
"Assalamu'alaikum Fira pulang." Salam Fira masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, gimana kabarnya Adit Ra"
"Sudah lebih baik ma, udah melewati masa kritisnya."
"Alhamdulillah, kamu kenapa pucet banget Ra?" Tanya mama khawatir.
"Fira nggak papa kok ma, Fira hanya kurang tidur."
"Fira ke kamar ya ma, mau mandi terus istirahat, jangan bangunin sebelum dhuhur ya mah."
"Iya sayang, tidurlah."
Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Fira merebahkan tubuhnya di kasur kesayangan, memeluk boneka beruang miliknya.
Perlahan ia mulai masuk ke alam mimpinya.
"Ma Fira udah pulang?" Tanya Dinda dengan membawa beberapa bungkus bakso.
"Udah dia dikamarnya, bakso buat Fira?"
"Iya ma ini tadi aku sama mas Rama mampir beli bakso terus sekalian bungkusin buat mama sama Fira."
"Sini mama bawa ke dapur dulu aja, Fira keliatannya capek banget. Jangan dibangunin ya."
"Ok ma."
"Kamu juga istirahat Din, jangan kecapean."
"Baik ma, Dinda ke kamar dulu."
Sementara di rumah sakit Adit kedatangan teman-temannya, Bimo, Robi, dan Rangga.
Kondisi Adit sudah jauh lebih baik dari tadi pagi, ia juga sudah bisa duduk bersandar di ranjang.
Mama dan Nana duduk di sofa menonton televisi karena tidak mau mengganggu urusan Adit dan teman-temannya, sesekali mama melirik kearah Adit untuk memantau keadaannya.
"Gimana rasanya Dit?" Tanya Rangga.
"Wah mantap sekali, mobil baru lagi. Hahahahah." Ucap Bimo yang sudah tau bagaimana kronologi kecelakaan Adit.
"Hahaha, benar begitu Dit?"
"Enggaklah yakalik kecelakaan di bilang mantap."
"Lo semua kesini jengukin atau mau buat ribut si."
"Ya jenguk Lo lah masa mau numpang makan."
"Yang namanya jenguk orang sakit ya bawa bingkisan lah ini malah bawa tangan kosong."
"Oiya bingkisannya tadi di Bimo kan."
__ADS_1
"Sudah dipalak Nana tadi didepan ruangan."
"Tuh Diit udah di Nana, Kita ma punya perasaan, jenguk orang sakit masa nggak bawa sesuatu."
Mereka ngobrol kesana kemari membicarakan semua hal, sampai Adit melupakan makan siangnya.
Jam sudah menunjukkan angka 12, adzan dhuhur pun mulai berkumandang. Sesuai permintaan Fira, mama masuk ke kamar untuk membangunkan putri tercintanya.
"Nak, dhuhuran dulu nanti terus lanjut bubuknya."
"Bentar ma, lima menit lagi." Tawar Fira dengan mata masih terpejam.
"Sekarang Fira."
"Iya-iya ma, Fira bangun."
Fira beranjak ke kamar mandi lalu menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim yaitu sholat lima waktu, tak lupa ia mendoakan kak Adit agar diberikan kesembuhan dan kesehatan. Setelah selesai sholat Fira keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur ditambah mulut yang terus-terusan menguap.
"Wah kebo bangun tidur." Ucap Rama di meja makan.
"Ih ada bakso, Fira kebagian kan mbak."
"Kebagian dong Ra, bentar mbak panasin dulu."
"Sudah-sudah kamu duduk aja,biar mas yang panasin." Perintah Rama pada istrinya yang dijawab dengan anggukan.
"Wow sweet banget si Abang. Hahahaha."
"Kan sayang anak istri." Jawab Dinda, Rama hanya tersenyum mendengar jawaban Dinda.
"Mau ngampus Ra?" Tanya Dinda yang melihat Fira sudah berpakaian rapi.
"Iya mbak, pinjem buku tok tapi habis itu mau jenguk kakaknya Nana."
"Mau kerumah sakit lagi Ra?"Tanya mama tiba-tiba datang dari arah berlawanan.
Safira mengangguk sebagai jawaban.
"Tunggu bentar Ra, mama tadi masak banyak bawakan sekalian buat yang disana."
