang cara mengemudikan mobil bagi pemula, dengan terpaksa Nana pun mengiyakan. Didalam hatinya berkata.


'Ya Allah berikanlah keselamatan pada mobilku dari makhluk bernama Safira.'


Nana bernafas lega karena Safira tidak jadi belajar mobil untuk hari ini, tapi Nana juga bingung kenapa Safira tiba-tiba menangis dan mukul-mukul kemudi.


"Ra." Nana bingung harus gimana, ia tak pernah melihat Fira seperti ini.


"Kenapa Na? Kenapa, kenapa semua orang mudah banget buat aku sedih mudah banget nyakitin aku, mudah mempermainkan hatiku, apa emang ini karma buatku Na."


"Ra, minum dulu." Nana menyodorkan botol air mineral tapi Fira menolaknya.


Nana merengkuh tubuh Safira, memeluknya, memberikan tempat ternyaman untuk Fira, Nana enggan mengeluarkan pertanyaan, ia berikan Fira kebebasan, Fira mau membagi masalahnya atau tidak itu adalah pilihan Fira.


"Dulu Rayhan datang, mengisi hariku dengan kebahagian, mewarnai hidupku dengan canda tawa, lalu dengan teganya ia khianatin aku Na,"


Ini baru pertama kalinya Safira membagi kisah masa lalunya. Nana hanya menjadi pendengar setia.


"Saat itu aku hancur Na, hancur sehancur-hancurnya, begitu dalam dia memberikan cinta padaku, begitu besar kasih sayangnya padaku, tapi kenapa dia tega ninggalin aku, bahkan sampai saat ini bayangannya selalu mengikutiku."


Nana masih diam sesekali ia menepuk pelan punggung sahabatnya itu, ia tau saat ini Fira butuh pendengar setia.


Fira belum menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa apa Ra? Kamu belum melupakan yang dulu." Tanya Nana yang sudah diujung penasarannya.


"Bukan itu Na, disaat aku mulai membuka hati untuk kak Adit kenapa kak Adit malah memilih perempuan lain."


Nana diam, Nana paham betul siapa perempuan itu, sudah beberapa hari ini mamanya mengajak makan Nayla dirumahnya, Nana mengira pasti Safira pernah sengaja ataupun tidak sengaja berpapasan dengan Adit dan Nayla.


"Perempuan lain?"


"Iya Na, aku kira aku salah liat waktu di cafe, tapi aku semakin yakin setelah pertemuan kita bertiga di mall."


"Apa itu tandanya kamu cemburu Ra? Kamu mulai menerima kak Adit?"


"Aku baru belajar membuka hatiku Na, tapi kenapa balasannya malah sesakit ini?"


"Disaat aku mulai nyaman, kenapa dia berhenti mengejar ku Na. hiks hiks hiks."


Air mata Fira semakin berderaian, Alhasil baju Nana basah terkena air mata sahabatnya itu.


Disaat ku mulai nyaman, dan teganya engkau berubah.

__ADS_1


Nana sendiri tidak tau harus jawab apa. Pasalnya di dalam pemikiran Nana, kak Adit akan dijodohkan dengan Nayla, Nana tidak tau yang sebenarnya.


"Na, apa kak Adit lelah memperjuangkan cintaku Na?"


"Na kenapa diam aja? Kamu tau perempuan itu."


"En - Enggak Ra."


"Sabarlah Ra, mungkin Allah sedang mengujimu."


"Tapi kenapa sebesar dan sesakit ini?"


"Jangan Suuzon Ra, Allah berikan ujian berat untukmu karena Allah tau kamu kuat."


Yakinlah Safira, akan ada pelangi yang indah setelah hujan deras mengguyur mu.


Mungkin Allah akan memberikan hal yang terbaik yang tak terduga kepadamu.


Biarkanlah yang baik pergi, tapi yakinlah yang terbaik akan datang.


Safira melepaskan pelukan Nana, ia pun meminta bertukar posisi lagi. Nana menjalankan mobilnya setelah dirasa Safira mulai tenang.


"Hari ini quality time kita ya." Pinta Nana pada Safira yang dijawab dengan anggukan.


"Nggak mauk sedih gitu ah, Fira yang aku kenal nggak gitu orangnya."


"Iya-iya ni senyum ni."


Setelah sampai di danau, lebih tepatnya danau buatan. Mereka segera memesan tiket untuk naik sepeda air, ada macam-macam bentuk dan karakter sepeda air itu, Fira dan Nana memilih yang berbentuk angsa.


Fira dan Nana harus mengantri menunggu gilirannya tiba, Karena perut sudah terasa lapar, mereka mendekat ke arah penjual makanan, Fira langsung memesan sosis bakar sebanyak 10 biji. Sedangkan Nana memilih membeli minuman untuk mereka berdua.


Setelah mendapatkan makanan dan minuman, kesempatan yang ditunggu-tunggu mereka pun tiba, dengan senang hati mereka naik sepeda air itu dengan gembolan makanan dan minuman.


Hari semakin sore menambah hawa kesejukan siapapun yang disana. Mereka benar-benar mengabadikan waktu untuk quality time mereka berdua. Hati Fira pun kembali senang walaupun pikirannya masih terbayang-bayang sesuatu.


Mereka menghabiskan waktu di danau itu, berbagai macam permainan ada disana, suasana hiruk pikuk pengunjung menambah keramaian daerah yang bisa dibilang cukup asri itu.


Hari semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang kerumah, Nana mengantarkan Safira terlebih dahulu, sewaktu di perjalanan Nana mendapatkan kabar jika mama dan papanya sudah terbang ke kantor cabang yang berada di daerah Kalimantan, entah karena malas ataupun apa Nana malas pulang, dan berniat ingin meminta menginap dirumah Fira.


Fira tidak keberatan jika Nana menginap dirumahnya, mungkin Nana bisa dijadikan teman curhat sekaligus pendengar setianya malam ini.


Setelah mengucapkan salam, mereka berdua masuk kedalam, disambut lah mereka dengan Dinda, kakak ipar Fira.


"Dari mana, kok hampir Maghrib baru pulang?" Tanya Dinda lembut.


"Main kak, oiya yang lain mana kak?"


"Mama sama mas Rama udah di tempat sholat, kalian segera nyusul ya."

__ADS_1


Setelah melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, Fira dan Nana memutuskan untuk ke kamar, mandi dan bebersih diri.


__ADS_2