Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Titipan Semata


__ADS_3

"Sp?" Fira mengulangi ucapan Irsyad barusan.


"Iya Ra, aku kena Sp karena- - - -"


"Apa karena laporan barusan Syad? apa terjadi kesalahan?"


Irsyad hanya mengangguk pasrah menjawab pertanyaan yang seharusnya tak perlu dijawab itu.


"Maafkan aku."


Cerahnya cahaya matahari baru saja muncul namun mendung ikut menyusul, memanglah seperti itu kehidupan, kita tak tau kapan kita akan sedih atuapun bahagia, kadang bahagiapun tak lama disusul dengan sedih.


"Bukan salahmu, ini tanggung jawabku harusnya aku yang mengerjakan bukan kamu."


"Tapi, ini tetap salahku, biar aku yang bicara pada pak Wawan."


"Jangan Ran, nanti malah makin memperkeruh suasana.",


"Mas Irsyad bener mbak, nanti apa kata pak Wawan jika tau mas Irsyad melimbangkan pekerjaannya pada mbak Rania."


"Bagian mana yang salah?" Rania inget betul bahwa tadi ia sudah benar-benar teliti dalam mengerjakan laporannya itu, tapi mengapa hasilnya seperti ini.


"Bagian yang dilingkari." Irsyad menyerahkan laporan itu pada Rania.


Rania menerima laporan itu namun tak kunjung membukanya, ia mendekat ke arah Irsyad.


"Maafkan aku, karena aku kamu jadi seperti ini." Air mata pun menetes tanpa diundang.


"Sudahlah mungkin ini memang jalannya, harusnya aku tidak meminta tolong pada oramg yang tidak ikhlas untuk menolongku "


Bagai tertusuk pisau hatinya, perkataan Irsyad barusan seakan menampar relung hati Rania, apa maksudnya, tidak ikhlas, jelas-jela Rania sangat ikhlas bahkan lahir batin untuk menolongnya.


"Maksud Kamu?"


"Aku tau sebenarnya dari dulu kamu tidak suka denganku kan, mungkin ini kesempatan mu untuk menyingkirkanku."


Lagi-lagi ucapan Irsyad membuat hati Rania semakin sakit, apa ini mengapa orang yang selalu ia idam-idamkan menjadi seperti ini.


"Syad."Bu Kamila beusaha menengahi.


"Maaf hu, ini masalah kami berdua."


"Ran." Tiba-tiba saja Irsyad mencengkram erat pergelangan tangan Rania.


Rania yang mendapat serangan tiba-tiba pun terkejut bukan main.


"Jawab dengan jujur apa maksud ini semua."


"Puas kamu berhasil menjatuhkan ku sampai posisi seperti ini "

__ADS_1


"Puas kamu telah membuat pikiranku kacau."


"Puaskah kamu dengan semua ini, kau membuatku gila, kamu tau kan pekerjaanku ini benar-benar sangat dibutuhkan oleh keluarga ku."


Bentakan demi bentakan terus terlontar dari mulut Irsyad..


"Mas Irsyad."


"Diam kamu Ra." Kali ini Irsyad juga membentak Fira.


Rania sudah mengeluarkan air matanya terus menerus, tidak pernah terbayangkan dalam pikirannya ia akan dimarahi bahkan dibentak oleh seorang Irsyad.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu kau salah aku tidak seperti itu." Rania duduk bersimpuh dibawah kaki Irsyad, ia tidak kuasa menahan tangisnya ia bahkan semakin terisak dengan keadaan ini.


"Bangunlah, hapus air matamu itu, aku tidak butuh."


Bruk


Laporan yang tadinya berada diatas meja kini berpindah ke hadapan Rania, Irsyad melemparnya begitu saja.


"Buka, baca itu, dan berhentilah menangis "


Dengan tangan bergetar Rania membuka laporan yang sudah mati-matian ia kerjakan namun hasilnya malah mengecewakan.


Ia membuka lembar pertama, namun tidak ada coretan sama sekali, ia buka lembar kedua hasilnya juga tetap sama tidak ada coretan sama sekali, ia melakukan itu terus menerus hingga lembar terakhir dan alangkah terkejutnya ia melihat isi di lembar terakhir.


Deg


Will you marry me


Seketika kening Rania berkerut, apa ini semua, Rania mendongakkan wajahnya menatap Irsyad yang tengah berdiri di hadapannya, sedangkan posisi Rania masih duduk bersimpuh di lantai.