Mama membungkus makanan ke dalam wadah Tupperware ungu kesukaan Fira, dan memberikannya pada Fira.
"Makasih ma, Fira pamit ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam hati-hati nak."
Setelah mendapatkan buku dari perpus kampus, Fira memesan taksi online ke rumah sakit.
Dua puluh menit taksi itu berjalan menuju tempat tujuan penumpangnya. sampai juga Fira di rumah sakit, kakinya ia langkahkan ke ruangan kak Adit dirawat.
"Assalamu'alaikum." Ucap Fira langsung masuk karena memang pintunya tidak ditutup.
Reflek semua orang memandang Fira dengan tatapan masing-masing. Gadis dengan pashmina pink dan tunik abu-abu itu berhasil membuat semua mata tak berkedip.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Fira kembali mengucapkan salam karena salam pertamanya tidak ada yang menjawab.
"Wa'alaikumsalam, Fira kamu beda banget hari ini." Ucap Nana menghampiri sahabatnya.
Fira meletakkan Tupperware yang berisi makanan di atas meja depan sofa.
Fira mengedarkan pandangan ke meja yang ada di sebelah ranjang Adit.
"Sudah makan siang kak?" Tanya Fira yang dijawab dengan gelengan oleh Adit.
"Udah jam segini kok belum dimakan, Fira suapin ya kak." Lagi-lagi Adit tidak menjawab pertanyaan Fira, tapi ia menganggukkan kepala tanda setuju, saat ini ia sangat kagum dengan kecantikan Fira, auranya sungguh terpancar.
Fira menyuapi Adit dengan telatennya, sampai suapan terakhir habis ludes dimakan Adit.
"Alhamdulillah udah habis kak."
"Ya Allah Dit, tega Lo sama kita-kita, jadian nggak bilang-bilang."
"Mereka nggak jadian kok kak." Ucap Nana menjelaskan.
"Bukan enggak Nana, tapi belum." Ucap Adit dengan pdnya, Fira hanya memasang wajah datar, ia enggan untuk menanggapi ucapan yang terlontar dari sahabat Adit itu.
"Kak Adit mau buah? Fira kupasin ya?"
"Aduh Dit, aku juga mau lah yang kaya gitu." Canda salah satu sahabat Adit yang hanya mendapat senyuman dari Adit. Sementara Fira sibuk dengan sebuah jeruk, jari jarinya mulai membuka kulit jeruk yang bewarna oranye cerah.
Sahabat Adit sudah berada disana cukup lama, karena mereka punya urusan masing-masing yang harus diselesaikan, merekapun pamit pada Adit.
"Maafin mereka ya, jangan dimasukin ati ucapan tadi."
"Nggak papa kok, mereka juga cuma bercanda."
'Tapi kataku tadi sungguhan Ra, memang kita bukan enggak jadian tapi belum jadian dan aku berharap bisa mendampingimu hingga sisa akhir hayatku.' Batin Adit.
'Maaf dan terimaksih kak, maaf karena sampai sekarang hati ini masih terkunci rapat dan terimaksih karena telah tulus mencintaiku.' Ucap Fira dalam hatinya.
"Fira kok melamun?" Ucap Adit membuyarkan lamunan Fira.
"Ah nggak apa kok kak, cuman lagi bayangin makan bakso mercon kayaknya enak."
"Bakso mercon? Baksonya bisa meledak gitu?"
"Hahaha ya nggak gitu juga kak, bakso mercon tu bakso kalau dibelah keluar sambalnya, ya Allah pasti enak banget."
"Hahah, kak Adit juga cuman bercanda kali Ra, kalau kak Adit udah boleh pulang besok kita makan bakso mercon Ra. Sebagai ucapan terimakasih karena Fira mau mendonorkan darah buat kak Adit."
"Enggak usah kak, Fira ikhlas kok donornya."
"Kak Adit juga ikhlas mau traktir Fira makan."
"Besok kak Adit boleh pulang, kita makan bakso mercon sama-sama." Ucap Nana dari luar ruangan yang kegirangan.
"Dasar, kalau denger makan-makan semangatnya meledak-ledak."
__ADS_1
"Iya dong kak, apalagi kalau dibayarin."
Mereka bertiga tertawa bersama, kegiatannya dilanjutkan dengan obrolan santai penuh sendau gurau tanpa mereka sadari hari sudah semakin sore.