
"Bangun mas, jangan seperti ini." Berulang kali Fira menepis genggaman tangan Adit, namun berungkali juga Adit kembali meraih tangan Fira dan mengenggamnya, perlahan hati Fira mulai melemah, tapi Fira kembali meyakinnkan hatinya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik.
"Ngak Ra, mas nggak akan bangun sebelum kamu maafin mas."
"Allah aja maha pemaaf Ra, kenapa kamu nggak mau memaafkan mas Ra, kumohon maafkanlah aku Ra."
Fira mencoba mengalihkan landangannya dari tatapan Adit, Fira bisa melemah jika terus ditatap Adit dengan tatapan sendu.
Terlihat Fira menarik nafas dan menghembuskan nafas dengan kasar, menyeka bulir-bulir air yang lolos dari pelupuk matanya.
"Fira udah maafin mas Adit, jadi bangunlah."
"Kamu juga akan tarik kata-katamu kan Ra?"
"Kalau untuk itu tidak mas, Fira udah yakin sama keputusan Fira."
"Ra jangan seperti ini,mas mohon."
"Bangunlah mas, jangan seperti pengemis cinta."
"Untuk saat ini, Fira mau kita berpisah dulu, kita di jalan masing-masing, saling memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang jauh kebih baik, jika mungkin kita ditakdirkan berjodoh maka suatu saat kita pasti akan dipertemukan kembali." Untuk mengutarakan kata-kata itu, sebenarnya berat sekali bagi Fira, Fira juga tidak yakin jika ia akan kembali membuka hatinya untuk Adit, namun untuk meyakinkan Adit Fira harus kuat mengutarakan hal itu.
"Jika memang itu tujuanmu, mas akan terima Ra, ok kita berpisah untuk sementara kan, nggak akan lama kan Ra?"
"Hanya waktu yang akan menjawabnya"
"Baiklah Ra, dengan berat hati mas akan turuti semua keinginanmu, mas akan yakinkan kamu kembali untuk percaya pada mas."
"Berusahalah mas, Fira nggak akan nglarang mas Adit, tapi."
"Tapi apa Ra?"
"Tapi Fira mohon, selama sebulan ini jangan tampakkan wajah mas Adit di depan Fira, Fira perlu waktu untuk menata hati, Fira juga perlu waktu untuk mengobati luka ini."
"Ra."
"Sayang."
"Stop mas, ini terakhir kali kamu panggil aku dengan kata-kata itu."
"Baiklah Ra, apapun kemauanmu akan mas turuti."
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Fira pamit mas,"
"Tunggu Ra, berjanjilah, Selama aku berjuang untuk merebut kepercayaanmu kembali, berjanjilah kamu akan selalu menjaga hatimu."
"Mas pikir Fira perempuan apaan? Disakiti dua kali, dikhianati dua kali, itu tidak akan mudah buat Fira untuk membuka hati Fira kembali."
"Maaf Ra, mas emang **** mas juga bodoh, mas nggak bersyukur."
"Sudahlah mas, Fira sudah memaafkan mas Adit, Berjuanglah."
"Namun jangan salahkan takdir jika suatu saat kita tidak berjodoh."
Berjuanglah mas, jika memang kamu tulus mencintaiku berjuanglah untuk merebut hatiku kembali, berjuanglah untuk mengisi hati ini kembali.
Akan ku perjuangkan diri ini untuk merebut hatimu kembali, akan kupertaruhkan hidupku hanya untukmu Ra, perempuanku seorang, Safiraku, tunggulah aku datang kembali ke hatimu.
Perjalan hidup memang rumit, kita tidak bisa menerka-nerka apa yang terjadi, terkadang kita sudah merencanakan berbagai angan untuk masa depan, menikah dengan siapa dan menjalani hidup dengan siapa, namun kita tidak boleh lupa bahwa takdir Allah lah yang akan menentukan, siapa jodoh kita dan dengan siapa kita menikah, belum tentu yang sudah berhubungan selama bertahun-tahun akan berakhir di pelaminan, bisa jadi dua orang yang tidak saling kenal lalu bertemu dan langsung mengikrarkan cinta yang suci, berjuanglah Adit, rebutlah hati mantan kekasihmu kembali, jangan putus asa jika dunia tidak mendukungmu mungkin saja takdir mendukungmu untuk kembali bersatu dengan Safira, jalan hidup seseorang tiada yang tahu, berjuanglah jangan lupa kembalikan semuanya dengan yang maha kuasa, serahkan semuanya pada sang pencipta agar nanti jika hasilnya tidak seperti yang kita inginkan kita tak akan kecewa.