"Rania, sudah sejak lama perasaan ini bertahan, tapi karena rasa takut ku akan pertemanan kita yang menjadikan diri ini terus bimbang dengan keputusan ini, namun karena berbagai pertimbangan dan dukungan hati ini menadi mantap, Rania maukah kamu menjadi pendamping hidupku, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak pantas untuk kita berpacaran maka dari itu aku meminta padamu untuk menjadi pendamping hidupku bukan hanya sekedar pacar, aku tau mungkin ini terlalu cepat namun inilah yang terbaik menurutku."


"Apa ini?"Rania masih belum fokus ia masih menangis karena bentakan-bentakan dari Irsyad tadi.


"Maaf, maafkan aku yang terlalu kelewatan dalam mengutarakan perasaan ini, sebenarnya tadi hanya sandiwara saja, maaf." Menyengir tanpa merasa dosa sedikitpun, dan entahlah karena sebab apa Rania berani mencubit keras lengan Irsyad ia terlalu gemas dengan semua ini, air matanya pun masih belum mau surut.


"Sudah jangan menangis." Menghapus air mata Rania menggunakan tangannya.


"Kalian semua?"


Bu kamila dan Fira hanya membalas dengan senyuman diriingi tawa kecil.


"Ibu nggak ikut-ikutan lo Ran, itu ide mereka berdua."


"Ih jadi ini, Fira jahat banget sih." Fira memeluk Rania, ia juga tadi sempat tidak tega, Irsyad begitu keterlaluan dalam memainkan drama ini.


"Ekhem, jadi gimana Ran?"

__ADS_1


Deheman Irsyad menghentikan acara peluk mesra antara Rania dan Fira.


Bola mata Rania menatap balik Fira seakan meminta pendapat, tentu saja dijawab anggukan oleh Fira.


Rania menganggukan kepalanya tanda menyetujui permintaan Irsyad.


"Jadi.."Irsyad menggantung ucapannya dan diteruskan anggukan oleh Rania.


"Yes alhamdulillah."


"Selamat ya kalian, ibu seneng akhirnya cintanya saling terbalas ya, oh iya maaf ibu harus duluan pulang."


"Uhh peluk bu." Rania pun memeluk bu Kamila, begitupun bu kamila membalas pelukan Rania, Fira yang sedari tadi senyum-senyum ikutan mendekat dan mereka bertigapun berpelukan layaknya teletubbis.


"Semangat dan selamat ok, baru gerbangnya Ran masih banyak yang harus kamu lalui kedepannya, dan kamu Syad awas aja sampai buat Rania nangis kaya tadi."


"Hehe nggak akan bu."


Hari kebahagiaan yang dibalut apik oleh Irsyad demi melancarkan aksinya mengerjai Rania, memang terkesan berlebihan tapi ya Irsyad memanglah Irsyad terkadang bercandanya begitu kelewatan.


Setelah menyaksikan Drama jadian antara Rania dan Irsyad, Fira pun berlalu pulang kerumah menggunakan taksi online yang sudah ia pesan tadi.


Perjalanan sore yang ditemani senja menambahkan syahdunya kemacetan di jalan raya, Fira pun hanyut dalam lamunan.


Skenario Allah memang indah ya, dan nggak bisa ditebak, dulu ada Rayhan lalu kak Adit dan sekarang sudah sama-sama menghilang sudahlah semua memang terasa begitu cepat, bahagiaku dan sedihku sedekat ashar dan maghrib.


"Sudah sampai bu."


"Eh sudah sampai ya pak, makasih ya pak "


Fira turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.


- - -


"Jadi kapan aku bisa kerumahmu?"


"Secepat itu?"


"Ya kan niat baik harus dipercepat kan?"


"Gimana ya Syad, aku masih takut mengenalkanmu ke bapak sama ibu, selama ini belum pernah sekalipun membawa laki-laki kerumah."


Senyuman merekah di bibir Irsyad ia baru tau jika Rania benar-benar perempuan yang menjaga dirinya sendiri.


"Terimakasih."


"Terimaksih untuk?"


"Menjadikanku yang pertama kali."

__ADS_1


Ada yang bahagia ada yang sedih, ya begitulah hidup, roda terus berputar kadang kita yang merasa bahagia dan orang lain yang merasa bersedih, dan roda itu juga terus menerus berputar bergantian mengikuti porosnya, kehidupan layaknya roda jangan berkecil hati mapun jangan berbesar hati, ingatlah kita pasti akan merasakan di bawah dan pada akhirnya juga akan merasakan di atas, yang dibawah jangan merasa bersedih hati dan yang diatas jangan merasa berbangga hati, ingatlah semuanya hanya titipan semata.


__ADS_2