"Kakak cantik." Terdengar teriakan yang terasa tidak asing di telinga Fira, Fira pun menoleh ke arah belakang dan benar saja gadis mungil nan lucu tengah berlari menghampirinya dengan kedua tangan yang telah direntangkan siap untuk memeluk dirinya.
Fira pun menurunkan tubuhnya, berjongkok untuk bersiap menerima pelukan dari gadis mungilnya.
"Hei sayang, kita ketemu lagi."
"Kakak juga kangen sama Lisa." Fira menjawil hidung Lisa dengan gemas.
"Kakak mau coklat nggak?" Tawar Lisa sembari menunjukkaan dua bungkus coklat bewarna ungu yang diberi ikatan pita bewarna ungu pula.
"Wah cantik banget, coklat dari siapa sayang?"
"Tadi Lisa dikasih sama kakak yang disana, kakaknya baik lo ka, masa enggak kenal sama Lisa tapi dia kasih Lisa coklat." Tunjuk Lisa pada banhku yang tadi Fira duduki bersama Adit.
Apa mas Adit yang kasih coklat ini ke Lisa, eh tapi jika bukan gimana, tunggu-tunggu pita ungu dan coklat dengan bungkus ungu ini kan, syukurlah mas Adit yang kasih.
"Lisa lain kali kalau kita dikasih sesuatu sama orang yang enggak kita kenal jangan diterima ya, siapa tau itu orang jahat."
"Tapi tadi bukan orang jahat kak, tadi Lisa liat kakaknya lagi nangis, eh enggak nangis kak, tapi kata kakak itu dia kelilipan makanya matanya berair."
"Tapi lain kali Lisa nggak bolehsembarangn nerima pemberian orang ya, ok."
"Ok kakak cantik."
__ADS_1
"Lisa kesini sama siapa?"
"Sama oma sama- - -"
"Terus sekarang dimana oma?"Potong Fira cepat.
"Itu oma." Tunjuk Lisa pada bangku yang jaraknya lumayan jauh dari dirinya. Terlihat oma Lisa tengah berbincang-bincang dengan seorang laki-laki.
"Lisa kebiasaan deh, ayo kita samperin oma.",
"Ayo kak, Lisa juga mau kenalin kakak sama kakak ganteng."Ajak Lisa bersemangat, ia menggandeng tangan Fira lalu menariknya agar mengikuti jejak Lisa.
*Kenapa setiap hati ini sedih selalu datang malaikat kecil ini, seakan-akan ini terjadi dengan kebetulan.
Allah memang baik sekali padaku, terimakasih ya Allah, setidaknya hamba masih bisa bersyukur di tengah cobaan yang hamba terima*.
"Omaa, lhoo kakak kemana oma?"
"Siang tante."Sapa Fira sembari mencium tangan oma Lisa.
"Eh ada nak Fira,duduk sini nak."
Fira menjatuhkan bobot tubuhnya pada bangku yang berada di sebalah oma.
Sementara gadis kecil terlihat sedang kesana kemari seperti mencari sesuatu.
"Lisa cari siapa? Oh iya tadi kakak pesen sama oma, katanya suruhb bilang maaf ke Lisa kakaknya ada urusan mendadak."
"Yah kok pergi si, padahal kan Lisa mau kenalin kakak ganteng sama kakak cantik."
"Kakak ganteng siapa sayang?"Tanya Fira yang tidak mengerti apa yang tengaj dibicarakan kedua orang berbeda usia itu.
"Itu lo kak, kakak ganteng yang tadi ngobrol sama oma."
"Pasiennya papanya Lisa Ra." Jawab Oma.
Fira hanya manggut-manggut tanpa bertanya lagi.
"Oh ya nama kakaknya siapa?" Sebenarnya Fira tidak terlalu ingin tahu, namun entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya.
"Kak, kak siapa ya oma, kok kita nggak pernah nanya namanya ya oma."
__ADS_1
"Oh iya ya, yaudah besok kalau kakaknya kerumah lagi Lisa tanya namanya ya."